Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 128. Tamu Tak Diundang



Bagai terkena serangan kejutan di siang hari, Joel tidak bisa berhenti mengedipkan kedua matanya. Dia bahkan tidak menutup mulutnya karena terlalu kaget.


Lebih mengejutkannya lagi, semua anak-anak yang ada di sana menjadi saksi hidup dari apa yang dikatakan oleh Theo.


“Terima kasih banyak untuk semuanya, J–J–Joel-ojichan” kata Theo dengan wajah merah karena malu dan suara terbata-bata


Kali ini, dia bisa percaya pendengarannya. Joel duduk dengan tegap dan melihat Theo dengan serius.


“Coba…ulangi sekali lagi…”


“Apanya?”


“Kata-kata yang tadi…”


“Terima kasih untuk semuanya?”


“Bukan, bagian terakhirnya tadi”


“Joel-ojichan–”


Joel langsung berdiri dan senang sekali. Bahkan suaranya menjadi keras dan tingkahnya menjadi seperti orang yang baru saja menang lotre.


“Iya! Itu! Kata itu! Aku ingin sekali mendengar kata itu dari mulut bocah nakal sepertimu! Yeah, aku berhasil lulus dari kata ‘mesum’! Woo~hooo!!”


Anak-anak lain melihat Joel melompat senang. Michaela bahkan membayangkan ada sebuah latar bergambar bunga yang bermekaran di belakang pria besar itu.


“Stelani-neechan, ada bunga-bunga di belakang Joel-ojichan”


“Mungkin…gambaran imajinasimu yang unik itu bisa melihat betapa senangnya Joel-ojisan, Michaela” kata Stelani sambil tersenyum


Sedangkan di sisi Theo, terlihat wajahnya berubah aneh dan semakin memerah. Mirip dengan kepiting rebus yang siap dimakan.


“Berhenti melompat tidak jelas begitu, dasar mesum!!” Theo berteriak karena kesal dan malu


Joel langsung berhenti melompat dan tersenyum. Seketika, dia langsung berubah suram.


“Hei! Kenapa kembali memanggilku mesum?! Sudah bagus panggilan yang tadi itu!” Joel protes dengan wajah kecewa


“Kau memang mesum, kan?!”


“Sst! Jangan…jangan bicara begitu. Selain itu, ada istriku di belakang!” Joel mendekati Theo dengan wajah panik


“Biar saja istrimu tau! Aku tidak akan memanggilmu seperti itu lagi!”


“Hooi!!”


Di dalam bar mereka begitu senang. Riz yang masih berada di depan pintu hanya masuk untuk meletakkan dua pedang dan sabuk pisaunya di meja bar. Stelani dan Fabil menghampirinya.


“Umm, Riz-niichan” Fabil memanggilnya


“Ada apa?”


“Kami…kami belum sempat berterima kasih dengan benar padamu karena sudah menolong aku dan Stelani. Juga…terima kasih sudah menolong Kino-niichan”


Riz hanya tersenyum.


“Terima kasih banyak, Riz-niisan” Stelani membungkuk untuk mengucapkan terima kasih


“Sama-sama. Aku melakukannya karena Arkan yang meminta tolong padaku. Pada dasarnya, aku ini sama gelapnya dengan Jack-sama dan Seren-sama. Tapi, apapun itu…yang jelas kalian selamat dan kenyataan itulah yang penting” jawab Riz sambil tersenyum


Riz mulai mengingat semua hal yang dikatakan oleh Joel di jalan.


‘Aku bukanlah iblis tanpa hati. Kau adalah manusia, Riz’ gumam Riz dalam hatinya


Kedua anak yang ada di depannya membalas senyumannya. Mereka terlihat mulai akrab denganya. Ketika Riz ingin keluar lagi, tangannya ditarik oleh anak-anak lain.


“Kakak rambut lucu, ayo duduk. Nanti kita makan sama-sama. Masakan buatan Maggy-obachan sangat enak tau~”


“Ayo makan juga~”


“Sini ikut duduk. Duduk di kursi ini saja”


Riz sedikit kebingunan menghadapi anak-anak karena selama ini, dia tidak pernah berurusan dengan anak-anak yang masih bernapas, kecuali setelah itu dipotong di pasar gelap. Dia hanya pasrah ditarik oleh anak-anak itu.


Theo dan Joel menghentikan perdebatan itu sementara untuk melihat reaksi Riz bersama anak-anak lain. Mereka tersenyum bersama, tapi tidak lama. Setelah itu, Joel kembali mengajukan protes pada Theo sehingga dimulai adu argumen ronde kedua.


Maggy yang berada di dapur tersenyum mendengar keributan di dalam bar. Dia merasa bahwa bar jadi lebih hidup dengan adanya anak-anak.


Setelah menunggu, Maggy membawa banyak makanan. Beberapa dari anak-anak terlihat tidak sabar untuk memakannya, sedangkan Theo dan dua anak yang lebih tua lainnya membantu Maggy membawakan piring dan menu makanan ke meja.


“Nah, sekarang ayo kalian makan! Ada banyak untuk semua” seru wanita itu dengan wajah senang


Tidak perlu ditanyakan seperti apa wajah anak-anak itu sekarang. Selain liur mereka yang nyaris menetes, wajah merona karena senang juga terlihat menghiasi.


“Selamat makan~”


Joel dan Riz melihat anak-anak itu makan dengan lahap.


“Enak?” tanya Maggy pada anak-anak itu


Anak-anak itu menjawab dengan wajah polosnya.


“Enak~”


“Ada daging seperti yang dibeli oleh Joel-ojichan juga”


“Sayurnya juga enak~”


Joel yang duduk di posisi yang tidak jauh dari Theo mulai melihatnya dan mengingat apa yang pernah dikatakan oleh anak itu.


[Kurasa aku ingin sekali mencoba seperti apa rasanya bisa makan bersama seperti sebuah keluarga]


[Aku…ingin bisa makan bersama dengan orang itu dan semuanya dalam sebuah meja makan yang hangat]


Pria itu tersenyum dan memanggil Theo.


“Bocah kecil, apakah makan bersama seperti ini sudah seperti makan bersama keluarga untukmu?”


Theo menengok dan terlihat terkejut.


“Kau bilang ingin makan di meja makan seperti keluarga, kan? Apakah ini sudah seperti makan bersama keluarga?” Joel kembali bertanya


Seketika semua orang termasuk Riz dan Maggy melihat Theo. Stelani dan Fabil serta anak-anak lain juga menatapnya. Theo hanya bisa tertunduk malu dengan wajah senang yang memerah.


“Ini…ini lebih baik dari yang kupikirkan”


Semuanya tersenyum. Stelani bahkan hampir meneteskan air mata karena mendengarnya.


“Theo-niichan, selanjutnya makan bersama Kino-niichan~” Michaela dengan semangat bicara pada Theo


“Kita sudah janji saat makan bersama di sini, kan? Kita akan pergi ke restoran bersama dengan Kino-niichan lagi. Kali ini, Theo-niichan harus ikut juga” seru Michaela kembali


“Lalu, kita akan makan dengan Ryou-niichan dan Kaito-niichan juga” anak lain mulai menambahkan


Michaela melihat Joel dan Maggy yang duduk berdekatan serta melihat Riz juga.


“Nanti, Joel-ojichan dan Maggy-obachan juga ikut makan. Riz-niichan juga ikut. Arkan-niichan juga ikut. Kita makan bersama lagi!” gadis kecil itu begitu bersemangat


Riz hanya bisa tersenyum mendengar kalimat polos anak-anak itu sambil menyantap makanannya. Pasangan suami-istri itu juga saling melihat satu sama lain dan mengangguk. Terlihat bagaimana kebahagiaan kecil itu tercipta.


Sampai ada orang lain yang ikut bergabung dengan mereka.


“Huwaa~kelihatannya enak. Apa kami berdua boleh makan bersama kalian juga?”


“Eh?!” Joel dan Maggy terlihat syok


-Deg


Theo, Stelani dan Fabil langsung berubah panik. Bukan hanya itu, mereka langsung berdiri dengan menggenggam pisau makan dan garpu yang ada di atas meja.


Semua keadaan hangat itu berubah menjadi mengerikan. Theo langsung menarik tangan Michaela dan Sienna yang kebetulan ada di sampingnya untuk menjauhi meja makan.


“Stelani! Fabil! Bawa semuanya untuk mundur dan sembunyilah!!” teriak Theo


Dengan wajah pucat, kedua anak itu menarik yang lain serta mundur ke belakang. Stelani dan Fabil mengarahkan semua anak kecil itu bersembunyi di belakang meja bar. Theo juga meminta Michaela dan Sienna mengikuti yang lain ke sana.


Hanya tiga anak yang lebih tua itu, yang berdiri sambil mengarahkan pisau makan dan garpu ke depan dengan wajah marah. Sorot mata penuh kebencian terlihat di sana.


Joel dan sang istri langsung berdiri tapi mencoba tidak menunjukkan wajah panik, meskipun mereka tidak kalah syok.


‘Oi, kapan mereka datang?! Bahkan suara langkahnya saja tidak terdengar sama sekali!! Ini benar-benar gawat?! Anak-anak itu jadi kehilangan momen indah karena mereka!’ pikir Joel dalam hati dengan tangan gemetar


Wajah Stelani dan Fabil yang berdiri di dekat meja bar tidak melupakan wanita di depannya itu berubah pucat, namun tetap saja tubuh serta tangannya gemetar karena takut.


“Itu dia orangnya! Wanita yang menyerang Kino-niichan dan menculik kami berdua!” sorot mata Fabil berubah dingin


“Wanita itu yang menusuk Kino-niisan dan menendangku. Dia yang menyakiti Kino-niisan dan mencekiknya!” kata Stelani pelan dengan wajah marah


“Jadi…dia iblis itu…iblis yang menyerang Kino-nii” Theo yang mendengarnya terlihat marah sekali


Riz menyadari keadaan panas tersebut.


‘Aku tidak bisa membiarkan kekacauan di tempat ini!’ pikirnya


Dia berdiri dan menyapa tamu tersebut.


“Jack-sama, Seren-sama…kenapa kalian datang tanpa memberi salam terlebih dahulu?”


“Selamat siang, Riz” Seren memberi salam


“Se–Seren-sama, selamat siang. Jack-sama juga, selamat siang”


“Yo, selamat siang. Oh, Joel temanku. Lama kita tidak bertemu. Kau makin berisi, kawan. Ahahaha” Jack berjalan menghampiri Joel dan sang istri


“J–Jack, lama tidak bertemu. Kenapa datang tanpa suara seperti ini? Kau hampir membuatku terkena serangan jantung” Joel membuat wajah tersenyum meskipun terpaksa


“Ayolah, kau jauh lebih beruntung dari Justin dua hari lalu. Selain itu, aku jarang sekali melihatmu datang ke tempat ini dengan istrimu. Salam kenal, namaku Antonio Thomas Bellsvaran. Orang-orang biasanya memanggilku dengan nama bisnisku, Jack. Dan ini istriku, Serena Ludwig Bellsvaran”


“Semua memanggilku Seren. Salam kenal, istri Joel” Seren mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Maggy


“Namaku Mar–”


Sebelum wanita itu menjabat tangan Seren, Theo berteriak dengan keras hingga membuat semua orang terkejut.


“Jangan menyentuh tangan pembunuh, Maggy-obachan!!”


“Eh?” Maggy terkejut


“Hmm? Pembunuh? Dimana pembunuhnya?” Seren terlihat bingung dan menatap sang suami. Dia kembali bertanya pada suaminya, “nee, Jack sayang. Ada pembunuh katanya. Mau dihabisi?”


“Kau yakin anak itu tidak sedang membicarakan tentang kita berdua?” tanya Jack sambil tersenyum


“Tapi kita datang untuk makan dan mengobrol”


“Kau benar cintaku~” Jack tersenyum bahagia sambil memeluk sang istri


Joel berbisik pada sang istri.


“Maggy, tolong jaga anak-anak di dekat meja bar itu dan biarkan aku yang mengurus ini”


“Aku mengerti. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di sini Jey, tapi kau harus berhati-hati”


Maggy menuruti perintah sang suami dan pergi ke tempat Theo.


“Theo, kalian semua…”


“Paman mesum! Dia adalah orang yang menculik Stelani dan Fabil! Dia juga orang yang menyakiti Kino-nii! Usir dia dari tempat ini sekarang!!”


Semua orang dewasa itu melihat ke arah Theo sekarang. Joel bahkan berteriak dalam hatinya.


‘Bocah!! Jangan memancing emosi dua orang ini atau kepalamu akan langsung menggelinding ke bawah!!’


Riz dengan cepat langsung menarik dua kursi di dekat meja yang penuh dengan makanan itu lalu mempersilahkan pasangan suami-istri pengelola pasar gelap itu untuk duduk.


“Jack-sama, Seren-sama, sebaiknya kalian duduk”


“Huwaa, terima kasih banyak. Kami duduk ya” Jack menarik tangan sang istri dan duduk di kursi


Joel melirik ke meja bar dan meminta anak-anak itu untuk masuk ke dalam ruangan yang dulu dipakai oleh Justin bersama sang istri. Maggy sedikit panik tapi dia mengikuti perintah suaminya. Semua anak-anak itu termasuk yang bersembunyi di balik meja bar akhirnya masuk ke sana sementara.


“Apa kami mengganggu waktu makan siang kalian?” tanya Jack santai


“Ti–tidak. Itu tidak benar” Joel menunjukkan wajah senyum terpaksa sekali lagi. Tidak lama setelah itu dia bicara dalam hatinya.


‘Jangan bercanda! Tidak mungkin kau tidak mengganggu! Kau merusak waktu makan siang kami semua!’


Joel mencoba bicara untuk mencairkan suasana.


“Ka–kami sedang renovasi karena kejadian dua hari lalu jadi…”


“Tidak perlu khawatir. Niatnya ingin ikut makan denganmu tapi sepertinya anak-anak tadi tidak suka dengan kehadiran kami berdua, jadi aku langsung saja jelaskan maksud kedatangan kami ke sini” Jack menjawab dengan santai


“Maksud…kedatangan?” Riz menjadi bingung


“Apa pria bernama Kaito ada di sini? Aku ingin sekali bertemu dengannya”


******