Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 174. Event Horror: Pemain vs Zombie bag. 1



Pintu kantin sedikit demi sedikit mulai terbuka dan para zombie itu terlihat mulai melangkahkan kaki mereka.


“Mereka masuk!!” teriak salah seorang mahasiswa di belakang


Ada sekitar 5 ekor zombie yang berhasil masuk sepenuhnya ke dalam kantin.


Dengan gerakan cepat, Kaito tidak membutuhkan aba-aba untuk menyerang mereka.


Dalam waktu singkat, dia berhasil menebas leher kelimat zombie yang masuk ke dalam kantin seorang diri.


Darah segar mulai membasahi lantai kantin dalam jumlah banyak dan membuatnya cukup licin. Kepala zombie yang berhasil dipenggal oleh Kaito mulai menggelinding satu per satu.


Tapi, Kaito harus menerima sebuah noda kecil berupa cipratan darah pada jubah kesayangannya.


‘Aku benar-benar akan membalas semua rasa jijik ini’ gumamnya dalam hati dengan wajah kesal


Semua orang terkejut dan tidak bisa berkata apapun. Gerakan Kaito itu begitu cepat sampai dalam sekejap kelima ekor zombie itu telah terpenggal sempurna dan tidak bergerak.


Namun, lima ekor yang mati pertama tidak menghentikan serangan berikutnya. Kali ini, pintu benar-benar terbuka lebar sekarang dan akhirnya kerumunan mayat hidup itu masuk satu demi satu.


“Kyaaa!!!” teriakan terdengar dari para mahasiswa itu


“Ha Jinan-san, tidak ada waktu. Kim Yuram-san juga sebaiknya masuk dan bersembunyi di dalam dapur kantin, cepatlah!”


“A–aku mengerti! Jinan, ayo!” Kim Yuram menarik tangannya


“Seo Garam-san, jika kamu tidak yakin…sebaiknya–”


“Tidak, aku akan ikut melawan mereka!” Seo Garam terlihat begitu yakin


“Kalau begitu aku saja yang akan melindungi kedua perempuan itu di dalam dapur kantin!” Kang Ji Song menawarkan dirinya


Kang Ji Song mengambil sebuah kursi lain dan membawanya.


“Jika ada yang masuk, kami akan melawan mereka dengan kursi ini!”


Kino dan Ryou mengangguk dan mereka mulai berlari ke arah Kaito. Seo Garam berpesan pada Kang Ji Song untuk melindungi teman-temannya kali ini.


“Aku masih berharap kau benar-benar bisa kami anggap sebagai teman sesungguhnya dan bukan hanya sekedar teman sekelas, Ji Song”


“Kali ini aku tidak akan bersikap egois, aku bersumpah. Sebaiknya kau yang bertekad melawan mereka jangan sampai mati” Kang Ji Song terlihat begitu serius


“Aku tidak berniat untuk itu”


Setelah itu, Seo Garam dan mahasiswa yang berniat melawan zombie-zombie itu mulai berlari ke tengah untuk bersiap. Tentu saja wajah mereka tampak pucat dan terlihat begitu ketakutan, tapi tidak ada pilihan selain bertarung.


Itu lebih baik daripada mati tanpa melawan.


Kang Ji Song bersama Kim Yuram dan Ha Jinan mulai bersembunyi dan dapur kantin.


“Jangan sampai bersuara dan serang makhluk itu sampai kepalanya hancur, ingat itu” bisik Kim Yuram pada Kang Ji Song


“Aku tau”


“Yuram, Kino-ssi dalam bahaya di luar. Aku takut” Ha Jinan tampak gemetar dan mencemaskan Kino


“Kau lihat hasil tendangannya pada Park Cho Joon, kan? Dia itu lembut tapi kuat. Lebih baik kita mengkhawatirkan diri sendiri dan pergi dari sini”


“……” Ha Jinan diam


Park Cho Joon terlihat mundur ke belakang dengan wajah panik dan ketakutan.


“Ka–ka–ka–kalian semua harus membunuh mereka!! Aku tidak peduli kalau kalian mati, yang jelas aku tidak ingin mati bersama kalian!”


“Cho Joon! Berhenti bersikap pengecut! Kemana sikap aroganmu sebelumnya!” Seo Garam sepertinya mulai kesal dengan Park Cho Joon


Namun, dia tidak memedulikan semua itu dan berlari ke belakang untuk bersembunyi di bawah meja belakang yang masih ada. Park Cho Joon sungguh sangat ‘pemberani’ sekali.


Ryou yang melihat sikap ‘si tuan pemberani’ itu hanya bisa menghela napas, lalu dia berbisik pada Kino.


“Aku tidak mau berdamai dengan orang itu”


“Ini bukan saatnya memikirkan itu, Ryou”


“Tapi kalaupun nanti dia hidup, aku tidak akan mau melindunginya lagi”


“Ryou…”


Gerakan Kaito semakin cepat, tapi dia memang kalah jumlah.


‘Ini akan sangat berbahaya! Selain jumlahnya terlalu banyak, gigitan serta cakaran mereka harus diwaspadai. Meskipun gerakan mereka lambat tapi cakupan tempat ini luas sehingga mereka bisa menyebar ke tempat yang sulit aku jangkau saat sedang bertarung’ pikir Kaito


Baru saja dia berpikir begitu, ternyata itu sudah terjadi. Beberapa zombie mulai berjalan ke seluruh sisi ruangan kantin.


“Kino, aku akan melindungi kali ini jadi pergilah ke tempat Garam di belakang” Ryou berlari meninggalkan sang kakak untuk membantu Kaito


“Ryou!!” Kino berteriak memanggil sang adik yang telah berlari ke depan


Dengan penggorengan dan centong di tangannya, dia mulai bertarung.


“Ini mungkin tidak begitu mempan, tapi kalau hanya memukul kepala saja…aku masih bisa!”


-BUUK


Dia melakukannya sebanyak tiga kali tanpa jeda dengan keras. Tentu saja saat dia melakukannya, dia sudah pasti dihujani darah yang mengenai wajah dan pakaiannya. Tapi itu bukan masalah besar.


“Lakukan seperti ini! Sekalipun mereka adalah teman kalian, mereka sudah bukan lagi manusia sekarang! Kalian tidak akan dituntut dan ini tidak masuk dalam kasus pembunuhan!!” Ryou berteriak


Mendengar itu, Seo Garam dan semuanya mulai memantapkan hatinya.


“Hiyaaa!” mereka semua berlari dan mulai memukul para zombie itu


“Jangan sampai terkena cakaran dan gigitan mereka! Hindari sentuhan tangan mereka! Jika ingin cepat, tendang perut mereka terlebih dahulu dengan keras sampai terjatuh atau pukul wajah mereka secara langsung!” Ryou memberikan instruksi


Kaito yang masih sibuk dengan barisan depan cukup kagum dengan arahan itu.


‘Aku yakin ini adalah hasil dari pengalamannya di ‘dunia malam’ waktu itu. Ditambah lagi dengan pengalamannya sering bermain sesuatu yang disebut Genshin Impact yang pernah disebutkan Kino di ‘dunia siang’ waktu itu’


Sebenarnya, ada sebuah kekeliruan besar dari isi hati Kaito.


Permainan yang disebutkan Kino waktu itu bukanlah mengenai penyerangan zombie. Tapi, tidak masalah. Itu tidak penting sejak Kaito bukan orang yang berasal dari zaman modern, jadi wajar dia tidak tau permainan game apa itu Genshin Impact.


Kembali ke pertarungan mereka. Zombie-zombie itu sudah memasuki setengah dari area kantin. Dan lebih gawatnya lagi, mereka terus berdatangan.


Kaito sudah mulai kesal karena setiap dia membunuh satu ekor, yang lainnya langsung mengarah padanya.


‘Ini tidak ada habisnya! Seperti ada yang menuntun mereka ke sini atau justru semua akses masuk ke gedung ini sudah terbuka semua!’


Semakin lama, zombie-zombie itu semakin banyak.


Seo Garam mengikuti instruksi dari Ryou dan mulai bisa melawan para zombie itu. Tapi, tidak semuanya bisa dilakukan dengan mudah.


Dari arah sampingnya, tiga ekor zombie mulai mendekatinya yang sedang memukul zombie yang dia jatuhkan sebelumnya. Seo Garam tidak menyadari hal itu dan begitu dia tau ada yang mencoba menggigitnya, dia berteriak.


“Jangan mendekat!!”


-BUUK


Sebuah tendangan berhasil menyelamatkannya. Bukan tendangan itu dilakukan kembali dan yang menolongnya adalah Kino.


“Seo Garam-san, kamu baik-baik saja?”


“Kino…Kino-ssi”


“Jangan duduk dan serang mereka kembali!”


“Ba–baik!” Seo Garam kembali bangkit


Di barisan belakang, Park Cho Joon hanya bersembunyi di bawah meja. Sejak para zombie itu masih belum menyentuh sisi belakang kantin, dia masih selamat.


‘Aku tidak mau mati bersama mereka. Aku harus pergi ke tempat yang aman’ pikirnya


Dia melihat ke arah dapur kantin.


‘Aku bisa bersembunyi di sana dan mengusir ketiga orang di dalamnya! Benar! Ha Jinan itu juga harus mati karena telah membunuh Eunji. Aku harus melakukannya!’


Dengan mengendap-endap ke sisi samping perlahan tanpa suara, dia melompati meja etalase kantin dan berhasil berada di lurusan jalan menuju pintu masuk dapur kantin.


Kaito yang masih fokus dengan semua gerakannya sama sekali tidak menurunkan kecepatan untuk membunuh para zombie itu.


Semakin banyak darah yang di lantai dan beberapa titik di sana mulai membuat genangan darah. Kepala yang terpenggal itu menggelinding ke beberapa sisi akibat ditendang oleh para zombie yang masuk.


“Ini seperti latihan yang pernah diberikan oleh ‘orang itu’ padaku! Aku senang pengalaman itu mulai bisa kugunakan di ‘dunia’ kejam seperti ini” ujar Kaito sambil tersenyum


Ryou mulai membunuh zombie yang berhasil menerobos sampai ke sisi samping kantin. Itu adalah arah menuju dapur kantin tempat Kim Yuram dan dua lainnya bersembunyi.


“Kalian, tolong urus yang ada di sini! Jangan sampai mereka masuk lebih dari setengah wilayah di sini. Pukul saja terus dan jangan ragu!”


“Kami paham!” teriak mahasiswa lain


Sebenarnya, alasan utama lebih sedikit zombie yang masuk ke dalam kantin itu adalah berkat Kaito. Karena dia yang berada paling depan dan memiliki senjata tajam berupa pedang, membuatnya lebih mudah melawan mereka.


Ryou mulai memukul kepala dua ekor zombie yang mencoba mendekati area pintu masuk dapur kantin.


“Rasakan ini!”


-BUUK


Dia memukul mereka dengan keras.


Sekali pukulan itu masih belum bisa menjatuhkan mereka. Akhirnya dia mulai menendang tubuh mereka hingga keduanya terdorong.


Dengan penggorengan besar itu, dia memukul mereka dan ujung bawah centong dipakai untuk menusuk mulut mayat hidup itu.


‘Aku merasa seperti sedang bermain virtual game versi nyata. Ini seru sekaligus berbahaya. Kalau aku beta tester, aku mungkin berada dalam peringkat pertama ranking pemain’ pikirnya sambil tersenyum senang


Sungguh menakjubkan bahwa dia masih bisa berpikir seperti itu dalam hatinya.


Akan tetapi, ternyata semua tidak berjalan seperti yang dipikirkan.


******