Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 36. Tempat Asing di Kota Baru bag. 1



Langit malam dengan bulan purnama dan bintang yang terang menghiasi, bahkan untuk daerah yang tanpa diterangi cahaya lampu, bulan di langit bisa menjadi penerang. Di sebuah penginapan dengan tiga lantai, Yuki bersaudara bersama Kaito duduk di kursi kayu dengan wajah tenang mereka. Senjata mereka telah berada di samping lemari pakaian, jubah Kaito telah dilemparnya ke atas tempat tidur kecil di dekatnya, jam saku milik Kaito dan kantong belanja berisi banyak roti berada di atas meja mereka sekarang.


Ryou meletakkan jam saku silver di atas meja dan melihat waktu yang ditunjukkan benda tersebut.


“Sekarang jarum jamnya menunjukkan pukul setengah tujuh malam” Ryou bicara tanpa semangat


“……” Kaito hanya diam


“Kaito-san, aku sepertinya mulai sedikit memahami situasi kita saat ini. Jika apa yang Kaito-san katakan itu benar bahwa ‘kedua dunia’ itu telah lenyap artinya kota ini adalah kota biasa, benar begitu kan?” Kino bertanya pada Kaito


“……” Kaito masih diam


“Berarti mulai sekarang tidak akan ada lagi perulangan dan peraturan seperti sebelumnya tidak akan berlaku lagi” Kino melanjutkan kata-katanya


“Benar. Dengan lenyapnya perulangan yang biasa kita lakukan, semuanya menjadi normal” Kaito akhirnya membuka mulutnya


Bersamaan dengan jawaban yang dia berikan, Kaito tidak bisa berhenti memasang wajah serius seakan memikirkan sesuatu. Ini benar-benar pertama kali baginya mengalami hal seperti ini.


‘Awalnya aku berpikir karena kepingan ingatanku waktu itu sudah berhasil diambil dari ‘dunia malam’, kemungkinan kekuatan aneh dari ‘kedua dunia’ itu tidak stabil. Tapi kalau sudah begini, kemungkinan apa lagi yang bisa ku simpulkan?. Selain itu, jam saku ini masih belum membawaku ke ‘dunia’ atau dimensi lain. Itu artinya kepingan ingatanku yang lain ada di kota yang ‘normal’ ini, bukan di ‘kedua dunia’ lagi. Hanya itu yang masuk akal’


Pikiran Kaito dipenuhi oleh hal rumit sekarang dan Ryou paling benci dengan hal rumit tidak jelas.


-Braak


Suara meja yang dipukul oleh Ryou. Suara gebrak meja itu membuat Kino sedikit terkejut tapi berhasil mencairkan suasana.


“Kalau begitu, anggap saja kalau kita berada di kota normal kali ini. Tidak ada yang disebut ‘dunia siang’ atau ‘dunia malam’ lagi. Hanya sebuah kota yang bahkan namanya tidak kita ketahui. Tidak masalah kan, Kaito?” Ryou bicara dengan menahan emosi


“……Kurasa kita bisa beranggapan begitu”


******


Sedikit mundur ke belakang sebelum ini, sekitar kurang lebih 27 menit yang lalu. Ketiga orang itu benar-benar mematung tanpa bisa berbuat apapun.


“Dengar Kaito, kita sudah cukup gila sekarang. Bahkan aku dan Kino belum menemukan jam sakunya. Setelah ‘dunia malam’ lenyap, sekarang kau bilang ‘dunia siang’ juga lenyap?! Lalu dimana kita sekarang?”


Ryou begitu emosi saat itu dan bicara dengan nada keras pada Kaito. Kaito hanya melihat sekitar tempat itu dan mulai bertarung dengan pikirannya sendiri tanpa merespon ucapan Ryou barusan.


‘Ini mustahil! Apakah karena permata ingatanku sudah berhasil kudapatkan saat itu? Apakah ini adalah tempat lain dimana ingatanku berada? Apa yang terjadi aku sama sekali tidak mengerti. Ini di luar dugaanku. Semua ini tidak masuk akal!’


Sampai beberapa saat lalu, tidak ada yang menerima keadaan itu. Akan tetapi, Kino mulai melihat toko dan bangunan di sekitar jalan tersebut.


“Malam benar datang, bukan ‘dunia malam’ yang seakan membunuh semua keadaan kota tapi benar-benar malam sungguhan yang datang”


Kino mungkin masih belum lepas dari situasi syok tetapi dia berusaha untuk menikmati keadaan tempat itu. Kolam air mancur itu mulai diterangi lampu-lampu jalanan yang ada di sekitar jalan, toko-toko menjadi gemerlap warna-warni dan meskipun tidak seramai tadi siang, banyak penduduk yang masih keluar dan tertawa.


“Indahnya~” Kino tersenyum dan memuji tempat itu dengan suara pelan


Mendengar itu, Ryou dan Kaito langsung melihat ke arah wajah Kino yang tersenyum dan mereka sedikit mengendurkan kening mereka yang tegang.


“Lihat Ryou, Kaito-san, lampu-lampu itu menyala. Ada orang-orang di tempat ini meskipun malam datang. Padahal kita baru ada di sini dua hari, tapi terasa sangat lama sekali” Kino menghampiri kedua orang yang sebelumnya bersitegang dengan suasana


“Kino, kau tau ini bukan saatnya bicara begitu kan? Ini darurat kakakku, kita dalam masalah serius sekarang kau tau”


Ucapan Ryou seperti mengajak sang kakak ikut menjadi panik seperti dirinya. Tapi itu tidak berhasil karena Kino sangat senang  sekarang. Terlalu senang sampai akhirnya membuat sang adik mengalah untuk mengajaknya panik.


Semakin lama, hari semakin larut. Sekarang, mereka harus memikirkan dimana mereka akan tidur dan apa rencana mereka selanjutnya.


“Kita tidak bisa menarik perhatian lebih dari ini. Kurasa kita masih bisa mencari penginapan untuk tidur malam ini. Ayo pergi dari sini” Kaito meminta mereka mengikutinya


“Tu–tunggu dulu Kaito, memang mau kemana sekarang kita?”


“Mencari penginapan. Kita akan pergi ke penginapan tadi pagi”


Kaito sudah cukup lelah secara mental dan memutuskan untuk mengajak mereka pergi ke kawasan perumahan sebelumnya.


Untuk yang ke sekian kalinya mereka melewati jalan yang sama lagi. Bedanya saat ini suasana malam dan jalanan tidak seramai saat siang hari. Kawasan perumahan itu berbeda dengan kawasan pertokoan atau pusat kota yang ramai. Di tempat itu hanya lampu dari rumah atau lampu taman yang menyala. Hampir tidak ada orang yang lewat kecuali satu atau dua orang.


Setelah lebih dari lima belas menit berjalan, mereka akhirnya sampai di penginapan sebelumnya yaitu [Hébergement Clarks]. Lagi-lagi mereka disambut hangat oleh dua pelayan wanita yang sama. Kaito yang mengurus administrasinya kembali dan setelah mendapatkan kunci mereka langsung naik ke lantai dua.


Kamar yang didapatkan mereka lagi-lagi sama seperti sebelumnya, ini cukup untuk mengisi daftar keberuntungan mereka. Ketika Kaito membuka pintu, kedua kakak beradik itu tidak merasa nostalgia sama sekali dan hanya berjalan untuk meletakkan barang-barang yang mereka bawa.


Kaito mengunci pintu ruangan, melepas jubah dan sarung pedangnya, berjalan ke kursi dan duduk bersama mereka. Setelah itu mereka terdiam sekitar kurang lebih sepuluh menit untuk mengumpulkan akal sehat mereka. Lalu pembicaraan dimulai saat Ryou meletakan jam saku silver miliknya di atas meja.


******


Kembali ke waktu saat ini, mereka bertiga masih dalam kondisi rumit dan mencoba memahami situasi sekarang ini.


“Tidak ada lagi perulangan artinya semua normal. Aku berharap kalian tau maksudnya dari kata normal itu”


Kaito memberikan tekanan pada kata normal ketika melanjutkan pembicaraannya.


“Kami memahami itu, Kaito-san. Semua benar-benar terjadi tanpa adanya magis atau semacamnya. Begitu pula jika kita terluka atau kehilangan sesuatu seperti saat ini, semua tidak akan kembali seperti tidak terjadi apapun”


“Tapi bagian terbaik dari itu semua adalah kita tidak akan melihat makhluk aneh jelek menjengkelkan seperti kepala kambing atau goblin atau anjing liar hitam seperti sebelumnya” Ryou menambahkan penjelasannya dengan bahasa pedas seperti biasanya


Dari sudut pandang itu, mereka memang sudah mendapatkan kehidupan normal tetapi Kaito menambahkan hal lain.


“Kita masih belum menemukan jam saku kalian. Selain itu masalahnya sekarang, kita juga harus mencari cara untuk bisa bertahan hidup”


“Hah? Apa maksudnya, Kaito?”


Kaito mengeluarkan uang dari dalam sakunya dan meletakannya di meja.


“Ini yang kumaksud”


“……” kedua kakak beradik itu diam


“Kalian sudah mengetahui apa maksud kata normal sekarang. Uang juga sesuatu yang normal. Berbeda dengan sebelumnya, sekarang kita harus berpikir cara untuk mendapatkan uang. Alasan pertama, kita tidak tau berapa lama kita akan berada di kota ini sampai jam saku atau ingatan kalian ditemukan. Alasan kedua, kita juga harus membeli makanan atau kebutuhan lain selama di kota ini. Alasan ketiga, ini akan berguna untuk membeli informasi penting. Setidaknya masalah lain hilang tetapi masalah baru muncul”


Apa yang dikatakan Kaito benar. Peraturan sebelumnya telah hilang. Sebelumnya, benda apapun yang mereka sentuh di ‘dunia siang’ akan muncul di ‘dunia malam’, luka yang mereka miliki saat berada di salah satu ‘dunia’ akan hilang tanpa bekas di ‘dunia’ berikutnya, hal-hal yang dilakukan mereka pada penduduk kota akan ter-reset seperti tidak pernah terjadi. Tapi sekarang tidak. Bagi Kaito yang telah terbiasa dengan peraturan sebelumnya, ini adalah masalah lain.


“Uang ya…ternyata dimana-mana uang itu memang sumber masalah” Ryou mengkritik


Kino mengeluarkan semua uang yang dimilikinya dan meletakannya di atas meja.


Ryou juga mengeluarkan semua yang dimilikinya.


“Kino benar. Masalah uang untuk empat hari ke depan sudah selesai. Sementara ini dulu tidak masalah kan?”


“Kurasa begitu. Selanjutnya aku akan memikirkan sesuatu” Kaito setuju


“Sekarang…jam saku kami–” dan Kino mulai merubah suasana menjadi sedikit suram


“Aku juga akan mengusahakan sesuatu. Jangan khawatir” Kaito tersenyum ke arah Kino


Ryou yang melihat itu memberi kode pada Kaito dengan meliriknya dengan tatapan tajam. Kaito menyadari itu dan sikap tenangnya menandakan dia mengerti kode dari Ryou.


******


Di sebuah jalan yang gelap tanpa penerangan, ada sebuah bangunan tua tanpa cahaya lampu di sana. Bangunan yang terdiri dari dua lantai tanpa tirai jendela, hanya berisikan puing-puing batu dari dinding bangunan, beberapa kursi yang masih cukup layak dipakai dan beberapa kain kotor lusuh penuh lubang.


Stelani dan anak-anak lain berada di lantai dua. Tempat mereka berada adalah sebuah ruangan seperti ruang kamar tanpa pintu. Mereka duduk menahan dingin di dalam bangunan tersebut. Masing-masing dari mereka berselimut sehelai kain tipis yang lusuh dan kotor untuk menghangatkan diri.


“Theo masih belum kembali. Apa dia baik-baik saja?” Fabil menghampiri Stelani yang duduk di dekat seorang anak kecil yang tidur


“Aku berharap dia baik-baik saja”


“Stelani-neechan…aku lapar…” anak yang duduk di sampingnya merintih padanya


Stelani dan Fabil yang lebih besar dari mereka mungkin masih bisa menahan lapar sedikit lagi, tapi anak-anak lainnya berusia lebih muda dari mereka. Setelah memakan sepotong roti kotor, mereka tidak memakan apapun lagi.


Sejak sampai di tempat yang mereka sebut ‘rumah’ itu, mereka tidak melakukan apapun kecuali tidur sambil menahan lapar. Beruntung anak buah Justin tidak memeriksa rumah mereka, jadi mereka tidak harus menerima perbuatan buruk darinya. Tapi, karena menahan lapar sejak pagi hingga malam hari, siapapun pasti akan merintih.


Stelani tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa memeluk anak itu sambil mengeluarkan air mata.


“Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kalian semua dengan baik. Maafkan aku. Hiks…hiks…maaf” Stelani menangis


Fabil yang melihat itu mencoba menghiburnya tanpa kata dengan mengelus punggung Stelani. Anak-anak lain yang mendengar suara tangisan Stelani juga jadi ikut sedih dan mulai menangis.


Dari balik dinding kamar itu, Theo ternyata sudah berada di sana. Dia berdiri sambil mengepalkan tangannya.


******


Mundur ke belakang sebelum Theo sampai di rumahnya, dia masih berlari dengan wajah panik.


“Aku harus pulang! Aku harus kembali ke sana dan memberi tau mereka betapa gilanya gorilla itu”


Theo menelusuri jalan dan berbelok ke gang sebelah kanan. Melewati gang itu, dia terus berlari lurus hingga sampai di sebuah bangunan tua. Dengan napas terengah-engah dia masuk. Dia tidak mencoba menyembunyikan wajah paniknya sama sekali. Apa yang terjadi dalam bar itu sudah membuatnya lupa bagaimana caranya untuk mengendalikan diri.


Menaiki tangga menuju lantai dua, dia sudah tergesa-gesa ingin bertemu dengan Stelani dan lainnya. Tapi langkah kakinya terhenti saat dia mendengar suara tangisan dari dalam ruangan yang hendak dia masuki.


‘Suara tangisan….’ gumam Theo dalam hati


Dia berjalan perlahan dan mendengar Stelani menangis.


“Maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kalian semua dengan baik. Maafkan aku. Hiks…hiks…maaf”


Diikuti suara tangisan yang lain membuat tempat itu menjadi ramai. Theo mengepalkan tangannya dan berpikir ulang untuk menceritakan kejadian mengerikan yang dia lihat barusan.


‘Aku tidak mungkin mengatakan semua itu pada mereka semua. Mereka sudah menghadapi kesulitan sepanjang hari. Selain gagal mendapatkan roti untuk makan mereka, aku juga lari dari tempat itu seperti pengecut. Kh!’ Theo menggigit bibirnya sendiri sambil memaki dirinya dalam hati


‘Aku mengecewakan mereka semua’


Dia merasa kesal hingga mengeluarkan air mata karena tidak bisa melakukan apapun untuk teman-temannya. Setelah menangis tanpa suara beberapa lama, Theo menghapus air matanya dan masuk ke tempat itu.


“Theo!!” Fabil berteriak dan langsung menghampirinya


“Itu Theo! Theo!”


Anak-anak lain menjadi ceria dan langsung berlari ke arahnya. Stelani yang melihat itu langsung menghapus air matanya dan berjalan dengan senyum menyambut kepulangan Theo.


“Theo…selamat da…Wajahmu!” Stelani langsung berubah panik


Fabil dan yang lain juga menyadari wajah Theo memiliki memar dan luka yang banyak. Stelani menjadi yang paling khawatir sampai menyentuh luka-luka itu.


“Apa yang terjadi padamu?! Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa Justin-sama yang melakukannya?”


“Ouch, sakit! Jangan menyentuhnya! Aku tidak apa-apa, lepaskan tanganmu Stelani” Theo merintih kesakitan


“Theo, apa yang terjadi?” Fabil bertanya dengan wajah cemas yang sama seperti Stelani


“Aku hanya terjatuh. Bukan masalah”


“Kau pasti berbohong!” Stelani masih bersikeras untuk membuat Theo jujur


Namun, usahanya semua gagal dan Theo hanya bisa menyingkirkan tangan Stelani dari wajahnya. Anak-anak kecil lain melihat ke kanan dan kiri Theo lalu bertanya “apakah kau membawa makanan, Theo?”


Wajah Theo, Stelani dan Fabil sekarang berubah. Mereka menunjukkan wajah takut dan sedih sekarang.


Stelani dan Fabil melihat ke arah Theo dan mereka sudah tau jawabannya. Tetapi, Theo dengan santai menjawab “aku baru akan membelinya”. Hal itu mendapatkan respon senyum riang dari anak-anak lain. Theo menarik tangan Stelani dan Fabil lalu pamit dengan alasan ingin pergi membeli roti dan air. Tentu saja wajah mereka berdua menjadi bingung. Namun karena mereka tidak bisa melepaskan diri darinya membuat keduanya terpaksa mengikuti Theo pergi.


Di luar rumah mereka, Theo melepaskan tangan mereka dan menengok ke arah mereka.


“Maafkan aku”


“Theo, aku serius. Kau tidak perlu berbohong pada mereka. Kalau memang tidak mendapatkan uang, kita bisa mencari roti lagi besok”


Fabil berkata seakan menentang Theo yang dianggapnya membohongi anak-anak lain. Stelani juga mengatakan hal yang sama. Kalimat itu tidak ditanggapi oleh Theo yang dengan santai mengeluarkan uang logam emas dari sakunya dalam jumlah banyak.


“T–Theo ini kan?!” kedua orang itu terkejut dan kaget


“Aku memiliki uang, jangan cemas. Kita bisa membeli roti dan air untuk makan dengan uang ini”


“Bukankah ini harusnya diberikan kepada Justin-sama? Akan sangat berbahaya jika kau memakainya Theo” Stelani dengan cemas mencoba menghentikan Theo membelanjakan uang itu


“Aku sudah bertemu dengannya. Gorilla itu baru saja membunuh banyak orang di bar”


******