Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 26. Awal Perulangan



Wajah ketiganya seperti sedang melihat mimpi buruk. Jelas terdengar suara jam berdentang begitu keras yang menjadi tanda bahwa mereka seharusnya berpindah ke ‘dunia malam’. Namun, siapa yang menyangka bahwa yang mereka dapatkan adalah sebuah kota yang ramai dengan cahaya matahari pagi yang cerah. Banyak penduduk yang lalu-lalang di jalan dan suasana matahari sore yang hampir terbenam berganti menjadi suasana pagi kembali.


Selain itu, hal yang tidak masuk akal lainnya yang mereka alami adalah semua barang-barang yang mereka beli sore ini termasuk pakaian yang dikenakan oleh mereka dan semua senjata itu lenyap seakan tidak pernah berada di tangan mereka.


“A–apa yang terjadi sebenarnya?!” Kino tidak bisa menyembunyikan wajah syok dan kagetnya


“Semua senjata yang baru saja kita beli tidak ada, bahkan pakaian kita kembali seperti semula. Kaito, sebenarnya apa maksud semua ini?! Bukankah seharusnya kita berada di ‘dunia malam’ sekarang? Ini jelas-jelas bukan tempat mengerikan itu. Ini ‘dunia siang’!!!” Ryou berteriak dengan panik


Kaito sendiri hanya terpaku dengan wajah syok tanpa tau kenapa hal seperti ini bisa terjadi. Dia mulai menyadari bahwa lokasi tempat mereka berdiri adalah lokasi setelah mereka kembali dari ‘dunia malam’ kemarin.


Ketika mereka melihat ke belakang, hal yang mereka lihat adalah toko roti bertuliskan [Boulangerie Rassen]. Tidak ada hal yang lebih membuat pikiran mereka berubah gila selain kenyataan ini. Jelas mereka seharusnya tidak berada di tempat itu, mengingat mereka baru saja keluar dari toko [Magasins d'herbes et de poisons] untuk mengambil pesanan racun milik Kaito.


“Kaito-san, tempat ini…bukankah ini toko roti yang kita datangi tadi pagi? Ada yang tidak benar. Ini seperti kita kembali lagi ke tempat yang sama seperti pagi ini”


“Aku juga tidak tau tentang ini. Tidak pernah ada hal seperti ini sebelumnya. Selain itu, jelas ini cuaca cerah di pagi hari yang baru kita alami”


“Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku akan pergi ke toko roti itu sebentar. Kaito, tolong jaga Kino untukku”


Ryou dengan wajah serius segera berlari ke toko roti tersebut. Di jalan besar itu, Kino dan Kaito terdiam dan masih tidak bisa berpikir jernih. Kaito mengambil jam saku miliknya dan waktu menunjukkan pukul 06.05, seharusnya dibaca sebagai jam enam petang. Tapi, dengan keadaan cerah seperti ini, dia hanya bisa menyebut waktu yang ditunjukkan oleh jam saku itu sebagai jam enam pagi.


“Jam enam…tapi dengan keadaan cerah seperti suasana pagi seperti ini…aku rasa akan aneh bila menyebutnya jam enam petang. Tapi ini benar-benar tidak masuk akal sama sekali. Aku bahkan tidak bisa memikirkan kemungkinan apa yang menyebabkan hal seperti ini”


Kaito mulai terlihat bingung dan sorot matanya yang sedikit menyipit membuat kesan seakan dia juga tidak memprediksi hal seperti ini.


“Kita harus bagaimana sekarang, Kaito-san?”


“……”


Hal seperti ini sungguh di luar prediksi. Kaito masih memegang jam saku itu di tangannya dan dia hanya bisa terdiam. Selang sepuluh menit kemudian Ryou berjalan perlahan dengan menundukkan kepalanya. Kino melihat sang adik keluar dari toko roti itu dan berlari untuk menghampirinya, meninggalkan Kaito di belakang.


“Ryou!! Ryou, apa kamu terluka? Apa semua baik-baik saja?”


Kino mendekati sang adik dan dia sedikit terkejut melihat wajah Ryou seperti mengalami syok sampai terlihat berkeringat dan pucat. Kaito menengok ke belakang dan mencoba menghampiri mereka berdua. Dia berhenti saat melihat ekspresi wajah Ryou.


“Mereka tidak mengingat kita…” Ryou bicara pelan sekali


Kino tidak bisa begitu mendengar apa yang dikatakan oleh sang adik karena suaranya begitu kecil


“Apa yang Ryou katakan? Aku tidak dengar. Bisa diulangi lagi? Apa yang terjadi di dalam tadi?”


“Pasangan suami istri pemilik toko roti itu tidak mengenalku dan tidak merasa pernah melihatku sebelumnya. Aku menjelaskan tentang kita yang meminjam kamar tamu mereka untuk beristirahat dan semua hal yang terjadi pagi ini, tapi mereka justru menatapku dengan tatapan aneh seolah mereka memang tidak mengetahuinya. Aku juga sudah mengatakan bahwa pagi ini kita bertiga baru saja keluar dari tempat mereka, namun mereka bersikeras tidak


tau dan tidak pernah mengalami keributan seperti yang kujelaskan pada mereka”


“……” Kino terdiam dengan wajah pucat


Ryou mengangkat kepalanya dan menatap wajah Kino dengan tatapan syok, bingung dan tidak tau bagaimana menjelaskan situasi ini.


“ Nee…bukankah ini seperti perulangan kembali dari nol? Apa ada alasan lain yang lebih masuk akal dari ini semua!. Bahkan kau bisa lihat juga kan, kantong kain berisi penawar ini ada di sabuk pengikat kita berdua! Jika bukan perulangan dari nol lalu apa yang terjadi sekarang?!” Ryou menunjukkan kantong tersebut pada Kino


Kino tentu menyadarinya sejak semua pakaian mereka kembali normal dan semua senjata yang baru mereka beli lenyap tanpa jejak. Tapi, dia tidak bisa berkata apapun untuk menjelaskan situasi ini. Mereka melihat ke arah Kaito yang berada di belakang Kino, terdiam mematung dan menggenggam erat jam saku itu di tangannya.


Setelah mencoba untuk tenang, Kaito menarik napas panjang dan menghembuskannya. Dia mulai berjalan kembali mendekati mereka dan meminta mereka untuk ikut dengannya. Kino dan Ryou  berusaha untuk mengembalikan sikap tenang mereka dan berjalan mengikuti Kaito di belakangnya.


Di saat seperti itu, memang tidak ada yang bisa dilakukan. Bukan berarti mereka senang berada di dalam ‘dunia malam’, hanya saja sekarang mereka seperti tersesat di tempat yang lebih asing lagi dan tidak tau apapun.


Tidak ada petunjuk yang mereka temukan setelah melihat-lihat sepanjang jalan. Semua tampak normal, tidak ada keanehan apapun. Hal ini juga merupakan pertama kalinya terjadi pada Kaito setelah sekian lama dia terjebak


dalam ‘kedua dunia’ tersebut.


Mereka terus berjalan sampai akhirnya berada di depan toko ramuan obat dan racun [Magasins d'herbes et de poisons] kembali. Kaito mengingat detail kejadian pada pagi hari ini. Saat Kaito masuk dan kedua kakak beradik itu menunggu, waktu yang ditunjukkan jam saku miliknya pukul 07.43.


Sekarang saat Kaito melihatnya kembali, waktu yang ditunjukkan pukul 06.27. Terdapat perbedaan waktu dikarenakan kejadian mereka berada di toko roti itu seperti terhapus dan tidak pernah terjadi.


‘Apakah perbedaan waktu ini bisa menjadi sebuah petunjuk untukku?’


Kaito mulai berpikir hal itu mungkin saja bisa dianggap sebagai petunjuk. Kaito melihat kedua kakak adik itu dan mencoba meyakinkan mereka untuk bersikap tenang.


“Aku tau kalian masih belum memahami situasinya, begitu pula denganku. Tapi jika kita terus mempertanyakan hal ini, kita tidak akan bisa menemukan apapun. Sebaiknya untuk sementara kita coba mengikuti alurnya dan melihat apa yang terjadi”


“Aku sudah menarik napas panjang dan mencoba mengembalikkan akal sehatku, jadi aku memutuskan untuk mengikuti alur seperti yang kau sarankan. Selain itu, melihatmu yang juga kebingungan menunjukkan kau sendiri


juga tidak tau apapun tentang ini.” Ryou akhirnya mulai bisa berpikir tenang


“Tidak ada salahnya untuk memperhatikan situasinya dahulu. Lagipula, kejadian ini baru kita semua alami. Aku cukup tenang mengetahui Kaito-san sendiri juga bisa berpikir jernih”


Mereka sudah bisa menunjukkan ekspresi wajah normal kembali dan memutuskan kali ini untuk coba masuk ke dalam toko itu bersama.


Pintu toko dibuka dan mereka disambut oleh pemilik toko tersebut.


“Selamat datang”


Pemilik toko tersebut merupakan pria yang terlihat berusia 50-60 tahun namun memiliki fisik yang masih terlihat sangat sehat. Dia menghampiri mereka bertiga yang baru masuk. Kaito sempat berbisik kepada mereka berdua.


“Dia adalah orang yang sama yang melayaniku tadi pagi”


“Apa kau sempat bicara banyak dengannya atau kau sempat bertanya siapa namanya?” Ryou mulai bertanya sambil berbisik di telinga Kaito


“Tidak ada salahnya dicoba, Kaito-san. Ini mungkin bisa dijadikan sebagai petunjuk juga. Selain itu, apakah kamu ingat apa yang berbeda dengan gerak geriknya sekarang?” Kino juga mulai berbisik di telinga Kaito


“Sejauh ini tidak ada. Caranya menyambut kita barusan sama persis seperti yang dia lakukan padaku”


“Begitu. Kau tidak mau mencoba berbuat satu atau dua hal yang berbeda sekarang ini? Bagaimana pun juga, kita harus coba melihat setiap perubahan situasi di seluruh tempat yang kita datangi pagi ini” Ryou menyarankan ide terbaiknya untuk saat ini pada Kaito


“Aku mengerti Aku akan mencobanya”


“Apakah ada sesuatu? Kalian terlihat seperti memiliki masalah”


Pemilik toko itu terlihat ramah sekali. Caranya bertanya pada mereka bertiga menunjukkan betapa ramah dan bersahabatnya pria itu. Kaito berjalan mendekati pemilik toko tersebut dan melakukan pendekatan dengan cara yang sama seperti yang biasa dia lakukan.


“Selamat pagi, Tuan Philippe. Aku kesini ingin menjual beberapa obat penawar racun padamu”


“O, ya? Bagaimana kau tau namaku? Apakah kita sudah pernah bertemu sebelumnya, anak muda?”


Pria tersebut menunjukkan senyumnya walaupun dia juga terlihat penasaran dengan ketiga remaja yang ada di hadapannya tersebut. Tentu saja reaksi seperti itu sudah diperkirakan oleh Kaito. Dia yang bahkan bisa beralasan kepada pemilik toko senjata dan pelayan toko obat sebelumnya untuk mendapatkan semua barang yang dibutuhkannya secara cuma-cuma tidak akan melakukan sesuatu tanpa perencanaan. Saatnya Kaito menunjukkan kemampuan bicara dan bersilat lidahnya itu.


“Tuan Philippe mungkin belum pernah bertemu kami sebelumnya. Tapi, kami mengenal pasangan suami istri dari toko roti [Boulangerie Rassen]. Aku bertanya pada mereka mengenai toko yang bisa menjual obat dari produk yang sudah jadi dan mereka menyarankan tempat tuan padaku. Tentu saja mereka tidak mungkin sembarangan memberikan rekomendasi”


Kaito tersenyum ramah untuk lebih meyakinkan. Kedua kakak beradik itu tau bahwa semua itu bohong. Apa yang dikatakan oleh Kaito murni hanya permainan kata dari kemampuan bersilat lidah yang dimilikinya. Alasan pertama, karena sebelumnya dia pernah berkeliling tempat di kota tersebut sehingga sudah mengetahui toko seperti apa atau produk macam apa yang dijual. Kedua, saat transaksi kemarin Kaito sendiri yang mengatakan pemilik itu sempat memperkenalkan namanya. Dan yang terakhir, dia hanya mengarang soal kenal dengan pasangan suami istri itu.


Wajah Kino dan Ryou terlihat begitu was-was karena mereka jelas tau bahwa itu hanya kebohongan belaka. Kedua kakak beradik itu bahkan berbisik kembali satu sama lain.


“Kaito itu ternyata memang berbakat menjadi kriminal seperti dugaanku. Dia bahkan bisa mengarang cerita dengan senyum polos seakan itu sungguhan. Apa kita akan baik-baik saja?”


“Ja–jangan bicara seperti itu, Ryou. Kaito-san melakukan yang terbaik. Lagipula bukankah yang memintanya melakukan sesuatu yang berbeda sebagai pendekatan adalah kamu sendiri. Cobalah bersikap tenang”


“Aku tau itu, tapi kalau begini jelas akan ketauan kalau dia berbohong. Selain itu, tidak ada jaminan pria tua itu mengenal pasangan suami istri dari toko roti itu kan? Kita harus siap untuk lari jika pria ini menjadi curiga!” Ryou sudah menatap sinis ke arah Kaito dari belakangnya.


Namun, reaksi yang diduga ternyata meleset dari perkiraan Ryou.


“Hoo… kalian mengenal pasangan suami istri keluarga Rassen! Tidak mengejutkan kalian mengenal namaku. Mereka memang sering sekali merekomendasikan toko milikku ini pada pelanggan mereka. Hiyaa… aku senang sekali mereka juga menceritakan tempat ini pada kalian. Ayo masuk, kita bisa bicara lebih lama lagi di dalam!”


Senyum cerah dan berbinar diperlihatkan oleh pria itu. Kaito menoleh ke belakang sambil mengacungkan ibu jarinya tanda semua sudah terkendali. Sekarang wajah Ryou yang berubah aneh seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


‘Ternyata dia benar-benar berbakat menjadi kriminal. Tidak heran dia bisa mencuri persembahan di altar dan menipu pemilik toko senjata’


Mereka menghabiskan waktu cukup lama di dalam toko tersebut. Kaito mulai melakukan transaksi dengan pria tersebut selaku pemilik toko untuk menjual semua penawar racunnya. Sejauh ini, menurut Kaito, hal yang dilakukan dan dikatakan oleh pemilik toko itu tidak jauh berbeda. Hampir semua, baik urutan kejadian maupun balasan kata-kata dari pria itu sama. Hanya percakapan buatan Kaito sebelum ini saja yang memberikan perubahan interaksi.


“Totalnya jadi 3.590 Franc. Ini adalah transaksi termahal yang pernah aku lakukan. Jumlah penawar racun ini memang kurang dari sepuluh tapi kualitas mereka benar-benar yang terbaik. Bahkan, komposisi bahannya sangat sulit dicari. Aku terkejut kau memiliki ini, anak muda”


“Aku mendapatkannya dari yang terbaik dan aku tau bahwa tuan Philippe pasti memiliki mata yang bagus untuk ini”


Sekali lagi wajah kedua kakak beradik itu terkejut. Siapa yang menduga penawar obat yang dimiliki oleh mereka begitu mahal dan Kaito mendapatkan itu semua dengan cara yang tidak biasa. Sudah lelah dengan komentarnya, mereka berdua memilih untuk diam dan mengikuti cara Kaito mengatur semua itu.


Kino melihat jam saku miliknya dan melihat waktu menunjukkan pukul 07.13. Mereka menghabiskan waktu di tempat itu jauh lebih lama dari kemarin. Setelah selesai, mereka keluar dan mengikuti Kaito.


“Mau pergi kemana sekarang, Kaito?”


“Pergi ke tempat dimana aku bisa meyakinkan situasi kita semua saat ini. Aku sudah cukup melihat kemungkinan bahwa semua ini memang mirip dengan perulangan seperti yang kau katakan, Ryou”


“Berarti kita memang benar sedang mengulang waktu di ‘dunia siang’ ini? Bagaimana bisa?”


“Aku masih tidak yakin dengan yang disebut perulangan itu, tapi masih ada satu tempat lagi yang ingin aku pastikan. Setelah itu, kurasa aku bisa yakin dengan kesimpulan dari keadaan ini”


“……”


Keduanya hanya bisa mengikuti Kaito. Langkah kaki Kaito semakin lama semakin cepat hingga akhirnya tanpa disadari dia berlari secepat yang dia bisa. Tentu saja kakak beradik di belakangnya berusaha berlari juga mengikuti.


“Jalan ini tidak asing untukku” Ryou berlari sambil melihat tiap sisi yang dilewatinya


“Kaito-san…ini jalan menuju altar, benar kan?”


“……”


Kaito hanya berlari tanpa menjawab mereka. Setelah beberapa menit mereka sampai di altar dan mendapati pemandangan tidak biasa.


“Kaito-san…haa…haa…” Kino berusaha menarik napas setelah lelah berlari


“Oi, Kaito! Kau sebaiknya mengatakan sesuatu pada kami sebelum…Eh? Kenapa bisa ada air mancur di samping altar ini? Sejak kapan?”


Bukan hanya Ryou saja yang menyadarinya, tapi Kino juga mulai bertanya-tanya.


“Bukankah saat kita pertama datang tidak ada air mancur di sini. Apakah benar ini altar waktu itu?”


Seperti sesuatu yang normal sejak awal, tidak ada yang aneh dengan reaksi penduduk kota. Tapi, bagi ketiga remaja tersebut, terutama Kaito yang telah menghabiskan banyak waktu di ‘dunia siang’, perubahan itu menjadi suatu pertanda serius. Pada akhirnya, hanya ada satu kesimpulan yang bisa diambil oleh Kaito dan hal itu membuat kedua kakak beradik itu tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut dan pucat.


“Mungkin…’dunia malam’ di tempat ini…sudah tidak ada…”


“….Eh?”


“Hanya satu kesimpulan yang sekarang ada dalam pikiranku dan yang paling masuk akal adalah kenyataan bahwa ‘dunia malam’ sudah tidak ada lagi”


******