Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 241. Batu Elemen Sihir untuk Remaja Dunia Lain



Baru saja mendapatkan hadiah uang dari hasil drama di hari pertama dan bersusah payah melindunginya setelah menjadi korban pencurian sebanyak dua kali, ketiganya harus mendengar sebuah tanda bahwa mereka harus mengucapkan selamat tinggal pada semua uang tersebut.


“Harganya 50.000-250.000 Penny Libra?!” teriak Ryou karena terkejut


“Benar. Harga termurahnya 50.000 dengan ukuran sebesar ini”


Pelayan elf itu menunjukkan batu elemen seharga 50.000 dan betapa syoknya ketiga remaja dari dunia lain itu.


‘Ini gila! Besarnya hanya seukuran permata milik Kaito yang ada pada liontin Theo waktu itu?!’ pikir Ryou dengan memasang wajah tidak senang


‘Apa ini serius? 50.000 Penny Libra dan hanya sebesar ini?’ Kino juga tidak kalah syok


‘Aku bersumpah kalau ini bukanlah harga yang normal untuk sebuah batu kerikil. Setelah terlibat dalam drama kejar-kejaran sampai siang hari dan kami harus melepaskan uang yang kami dapatkan demi sebuah kerikil? Aku tidak bisa membayangkannya’ pikir Kaito yang tidak jauh berbeda dengan kedua kakak beradik itu


Tampaknya mereka bertiga berada dalam dilema saat ini. Kino meminta izin untuk berdiskusi serius dengan dua orang lainnya.


“Maaf, bisa kami diskusi sebentar?”


“Silahkan tuan”


Ketiganya saling berbisik dan berdiskusi dahulu.


“Aku tidak tau batu sihir bisa semahal itu!” bisik Ryou dengan ekspresi tertekan


“Aku juga tidak tau. Kita baru saja mendapatkan uang dan kita harus melepasnya demi sebuah batu kerikil?! Kino, aku tidak berpikir ini ide bagus”


“Aku mengerti, Kaito-san. Tapi, untuk dapat ikut ujian masuk Akademi Sekolah Sihir, kita memang membutuhkan batu elemen sihir itu”


“Kino, aku setuju dengan Kaito kali ini. Kita bahkan tidak tau apakah bisa menemukan tempat untuk beristirahat malam ini atau tidak. Aku sarankan sebaiknya kita tunda lagi sampai besok” usul Ryou


“Aku tidak ingin mengingatkan kalian berdua, tapi kita sudah menjadi korban pencurian sebanyak dua kali hari ini. Keberuntungan kita sampai sekarang adalah uang itu masih bisa kita dapatkan. Jika sampai kita keluar dari tempat ini dan uang tersebut hilang tanpa bisa kembali pada kita, kalian bisa membayangkan betapa ruginya kita semua?”


Kali ini, pemikiran kritis Kino membuat sang adik dan sahabatnya itu berpikir keras.


‘Aku tidak ingin membayangkannya tapi Kino benar’ pikir sang adik dalam hati


‘Akan jauh lebih menyulitkan jika sampai kehilangan uang yang sudah susah payah kita dapatkan. Apakah memang sebaiknya kami membeli satu batu untuk digunakan?’ Kaito juga jadi berpikir keras


Ketiganya masih memikirkan keputusannya baik-baik karena uang di koper itu adalah satu-satunya jumlah yang mereka miliki.


Melihat ketiga remaja tampan di hadapannya itu kebingungan, pelayan elf itu tersenyum dan menawarkan sesuatu.


“Permisi, tuan berpedang?”


Kaito menengok.


“Ya?”


“Apakah batu penguat yang ada padamu tidak ingin dilakukan tukar tambah?”


“Tukar tambah? Apa itu?”


Pelayan tersebut menjelaskannya kepada ketiga remaja asing tersebut.


“Menukar barang dengan memberikan sejumlah uang kekurangannya. Batu sihir yang ada pada tuan akan kami cek dahulu nilainya dan nanti jika ingin membeli batu elemen sihir, tuan hanya perlu membayar sisanya.”


“Mungkin tidak begitu banyak yang akan dihargai untuk batu sihir penguat, namun setidaknya bisa meringankan pembayaran kekurangannya” jelas pelayan tersebut


Kaito melihat kedua kakak beradik itu dan akhirnya sepakat untuk melakukan transaksi tersebut. Batu permata yang didapatkan dari si manusia babi itu akhirnya diberikan kepada si pelayan.


“Mohon tunggu sebentar”


“Baik”


Pelayan tersebut mengambil alat yang tidak pernah dilihat oleh ketiganya sebelum ini. Alat tersebut seperti memiliki kekuatan sihir untuk mendeteksi kurs dan nilai sebuah benda yang diletakkan di atasnya.


Ryou berbisik pada sang kakak.


“Kino, ini seperti…kita sedang berada di toko mewah di Prancis. 50.000 Penny Libra…jika nilainya sama dengan Pound Sterling di Inggris dan diubah ke mata uang Jepang saat ini, nilainya bisa lebih dari 9.000.000 Yen”


“Aku rasa kamu benar, Ryou”


“Aku mulai berpikir menjual ginjal kita di deep web yang ada di internet. Batu kerikil sekecil itu saja bisa begitu mahal! Aku mungkin akan terkena serangan jantung setelah ini”


“Ryou, jangan bicara begitu. Tapi aku jujur harus mengakui bahwa harga itu sangat mahal. Sekarang aku paham kenapa mereka hanya bisa membuat 700 buah dalam kurun waktu satu tahun”


“Aku harap batu sihir milik si babi itu bisa memberikan harga bagus agar kita tidak harus kehilangan uang kita terlalu banyak”


Pelayan elf itu kembali dan menunjukkan harga untuk batu sihir milik mereka.


“Harganya sekitar 7.590 Penny Libra. Kami bisa bulatkan menjadi 7.600 Penny Libra. Sisanya adalah 42.400 Penny Libra yang harus dibayarkan. Apakah tuan ingin melanjutkan transaksinya dengan metode ini?”


Keduanya sempat terdiam sejenak.


“Kurang dari 10.000 Penny Libra, bahkan tidak sampai 8.000 Penny Libra. Itu masih terlalu mahal” gumam Ryou pelan


Ryou menengok ke arah sang kakak yang masih serius memikirkannya.


“Kino, bagaimana? Kaito pikir itu tidak buruk. Aku masih ragu tapi kurasa kita bisa ambil. Bagaimana denganmu?”


Kino melihat ukuran batu sihir yang dihargai 50.000 di awal.


“Apakah kami bisa mencobanya terlebih dahulu? Batu elemen ini tergantung pada kecocokan, iya kan?”


“Bisa. Jika memang kurang cocok dan tidak mengeluarkan sihir maksimal, bisa mencoba batu lainnya. Semua batu ukuran ini dihargai sama jadi tidak perlu khawatir, tuan”


Kino melihat Ryou dan Kaito.


“Baiklah, kita ambil. Tapi, di antara kita bertiga…siapa orang yang akan memilikinya?”


Kino bertanya karena dia berpikir bukan dia yang akan menjadi orang pertama yang memakainya. Dia menyerahkannya kepada satu di antara adik atau sahabatnya karena melihat kemampuan bertarung mereka yang lebih kuat daripada dirinya.


“Kurasa Ryou bisa membelinya dulu. Ujian sihir nanti mementingkan praktek. Jika kemampuan bertarung menjadi pertimbangan lain, aku masih bisa melakukan sesuatu dengan ilmu berpedangku. Cobalah dulu, Ryou”


“Kau yakin Kaito?”


“Aku yakin”


Ryou akhirnya mengangguk dan mengambil batu sihir tersebut. Batu yang diambilnya berwarna merah.


“Batu elemen api ya. Sekarang biarkan batu tersebut masuk ke dalam tubuh tuan dan rasakan kekuatannya” kata pelayan tersebut


“Masuk ke tubuh?”


Ryou awalnya bingung dengan itu, namun setelah diberitau bahwa dia hanya perlu meletakkannya pada telapak tangannya, batu tersebut kemudian masuk ke dalam telapak tangannya.


“Hah?! Benda itu masuk!”


“Jangan khawatir. Jika ingin dikeluarkan hanya perlu mengatakan [Sortie] dan batu itu akan keluar”


“Menarik” gumam Ryou


Ryou siap mencobanya. Dengan memfokuskan dirinya, dia berusaha membuat api muncul dari tangannya.


“Anda hanya perlu membayangkan api muncul dari dalam tangan Anda, tuan. Semakin besar apinya maka semakin cocok batu tersebut dengan diri Anda” jelas pelayan tersebut


Baru dijelaskan, Ryou tiba-tiba mengeluarkan api yang besar dari tangannya. Bukan hanya satu, tapi dari kedua tangannya dan hal tersebut sontak membaut pengunjung lain terkejut.


Kino dan Kaito bahkan sampai mundur, sedangkan pelayan elf tersebut langsung mengaktifkan perisai sihir untuk melindungi dirinya.


“Ini bagaimana menghentikannya!!” Ryou menjadi panik


“Bayangkan saja api tersebut berhenti. Fokuskan diri Anda, tuan!”


“Bicara itu mudah, tapi kau kan tidak tau aku sepanik apa?!”


“Tuan jangan cemas. Kami sudah terbiasa hampir mati karena pelanggan kami mencoba sendiri kecocokan batu sihir mereka. Tidak perlu khawatir, kami sudah ahli”


Kalimat dan senyuman yang ditunjukkan pelayan itu benar-benar tidak membuat Ryou menjadi tenang. Justru itu membuatnya semakin panik.


“Jangan merasa bangga hanya karena kau hampir mati berkali-kali, dasar bodoh! Ah!! Berhenti! Aku bilang berhenti!!”


“Ryou!!” sang kakak menjadi histeris karena panik


Secara mengejutkan, semua pelanggan dan pelayan lainnya ikut menyaksikan tanpa melakukan sesuatu.


Pelayan elf itu masih memasang senyum di bibirnya. Tidak lama setelah itu, api di tangan Ryou secara mengejutkan menghilang. Bersamaan dengan itu, tepuk tangan yang meriah datang dari semua orang yang melihat.


“Huwaa~ kau bisa mengendalikannya nak! Bagus!”


“Belilah batu itu, anak muda! Itu cocok denganmu!”


“Atraksi apinya bagus. Mama, aku ingin melihatnya lagi”


“Jangan begitu. Anak itu mencoba mencari batu elemen yang cocok dengannya”


Siapa yang menyangka ternyata semua itu seperti tontonan gratis rupanya. Sudah tidak mau memikirkan hal yang bukan-bukan, Ryou langsunng menunjukkan uang di dalam kopernya.


“Aku ambil ini!”


“Eh?” Kino dan Kaito terkejut mendengarnya


“Aku beli ini! Tolong urus kuitansi pembayaran serta garansinya!”


Ryou sama sekali tidak meminta pendapat siapapun dari dua orang lainnya dan membelinya.


Di waktu yang sudah mulai menjelang sore, akhirnya satu dari tiga remaja itu berhasil mendapatkan batu elemen sihir.


******