Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 30. Sebuah Jalan yang Asing bag. 1



Langkah Kino terhenti saat ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Ketika dia menengok ke belakang, dia melihat sosok Ryou yang penuh keringat dengan napas terengah-engah seperti berlari sangat lama.


“R–Ryou?! Ada apa denganmu?” Kino yang melihat itu tiba-tiba menjadi panik


“…Haa...Akhir…Akhirnya aku…berhasil menemukanmu, Kino” dengan napas yang masih belum stabil dia mencoba bicara


Kino memegang tangan Ryou yang penuh keringat. Ryou berkata bahwa dia hanya perlu menarik napas sebentar. Setelah menarik napas panjang dan menghembuskannya sebanyak lima kali, Ryou akhirnya bisa bicara dengan normal.


“Aku sudah mencarimu kemana-mana. Awalnya aku pikir aku akan berakhir dengan mengelilingi semua pelosok kota hanya untuk menemukanmu. Aku senang saat berlari tadi aku melihatmu di depan toko roti ini lagi”


“Begitu. Jadi, apakah jam sakunya sudah ditemukan?” Kino langsung berwajah penuh harap


“Soal itu…aku sudah mencarinya ke semua jalan yang tadi kita lewati, tapi yah…sama sekali tidak menemukan petunjuk apapun” Ryou menggelengkan kepala dan berwajah kecewa


Melihat reaksi Ryou, Kino juga jadi berubah semakin murung. Dia berharap bisa menemukan jam saku itu namun, sejak awal sepertinya hal itu memang tidak bisa berakhir dengan mudah. Ryou melihat wajah kakaknya berubah menjadi murung kembali dan memutuskan untuk mengubah topik pembicaraan.


“Bagaimana kalau makan dulu? Apa kau lapar sekarang?”


“Aku tidak begitu lapar. Sekalipun aku merasakannya sekarang, aku pikir ini bukan saat yang tepat untuk makan. Aku harus mencari jam saku itu lagi dan–”


Ryou memotong kalimat Kino dan berkata “makan!. Pokoknya harus cari makan dan tempat yang nyaman untuk mengobrol. Dilihat dari panasnya matahari sekarang aku bisa menebak sudah jam sebelas atau setengah dua belas siang. Setidaknya ada beberapa hal yang bisa kita bicarakan. Kita makan!”


Ryou menggandeng tangan Kino dan membawanya masuk ke toko roti itu. Setelah membeli banyak sekali roti, mereka berjalan keluar dan pergi lagi ke tempat kios minuman dingin tidak jauh dari toko roti tersebut.


“Permisi. Paman, es lemonade dua. Sekalian aku pesan soft ice cream dalam gelas dua ya” Ryou memesan beberapa minuman


Kino yang melihat itu hanya bisa menarik lengan baju sang adik, menandakan sebaiknya sudah cukup, tapi Ryou tersenyum lebar sambil berkata “aku yang bayar”


Setelah semua pesanannya sudah di tangan, mereka berjalan menuju pusat kota.


Pusat kota adalah bagian dari kota tersebut yang letaknya berlawanan arah dengan bangunan altar. Sekarang mereka berada cukup jauh dari bangunan altar. Tentu saja pusat kota adalah tempat yang lebih luas dan lebar dari jalan besar di kota.


Di tempat itu, sebelum terjadi keanehan ini terdapat kolam air mancur pada bagian tengah jalan pusat kota. Setelah terjadi perubahan pada saat ‘dunia malam’ tidak muncul, pada bagian jalan pusat kota tidak terdapat apapun dan hanya jalanan lebar yang dilalui kereta kuda serta pejalan kaki.


Di bagian sisi jalan dari pusat kota terdapat area yang rindang dengan pohon dan kursi taman di sekitarnya. Kedua kakak beradik itu terlihat agak terkejut tapi hal itu membuat mereka lebih baik. Mereka mencari tempat untuk makan dan setelah berhasil menemukan satu tempat yang cukup nyaman, mereka duduk di sana untuk istirahat.


“Wah, nyaman sekali~” Ryou tersenyum ceria sekali


Kino hanya tersenyum tipis, tapi dia bisa melihat bahwa tempat itu memang begitu nyaman. Ryou mulai membuka roti yang baru saja dibelinya dan memberikan satu pada Kino. Meskipun awalnya menolak tapi, mau tidak mau dia tetap menerima pemberian sang adik padanya.  Ryou berpikir untuk membicarakan hal yang ringan pada sang kakak untuk merubah moodnya.


“Rasanya enak iya kan? Meskipun tidak seenak roti di Jepang, tapi mereka bilang roti krim melon ini cukup terkenal”


“Aku tau. Ini enak. Terima kasih sudah membelinya untukku” Kino memakannya sambil tersenyum


Suasana sedikit lebih baik. Mereka memakan roti dan es krim yang dibelinya. Setelah berhasil membuat suasana dan wajah sang kakak kembali ceria, Ryou mulai bicara serius.


“Kino, kurasa kau harus berhenti menyalahkan dirimu sendiri untuk hal ini”


“……”


“Ini tidak seperti kau yang menghilangkan jam sakunya, karena itu sebaiknya berhenti menyalahkan dirimu dan kita mulai berpikir kemungkinan lain”


“Bukankah itu adalah kenyataan? Aku yang menghilangkan jam saku itu, padahal selama ini benda itu ada padaku” Kino berubah sedih lagi


Tapi, bukan itu maksud dari pembicaraan ini. Ryou sedang mencoba menyusun kata-kata untuk memberi semangat dan menghibur Kino. Meskipun sepertinya kemampuan mengarangnya tidak sebagus akting yang dia lakukan beberapa waktu lalu.


“Aku tidak mau kau menyalahkan dirimu lagi, kakakku. Sekarang aku ingin mengajakmu berpikir tentang kemungkinan lain”


“Kemungkinan lain? Apa maksud Ryou?”


“Aku berpikir bahwa hilangnya jam saku itu bukanlah kebetulan”


“Bukan kebetulan? Kenapa Ryou bisa berpikir begitu?”


“Aku tidak tau. Hanya menebak. Meskipun begitu bukan berarti aku tau kemana perginya benda itu. Jam saku itu bukan benda hidup yang punya kaki kecil untuk berlari dari kita, kau tau”


Ryou bicara dengan nada santai sambil menyeruput lemonade dinginnya dan memakai es krim cup di tangannya. Kino tidak bisa berhenti membuat wajah bingung mendengar ucapan adiknya yang santai seperti itu.


“Ryou… Aku sedang serius. Kaito-san juga mengatakan bahwa hal ini–”


“Aku juga serius soal ini, Kino. Aku sendiri masih belum bisa memikirkan apa yang akan terjadi pada kita jika jam saku itu tidak ditemukan di saat Kaito sudah menemukan ingatannya”


“Sudah kuduga itu adalah salahku”


Sekarang Kino benar-benar menjadi murung kembali dan ini semua berkat niat ‘tulus’ dari Ryou yang sama sekali tidak bisa menyusun kata-kata dengan benar. Niat awalnya ingin menghibur sang kakak dan sekarang berakhir membuatnya menyalahkan dirinya sendiri. Akhirnya, Ryou hanya bisa mematung sementara dan memikirkan cara untuk mengubah topik ini.


‘Dasar bodoh! Cari topik lain agar Kino tidak murung lagi!! Ah!’


Ryou mengingat apa yang terjadi sebelum dia bertemu Kino beberapa saat lalu ketika dia mengunjungi altar.


“Kino, dengar. Tadi aku sempat mencari ke kolam air mancur dan altar. Di sana petugas penjaga mengatakan ada orang selain diriku yang mencari jam saku dan saat berpikir itu pasti adalah kau, aku yakin kau pasti mendengar rumor aneh juga. Benar begitu, kan?”


Raut wajah Kino mulai berubah normal. Dia mengingat apa yang didengarnya saat berada di altar. Dia mengatakannya pada sang adik semua yang dia tau ketika dia pergi ke bangunan tersebut. Tentu saja wajah Ryou tampak tenang mendengarkan sambil meminum es lemonade yang dibelinya.


“Sebenarnya Kino, aku bahkan mendapatkan detail lebih banyak dari yang kau dengar itu. Aku sempat bicara dengan salah satu pengunjung yang kutemui sebelum masuk ke altar. Mereka sepasang suami istri yang mengalami kehilangan benda berupa gelang permata. Dan yang lebih tidak masuk akal, dalam satu minggu mereka telah kehilangan benda serupa ketika mengunjungi altar”


“Kehilangan…benda serupa dalam satu minggu?” Kino terlihat terkejut mendengar apa yang dikatakan Ryou


“Benar. Anehnya, hal itu mereka katakan baru terjadi seminggu belakangan ini. Kalau hanya sekali aku mungkin akan berpikir mereka yang ceroboh, nyatanya yang mengalami hal itu bukan hanya pasangan itu saja. Aku sempat mendengar bahwa ada lebih dari satu yang mengalaminya dan semua benda yang hilang itu cukup memiliki nilai”


“Aku ingat Kaito juga pernah melakukannya, kan? Saat pertama kali dia datang ke ‘dunia’ ini, dia mengatakan bahwa dia mencuri di altar untuk menyambung hidup”


“Ryou benar, aku juga mengingatnya. Saat itu Kaito-san masih belum mengetahui apapun tentang ‘kedua dunia’ ini”


“Aku ingin tau pendapatmu tentang ini. Kino, kau tidak berpikir jam saku kita hilang karena dicuri kan?”


“Aku berpikir begitu pada awalnya. Aneh sekali jika memang ada yang mau mencuri jam saku tua penuh goresan begitu, terlebih lagi jam itu masih ada saat kita akan meninggalkan altar. Sejujurnya sebelum bertemu Ryou tadi, aku sempat berpikir mungkinkah ada yang mencurinya saat kita berjalan di kota. Tapi, setelah melihat uangnya masih ada di saku celanaku, aku mulai menghilangkan pikiran itu”


“Begitu ya, jadi jamnya masih ada di sakumu saat kita keluar”


“Iya” Kino menjawab sambil meminum lemonade dingin


Ryou terlihat sedikit lega mendengarnya. Paling tidak dia tidak perlu mengungkapkan pikiran bodohnya soal hal lain.


‘Syukurlah ternyata memang bukan dicuri. Awalnya, saat mendengar perkataan pasangan itu dan bertanya tentang kasus kehilangan di altar, kupikir ada hubungannya. Aku hampir saja menuduh sekumpulan anak-anak yatim piatu di depan altar sebagai pelaku pencuriannya. Memang ada anak yang bahkan masuk ke altar, tapi kurasa karena petugas penjaga juga mengizinkan mereka untuk meminta sumbangan di dalam’


Ryou dengan santai mengambil sepotong roti lain dari kantong dan memakannya. Dia memberikan satu lagi pada Kino agar dia makan yang banyak untuk menenangkan diri. Kino tentu saja tidak bisa menolak pemberian adiknya dan memakannya. Ryou hanya melirik wajah Kino dengan tatapan tajam tanpa sepengetahuannya.


Pikiran rumit yang tidak diketahui Kino terus berada dalam hati Ryou, seolah saat ini dia tidak bisa menghilangkan semua prasangka yang dia punya.


‘Ini lebih rumit dari yang kupikirkan. Memang aneh sekali jam saku yang selama ini disimpan dengan baik oleh kakakku bisa hilang tanpa diketahui. Kalau dikaitkan dengan kejadian di altar itu, bisa jadi dicuri tanpa sepengetahuan Kino saat dia mencari informasi. Tapi, pikiran itu langsung lenyap ketika dia mengatakan jam sakunya masih aman saat itu. Berarti, aku bisa mulai berasumsi ini ada kaitannya dengan ‘dunia malam’ yang lenyap. Aku tidak tau, apakah boleh aku berpikiran sampai sejauh ini, tapi Kaito yang sudah lama berada di sini saja tidak mengetahuinya dengan pasti. Sekarang, aku bisa mengerti kenapa Kaito mengatakan masalah jam saku kami yang hilang lebih menyusahkan dibandingkan yang lain’


Kino terlihat lebih baik dari sebelumnya, hal itu bisa dilihat dari caranya menikmati roti dan es krim cup yang ada di tangannya. Meskipun kemampuan menyusun kata-kata Ryou tidak sebagus aktingnya, tapi dia cukup terampil membuat mood sang kakak berubah jadi lebih baik. Setelah selesai makan, mereka menyimpan sisa roti yang masih ada di kantong belanja untuk Kaito.


Setelah duduk beberapa lama, mereka berpikir untuk mencari jam saku mereka kembali.


“Aku rasa kita harus mulai bertanya pada beberapa penduduk agar memudahkan kita mencari informasi” Ryou berdiri dengan pose tolak pinggangnya


“Ryou benar. Aku berharap Kaito-san bisa menemukannya, tetapi aku juga tidak ingin berharap padanya sejak Kaito-san juga harus menemukan kepingan ingatannya yang hilang”


“Benar sekali. Anggap ini adalah masalah kita berdua. Kita yang akan menyelesaikannya. Kuharap saat suara jam aneh itu terdengar sore nanti, jam saku itu kembali pada kita ketika perulangan terjadi”


“Aku berharap begitu dan sebenarnya Ryou…aku berharap kita tidak berpencar lagi untuk mencarinya. Aku hanya tidak tau apa yang akan kupikirkan lagi jika mencoba mencarinya sendiri”


“Hee…kau sadar rupanya. Aku juga tidak berpikir aku akan membiarkanmu mencarinya sendiri. Bisa saja kau akan menangis dan menyalahkan dirimu sendiri lagi. Intinya, kita bisa yakin 100% jam saku itu bukan dicuri dan tidak ada hubungannya dengan kejadian di altar”


“Ryou benar”


“Dan sekarang, hanya tinggal berharap ada orang baik yang menemukannya dan mau mengembalikannya pada kita”


Kata-kata terakhir dari Ryou itu hanya sebuah omong kosong yang tidak serius. Tentu saja dia tidak sebodoh itu sampai mau bergantung pada orang lain untuk mengembalikan barang yang hilang padanya. Lagipula sejak awal, Ryou tidak pernah berharap jam saku itu akan mudah ditemukan. Se-optimis apapun dia, dia tau bukanlah hal mudah untuk menemukan barang yang hilang tiba-tiba dalam waktu 12 jam.


Setelah itu, mereka berdiri dan mulai berjalan untuk mencarinya sekali lagi.


‘Aku berharap jam saku itu benar-benar kembali pada kami ketika perulangan terjadi’


******


Di waktu yang sama ketika Ryou keluar dari bangunan altar untuk menemukan Kino, di saat itu Kaito menemukan sebuah anak tangga menurun yang sepertinya mengarah pada jalan lain. Dia bisa melihat ada bangunan rumah di sisi kanan dan kiri di sepanjang anak tangga menurun itu dan setelahnya terdapat jalan lurus yang mengarah ke suatu tempat.


Kaito masih belum beranjak dari tempatnya berdiri dan tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. Dia cukup lama terjebak di ‘kedua dunia’ ini dan tentu saja dalam hatiya mulai muncul pertanyaan paling dasar dalam situasi seperti ini.


“Sejak kapan ada jalan lain di kota ini?!”


Sungguh kejutan di siang hari. Selain pagi ini dia melihat pemandangan di depan altar yang mirip seperti ‘dunia malam’ kemarin malam, sekarang dia menemukan objek wisata berupa anak tangga misterius dengan rumah di setiap sisinya.


Kaito mencoba menarik napas panjang dan mulai menuruni anak tangga tersebut. Sepanjang jalan dia melihat sisi kanan dan kiri tempat itu.


“Di luar dugaan. Kupikir akan sangat sepi ternyata cukup ramai”


Seperti yang dikatakannya, tempat itu cukup ramai. Masih terlihat normal walaupun tidak seramai di kota. Kaito mulai menatap tajam seluruh tempat itu. Ketika dia sudah selesai menuruni semua anak tangga dan berjalan lurus mengikuti jalanan itu, dia mulai merasa sedikit berbeda. Semakin lama rumah penduduk tidak seramai sebelumnya. Mulai ada bangunan dengan kaca yang pecah dan ada beberapa bangunan yang rusak.


Kaito tidak bisa berhenti untuk berpikir.


‘Ini bukan perasaanku. Tempat ini memang semakin lama semakin sepi. Beberapa bangunannya bahkan terlihat tidak berpenghuni. Selain itu, aku tidak suka aroma tempat ini. Aroma yang penuh dengan sesuatu seperti sampah atau alkohol. Benar-benar sulit dipercaya ada tempat seperti ini di kota’


Di depannya terlihat pertigaan yang masing-masing menuju pada semua gang kecil. Dia memilih belokan secara acak. Ketika berjalan memasuki gang kecil yang sempit itu, dia berada dalam perempatan lain yang membuatnya memilih belokan secara acak. Kaito terus melakukannya sampai akhirnya dia merasa telah masuk ke tempat itu lebih dalam. Sekarang bagian terbaiknya. Belokan terakhir yang dipilihnya adalah jalan menuju sebuah kawasan asing yang memiliki kios-kios barang aneh. Hampir semuanya barang yang kualitasnya dibawah standar bahkan tidak jelas bentuknya. Meskipun begitu, ada beberapa kios yang menjual barang-barang seperti senjata atau makanan.


‘Mirip seperti kios di kota tapi lebih sederhana. Jika diperhatikan lagi, pencahayaan di tempat ini agak kurang. Aku ingin tau kenapa pencahayaan di sini tidak begitu baik walaupun sudah terkena sinar matahari siang’


Kaito melihat orang-orang di sekitar tempat itu juga memiliki wajah yang tidak bersahabat. Beberapa ada yang menghindarinya karena melihat pedang tanpa sarung milik Kaito, beberapa ada yang mencoba mendekati namun dipukul mundur oleh tatapan sinis darinya.


Sepanjang jalan Kaito melihat beberapa orang bertubuh kekar dengan tato di tangan dan bagian tubuh lainnya. Mereka seperti berbisik dan memperhatikan Kaito dari kejauhan. Kaito menyadari hal itu tapi dia tetap tenang dan terus melewati jalan itu tanpa halangan. Ketika hampir menjauhi daerah itu, dia melirik ke belakang dan dilihatnya orang-orang bertubuh kekar itu pergi.


“……”


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit, Kaito mengambil jam saku miliknya dan melihat waktu sudah menunjukkan jam 12.35. Setelah memasukkan kembali jam sakunya, dia berjalan kembali dan melihat sebuah bar. Bar itu terlihat gelap dengan pintu tertutup. Dia tidak begitu berminat dengan tempat itu jadi dia melewatinya. Beberapa menit setelah melewati bar dan berjalan lurus, Kaito mulai berlari dengan kecepatan tinggi.


‘Sepertinya aku diikuti. Mereka mungkin sekelompok orang-orang bertubuh besar tadi. Berbeda dengan ‘dunia malam’, di sini sebisa mungkin aku tidak boleh membunuh manusia kecuali dalam keadaan tertentu. Sementara ini kurasa aku akan menghindari mereka’


Dugaan Kaito tidak salah, di belakangnya memang ada orang-orang yang mengikutinya dan mereka memang kelompok orang-orang bertubuh besar dengan tato yang dilihatnya. Jumlahnya lebih banyak dari yang dilihat sebelumnya.


‘Kurasa mereka cukup berminat dengan pedang yang kubawa. Mereka pasti berpikir bahwa aku cukup layak untuk menjadi korban mereka di siang hari seperti ini. Sungguh merepotkan’


Kaito berbelok dan langsung menambah kecepatannya lagi hingga orang-orang tersebut kehilangan jejaknya.


******