
“Kita sedang sial maksimal seperti ucapanmu, Ryou!”
Itulah satu kalimat yang dikeluarkan Kaito begitu keluar dari pintu barat gedung Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer.
Bagaimana tidak, begitu keluar dari pintu tanpa bergerak sedikitpun, banyak zombie yang terlihat berjalan tanpa arah dan tujuan. Tapi itu hanya terjadi lima detik.
Saat mendengar suara orang-orang yang baru saja keluar dari pintu, para zombie itu berubah haluan. Dengan suara kerasnya, mereka mulai mendekati ketujuh remaja itu.
“Aku tidak mau menghabiskan waktu untuk menghadapi mereka. Lewat sini!”
Kaito berlari ke samping kanan. Diikuti oleh yang lain, mereka berlari secepat yang mereka bisa.
“Bagaimana rencana selanjutnya? Apa yang kita lakukan untuk lolos dari mereka semua sekarang?! Tidak mungkin kau tidak punya rencana, kan?” teriak Ryou pada Kaito di depannya
“Yang jelas sekarang, lari dulu! Hanya akan membuang tenaga dan waktu untuk menghabisi mereka dengan jumlah berkali-kali lipat seperti ini”
“Iya, tapi kita harus menyelamatkan orang-orang yang ada di gedung arsip!”
“Kalau kita ke gedung arsip membawa mereka yang mengejar kita di belakang, kau kira Baek Hyeseon akan membukakan pintunya?! Cari cara lain agar bisa ke sana dengan cara aman! Itu yang harus kita pikirkan!”
“Aku mengerti itu, bodoh! Makanya aku tanya padamu, bagaimana rencana selanjutnya!!”
Ryou berteriak lebih keras karena terlalu kesal dengan jawaban Kaito, namun kondisi itu hanya membuat mereka semakin tegang.
“Kino-ssi!! Aku sudah lelah!” Ha Jinan tampak begitu pucat dan kelelahan
“Kaito-san, apakah kita bisa mencari tempat atau gedung lain untuk bersembunyi?”
“Aku tidak tau. Yang jelas, tidak ada gedung yang benar-benar aman di sini” katanya
“Yang mana saja tidak masalah! Stamina kita juga tidak akan bertahan jika terus berlari seperti ini” ujar Kino
“Kino benar! Kaito, sebaiknya kita cepat mencari tempat untuk menyusun rencana ulang!” kata Ryou
Kaito berkata dalam hati.
‘Apa dia lupa kalau kita masih belum menyusun rencana untuk menghadapi zombie-zombie di luar? Ah, sudahlah! Aku tidak mau berdebat untuk itu. Tempat untuk menyusun rencana ya…gedung mana yang bisa dipakai untuk itu…’
Di samping kanan mereka, terlihat sebuah bangunan berlantai tiga dengan tulisan [Perpustakaan] pada bagian depannya.
“Kita masuk ke gedung itu!”
Seo Garam melihat bangunan tersebut dan dia mengingat sesuatu.
[Zombie Jung Leon-sunbae mulai masuk ke tempat persembunyian kami di perpustakaan lantai tiga dan sekarang banyak yang mulai terinfeksi!!]
“Kaito-ssi, di dalam perpustakaan itu mungkin saja ada zombie Jung Leon-sunbae!!” teriak Garam
Semua orang terkejut dan syok. Itu karena posisi gedung paling dekat saat ini dengan mereka adalah perpustakaan itu.
“Hah?!”
“Apa itu benar, Garam-san?”
“Jangan bercanda, Garam!”
“Aku ingat ada yang mengirimkan chat itu di grup dan aku yakin mereka sudah mati sekarang!”
Ryou sudah tidak bisa menunda lebih lama karena dia tau gadis yang digandeng olehnya sekarang sudah kelelahan.
“Kaito, sudah tida ada waktu. Kita masuk saja dulu! Lebih merepotkan lagi kalau dua gadis yang kelelahan ini sampai pingsan”
Kaito mengangguk dan berlari ke dalam gedung perpustakaan itu.
Sejak awal, pintu dan kaca jendela perpustakaan itu sudah pecah dan hancur. Begitu masuk, mereka jelas disambut oleh zombie-zombie yang berjalan ke arah mereka.
Kaito langsung menghabisi mereka semua yang mendekat. Kang Ji Song mencoba membantu namun dia cukup kerepotan. Nyaris saja tersentuh oleh zombie, Kino yang berada di dekatnya melepaskan tangan Ha Jinan dan langsung membunuh zombie yang mendekatinya.
“Terima kasih banyak”
“Kang Ji Song-san cepat lari mendekati Kaito-san dan bawa Ha Jinan-san bersamamu”
“Tapi, bagaimana denganmu?!” Kang Ji Song panik
“Aku tidak akan apa-apa”
“Kino-ssi!!” Ha Jinan berteriak
Mendengar nama Kino, Ryou langsung melihat Kim Yuram.
“Lari lebih cepat dan jangan berhenti. Ikuti Kaito! kalau memang tas makanan itu memberatkanmu, buang saja!”
“Kau mau kemana?”
“Aku harus membantu kakakku!”
“……” Kim Yuram terdiam
Dia tau bahwa dia tidak bisa egois di saat nyawa mereka sedang dalam taruhannya. Dia melepaskan tangan Ryou dengan terpaksa.
“Jangan sampai kau dan kakakmu terluka! Pokoknya kalian harus menyusul kami!”
Ryou hanya tersenyum. Begitu Kim Yuram, Ha Jinan dan Kang Ji Song melewatinya, Ryou langsung memotong tangan seekor zombie yang mencoba menyentuhnya.
“Ryou, kenapa masih di sini?!” Kino terkejut
“Aku sudah katakan bahwa aku akan melindungimu! Aku tidak mau lagi melihatmu terluka, apalagi menjadi zombie di tempat seperti ini! Kita belum menemukan cara untuk kembali ke Jepang jadi jangan pernah berpikir untuk bertarung sendiri!”
Kino hanya terdiam sambil memukul para zombie itu dengan ujung pel lantai dan menusuk wajah mereka dengan pisaunya.
Jumlah di lantai satu perpustakaan sudah jauh berkurang, tapi zombie yang berdatangan dari luar tampaknya ingin ikut berpesta pora dengan yang lain.
“Kita pergi dari sini! Kita juga harus naik ke atas!”
Ryou langsung menarik tangan sang kakak untuk pergi ke arah tangga.
Sementara Kaito dan keempat mahasiswa itu sudah berada di lantai dua. Tidak begitu banyak zombie di sana, tapi dengan banyaknya rak buku dan luasnya tempat itu membuat mereka cukup kesulitan untuk mencari tempat aman.
“Mereka akan baik-baik saja! Kita pikirkan kondisi kita sekarang ini”
Kaito menjawab sambil membunuh para zombie. Kang Ji Song ikut membunuh dan menghalangi zombie-zombie yang mendekat dengan memukul mereka menggunakan penggorengan.
Seo Garam melihat sebuah pintu ruangan yang terbuka.
“Di depan gudang arsip, kita coba masuk ke sana”
“Baiklah” Kaito mengangguk
Begitu pintu dibuka, seekor zombie menyentuh tangan Kaito.
“Kh!!”
“Kyaa!! Kaito-ssi!!”
“Kaito-nim!!”
Kaito langsung memotong tangan dan menyayat tubuh zombie tersebut. Saat tubuhnya terlihat sakit, dia langsung memenggal kepalanya.
“Masuk ke dalam, cepat!!”
“……” semua orang terdiam. Mereka tampak ragu tapi sudah tidak punya pilihan lain selain menurut.
Tubuh zombie yang menahan pintu langsung disingkirkan oleh Kaito menggunakan kakinya. Keempat mahasiswa itu membelakangi Kaito sambil memastikan tidak ada zombie yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Kalian berempat masuk dan jangan buka pintunya sampai aku memanggil”
“Kau mau kemana, Kaito-ssi?”
“Aku harus menjemput kedua kakak beradik itu!”
Dia langsung menutup pintunya dan pergi membunuh semua zombie yang mendekat. Tidak lama kemudian, Kino dan Ryou yang menaikki tangga akhirnya bertemu dengan Kaito yang sedang membunuh zombie-zombie itu.
“Kaito-san!” Kino memanggilnya
“Dimana mereka berempat sekarang, Kaito?”
“Mereka sudah aman. Kita harus menyusul mereka sekarang dan berhenti untuk…”
Kaito sempat terdiam. Ada hal yang membuatnya sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.
“Kino…Ryou…itu…”
Kedua kakak beradik itu melihat ke belakang dan betapa terkejutnya mereka dengan apa yang ada di sana.
“Itu…wajah yang hancur itu tidak asing untuk kita…”
“Jung…Leon-san…”
“Ternyata benar yang dikatakan Seo Garam, zombie salah satu dari dua pendiri aplikasi itu ada di tempat ini. Bagaimana sekarang?”
“Tentu saja menghabisinya!” Ryou berlari ke arah Jung Leon
Zombie Jung Leon yang baru turun dari tangga rupanya tidak sendiri. Selain itu, ada hal yang membuat Ryou tidak heran.
“Gerakannya sedikit berbeda. Mayat lain berjalan dengan kecepatan yang tidak begitu cepat, tapi dia…eh?!!”
Ryou panik. Tiba-tiba zombie Jung Leon berlari lalu menyerangnya.
“Sejak kapan ada zombie di tempat ini yang lancar berlari seperti ini!!” teriaknya
Kino yang masih sibuk dengan zombie lain teriak karena panik sang adik dalam bahaya.
“Ryou?!”
“Kh!! Jangan kemari!” ujar Ryou sambil berusaha menghindar
Kaito dengan cepat mencoba menolong, namun tampaknya bukan hanya zombie Jung Leon saja yang berubah cepat. Ada empat zombie lain yang tidak kalah cepat dalam bergerak.
Mereka menghalangi Kaito dan dengan agresif mencoba menyentuhnya.
‘Melihat gerakan mereka yang cepat dan jumlah yang tidak sedikit, tampaknya sebelum ini…ada banyak yang menjadikan tempat ini sebagai persembunyian. Mayat-mayat ini pasti sudah memakan banyak manusia yang bersembunyi di tempat ini’
Apa yang ada dalam pikiran Kaito itu tepat. Beberapa zombie selain zombie Jung Leon memiliki gerakan lebih lincah dari yang lain, bisa berlari bahkan ada yang bisa menyerang secara agresif.
“Aku bersumpah aku sudah menamatkan Resident Evil 1 dan 2 sebelum masuk SMA. Tapi, aku tidak pernah ingin menjadi player dalam game tersebut! Aku benci makhluk menyebalkan ini!!”
Seperti mengutarakan isi hati dan kekesalannya, Ryou yang bertarung dengan zombie Jung Leon mulai kehabisan kesabaran.
Dengan mengambil buku yang berserakan di bawah, dia mengambil dan melemparnya ke arah zombie Jung Leon untuk menghentikan langkahnya. Setelah itu, dia menendang tubuhnya dan lempar salah satu pisau yang dia pegang tepat ke arah kepala mayat tersebut.
Memanfaatkan moment, Ryou lalu berlari dan memotong kedua tangan zombie Jung Leon, menancapkan pisau lainnya ke mulut mayat tersebut lalu mengambil pisau yang menancap di kening zombie Jung Leon untuk memenggal kepalanya.
-Pluuk
Kepala tersebut jatuh seketika setelah dipenggal dengan cepat oleh Ryou. Melihat kepala Jung Leon menggelinding ke arahnya, Kaito tanpa sadar langsung menendangnya cukup jauh dengan kuat.
“Ah…”
“Dasar bodoh!! Kenapa kau tendang!! Aku perlu perjuangan ekstra untuk melakukannya?!”
“Aku…tidak sengaja. Maafkan aku” ucap Kaito santai
“Aku tidak mau tau! Ambil kepala itu sekarang atau kepalamu yang akan menggelinding ke lantai!”
“Aku tidak mau memegang benda menjijikan itu”
“Dan aku tidak mau mendengar protes dari remaja amnesia sepertimu!”
“Teman-teman…bisa abaikan kepalanya dan fokus pada semua ini? Masih ada banyak yang harus dilakukan” Kino berusaha menenangkan keduanya
“Kepala itu bisa jadi senjata paling kuat untuk menyelamatkan orang-orang di gedung arsip! Jadi apapun yang terjadi, hanya kepala mayat itu yang harus diselamatkan!”
******