
Di hadapan masing-masing telah berdiri dua orang yang terlihat kaget satu sama lain.
Fabil yang menggendong Stelani langsung mundur beberapa langkah sambil terlihat takut.
“Ke–kenapa bisa ada di sini?!”
“Apa yang terjadi?! Kenapa bisa bertemu dengan orang yang dicari oleh Justin-sama di tempat ini?!” Stelani terlihat pucat sambil memegang pundak Fabil dengan erat
Ryou dan Kaito yang melihat kedua anak itu juga tampak terkejut.
Kaito melangkah ke depan lalu mengatakan sesuatu dengan pelan.
“Mereka…bukankah mereka itu adalah–“
Di mata Stelani dan Fabil, dua orang di depannya itu sangat menakutkan. Selain pakaian mereka penuh dengan darah, mereka juga membawa pedang. Bahkan salah satu dari orang yang membawa pedang itu adalah orang yang dicari oleh Justin.
“Hiii!! Kita berbalik dan lari sekarang dari mereka!
Fabil langsung berbalik ke belakang lagi tanpa pikir panjang dengan menggendong Stelani.
“Apa yang kau pikirkan, dasar bodoh! Ini sama saja kita kembali ke tempat sebelumnya!”
“Kau lihat mereka, kan Stelani?! Itu adalah orang yang dicari oleh Justin-sama! Pria berpedang tanpa sarung pedang itu ada di sini! Kemungkinan besar dia berkomplot dengan wanita mengerikan yang menculik kita!”
“Tapi kalau kita kembali ke jalan ini sama saja kita kembali ke sana, Fabil!”
“Itu bisa dipikirkan nanti, sekarang kita lari dulu!”
“Tu…Fabil!!”
Stelani berusaha menghentikan Fabil yang berlari menuju tempat pertama mereka sebelumnya. Ini sama seperti kembali ke kandang harimau.
Ryou dan Kaito terkejut melihat kedua anak itu mulai berbalik dan berlari.
“Tu–tunggu, kalian mau kemana?! Jangan kabur!” Ryou berteriak ke arah kedua anak itu
“Kita harus mengejarnya! Ayo cepat, Ryou!”
Kedua remaja itu langsung bergegas mengejar kedua anak kecil itu. Anak-anak itu berusaha lari dari mereka berdua.
“Oi, tunggu dulu!!” Ryou berteriak sambil berlari
“Ryou, mereka sepertinya terluka. Aku yakin itu karena serangan yang mereka terima ketika diculik. Jangan sakiti mereka jika berhasil menangkapnya”
“Mereka bersama Kino, aku tidak akan melepaskannya!!” Ryou berlari lebih cepat meninggalkan Kaito di belakangnya
“Ryou!!”
Terima kasih kepada bakat olahraga dan atletik miliknya, dengan mudah Ryou menangkap kedua anak itu. Dia berhasil memegang pakaian belakang gadis kecil itu lalu menariknya hingga terlepas dari punggung anak laki-laki yang menggendongnya.
“Kyaa!!” gadis kecil itu berteriak
“Akh!” anak laki-laki itu melihat ke belakang dan terkejut melihat temannya tertangkap
Dengan cepat, Kaito berhasil menyusul dan menangkap tangan anak laki-laki itu.
“Tidak! Lepaskan aku! Lepaskan aku sekarang, dasar penjahat!!”
“Pe–penjahat katamu…” Kaito sedikit syok mendengarnya
Sepertinya dia masih tidak bisa menerima kata ‘pujian’ itu begitu saja.
Berbeda dengan Kaito yang hanya memegangi anak laki-laki yang terus menerus mencoba melawan dan melepaskan diri, Ryou harus menghadapi gadis kecil yang berteriak minta tolong terus menerus.
“Kyaa!! Penculik! Dasar penjahat licik! Lepaskan aku! Aku bilang lepaskan aku, dasar mesum!”
“Hah?! Mesum katamu! Dasar anak tidak sopan! Diam sedi–!!!”
Ryou kaget dengan apa yang dibawa oleh anak itu. Dia langsung melepaskan belakang baju anak itu dan berganti menarik tangan kanannya.
“Pisau ini… kenapa kau memilikinya?!”
Gadis kecil tidak memiliki pilihan selain melawan. Dengan cepat dia menggigit tangan Ryou untuk melepaskan diri.
“Ouch!” Ryou reflek dan melepaskan cengkeramannya
Gadis kecil itu berhasil melepaskan dirinya dan langsung sambil mengayunkan pisau di tangannya untuk melukai Kaito demi menyelamatkan temannya. Dia mencoba melukai tangan Kaito namun Kaito menangkap tangan gadis itu dan membuat pisau yang dipegangnya jatuh ke tanah.
“Kyaa!! Lepaskan aku!”
“Kalian berdua–”
Kaito ingat apa yang dikatakan oleh gadis kecil bernama Michaela itu padanya.
[Kaito-niichan, tolong selamatkan mereka semua ya. Aku ingin bertemu Stelani-neechan dan Fabil-niichan lagi. Aku juga ingin bertemu Kino-niichan lagi!!]
Kaito mulai mencoba memanggil nama mereka sesuai dengan apa yang dia ingat.
“Kalian berdua…Stelani dan Fabil…”
“Eh?” kedua anak itu terkejut
“…Benar kan?”
Kedua anak itu akhirnya berhenti memberontak dan melihat Kaito dengan tatapan terkejut.
“Bagaimana kau tau nama kami?”
Kaito melepaskan tangan mereka berdua. Dia memperkenalkan dirinya dan menjelaskan situasi yang sekarang terjadi saat ini.
“Namaku Kaito dan itu yang di sana adalah Ryou. Kami berdua datang dari bar [Barre des Noirs] bersama dengan bartender bernama Arkan dan Riz untuk menyelamatkan kalian”
“……” kedua anak itu terdiam dengan wajah terkejut
“Kami diminta oleh Theo dan yang lain untuk membawa kalian pulang karena mereka menunggu di bar” Kaito mengatakannya sambil tersenyum
Mendengar hal itu, seketika anak-anak itu langsung tidak bisa menyembunyikan rasa senang dan air matanya. Mereka tanpa sadar memeluk orang yang mereka takuti.
“Huwaa….huwaaaaa….hiks…hiks…”
“Kalian sudah aman. Syukurlah kami berdua menemukan kalian di sini” ucap Kaito sambil mengelus rambut keduanya untuk menenangkan mereka
Di tengah kondisi haru itu, Ryou mengambil dua bilah pisau di tanah dan melihatnya dengan wajah syok.
“Ini…ini milik Kino…”
Ketika mendengar nama Kino, kedua anak itu langsung berhenti memeluk Kaito dan meminta bantuan.
“Kalian mengenal Kino-niisan?! Aku mohon! Tolong selamatkan Kino-niisan!! Dia bisa mati!!”
Ryou yang mendengar itu langsung syok dan memegang kedua pundak gadis kecil itu dengan erat.
“Oi! Apa yang terjadi dengan kakakku?! Apa yang terjadi pada Kino?!”
**
Arkan berlari dari ruang kerja Jack dan menuruni tangga menuju lobi. Di sana, terlihat wanita penjaga resepsionis yang berdiri di belakang meja resepsionis kembali. Dia sempat memanggil Arkan.
“Tuan, apa urusanya sudah selesai?”
“Kau buru-buru!”
Arkan langsung keluar dan mengabaikannya wanita itu. Dia keluar dan menutup pintunya. Terlihat ada gerobak milik Riz di tempat yang sama. Tidak memedulikan hal itu, dia langsung berlari ke jalan yang pertama dia lewati.
“Aku mohon semoga kalian tidak terkena masalah!” katanya sambil berlari
Dari arah tangga, Seren turun sambil membawa kantong bekal.
“Ah, Madame” sambut wanita bernama Lucy kepada Seren
“Lucy, apakah kau sudah melakukan hal yang dikatakan suamiku?”
“Sudah, Madame. Saya sudah melihat dan memeriksanya. Semuanya masih bagus dan sepertinya akan memiliki nilai yang cukup tinggi jika dijual di awal pembukaan nanti. Namun gerobak tersebut masih ada di depan pintu
masuk di luar dan belum saya pindahkan ke depan tempat penyimpanan di samping”
“Tidak masalah. Selama kau sudah melihat dan memeriksanya itu cukup. Nanti Jack yang akan melakukannya sendiri. Apakah Arkan sudah lewat?”
“Arkan-sama baru saja keluar dengan terburu-buru. Apakah terjadi sesuatu, Madame?”
“Tidak ada yang istimewa. Dia hanya telah mencapai kesepakatan dan kaget dengan benda yang didapatkannya kemudian lari. Dia bahkan belum meminum dan memakan suguhan dariku. Aku akan membuatnya menghabiskan
semua ini sebelum dia pulang”
“Be–begitu. Semoga Arkan-sama menyukai suguhan buatan Madame” jawab Lucy sambil tersenyum
“Hmm, terima kasih. Oh, apa kau mau berjaga untuk pembukaan nanti malam juga?”
“Tentu. Saya tidak masalah jika harus lembur malam ini”
“Baguslah kalau begitu. Nanti akan kuminta suamiku untuk menambah bonusmu ya”
Seren mengatakannya sambil tersenyum. Kalimat dari Seren membuat Lucy terlihat senang sekali.
“Terima kasih banyak, Madame”
“Aku pergi dulu”
“Hati-hati di jalan, Madame”
Setelah Seren keluar dari lobi, Lucy langsung menunjukkan sifat aslinya.
“Senangnya~bonus naik bulan ini naik lagi karena lembur. Itulah yang kusukai bekerja dengan pembunuh yang tidak pelit dengan uang. Selain bayarannya tinggi, bonusnya juga sangat besar. Hanya perlu menahan diri dari mayat-mayat dan manusia yang dijual ke tempat ini dan kau bisa mendapatkan banyak uang! Kenapa tidak dari dulu saja aku bekerja dengan mereka?”
Lucy terlihat mengambil buku catatan di laci meja resepsionis dan menulis sesuatu.
“Sepatu dan baju mahal serta berlian, aku akan membeli model yang mirip dengan yang kemarin aku beli. Kurasa bulan ini aku juga bisa bersenang-senang dengan pacar-pacarku saat libur. Jika pasar libur, aku akan meminta izin cuti agar bisa bersenang-senang dengan mereka secara bergiliran. Ah~senangnya”
Senyum merona dengan wajah nakal ditunjukkan oleh wanita itu. Seperti yang diharapkan, dia bukanlah wanita ‘normal’. Di balik tingkah sopan dan terlihat lugu miliknya, ternyata Lucy juga seorang wanita yang memiliki hasrat nafsu ‘tidak normal’.
**
Arkan yang sudah berlari cukup jauh mulai tidak bisa berpikir jernih.
“Bagaimana kalau anak-anak itu sampai tidak selamat? Penjaga gerbang itu masih belum tau bahwa anak-anak itu telah dibebaskan dan–“
Arkan berhenti berlari dan mengatur napasnya. Wajahnya pucat dan dia terlihat tidak tenang.
“Tunggu dulu…ada yang terlewatkan. Kenapa aku merasa ada yang tidak benar dengan pertukaran tadi i–“
Arkan langsung mengingat kembali semua pertukaran yang terjadi.
[Kau ingin menukar mayat itu serta memintaku membatalkan seluruh sisa transaksi yang telah dibuat dengan Justin, termasuk membebaskan anak-anak itu?]
[Apa yang Jack-sama katakan itu benar. Aku tidak ingin ketiga orang itu terlibat atau menjadi barang dagangan]
[Ah, langsung saja kita selesaikan ini agar aku bisa cepat melakukan tugasku. Baik, aku terima mayat Justin temanku itu dan aku membatalkan semuanya termasuk kedua anak-anak itu akan kukembalikan]
-Deg
Itu adalah ingatan percakapannya dengan Jack saat mengajukan transaksi pertukaran. Sampai tadi dia sama sekali tidak menyadari apapun karena terlalu bersemangat mendengar anak-anak itu akan dibebaskan. Namun akhirnya, dia menyadari sebuah kesalahan fatal.
‘Kenapa…Jack-sama hanya mengatakan akan membebaskan ‘kedua anak-anak itu’ katanya? Bukankah aku mengatakan aku ingin ketiganya? Ada yang salah dengan hasil kesepakatannya!’
Saat dia ingin berbalik kembali ke tempat Jack, dia berhenti dan menengok ke jalan yang dilaluinya tadi. Dia membayangkan Stelani dan Fabil yang mungkin saja sudah dekat dengan pintu gerbang itu.
“Aku harus bagaimana sekarang?! Jika aku kembali ke tempat Jack-sama hanya untuk memastikan kembali hasil pertukarannya, anak-anak itu bisa saja celaka! Tapi, jika tidak memastikan ulang kembali isi kalimat Jack-sama yang tadi maka teman Kaito tidak akan memiliki kesempatan aman untuk kembali! Sial!!”
Arkan berada dalam posisi sulit sekarang. Di saat dia berpikir bahwa semuanya sudah selesai, ternyata apa yang diharapkannya tidak berjalan sesuai harapannya.
“Bagaimana ini?”
Sekarang, semua harapannya untuk kembali pulang ke bar dan pergi dari tempat itu secepatnya telah runtuh, berganti menjadi masalah baru lain yang bercabang.
******