
Arkan memberikan senyuman manis dari wajah tampannya sebagai respon untuk pelukan hangat yang diterimanya.
Setelah itu, Joel meminta mereka untuk mandi kembali dan mengganti pakaian mereka. Michaela segera menarik tangan Stelani dan Fabil untuk menunjukkan pakaian yang baru saja mereka beli.
Sekarang, hanya tinggal dua orang dewasa itu. Mereka duduk di kursi bar dan mengobrol sebentar.
“Jadi manager, kau sempat bicara dengan Kaito lagi?”
“Tidak. Anak-anak itu menariknya masuk untuk pergi ke ruangan Kino. Sepertinya jam besuk diberlakukan, jadi mereka semua menunggu sampai jam besuknya datang”
“Jam besuk ya…”
“Aa. Jam besuk terakhir tadi pada pukul 17.00-18.00 sore. Tapi karena Kino belum memiliki tanda-tanda untuk bangun jadi aku meminta mereka untuk pulang dan kami hanya berada di kamarnya selama sepuluh atau lima belas menit”
“Sepertinya manager sudah mencari tau banyak hal di sana”
“Mereka semua terus merengek untuk datang lagi besok jadi aku harus bertanya lebih lengkap mengenai jam besuknya. Jam besuk pagi mulai dari pukul 10.00-11.00 pagi. Jam besuk kedua dimulai dari pukul 14.00-15.30 sore dan jam besuk terakhir pada pukul 17.00-18.00 sore”
“Hmm, jam besuk kedua sepertinya lebih lama setengah jam. Mungkin akan lebih baik jika membesuk di siang hari” Arkan sedikit berpendapat
“Inginnya begitu, tapi anak-anak itu tidak akan melewatkan setiap jam besuknya. Percayalah padaku” Joel tersenyum tipis
“Manager benar. Mereka terlalu khawatir dengan semua itu”
Joel mulai berpikir sebentar.
“Arkan, menurutmu apakah aku harus membiarkan mereka kembali ke rumah mereka yang sempit dan gelap itu?”
“Rumah? Bangunan tua yang biasa mereka tinggali?”
“Aku…aku tidak ingin mereka kembali ke tempat menyedihkan itu”
“Tapi, dimana mereka akan tidur kalau begitu?” Arkan mulai terlihat bingung
“Bar ini mungkin sempit dan tidak bagus, tapi dari air sampai pakaian ada di sini. Selain itu, ada ruang karyawan yang bisa dipakai untuk tidur. Toilet dan kamar mandi juga lengkap. Kupikir, aku akan membiarkan mereka menginap di sini sementara waktu sampai aku bisa memikirkan hal berikutnya”
Arkan cukup terkejut dengan saran managernya. Dia melihat managernya dengan mata lebar dan bertanya.
“Aku tidak…aku tidak menganggap hal itu buruk, manager. Tapi…membiarkan anak-anak berada di bar dengan kondisi seperti ini…bukankah itu terlalu berbahaya?”
“……” Joel terdiam
“Aku tau tidak ada seorang pelanggan pun yang datang ke tempat ini sejak pagi. Tapi, bukan berarti tempat ini luput dari sasaran kriminalitas. Apalagi…”
Arkan mulai berbisik pada Joel “apalagi ada brankasmu di tempat ini”
“Aku tau. Karena itu aku berpikir untuk menemani mereka tidur di sini”
“Begitu rupa…hah?!” Arkan kaget sampai berdiri dari kursinya
“Kenapa kaget begitu?” Joel terlihat bingung
“Kau?! Mau menginap di sini dan melewatkan malam yang biasanya kau pakai untuk tidur bersama pacar-pacarmu?! Pria hidung belang sepertimu?! Kau serius bukan orang lain, kan? Kau managerku yang perhitungan dan sulit memberiku cuti, kan?” Arkan benar-benar tidak percaya pada apa yang dia dengar
Di sini, wajah Joel berubah merah seperti kepiting yang telah matang.
“Kau benar-benar karyawan durhaka ya. Sepertinya aku harus menghilangkan cuti untukmu tahun ini” ancam Joel
“Benar. Setelah itu kau dan aku akan gila bersama-sama, manager. Karena aku akan menulis surat ancaman dan surat kaleng untukmu. Istrimu juga akan kuhantui dengan surat yang sama” respon datar Arkan keluar
“……”
“……”
Keduanya diam sesaat dan kembali duduk dengan tenang sambil menghela napas. Kembali lagi ke topik serius.
“Hentikan ini semua. Aku lanjutkan pembicaraanku. Aku sudah memutuskan untuk menginap dan menemani mereka semua” kata Joel
“Maggy-sama berpesan akan kembali lagi besok. Bukankah sebaiknya manager kembali ke rumah?”
“Tidak bisa. Aku harus menjaga mereka. Jika aku pulang, siapa yang akan menjaga mereka semua?”
Arkan terdiam sebentar dan berpikir.
“Nee, jika aku melakukannya…apakah akan masuk dalam bonusku bulan ini?”
“Hah?”
“Kau tidak lupa bahwa tuan Nox sudah keluar kan, manager? Pagi ini aku bahkan harus mengambil shift pagi yang bukan jam kerjaku hari ini. Itu semua demi membersihkan pesta yang dilakukan Justin kemarin malam. Aku juga seperti mengambil lembur karena sudah lewat dari waktuku pulang”
Arkan mulai berarguman dan menghitung semua hal yang berhubungan dengan pendapatan miliknya. Sekarang, bisnis dan uang yang menjadi pokok pembahasan.
“Seharusnya kau membayarku untuk ini semua, manager” Arkan mulai serius dan bersikeras
“Tapi kau juga yang sudah membiarkan tempat ini hancur, karyawan durhaka! Itu semua terjadi saat kau yang sedang berjaga, dasar bodoh!”
“Itu bukan keinginanku! Salahkan gorilla yang sudah jadi pajangan di pasar gelap!” nada Arkan mulai sedikit meninggi
“Dia masih berhutang padaku 5.000 Franc dan aku belum mendapatkan bayarannya sama sekali”
“Soal itu…eh? Tunggu sebentar!”
Arkan mengambil kantong bekal yang dia letakan di meja bar. Di dalamnya, masih ada pistol dan peluru yang diberikan Kaito padanya. Dia mengambil dan membawanya kepada Joel.
“Manager, Kaito memberikan ini padaku. Awalnya aku ingin menyimpannya untuk berjaga-jaga. Aku khawatir benang takdirku dengan pengelola pasar gelap yang sinting itu masih ada jadi niatnya mau dipakai untuk pertahanan diri. Kira-kira kalau kau jual ini, bisa laku tidak?”
“Pistol?”
“Benar. Lumayan untuk menambah pemasukkan. Katanya, dia mendapatkannya saat diserang oleh anak buah Justin. Bukankah sama saja dengan milik Justin? Dengan begitu kau bisa menganggap hutangnya lunas”
Arkan sudah tidak memanggil Justin dengan sebutan sopan lagi sejak orang itu telah mati. Sekarang, hal terpenting adalah menyelamatkan kemungkinan terjadinya pemotongan gaji karyawan akibat masalah ini.
“Aku tidak yakin aku bisa menjual senjata ini tapi kalau memang bisa dipakai untuk pertahanan diri…kenapa tidak kau simpan saja?”
“Eh?”
“Kaito memberikan ini untukmu, kan? Kau seharusnya menggunakannya dengan baik”
“Aku tidak akan memotong gajimu”
“Sungguh?” Arkan mulai melihat sebuah cahaya pencerahan
“Iya, tidak akan kupotong. Tapi bonusmu bulan ini akan kupotong”
“……” dan dia melihat cahaya pencerahan itu redup kembali
Arkan tidak bisa berkata apapun hingga membuatnya terdiam karena kecewa. Dalam hati, dia seakan mengutuk sambil berdoa.
‘Ya Tuhan, kuharap manager pelit ini dituntut oleh semua pacar-pacarnya!’
“Untuk sekarang, aku pikir menghilangkan bonusmu bulan ini tidak akan membuatmu kesulitan” lanjut Joel
“Manager…”
“Hmm? Apa?”
“Kuharap Theo dan yang lain memanggilmu dengan sebutan paman mesum lagi selama seminggu”
“Oi!!” Joel langsung berteriak
Lima dari sembilan anak yang sudah mandi keluar untuk menemui dua orang dewasa itu, termasuk Stelani dan Michaela. Awalnya, mereka ingin menunjukkan pakaian baru yang mereka beli. Tapi, pemandangan yang mereka lihat justru tidak seperti yang dibayangkan.
“Itu karena kau pelit, manager! Kenapa harus bonusku bulan ini yang hilang?!”
“Itu untuk mempertanggungjawabkan semua kekacauan ini! Ini terjadi saat kau bekerja, kan?”
“Pokoknya bonusmu bulan ini hilang!”
“Pokoknya aku mogok kerja kalau bonus hilang!”
“Kau mau dipecat ya?!”
“Kau yakin bisa menemukan karyawan baru yang mau menjaga rahasia rumah tangga dan tempat bobrok ini?!”
Semua argumen yang telah melenceng terlalu jauh dari topik, masih menjadi pokok pembahasan. Melihat hal itu, Michaela yang menggunakan tas kecil pemberian Joel menghampirinya.
“Joel-ojichan, kalau perlu uang…di dalam sini masih ada banyak. Kau bisa memakainya” ucap Michaela sambil tersenyum pada Joel
Arkan dan Joel berhenti berargumen sejenak dan menatap semua anak-anak yang berdiri di sana.
“Kalau soal uang, di sini masih banyak. Joel-ojichan bisa memakainya. Kami sudah beli baju bagus dan kue untuk Kino-niichan juga”
“Oh, Michaela sayangku yang manis. Uang itu untuk kalian. Jangan khawatir, aku masih punya banyak sekali uang dalam dompetku. Ahahaha” jawab Joel
“Tapi, Arkan-niichan bertengkar denganmu karena uang”
“Itu bukan salahmu. Itu karena–”
“Itu karena Joel-ojichan ini orang pelit!” sambung Arkan dengan nada meledek
“Karyawan durhaka!”
“Bos durhaka!”
Dan keduanya kembali bertingkah seperti anak kecil. Semua anak-anak itu hanya melihat satu sama lain dengan bingung. Sampai akhirnya Stelani bicara pada mereka.
“Joel-ojisan, aku rasa kau tidak perlu pelit pada Arkan-niisan seperti itu. Bagaimanapun juga, dia sudah menyelamatkan nyawaku dan Fabil. Tidak bisakah kau memberinya sedikit hadiah atas usaha dan kerja kerasnya?”
“A–anak-anak, itu tidak seperti…” Joel dengan wajah panik mencoba menjelaskannya
Dia diam sebentar dan mulai menghela napas panjang. Tidak mau berdebat lebih dari ini, akhirnya Joel memberikan sedikit kemurahan hatinya pada Arkan.
“Baiklah, baiklah. Kau menang. Kau mendapatkan bonusmu kembali”
“Yeah!!” Arkan langsung menunjukkan wajah ceria yang energik
“Dan mengenai tawaran tadi–”
“Aku terima selama masuk dalam bonusku juga!” Arkan kembali memotong ucapan Joel
Joel hanya bisa mengatakan iya padanya. Sejujurnya dia sangat terpaksa, tapi itu tidak berarti dia pelit. Dia hanya merasa sedikit kesal karena adu argumen dengan karyawannya itu.
Theo dan anak-anak yang tersisa datang. Setelah mereka berkumpul, Joel memberitau mereka semua bahwa mereka akan tinggal di bar ini untuk sementara waktu. Tentu saja Arkan akan menemani mereka malam ini.
Meskipun awalnya anak-anak itu tampak menolak dan memilih untuk pulang ke tempat tinggal sebelumnya, Arkan berhasil membujuk mereka semua untuk menerimanya.
Joel sempat berpesan beberapa hal pada Arkan. Tidak butuh waktu lama sampai Joel memutuskan untuk pulang.
“Jaga diri kalian semua ya. Besok, kita akan pergi ke tempat Kino-niichan kalian lagi. Semoga besok dia sudah bangun” kata Joel ketika berpamitan sebelum pulang
Anak-anak itu tersenyum dan melambaikan tangan mereka.
“Hati-hati di jalan, Joel-ojichan”
“Hati-hati ya~”
Selesai mengantar Joel, mereka masuk kembali. Arkan memeriksa ruang karyawan seperti pesan managernya itu.
“Pakaian kotor dalam plastik besar dan keranjang besok pagi harus dibawa ke tukang cuci langganannya ya. Benar-benar pesan yang menyentuh sekali. Dia bahkan memberikanku perintah untuk kulakukan besok pagi. Dasar manager menyebalkan” umpatnya pelan Dia menyadari bahwa dirinya juga harus memikirkan untuk mengganti pakaiannya sendiri.
“Pasta instan dan bubur instan sudah habis. Kurasa aku harus mengambil beberapa di rumah beserta minuman botol untuk mereka”
Arkan menghampiri anak-anak yang duduk di kursi bar sambil terlihat senang.
“Anak-anak, aku akan pulang sebentar untuk mengambil pakaian bersih dan beberapa makanan instan di rumah. Kalian diam di sini dan jangan pergi kemanapun ya”
“Apa barang bawaanmu banyak, Arkan-nii? Aku akan membantumu kalau kau tidak keberatan” Theo berdiri dan menawarkan dirinya untuk membantu
“Tidak per…hmm, mungkin tidak masalah kalau kau ikut membantu. Baiklah. Tolong bantu aku ya, Theo”
Theo akhirnya pergi bersama Arkan menuju rumahnya.
******