Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 395. Malam Penuh Ketegangan bag. 1



Di malam hari, setelah semua hal yang rumit dilewati oleh ketiga remaja dari dunia lain, mereka akhirnya pergi menuju tempat tinggal mereka yang baru yaitu asrama.


Tentu saja Xenon dan Jene bersama ketiganya.


Kaito melihat kedua kakak beradik yang ada di sampingnya. Mereka berjalan di belakang kedua anggota divisi tersebut.


Kaito berbisik.


“Kalian…apakah kalian tidak merasa Xenon semakin pendiam?”


Dengan ketus Ryou menjawab dengan nada pelan, “Aku tidak mau membahas drama rumah tangga di sini, Kaito. Kita harus membahas hal lain. Contohnya soal yang tadi siang”


“Aku tau. Besok kita harus tetap pergi ke sana bersama Xenon. Tapi aku hanya merasa masalah ini akan berpengaruh pada rencana kita besok”


“Awas saja kalau kita batal menyelidiki tempat itu dan mencari tau buku misterius itu gara-gara drama. Xenon akan aku kurung di kamar mandi besok pagi”


“Ryou…” sang kakak melihat adiknya


“Iya, iya. Aku diam, aku diam. Hmmph!”


Saat sudah kembali ke ruangan masing-masing, hal terbaiknya adalah Xenon akan sering ada di asrama.


Jene yang berpisah dengan Xenon di salah satu lorong koridor mengingat masa-masa sebelum sifat Xenon berubah seperti ini di akademi.


‘Dulu, dia tidak akan mau berada di akademi setelah pulang sekolah. Tapi sejak bertemu dengan ketiga orang itu, dia bahkan rela berpindah kamar demi bisa bersama ketiganya’


‘Aku tau hubungan mereka lebih baik daripada hubungan Xenon denganku dan Jessie’


‘Terkadang aku merasa bahwa sampai kapanpun, Xenon akan menganggapku sebagai orang lain dibandingkan keluarga dan teman’


‘Tapi melihatnya seperti ini dan mendengar ucapan Ryou tadi membuatku sadar bahwa Xenon sendiri mencoba melindungi Rexa-sama dengan bersikap acuh padanya’


‘Mungkinkah selama ini, dia menjauhiku dan Jessie juga karena hal itu? Jika itu adalah alasannya, maka aku hanya perlu membuatnya tenang’


‘Aku dan Jessie tidak akan meninggalkannya seorang diri. Penyesalan saat kejadian waktu itu akan aku balas’


******


Di sisi lain, di kota saat ini, terlihat seseorang yang berdiri di sebuah gedung tinggi yang menatap keramaian kota dengan mata merah menyala.


“Rupanya pemandangan malam di kota itu menyenangkan. Aku paham kenapa Xenon tidak pernah ingin kembali ke asrama dan memilih makan di luar” katanya


Itu adalah Mark. Pakaian merah yang merupakan ciri khas dari divisi miliknya terlihat rapi dengan sebuah rompi panjang berwarna hitam kali ini.


Tidak seperti gayanya yang sebelumnya, dia mencoba hal baru yaitu menjadi sedikit stylish.


Lebih kerennya lagi, dia menggenggam sebuah botol kecil bertuliskan ‘arsenik’ pada bagian depannya dan meminumnya dengan santai.


“Hmm? Tidak ada rasa. Sudah kuduga. Bahkan zat yang disebut racun dari segala racun di dunia juga tidak memiliki efek apapun padaku. Aku nyaris menjadi monster sekarang”


Setelah menghancurkan botolnya dengan sihirnya, Mark melompat ke gedung lain dan mengamati sekitarnya.


Hanya perlu beberapa menit sejak dia berpindah tempat, dia menemukan sesuatu yang aneh, yaitu sekelompok orang-orang berpakaian hitam yang berjalan cepat.


“Terlihat bagus untukku” kata Mark dengan wajah datar


Meskipun tanpa ekspresi, mata merah miliknya seperti menunjukkan kalau dia merasakan hal yang tidak benar di sana.


Dia kemudian mengikuti kelompok tersebut dan saat kelompok tersebut berbelok, Mark terpaksa turun dari bangunan menuju gang kecil sempit yang ada di depannya sekarang.


“Kita lihat apa aku akan dapat kejutan atau tidak”


******


Di kamar asrama, Xenon langsung duduk diam tanpa membahas apapun. Kino yang tidak bisa membiarkan hal itu mendekatinya.


“Xenon-san…”


“......”


Seperti dugaannya, Xenon diam. Kaito berdiri kembali dan mengunci pintunya, kemudian dia bicara pada Ryou.


“Yang mana saja terserah kau. Kenapa?”


“Aku akan ambil di bawah kalau kau tidak keberatan”


“Silahkan” Ryou memanjat untuk duduk di atas tempat tidurnya sendiri sekarang. Dia bersikap sangat santai


Sepertinya, hanya dia dan Kaito yang tidak mau memedulikan kondisi Xenon yang sedang labil.


Kino berusaha menenangkan Xenon.


“Xenon-san…aku…”


“Aku tidak pernah ingin menghancurkan apapun milik Rexa-sama. Tapi dengan pertunangannya yang sudah batal saat ini, aku sudah bisa menebak apa yang terjadi di kediaman utama”


“Xenon-san, apa yang terjadi?”


“Aku hanya bisa membayangkan hal yang buruk terjadi pada ibuku. Vexia-sama akan membuatnya menangis dan semua kalimat kasar itu akan kembali menusuk hati ibuku”


Kali ini, ada sedikit rasa empati dari Ryou.


“Apa ibumu akan baik-baik saja? Memang ayahmu benar-benar tidak mencintainya? Bukannya aku jahat dan kasar, Xenon…tapi mengingat dia bisa menikahi ibumu, tidak mungkin dia tidak mencintainya”


Kaito sependapat dengan Ryou, “Ryou benar, Xenon. Aku rasa kau harus sedikit percaya pada ayahmu dan keselamatan ibumu”


Tapi sebuah elakan keluar dari mulut Xenon, “Marquis…hanya menganggap ibuku sebagai orang lain. Aku tidak pernah berpikir bahwa beliau mencintai ibuku yang hanya seorang mantan pelayan”


“Selama aku di sana, sekalipun aku tidak pernah melihat ayahku bicara atau melindungi ibuku”


“Mungkin memang benar. Beliau hanya menjadikan ibuku sebagai wanita satu malam saat itu dan terpaksa menikahinya”


“Xenon-san!” Kino bicara dengan sedikit membentak. Dia memaksa Xenon melihatnya sekarang. “Xenon-san, jangan pernah berpikiran seburuk itu pada kedua orang tuamu. Pokoknya tidak boleh!”


“Apapun yang terjadi, mereka adalah orang yang akan menjadi pelindungmu. Begitu pula dengan Rexa-san”


“Rexa-san melakukan semuanya untukmu dan apapun yang terjadi, cobalah untuk berdamai pada keadaan”


Xenon melihat mata Kino yang tampak serius. Kino menarik napasnya dan berkata pada Xenon dengan ekspresi serius.


“Xenon-san, mungkin bukan tempatku untuk bicara. Tapi aku sudah mengatakan semuanya pada Rexa-san”


“Mengatakan semua?”


Bahkan Ryou dan Kaito menjadi penasaran dengan apa yang dimaksud oleh Kino.


******


Di gang sempit, Mark berjalan mengikuti jejak orang-orang yang ada di depannya. Kelompok yang berpakaian hitam itu berjalan dengan jarak yang cukup jauh darinya sekarang.


‘Kemana mereka akan pergi?’ Mark bicara dalam hati


Kelompok tersebut masih berjalan menyusuri gang tersebut.


Seperti sisi gelap sebuah kota di negara maju, gang tersebut gelap, lembab dan penuh dengan kotak dan hal-hal yang tidak terpakai layaknya rongsokan.


Sebuah sisi lain kota di wilayah timur yang nyaris tak terekspos.


Di saat Mark melihat kelompok tersebut berbelok ke arah kiri, dia menyadari bahwa ini adalah saatnya dia harus bersiap.


Mata merah Mark menyala dan saat dia berbelok, ada sebuah cahaya aneh dari sebuah pintu bangunan.


Dengan tanda penuh lampu dan gambar kelinci, Mark tau bahwa tempat itu adalah sebuah tempat yang tidak menyenangkan.


“Demi kesehatan dan akal sehatku, jangan bilang kelompok itu masuk ke dalam bar kelinci ini?”


Bar kelinci, Aestetic Acrobatic Bar adalah tempat yang dikunjungi sebagai klub malam dunia malam dan sekarang Mark terpaksa harus masuk ke tempat penuh hiruk pikuk pesta tengah malam.


******