
Joel yang terdiam cukup senang mendengar apa yang disampaikan oleh Riz hingga dirinya bisa bernapas dengan lega.
“Terima kasih banyak, Riz. Kau sudah menyelamatkan mereka semua” Joel menundukkan kepalanya
“Tidak, bukan sepenuhnya hasil dariku. Arkan juga melakukan tugasnya dengan baik. Walaupun akhirnya dia meninggalkanku sendiri karena pergi mencari dua anak itu. Seandainya dia tidak melakukannya, mungkin kedua anak itu akan mengalami hal yang tidak terduga”
“Begitu ya. Ternyata, karyawan yang dingin dan tidak punya hati itu bisa berbuat sejauh itu untuk orang lain. Sepertinya aku akan mulai memikirkan untuk menaikkan gajinya…setelah dia memiliki pembelaan untuk kekacauan ini”
Joel sepertinya mencoba untuk menjadi atasan yang baik dengan memberikan apresiasi tertingginya kepada karyawannya tersebut. Tapi, setelah melakukan introgasi ringan tentu saja.
“Paman Joel, aku tidak bisa terlalu lama. Aku sudah menghabiskan waktu untuk kembali ke tampat ini. Jika tidak kembali sekarang, aku akan lupa tujuanku menangis nanti dan akan terlambat untuk melakukan pembukaan di pasar gelap”
“O–oh, kau sudah mau pergi ya. Tentu. Minumlah dulu”
Riz menghabiskan minumannya dan segera keluar dari bar. Joel mengantarnya sampai depan. Hanya selang beberapa detik, Riz berhenti dan berbalik.
“Paman Joel, pastikan kau membawa anak-anak itu bersamamu saat ke rumah sakit”
“Aku tau, aku akan menyampaikan berita bahagia ini pada mereka”
“Satu lagi…pastikan kau bawa uang yang banyak untuk menebus pengobatan ketiga orang itu juga ya”
“Tentu saja aku akan…hah?!” sekali lagi, Joel terperangah mendengarnya
“Pastikan kau membawa uang untuk menebus biaya pengobatan mereka. Apalagi, remaja bernama Kino itu tampaknya akan dirawat inap di sana akibat luka serius yang dialaminya” Riz kembali mengulangi kalimatnya lagi
“Ke–kenapa justru aku yang–”
“Bukankah paman Joel sangat memperhatikan anak-anak jalanan itu?”
“I–iya, tapi bukan berarti–”
“Remaja bernama Kino itu terluka parah karena melindungi kedua anak bernama Stelani dan Fabil ketika penculikan terjadi. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihmu pada remaja itu”
“……”
Joel terdiam tidak membalas ucapan Riz
Riz hanya tersenyum dan pergi dengan gerobaknya.
Setelah melihat Riz pergi, Joel duduk kembali dan mengingat hal yang dikatakan oleh anak-anak itu.
[Kami sedang bicara soal apa yang akan kami semua lakukan nanti setelah Kino-niichan dan semua kembali]
[Aku dan yang lain ingin makan bersama dengan Kino-niichan dan semuanya]
[Kurasa aku ingin sekali mencoba seperti apa rasanya bisa makan bersama seperti sebuah keluarga]
Joel juga ingat apa yang dia katakan pada Theo saat dia berharap untuk makan bersama seperti sebuah keluarga.
[Aku harap kalian bisa berkumpul dengan anak bernama Kino-niichan itu dan makan bersama di meja makan yang hangat]
Kalimat Riz juga menjadi sebuah pertimbangan sendiri untuknya.
[Remaja bernama Kino itu terluka parah karena melindungi kedua anak bernama Stelani dan Fabil ketika penculikan terjadi. Anggap saja itu sebagai ucapan terima kasihmu pada remaja itu]
Dengan menggaruk rambutnya, Joel akhirnya bergumam.
“Baiklah Joel, langkah tepat untuk memenangkan hati anak-anak itu adalah dengan membalas kebaikan remaja bernama Kino dan kau akan lulus dari sebutan ‘paman mesum’ oleh bocah kecil…maksudku, oleh Theo itu”
Joel telah memikirkan banyak hal sejak Riz pergi.
‘Justin…aku tidak menyangka akhirnya kau mati dengan cara menyedihkan seperti itu. Inilah karma untukmu yang selalu menyakiti anak-anak itu. Tapi, dari cerita Riz tadi…aku merasa seperti masih ada hal yang belum dia ceritakan padaku’ pikirnya dalam hati
Joel masih terus memikirkan tentang pemuda bernama Ryou dan Kaito yang diceritakan oleh Riz.
“Kedua remaja yang tidak asing kudengar. Anak-anak itu juga menyebut nama mereka beberapa kali. Orang yang bisa membunuh Justin dengan mudah dan bahkan membunuh membunuh penjaga gerbang pasar gelap. Aku yakin mereka bukanlah orang biasa” gumamnya pelan
Bersamaan dengan itu, Joel juga sedang memikirkan cara agar bisa membawa anak-anak ke rumah sakit tanpa membiarkan bar ini kosong.
‘Sekarang, aku harus berpikir apa yang sebaiknya kulakukan pada tempat ini, agar bisa mengajak mereka semua ke rumah sakit di pusat kota nanti. Bagaimanapun juga, mereka pasti akan langsung memaksaku untuk menemani mereka ke rumah sakit setelah mereka kembali dan mendengar kabar ini’ Joel mulai berpikir keras
Selang beberapa menit, Theo dan anak-anak lain kembali. Joel yang menyambut mereka mulai mempersiapkan moment tepat untuk mengatakan kejutan ini kepada mereka semua.
******
Di waktu saat ini…
Di jalan utama di kota, Theo dan anak-anak lain berjalan dengan perasaan senang.
“Akhirnya bisa makan kue dengan Kino-niichan~” seru Michaela
“Stelani, kakimu sudah lebih baik? Tanganmu?” Theo bertanya dengan wajah datar
Namun sebenarnya, anak itu begitu khawatir pada teman-temannya.
“Aku sudah lebih baik. Entah kenapa, aku jadi semakin membaik setelah Kino-niisan sadar” jawab gadis itu dengan senyum
“Kau sendiri bagaimana Fabil?” tanya Theo pada Fabil
“Aku baik-baik saja! Akhirnya aku bisa menjadi orang yang sama kuatnya denganmu!” jawab Fabil dengan rasa bangga
“Syukurlah. Akhirnya kau lulus dari Fabil yang lemah”
“Oi, Theo. Kau meledek ya?”
“Aku mengatakan yang sebenarnya. Berkat dirimu dan Stelani, Kino-nii selamat. Terima kasih”
Stelani dan Fabil yang mendengar itu merasa sangat terharu. Mereka sadar bahwa mereka telah mengalami hal yang sulit. Anak-anak lain menggandeng kedua tangan Stelani dan Fabil sebagai bukti kebahagiaan mereka.
Theo terlihat sangat tenang saat mengatakannya, namun senyuman di wajahnya itu benar-benar menggambarkan rasa syukur dan senangnya.
‘Syukurlah, doaku terkabul’ gumamnya dalam hati sambil menggenggam bandul kalung yang ada di kerah bajunya
Di belakang mereka, Joel dan Riz melihat semua itu. Mereka hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pembicaraannya.
“Paman Joel, setelah aku pulang…apa yang terjadi di bar?” tanya Riz
“Aku menunggu anak-anak itu pulang dan memberitau mereka tentang semua yang kau ceritakan padaku. Tentu saja mereka semua sangat kaget dan menangis karena senang. Bahkan kue yang sekarang ada di bar nyaris terbuang sia-sia karena mereka terlalu bahagia” kata Joel sambil mengingat kembali kejadian tersebut
“Begitu. Lalu bar nya?”
“Hmm…”
“Tapi, sesampainya kami di sana…kami hanya bertemu dengan pemuda bernama Kaito di luar karena seperti yang kau bilang. Dia membawa senjata bersamanya, jadi dia menunggu di luar” ujar Joel menjelaskan
“Begitu. Apa paman Joel tau bagaimana reaksi anak-anak itu ketika sampai di rumah sakit?”
“Reaksinya ya…tentu saja–”
“Joel-ojichan, nanti kau ikut makan kue dengan kami juga kan?” Michaela yang digandeng oleh Theo menengok ke belakang dan memanggilnya
“Oh, aku boleh ikut juga?”
“Tentu saja boleh, iya kan Theo-niichan?”
“Ya…sejak kita membeli semua itu dengan uangnya kenapa tidak”
Joel berjalan sedikit lebih cepat dari Riz dan mengusap-usap kepalanya anak itu.
“Oh, bocah kecil. Aku tau kau mulai menyukaiku, iya kan? Panggil aku Joel-ojichan seperti Michaela. Ayo panggil~”
Theo berhenti dan memukul perut pria besar itu dengan wajah merah. Stelani dan yang lain berhenti dan melihat ke belakang.
“Dasar mesum! Sampai kapanpun juga, kau itu tetap saja mesum!”
Theo dengan cepat menarik tangan Michaela dan berjalan dengan cepat meninggalkan yang lain.
“Theo…apa dia malu, Fabil?” tanya Stelani
“Mungkin saja begitu”
Fabil menengok ke arah Joel dan mengusap-usap tangannya sambil berkata “kau yang sabar ya, Joel-ojisan”
Riz yang berada di paling belakang masih mengingat apa yang terjadi saat dia kembali ke pasar gelap usai pulang dan menangis di rumah.
******
Ini terjadi di sore hari, saat dirinya tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke pasar gelap membawa semua dagangannya yang telah dipotong usai pergi ke bar dan mengobrol dengan Joel.
Dengan semua dagangan yang bawanya dengan gerobak, Riz berjalan dengan pikiran penuh dengan rasa cemas.
‘Apakah Jack-sama dan Seren-sama…benar-benar sudah tidak memikirkan apapun lagi mengenai pertukaran ini?’
Hal yang wajar untuknya memikirkan hal seperti ini, karena bagaimanapun juga hasil pertukaran ini melibatkan penjaga gerbang pasar gelap yang mati terbunuh oleh orang yang dibawa olehnya.
Lebih menariknya lagi, mayatnya justru dijual kepada pengelola pasar gelap yang tidak lain adalah pemimpin dari penjaga gerbang tersebut sebelum menjadi mayat.
“Perutku sakit” ucap Riz dengan wajah pucat
Bukan karena salah makan tapi karena dia memang sangat gugup hingga perutnya sakit dan mual.
“Aku harap tidak terjadi apapun nanti dan hari-hari damaiku bisa kembali seperti semula”
Sepanjang jalan hanya pikiran tersebut yang menjadi pokok masalah bagi Riz. Sampai akhirnya dia sendiri tidak menyadari bahwa langkah kakinya kembali membawanya ke depan pintu gerbang yang baru saja dia datangi kurang lebih satu setengah jam lalu.
“Tuhan, kenapa aku kembali ke tempat ini lagi?” gumamnya pelan
Sungguh pertanyaan yang sangat tidak biasa dari seorang penjual mayat sepertinya.
“Selamat datang kembali”
Riz melihat ke arah sumber suara itu dan wajahnya benar-benar menggambarkan rasa takutnya.
“Hmm? Geh?!”
Wajah Riz berubah menjadi aneh ketika melihat orang yang berdiri di depan gerbang layaknya penjaga gerbang yang baru. Bahkan, lengkap dengan pisau daging di tangannya.
“Ke–kenapa Seren-sama ada di sini?”
“Pertanyaan yang bagus. Memang tidak boleh aku ada di sini?” tanya wanita cantik itu dengan wajah lugunya
Sekilas terlihat lugu, tapi dia sedang menggenggam pisau daging sekarang. Jadi, citra lugu milik Seren sama sekali tidak berguna. Itulah yang ada dalam benak Riz.
Seren membuka pintu gerbangnya dan mempersilahkannya masuk, namun gerbang tersebut tidak lagi ditutup melainkan terbuka lebar.
“Kenapa tidak ditutup kembali, Seren-sama?”
“Karena tidak mungkin aku membukanya lagi setelah ini. Suamiku yang tampan itu hanya memintaku untuk menyambutmu saja” jelas Seren yang berjalan di samping Riz
“Be–begitu. Um…pisau itu…” Riz melirik ke arah pisau daging yang dipegang oleh Seren
“Oh, ini milik Will. Anggap saja kenang-kenangan. Mau menyentuhnya?”
“Ti–ti–tidak terima kasih!’ Riz langsung menolaknya
Mereka berjalan dengan tenang dan tidak membahas apapun. Sampai akhirnya, keduannya melihat mayat Will yang masih tidak berubah di jalan utama tersebut dari kejauhan.
“Mayat itu…masih di sana?” Riz terheran-heran melihat tubuh mayat yang ada di kejauhan
“Bukankah Jack mengatakan dia butuh bantuanmu. Tentu saja kami tidak mau menyentuhnya sendiri. Tubuh Will itu besar, Riz. Kau tega kalau sampai aku dan suamiku harus menggendong tubuh sebesar itu berdua tanpa gerobak?”
“Tapi, bukankah di sini ada gerobak milik Jack-sama?”
“Oh…dia malas mengeluarkannya dari gudang, jadi pakai milikmu saja. Bukankah Riz selalu datang dengan gerobak itu untuk mengangkut mayat daganganmu? Aku dan suamiku tidak perlu repot-repot mengerluarkan gerobak dari gudang jika pakai milikmu” Seren tersenyum saat mengatakan alasannya
Riz menggerutu dalam hati sambil memperlihatkan wajah tertekan.
‘Oi oi oi, jangan katakan kalau mereka benar-benar menungguku untuk memindahkannya?! Panutanku…kadang-kadang kau sungguh merepotkan. Argh!!’
Ketika mereka sampai di depan mayat Will, Seren menghentikan langkahnya. Riz ikut berhenti karena bingung dan bertanya.
“Kenapa berhenti, Seren-sama?”
“Aku tunggu di sini. Nanti, cepat ke sini lagi dengan gerobak itu ya. Kita akan potong tubuh Will dan membawanya dengan gerobak milikmu” jawab Seren dengan nada santai
Sekarang Riz hanya bisa terdiam dengan wajah tertekan mendengarkan istri dari panutannya bertitah.
******