Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 360. Sebelum Upacara dan Hari Bebas



Dari kejauhan, para anggota Rebellenarmee melihat sosok Algeria yang datang menghampiri bekas kerumunan sebelumnya. Hal itu terjadi setelah mereka selesai mengurus seluruh administrasi yang dibutuhkan.


Galaktika sedikit terkejut.


‘Itu…gadis naga yang kemarin menjemputku! Bisa gawat jika dia sampai ke sini!’ pikirnya


Vares sempat berbisik kepada temannya yang lain.


“Aku tau itu tadi adalah Lady. Kenapa dia bisa bertindak senekat itu?”


“Mungkin ini ada hubungannya dengan darah kotor yang menjadi target kita?” tebak Rayel


Virgo menjawabnya, “Aku rasa bukan. Dia seperti menyebut Xelhanien tadi. Di depan sana, ada salah satu anggota keluarga itu. Mungkin saja ada sesuatu yang membuat hatinya tidak senang”


“Apapun itu, kita harus mencari Lady. Akan lebih cepat jika Lady bisa ditemukan. Tujuan awal kita datang pagi ini adalah untuk mengurus administrasi dan mencari Lady, ingat itu” tegas Vares


Perhatian Galaktika terus tertuju pada Algeria dari kejauhan.


‘Aku harap dia tidak menyadari keberadaan kami di tengah kerumunan banyak orang’ harapnya dalam hati


Rayel yang melihatnya sempat bertanya, “Kenapa? Apa ada sesuatu, Galaktika?”


“Tidak, tidak ada apa-apa. Kita pergi dari sini sekarang?”


“Tampaknya begitu. Kita coba menyusup dan mencari keberadaan Lady” kata Vares


Tidak lama setelah itu, sosok Vares, Virgo dan Rayel menghilang. Hanya Galaktika yang masih ada dan tidak ikut berpencar.


‘Aku tidak boleh sampai ketauan dekat dengan ketiga temanku itu. Haruskah aku melihat apa yang terjadi pada Lady dengan Xelhanien di sana?’


‘Mumpung yang lain sedang berpencar, ini kesempatanku untuk mencari tau hal lain’


Entah apa yang dipikirkan Galaktika di sini, namun dia benar-benar berjalan mendekati tempat Emilia dan Algeria berada.


**


Di sisi lain, Kaito dan kedua kakak beradik itu masih ada di sekitar akademi.


“Aku malas sekali ada di dalam. Keributan tadi membuatku pusing” gerutu Ryou


“Aku senang kamu tidak membuat kita berada dalam perhatian lebih lama, Ryou. Aku hampir terkena serangan jantung tadi”


“Apa?! Kau hampir apa?! Kino, kau tidak boleh punya penyakit selagi kita belum pulang ke Jepang! Ya…tapi kalaupun sudah pulang, kau tidak boleh sakit juga”


“Ryou…” sang kakak hanya bisa bersabar sejauh ini


Kaito mulai berpikir hal yang cukup menarik perhatiannya, “Ryou, gadis itu berkata bahwa dia adalah Midford kan? Jika memang dia terlibat dengan para penyusup itu, kenapa kita tidak melihat Virgo dan yang lainnya saat keributan itu?”


Kino menggunakan analisisnya, “Mungkinkah…mereka menyingkir dari kerumunan setelah berpisah dengan kita tadi agar tidak terlibat?”


“Terlibat?”


“Jika memang Midford adalah keluarga yang bekerja sama dengan para penyusup itu, mungkin saja mereka mencoba untuk tidak terlalu dekat. Aku yakin mereka juga pasti berpikir bahwa anggota divisi telah mencari tau soal mereka”


“Kino benar, Kaito. Itu masuk akal. Maksudku, mustahil pihak mereka juga tidak curiga atau waspada. Apalagi mereka ada di kandang musuh”


Penjelasan Kino dan Kaito cukup masuk akal di pikiran Kaito.


‘Rasanya, mustahil untuk mereka bisa lolos dari anggota divisi. Dan juga…’


Saat Kaito sedang bicara sendiri dalam hatinya, dia menyadari sesuatu, “Aku tidak melihat gadis kecil bernama Emily dan Mark hari ini”


Kino juga baru menyadari sesuatu, “Benar juga. Kita juga terpisah dengan Xenon-san. Kemana dia pergi?”


“Hmm…tidak penting dimana. Aku yakin dia sendiri sedang melakukan tugasnya sebagai anggota divisi dan dengan berpencarnya kita sekarang, kita harusnya memiliki banyak kesempatan untuk mencari informasi” ujar Ryou dengan percaya diri


“Kau benar, Ryou. Masih ada waktu sampai upacara penerimaan dimulai. Kita harus memanfaatkan ini untuk berkeliling”


******


Di kota, Lucas dan kedua temannya berjalan di kota. Mark sempat berhenti di depan sebuah toko, [Larry’s Drug n Poison Shop].


“Aku akan mampir ke sini dulu” katanya


Lucas dan Rexa berhenti, “Kenapa, Mark?”


“Aku ingin membeli sesuatu”


“Apa itu?” tanya Rexa


“Racun tikus, racun serangga, racun hewan buas dan beberapa racun lain”


“Racun? Untuk apa?”


“Untuk diminum”


“......” Lucas dan Rexa hanya bisa diam tanpa kata


Mark mengabaikan wajah kedua temannya itu dan masuk ke toko tersebut.


“Lucas, apa Mark punya hobi tersembunyi?” tanya Rexa


“Aku tau dia aneh, tapi kalau sampai pada tingkat ini…aku tidak tau. Maaf”


Selang beberapa menit kemudian, Mark keluar dengan dua kantong besar berisi botol dan kaleng-kaleng benda dengan gambar tengkorak di depannya.


“Apa ini?” tanya Lucas


“Cemilan. Mau?”


“Mark…aku harap kamu masih normal”


“Aku normal di mata semua orang. Mentalku mungkin yang sudah tidak normal. Abaikan itu. Ayo jalan lagi. Ini untuk social experiment, bukan untuk hal aneh. Aku bersumpah”


Lucas dan Rexa hanya bisa diam dan saling melihat satu sama lain. Tentu saja dalam pikiran keduanya, ada sebuah komentar yang sama.


‘Tidak ada social experiment yang membutuhkan racun sebagai bahannya’


‘Kecuali dia ingin membunuh seseorang dengan itu’


******