
Di sebuah ruangan bertuliskan ‘kantin’ di atasnya, pintu ruangan tersebut tertutup akibat ada beberapa zombie yang mencoba untuk masuk.
Terdapat beberapa makanan ringan dan botol air serta tas yang berserakan di sekitar lantai tersebut. Selain itu, kondisi di dalam kantin tersebut cukup tidak kondusif.
Pintu kantin telah ditahan menggunakan sejumlah meja dan kursi berat sebagai penahan, namun yang menjadi masalah utama di sini adalah adanya beberapa orang yang terlihat panik dengan dua orang yang saling berkelahi satu sama lain.
Sekilas terlihat seperti itu, namun sebenarnya agak sedikit melenceng. Biarpun terlihat seperti sedang berkelahi, satu di antara mereka sudah nyaris mati akibat dicekik oleh orang lainnya.
“Jangan bercanda!! Kau kembali ke sini sendiri dan meninggalkan Eunji yang membawa makanan untuk kita! Kau memang berniat untuk membunuhnya sejak awal ya?! Apa yang kau pikirkan, Ha Jinan!!”
“Kagh! Le…paskan aku…Park…Cho…Joon…”
Seseorang yang mencekiknya itu adalah pemuda yang terlihat kesal dan penuh amarah, sedangkan orang yang tercekik adalah seorang wanita yang nyaris mati. Air matanya terus keluar dan mulutnya sudah mengeluarkan liur karena cekikan yang semakin membuatnya sulit bernapas.
Di sekitar tempat itu banyak orang yang menangis dan ada juga yang melihat tanpa berniat untuk melerainya. Sampai akhirnya ada seorang remaja yang mencoba menghentikannya.
“Aku mohon hentikan itu! Itu tidak akan merubah keadaan kita semua!”
“Diam kau, Seo Garam! Dia memang berniat untuk membunuh Eunji sejak awal. Dia mencoba untuk membunuhnya dengan berpura-pura ketakutan! Aku yakin dia juga yang memancing monster itu pada kita! Aku yakin itu!!” teriak pemuda bernama Park Cho Joon dengan nada penuh emosi
Cekikan itu benar-benar kuat hingga membuat perempuan bernama Ha Jinan itu nyaris kehabisan napas. Gerakan tangan yang mencoba untuk melepaskan cekikan itu semakin lemah hingga akhirnya membuat bola matanya nyaris ke atas. Persis seperti seseorang yang akan menemui ajalnya.
Remaja bernama Seo Garam terlihat semakin panik dan mencoba melepaskan cekikan pemuda itu dari leher perempuan malang tersebut. Namun sayang, Park Cho Joon segera mendorongnya dengan kuat hingga membuat Garam terdorong cukup keras dan membentur kursi serta meja yang masih ada di sekitar tempat itu.
-BUAAAK
“Akh!” rintihnya
Orang-orang yang berada di sana mencoba membantunya berdiri segera.
“Hentikan itu, Cho Joon! Ini bukan waktunya untuk saling membunuh! Kita harus bisa menemukan jalan untuk mencari Eunji dan membawa makanan!” teriak salah satu dari orang-orang yang menolong Garam
“Eunji tidak mungkin hidup setelah monster itu mengejar wanita iblis ini! Dia pasti sudah menjadi salah satu dari mereka dan ini semua salahnya! Kau juga harus mati!” Park Cho Joon tidak menurunkan kekuatan cekikannya
“Kaagh…”
“Cho Joon…hentikan itu…Cho Joon!” Garam berusaha bangkit dan berjalan untuk menolong Ha Jinan
Tiba-tiba dari arah depan, seseorang menendang wajah Park Cho Joon hingga terjatuh.
Tendangan itu cukup keras hingga membuatnya terdorong cukup jauh. Selain itu, luka yang dibuat oleh tendangan itu tidak main-main. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah, lalu ada sebuah gigi yang copot milik Park Cho Joon.
“Gaaagh!!” rintihnya
Semua orang terdiam melihat hal itu. Tidak disangka orang yang menendangnya adalah seorang remaja asing yang baru bergabung dengan mereka beberapa waktu lalu.
Remaja asing itu segera berlutut untuk membantu perempuan malang itu untuk bangun.
“Kamu baik-baik saja? Tarik napasmu perlahan, mulailah mengatur napas. Jangan panik, semua baik-baik saja”
“Uhuk…uhuk…uhuk…haaah…haaah…haaah…” Ha Jinan mencoba untuk mengatur napasnya sampai terbatuk-batuk
Melihat itu, semua orang terkejut. Beberapa orang yang menangis di kejauhan akhirnya berhenti.
Seo Garam yang melihatnya sangat syok dan kagum. Dia tidak menyangka bahwa ada orang yang bisa melakukan hal seperti itu pada Park Cho Joon yang sedang dikuasai emosi.
Sementara korban tendangan maut itu berusaha untuk berdiri. Dia melihat sebuah giginya yang copot berada tidak jauh dari lokasinya terdorong. Darah keluar dari hidung dan mulutnya membuat emosinya seketika meledak.
“Bocah asing kurang ajar…berani sekali kau melakukan ini padaku!! Kau pikir kau jagoan?!” teriaknya dengan wajah mengerikan yang dipenuhi emosi
Remaja yang sedang bersama dengan Ha Jinan melihatnya dengan tatapan serius. Dia berdiri dan berkata dengan nada dingin.
“Apa begini caramu memperlakukan seorang perempuan? Emosi itu benar-benar sudah membutakanmu”
“Diam kau! Kau itu hanya orang luar yang tidak tau apapun!”
“Aku tidak mengerti dengan kalimat itu. Yang aku tau, kamu mencoba membunuhnya dan aku mencoba membuatmu sadar. Dengan emosi seperti itu, hanya pukulan keras yang bisa melepaskan cekikan itu dari lehernya”
“Apa katamu…” Park Cho Joon semakin terbawa emosi
“Jangan salah paham. Yang aku lakukan tadi itu adalah bagian dari pendidikan pertahanan diri di sekolahku. Aku tidak pernah menggunakannya kecuali untuk menyelamatkan diri dan orang yang mengalami kesulitan” lanjut remaja itu
“……” semua orang termasuk Park Cho Joon terdiam
“Semakin lama aku melihatnya, tidak ada tanda-tanda darimu melepaskannya. Jika kamu masih belum puas dengan emosimu dan mencoba untuk melakukan hal buruk seperti itu, aku tidak keberatan untuk memberikan sedikit pukulan lagi agar kamu lebih tenang”
Kalimat itu terdengar seperti sebuah kalimat menantang di telinga Cho Joon. Merasa terhina dengan kata-kata remaja asing itu, dia akhirnya bangkit dan mencoba untuk memukulnya.
“Kurang ajar kau bocah sialan!!”
“Jangan lakukan itu, Cho Joon!!” Garam berusaha berlari untuk menghentikan serangan Park Cho Joon
Namun sepertinya usaha Seo Garam sia-sia. Lebih tepatnya, tidak perlu dilakukan.
“Hah?!” Garam berhenti karena terkejut dengan apa yang dilihatnya
Park Cho Joon berlari dan hendak memukul remaja asing itu dengan tinjunya. Pukulan padat itu nyaris mengenai wajahnya, namun dalam waktu singkat remaja itu langsung menangkap tangan Cho Joon dan melakukan lemparan memutar.
Remaja itu langsung membanting tubuh Park Cho Joon dan segera setelahnya, dia membalik tubuh Park Cho Joon dengan posisi tangannya berada di belakang punggung. Remaja itu melakukan gerakan kuncian yang memaksa Cho Joon untuk menerima kekalahannya.
Tubuh Park Cho Joon sekarang tidak bisa bergerak dengan remaja asing yang menduduki punggungnya sambil menahan tangannya di belakang.
Jika Cho Joon memaksa untuk melepaskan diri, hanya perlu sedikit gerakan untuk membuat tulang lengannya bergeser dari tempatnya.
Dengan kuncian yang kuat tersebut, remaja itu tidak membiarkan Park Cho Joon bergerak untuk melepaskan diri.
“Apa ini sudah cukup membuatmu tenang?” tanya remaja itu dengan wajah serius
“Khh! Lepaskan aku! Kau kira kau bisa menahanku seperti ini!”
“Aku bisa melakukan hal yang lebih dari ini. Jika bergerak lebih dari ini, tanganmu bisa saja patah. Apa kamu mau memiliki patah tulang dalam keadaan seperti ini? Tidak bisakah semua ini dibicarakan dengan kepala dingin?”
“Kau mengancamku?!” Park Cho Joon semakin marah
“Aku hanya ingin kamu tenang” kata remaja itu dengan wajah tenang
Park Cho Joon tidak mengatakan apapun dan sepertinya masih belum menyerah. Dia masih terlihat kesal dan mencoba melepaskan diri dari kuncian tersebut. Semua perhatian orang-orang termasuk Seo Garam tertuju pada hasil pertarungan tersebut.
Hingga tiba-tiba terdengar suara tangisan dari Ha Jinan
“Hiks…maafkan aku…hiks…ini tidak seperti…yang kalian katakan…”
“Jinan…” Garam melihat ke arah gadis itu
Suara tangisnya pecah. Seorang wanita lain yang merupakan temannya datang dan memeluknya.
“Jinan, kami akan mendengarkanmu. Jangan menangis lagi” wanita itu memeluknya dengan mengeluarkan air mata
Dia meminta Ha Jinan tidak menangis tapi nyatanya dia sendiri menangis. Sungguh sangat labil perasaannya. Tapi di tengah kondisi sulit seperti itu, hal seperti itu sangat wajar. Seo Garam mendekati kedua gadis itu.
“Jinan, cerita kembali apa yang sebenarnya terjadi” katanya
“Hiks…ketika aku dan Eunji berhasil membawa makanan, tiba…tiba-tiba ada tiga makhluk yang menemukan kami. Eunji…hiks…Eunji makanan menarik tanganku untuk berlari…hiks…”
“Bohong! Kau meninggalkan Eunji! Kau meninggalkannya!” Park Cho Joon masih mencoba melawan sambil berteriak
“Aku tidak berbohong!” Ha Jinan berteriak dengan penuh air mata dan emosi
“Jinan…”
“Eunji menarik tanganku dan kami berusaha melarikan diri. Tapi ketika kami berusaha mencari tempat sembunyi, tiba-tiba ada banyak sekali dari mereka yang muncul entah dari mana! Aku dan Eunji berusaha untuk melarikan diri tapi mereka terlalu banyak!”
“……” semua orang masih mendengarkan
“Di saat kami berlari, tiba-tiba ada makhluk lainnya yang menyerang kami dan Eunji terluka! Dia terkena cakaran mereka! Dia terinfeksi!”
-Deg
Keadaan menjadi berubah. Wajah Seo Garam dan Park Cho Joon menjadi pucat. Semua orang juga tampak begitu syok mendengarnya.
“Setelah itu…setelah itu dia memintaku untuk kembali ke tempat ini sendiri. Hiks…Eunji…Eunji mengatakan…dia akan menyusulku. Hiks…huwaaaa…maafkan aku…maafkan aku telah meninggalkannya…hiks…” Ha Jinan menangis dengan keras
Perempuan yang memeluknya ikut menangis. Seo Garam tertunduk sedih dan mulai terdengar suara tangisan dari semuanya.
“Tidak…itu bohong…Eunji tidak mungkin terinfeksi…tidak…tidak…” Park Cho Joon mulai meneteskan air mata
Remaja itu melepas kunciannya dan berdiri. Dia terlihat sedih mendengar suara tangisan yang pecah di dalam kantin itu.
Ha Jinan kembali menceritakan sisa ceritanya.
“Kemudian…hiks…kemudian ketika aku mulai putus asa untuk kembali kemari…tiba-tiba ada banyak dari mereka yang mengejarku. Hiks…aku minta maaf…karena…karena kembali dengan semua monster itu di belakangku…hiks…maafkan aku”
“Ini bukan salahmu, Jinan. Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya pada kami” ucap Seo Garam
“Tidak! Aku tidak percaya! Itu semua karena dia meninggalkannya!”
“Bisakah kau terima kenyataan dan berhenti menyalahkan Jinan, Cho Joon? Tidak bisakah kau memikirkan perasaan Jinan yang mengatakan hal ini pada kita? Di saat seperti ini, untuk apa dia meninggalkannya?!” teriak perempuan yang memeluk Ha Jinan
“Berisik! Jangan mencoba membelanya, Kim Yuram!”
“Kau yang seharusnya diam, Park Cho Joon!” bentak perempuan bernama Kim Yuram
Kondisi ini benar-benar tidak kondusif. Remaja asing itu hanya bisa melihat semua kondisi itu dengan tatapan sedih.
‘Kenapa jadi begini? Kenapa aku bisa ada dalam situasi seperti ini? Aku bahkan tidak mengetahui dimana keberadaan Ryou dan Kaito-san. Selain itu, semuanya seperti kembali seperti semula. Pakaianku yang robek dengan noda darah itu, lalu luka di tangan kiri dan perutku semua hilang. Senjataku juga tidak ada. Apakah kami bertiga benar-benar telah pergi ke ‘dunia’ lainnya?’
Remaja asing itu melihat mereka semua dengan tatapan penuh rasa cemas dan bingung.
“Dalam situasi yang belum aku pahami ini, bagaimana aku harus menyikapinya? Ryou…Kaito-san…dimana kalian sekarang?” gumamnya pelan
Tidak lama setelah itu, terdengar suara gemuruh dari luar. Seperti terjadi sesuatu di luar pintu dengan para zombie, tangis haru itu berubah menjadi kepanikkan.
“Aku tidak mau mati! Tolong aku!!”
“Aaah!!! Kenapa semuanya jadi begini!”
“Kita harus bagaimana sekarang?!”
Semuanya berubah panik. Park Cho Joon yang tadinya terlihat emosi akhirnya memperlihatkan wajah ketakutannya. Dia segera berdiri dan mundur perlahan dengan panik.
“Aku…aku tidak ingin mati. Ini semua salahmu, Ha Jinan!”
Ternyata di tengah situasi mencekam saja dia masih bisa menyalahkan perempuan malang itu. Sungguh sangat ‘dewasa’ sekali sikap Park Cho Joon.
Seo Garam berdiri dan menarik tangan remaja asing itu.
“Kita harus mencari sesuatu sebagai senjata! Ayo!”
“Itu…”
-BAAAK
-GRAAA
Suara-suara itu akhirnya semakin lemah dan semakin lemah. Semua orang yang ada di dalam ruangan kantin itu terdiam sesaat.
“Suaranya…menipis…”
“Apa mereka sudah pergi?”
“Bagaimana cara kita memastikannya?”
Semua orang yang awalnya panik menjadi bingung. Tapi tidak mengurangi tingkat kecemasan di wajah mereka. Sampai akhirnya terdenga suara teriakan dari luar.
“Oi! Aku tau di dalam ada orang! Jawab aku dan buka pintunya sekarang!”
Remaja asing itu terkejut dengan suara dari luar.
“Ryou…Ryou!! Ryou!! Aku di dalam” remaja itu melepaskan tangan Seo Garam dan berlari kea rah meja dan kursi yang menahan pintu. Dia kembali berteriak dengan keras“Ryou!! Apa kamu bisa mendengarku? Ryou!!”
Di luar pintu, Ryou terkejut.
“Kaito, itu suara Kino!”
“Kino?! Dia di dalam?” Kaito terkejut
“Kino!! Kino, jawab aku! Nii-san, ini aku!! Oi! Buka pintunya dan biarkan aku bertemu kakakku! Cepat buka sekarang!”
Kino tersenyum mendengar suara itu. Dia menengok ke belakang dan melihat semua orang di sana.
“Aku mohon, tolong bantu aku untuk membuka pintunya. Adikku ada di luar!”
******