Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 140. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 2



Di dalam ruang perawatan Kino, akhirnya drama ‘biarkan aku yang menyuapimu’ selesai, dengan Kino yang berakhir menjadi korban. Tentu saja tidak semua kue dari anak-anak itu habis dimakannya. Tapi, setidaknya dia benar-benar memakan suapan yang diberikan anak-anak itu padanya.


“Aku…sudah kenyang. Terima kasih banyak untuk kuenya” Kino menyerah


“Tidak mau satu suap lagi, Kino-nii?” Theo sudah memegang garpu dengan kue di tangannya


“Tidak, itu sudah cukup”


“Satu lagi. Kalau tidak mau dari tangan Theo, dari tanganku saja Kino-niisan. Ayo buka mulutnya sekali lagi” Stelani langsung mengarahkan kue itu ke dekat mulut Kino


“……” Kino hanya melihatnya


Dengan terpaksa dia memakan potongan terakhir.


“Kali ini sudah ya. Aku benar-benar kenyang. Aku khawatir tidak bisa minum obat nanti” Kino tersenyum tipis sambil mengunyah kuenya


“Baiklah. Untuk nanti lagi ya. Yang ada di sana untuk Ryou-niisan dan Kaito-niisan” ujar Stelani sambil membereskan meja dan piringnya


Riz yang duduk di kursi hanya bisa merasa kagum pada kesabaran pasien di tempat tidur itu.


‘Dia benar-benar tidak membantah anak-anak itu sedikitpun. Aku rasa aku mengerti kenapa anak-anak itu menyukainya’ pikirnya dalam hati


Kino mencoba menahan rasa mualnya sekarang. Itu karena dia memang tidak merasakan lapar dan haus akibat pengaruh dari ‘dunia’ aneh itu. Jika bukan karena pengaruh obat, dia juga tidak akan tidur karena tidak merasakan kantuk lagi.


‘Kuharap aku tidak memuntahkan semua kue ini. Aku tidak ingin membuat mereka semua kecewa’ Kino berdoa dalam hati


Setelah semua anak-anak itu selesai dengan piring dan kue mereka, tidak butuh waktu lama mereka mulai bercerita banyak hal tentang yang mereka lakukan selama ini. Riz menunda semuanya pertanyaannya dan memilih untuk mengamati Kino.


Dia terus melihat apa yang dilakukan oleh remaja itu pada semua anak-anak itu.


‘Dia mendengarkan mereka dengan baik, memberikan respon yang baik dan melakukan hal yang membuat anak-anak itu nyaman. Sekilas dia tidak aneh sama sekali. Tapi…keanehan di tubuhnya memang layak untuk dipertanyakan’ ucapnya dalam hati


Riz mengingat kembali kesan pertama yang dia rasakan saat menyentuh dan mencium darah milik Kino serta apa yang dikatakan oleh Jack mengenai remaja itu.


[Da–darahnya…tidak berbau]


[Karena itu aku katakan padamu kalau remaja ini sangat menarik. Tidak ada manusia di dunia ini yang tidak memiliki aroma. Kecuali kalau anak ini memang bukan manusia juga]


‘Aku hanya bisa mengatakan bahwa dia adalah remaja biasa dan anak yang baik. Terlepas dari semua candaan yang kukatakan padanya. Aku sama sekali tidak tau bagaimana menjelaskan hal aneh itu. Tapi, jika dia sampai membuat Jack-sama mencarinya seperti tadi…kurasa dia pantas untuk diselidiki’ pikir Riz


Tiba-tiba tanpa disadari oleh Riz, keadaan menjadi hening. Suasana tiba-tiba menjadi berat dan dia melihat Kino yang kebingungan.


“Kalian semua kenapa? Apa perut kalian sakit?” Kino bertanya dengan nada bingung


“Kino, ada apa?” Riz terlihat cukup panik


“Aku tidak tau. Tiba-tiba mereka semua diam. Theo-kun? Stelani-chan? Fabil-kun? Michaela-chan? Kalian semua? Apa yang terjadi?”


Kino memanggil mereka semua tapi tidak ada yang menjawabnya. Tentu saja Kino menjadi sangat panik sekarang.


“Apa kalian–”


-Greeb


Sebuah pelukan, bukan….sebanyak sembilan pelukan diterima Kino. Tentu saja tidak bisa membuatnya bergerak secara leluasa dan hanya bisa membuatnya semakin panik.


“Ada apa ini? Anak-anak?”


“Maafkan kami. Hiks…”


“Eh?”


Suara tangisan. Sekarang terdengar suara tangisan dari mereka. Setelah drama ‘biarkan aku menyuapimu’ sekarang berganti menjadi drama penuh air mata berjudul ‘maafkan aku’. Tentu saja situasi ini tidak diperkirakan oleh Kino dan Riz yang menonton.


“Maafkan kami…kami minta maaf padamu, Kino-niichan”


“Minta maaf? Kenapa harus minta maaf? Kalian tidak salah apapun, kan?” Kino berusaha untuk bergerak


Tangannya yang terluka membuatnya tidak bisa mendorong mereka. Hasilnya, dia benar-benar terkunci sekarang. Satu-satunya cara untuk bergerak adalah dengan menggunakan suaranya.


“Aku…aku tidak mengerti kenapa. Tapi jika kalian ingin aku mendengarkan dan memaafkan kalian, apakah bisa kalian melepaskan aku dulu? Tanganku…sedikit tertekan dan itu cukup menyakitkan, anak-anak” ucap Kino dengan lembut


Mendengar itu, anak-anak itu melepaskan pelukannya sambil melihat Kino dengan cemas. Akhirnya, Kino bisa bernapas lega sambil menghela napas sedikit.


“Baiklah. Aku akan mendengarkan kalian. Jangan menangis ya”


Theo bicara terlebih dahulu.


“Kino-nii…aku …aku mau minta maaf soal jam sakumu. Aku…aku mencurinya”


“……” Kino terdiam


“Aku mencurinya saat Kino-nii dan Ryou-nii ada di altar. Aku juga yang membuat Kino-nii dalam masalah karena mencariku. Aku…hiks…aku minta maaf…” Theo mulai meneteskan air mata


“Lalu, kenapa Stelani-chan dan Fabil-kun juga minta maaf?” Kino bertanya dengan nada lembut


“Kami…kami sudah mengetahui hal itu. Saat makan bersama Kino-niichan…kami tidak mengatakannya dengan jujur padamu karena…karena kami takut…” Fabil bicara dengan terbata-bata sambil menahan air matanya


“Kami minta maaf, Kino-niisan” Stelani menjatuhkan kepalanya sambil memegangi tangan kiri Kino yang terluka


Riz tidak benar-benar memahami hal ini, tetapi dia tau bahwa itu bukanlah ruang baginya untuk menyela atau ikut bicara.


Sementara Kino hanya melihat mereka menahan tangis sambil tersenyum.


“Aku tau itu. Aku sudah menduganya”


“……!!!” semua anak-anak itu terkejut


“Aku juga minta maaf karena tidak mengatakannya. Sebenarnya, di hari saat aku pertama kali bertemu dengan Stelani-chan dan yang lain di altar waktu itu…aku sudah bisa menduganya. Aku mengajak kalian makan bersama karena ingin mendengar semua dari kalian. Aku juga bicara pada Theo-kun karena aku tau bahwa kemungkinan jam saku milikku hilang karena dicuri”


“……” semua orang termasuk Riz mendengarkan penjelasan Kino


“Awalnya aku tidak pernah berpikir bahwa jam saku itu akan dicuri dan terus menyalahkan diriku sendiri. Tapi sekarang, aku berpikir kalau itu tidak begitu buruk”


Kino tersenyum dan mengusap-usap rambut anak-anak itu.


“Lihat ini, aku jadi bisa bertemu dan dekat dengan anak-anak manis seperti kalian”


“Hiks…huwaa…maafkan kami, Kino-niichan”


“Huwaaa…Kino-nii…hiks…Kino-nii”


Kalimat Kino benar-benar seperti sebuah pelukan nyata yang membuat anak-anak itu jadi menangis dan memeluknya lagi. Sekarang, Kino harus bisa menahan diri untuk bicara karena dia tidak mungkin merusak suasana haru tersebut.


“Sudah selesai?” tanya Kino


“Sudah…kami sudah selesai menangis. Maaf sudah membuat bajumu basah, Kino-niisan” ujar Stelani sambil menghapus air matanya


“Tidak apa-apa. Yang jelas kalian sudah tidak merasa sedih lagi. Um…Riz-san…” Kino memanggil Riz yang terdiam di kursinya


“Oh! Iya?” Riz cukup terkejut saat dipanggil


“Maaf sudah menunjukkan hal seperti ini. Aku jadi sedikit malu” kata Kino sambil menunjukkan sikap malunya


“Tidak apa-apa. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapapun”


“Terima kasih banyak. Jadi, soal hal yang ingin ditanyakan kepadaku…apakah masih ingin ditanyakan sekarang, Riz-san?”


“Oh! So–soal itu…” Riz terdiam


Setelah melihat pemandangan itu, tidak mungkin dia menanyakan hal yang berhubungan dengan tempat yang membuat trauma anak-anak yang pernah diculik oleh pengelola pasar gelap. Dia juga tau bahwa Kino terluka di tempat itu. Rasanya sangat tidak berperasaan sekali jika dia masih bertanya soal keanehan tubuh Kino.


“Aku…aku lupa karena terbawa suasana. Mungkin lain kali jika aku mengingatnya” Riz menjawab dengan senyum yang dipaksakan


“Begitu. Baiklah kalau memang kamu berkata begitu, Riz-san” Kino hanya bisa melihatnya dengan tatapan bingung


Pada akhirnya, Riz hanya mampu berbohong dan mengurungkan niatnya. Tidak lama setelah itu, pintu ruangan terbuka.


******


Di jalan, Ryou dan Kaito berjalan ke jalan utama di pusat kota. Mereka berhenti di sebuah kios minuman dan sempat duduk sebentar sambil menunggu pesanan mereka.


“Kau tidak mengatakan kalau paman mananger memberikan kita uang” Ryou membuka pembicaraan


“Aku tidak mengatakannya karena ini bukan uang kita. Hanya uang kita yang sudah kita hitung bersama yang aku anggap sebagai milik kita” jawab Kaito sambil melihat ke arah depan


Dia melihat banyak orang yang lalu-lalang di jalan tersebut. Pikirannya seperti berada di tempat lain.


“Kaito?” Ryou memanggilnya


“……” namun Kaito tidak menjawab


Ryou tidak lagi memanggilnya. Dia mulai memperhatikan sekelilingnya. Cukup banyak yang memperhatikan mereka dan setiap mata Ryou bertemu pandang dengan mata orang-orang yang melihat, mereka langsung mengabaikannya dengan wajah aneh.


‘Jangan bilang karena pakaian berdarah dan pedang ini’ batinya berusaha menebak


Sebenarnya, tebakannya itu tepat. Hanya saja dia memilih untuk diam tanpa mengatakan apapun. Kadang, berpura-pura tidak tau adalah hal terbaik.


Ryou kembali melihat Kaito yang sama sekali tidak merubah pandangannya. Dia berusaha mencairkan suasana tersebut.


“Kau memikirkan permata itu, Kaito?”


“Aku berpikir bagaimana caranya mengambilnya tanpa membuat Theo sedih”


“Kenapa harus memikirkannya? Mereka itu NPC”


“Mereka bisa mati kapan saja, Ryou. Mereka bukan sesuatu yang disebut NPC olehmu”


“……” Ryou terdiam


“Semua yang kualami selama ini untuk menemukan permataku itu nyata. Setiap orang yang kutemui itu nyata, ‘dunia siang’ dan ‘dunia malam’ waktu itu juga nyata. Semuanya bukan ilusi, Ryou. Aku nyaris mati beberapa kali dan itulah kenyataannya”


“Tapi kalau kau berpikir hal seperti itu sekarang, bukankah hanya akan menghambatmu? Benda milikmu sudah di depan mata dan tidak ada lagi yang perlu kau khawatirkan”


“……” Kaito terdiam


Ryou berdiri mengambil pesanannya kembali dan mulai mengajak Kaito untuk kembali. Sepanjang jalan, Ryou mengabaikan setiap pandangan yang melihatnya dan Kaito sama sekali tidak memedulikan hal itu.


“Aku tidak ingin meninggalkan luka yang dalam pada anak-anak itu” lanjut Kaito


“Kau tidak meninggalkan luka apapun pada mereka, Kaito. Kau harus ingat apa tujuanmu mempertaruhkan nyawa sampai sejauh ini”


Tidak banyak kata yang terlontar dari mulut Kaito sekarang. Bahkan hanya keheningan yang terjadi sepanjang jalan kembali ke rumah sakit. Begitu sampai di depan, Joel menyambut mereka. Dia segera mengambil senjata keduanya dan meminta mereka untuk masuk.


Kaito memberikan jus pada Joel namun langsung pergi sebelum mendengar ucapan terima kasih darinya. Di saat dua remaja itu masuk, Joel sempat berpikir sambil memandangi jus yang baru diberikan kepadanya.


“Apa terjadi sesuatu pada keduanya?” gumamnya


Setelah sampai di kamar Kino dan membuka pintu, mereka berdua disuguhkan oleh pemandangan luar biasa. Ryou dan Kaito melihat anak-anak itu berkerumun bahkan duduk di tempat tidur pasien.


“Apa yang kalian lakukan pada kakakku?” tanya Ryou dengan nada dingin


“Kalian sudah kembali? Selamat datang” Kino menyambut kedatangan keduanya


Kaito menutup pintunya. Kedua remaja itu membagikan minuman yang mereka beli pada anak-anak itu. Tentu saja mereka semua terlihat senang. Ryou sempat bertanya pada mereka.


“Mata kalian merah seperti habis menangis, ada apa?”


“Ini…” Theo mengalihkan pandangannya dari Ryou


“Mereka hanya habis melakukan pengakuan dosa” jawab Kino dengan santai


“Pengakuan dosa?” Ryou melihat Theo


“R–Ryou-nii bilang kalau aku harus minta maaf pada Kino-nii langsung kan? A–aku…ka–kami semua melakukannya barusan dan…”


“……”


Penjelasan Theo yang terbata-bata itu membuat Ryou terdiam lalu melihat Kino yang tersenyum. Dia menyadari bahwa akhirnya anak-anak itu mengatakan hal yang sesungguhnya soal pencurian itu, meskipun mungkin hal itu sudah tidak penting.


Ryou mengusap-usap kepala Theo yang tertutup topi sambil tersenyum.


“Hee~ternyata kau bisa juga bersikap seperti pria sejati” pujian itu terdengar seperti ledekan


“Aku memang pria sejati!”


“Aku tau. Hanya pria sejati yang mau jujur pada kesalahannya”


“……!” Theo terkejut dengan wajah memerah


Untuk pertama kalinya, Theo menanggap bahwa Ryou adalah sosok orang yang baik seperti yang dikatakan oleh Kino.


******