Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 166. Gedung Asing bag. 5



Seperti terkena kejutan yang sangat tidak terduga, Ryou dan Kaito benar-benar tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.


“Kau…menendang wajahnya?” Kaito terlihat tidak percaya


“Kau benar-benar melakukannya, Kino?” sang adik lebih tidak percaya lagi


“Aku…aku terpaksa karena gadis itu bisa saja mati” Kino memerah karena malu


“……” kedua orang lainnya terdiam


Mereka benar-benar berpikir bahwa Kino ternyata bisa mengambil tindakan fisik seperti itu. Kedua orang itu mengamati Park Cho Joon dari kejauhan.


Terlihat dengan jelas bahwa ada bekas darah pada hidung dan mulutnya.


‘Aku berani bertaruh kalau tendangan Kino itu benar-benar keras sampai membuatnya seperti itu’ pikir Kaito


‘Ketika orang jelek itu berteriak padaku, aku melihat lubang pada giginya. Aku berani bertaruh kalau giginya itu copot setelah ditendang oleh Kino’ pikiran Ryou juga tidak jauh berbeda dari milik Kaito


Mereka kembali melihat ke arah Kino dengan ekspresi datar. Kino benar-benar malu sekali.


“Maafkan aku. Aku tidak memiliki cara lain. Kalau dibiarkan, gadis itu benar-benar akan mati. Aku hanya melakukannya untuk pertahanan diri. Aku berani bersumpah”


“A–aku mengerti. Aku tidak menyalahkanmu. Lagipula, di sekolah kita diajarkan seni pertahanan diri. Aku senang kau yang kutu buku ini bisa mempraktekkan hal itu dengan baik di dunia lain. Hmm, aku bangga padamu”


Ryou mencoba menghibur sang kakak dengan memujinya habis-habisan. Meskipun sepertinya terdengar seperti candaan di telinga Kaito.


Secara garis besar, Kaito sudah memahami situasinya. Sekarang giliran Ryou dan Kaito yang menceritakan semua yang mereka alami ketika pertama kali sampai ke tempat asing itu.


Kino mendengarkannya dengan wajah panik. Wajahnya semakin pucat ketika Kaito berkata bahwa dia membunuh semua zombie itu sendirian.


“Kalian…kalian tidak apa-apa, kan? Darah mereka tidak membuat tubuh kalian aneh, kan? Apa kalian merasakan tanda-tanda tidak nyaman? Katakan sesuatu!”


“Tenanglah, Kino. Kami semua baik-baik saja. Selama kuku dan gigitan mereka tidak mengenai kulit kita, kita tidak akan menjadi zombie seperti mereka” Ryou bicara dengan santai


Tampaknya penjelasan keduanya masih menyisahkan rasa cemas untuk Kino.


Kondisi mereka saat ini begitu sulit. Mereka sama sekali tidak paham dengan situasinya. Tapi, ada satu hal yang mereka pahami.


“Sepertinya, aku dan Ryou masih belum bisa kembali ke Jepang. Selain itu, dengan Kaito-san di sini, itu membuktikan bahwa jam saku kami ada hubungannya dengan dirimu. Benar begitu kan, Kaito-san?”


“Aku tau kau menyadarinya, Kino” Kaito tersenyum memuji


“Aku sudah memiliki firasat ini sejak di rumah sakit. Selain itu, pakaianku yang sobek kembali utuh, luka di tanganku juga tidak berbekas sama sekali. Ini seperti konsep perulangan atau reset yang pernah kita bahas” Kino mulai menyimpulkan


Ryou tentu sudah menyadari bahwa kemungkinan luka di tangan kiri sang kakak telah hilang. Tapi, dia tidak bisa berhenti merasa sangat bersyukur.


‘Kami-sama, terima kasih karena telah melindungi kakakku’


Sementara itu, dari kejauhan tampak Seo Garam melihat ketiga orang yang sepertinya sibuk dengan urusan pribadi mereka. Dia mengingat hal yang dilakukan Kino dan mengamati dua orang lain yang bersamanya.


‘Mereka benar-benar membunuh zombie itu. Selain itu, salah satu dari mereka memiliki pedang sebagai senjata. Aku tidak tau siapa mereka bertiga…tapi mungkin saja ini adalah sebuah kesempatan kami untuk lolos dari semua ini!’ pikirnya


Dengan menghapus air matanya, Seo Garam memberanikan diri mendekati ketiga orang itu.


“Pe–pe–permisi!”


“……” ketiganya menengok


“A–a–a–aku…aku…” Seo Garam mencoba yang terbaik


Kino melihat usaha kerasnya itu dan meresponnya dengan senyum.


“Maafkan kami karena menjauhkan diri. Kami hanya tidak ingin membuat suasana kalian lebih buruk. Bagaimanapun juga, kami bertiga adalah orang asing di sini”


“Itu tidak benar! Kalian…memang asing. Tapi…tapi kalian sudah membantu mengalahkan para zombie itu! Kalian adalah penyelamat!”


“……” Ryou dan Kaito hanya terdiam tanpa ekspresi


Tampaknya kedua orang itu sudah memiliki kecocokan dalam hal berpikir. Keduanya mengabaikan Seo Garam dan memilih melihat reaksi orang-orang di sekitarnya.


Ucapan barusan dikatakan oleh Garam dengan suara cukup keras. Tentu saja semua orang di sana jadi berbalik melihat mereka. Kino tidak begitu memperhatikan hal itu karena dia lebih berfokus pada pemuda di hadapannya.


“Aku tidak melakukan apapun. Kedua orang ini yang melakukannya. Mereka yang telah menyelamatkan kalian semua”


Mendengar respon baik darinya, Seo Garam tersenyum senang dan menengok ke arah dua orang lain. Tapi tampaknya Garam memiliki pendapat yang berbeda dengan kedua orang lainnya.


‘Kenapa mereka terlihat menakutkan?’ pikirnya


Kondisi yang penuh dengan ketakutan itu membuat pandangan semua orang terlihat begitu serius. Meskipun kenyataan bahwa kedua orang yang baru saja datang telah menyelamatkan mereka, tapi untuk mendapatkan kepercayaan di tengah situasi buruk  tampaknya itu urusan lain.


Mereka semua masih belum mempercayai sepenuhnya tiga orang asing itu.


Sampai tiba-tiba ada dua gadis lain yang berdiri dan menghampiri mereka, semuanya jadi lain cerita.


“Amm…terima kasih…sudah menyelamatkanku tadi…”


Itu adalah gadis bernama Ha Jinan yang baru saja selesai menangis. Ditemani oleh gadis lain yang menendang Park Cho Joon untuk membantu Kino.


“Aku juga berterima kasih pada kalian semua karena telah menyelamatkan kami dari makhluk-makhluk itu” kata Kim Yuram


“Kami melakukan itu bukan untuk kalian. Kebetulan saja kalian bersama kakakku. Selain itu, aku juga


berterima kasih karena kalian mau menolong kakakku dan membukakan pintunya” Ryou menjawab dengan nada datar


“Kami belum memperkenalkan diri. Namaku Kim Yuram”


“A–aku Garam, Seo Garam”


Kino merespon dengan senyuman.


“Kim Yuram-san, Seo Garam-san dan Ha Jinan-san ya…”


“-san?” ketiganya tampak bingunng


“Ah, perkenalkan. Namaku Yuki Kino dan ini adikku, Yuki Ryou. Yang ini Kaito-san”


Seo Garam melihat mereka dengan wajah bingung, lalu mengatakan sesuatu.


“Yuki? Nama itu tidak asing. Apa kalian berasal dari *&%(?”


“……!!!”


Ketiga remaja itu terkejut. Jelas ada kalimat yang tidak begitu terdengar oleh telinga mereka. Seperti bahasa asing.


“Tadi…tadi kau bilang apa?” Ryou mencoba memastikan


“Kalian pasti berasal dari *&%(. Benar, kan?”


“……!!!”


Kino tidak merasa heran dengan itu karena pengalaman di ‘dunia’ sebelumnya, tapi ini adalah kali pertama Ryou dan Kaito mendengarnya.


Mereka berdua mengingat hal yang tidak asing. Ini adalah hal yang pernah mereka bahas ketikan Kino di rawat di rumah sakit.


[Saat aku makan bersama dengan Stelani-chan dan Fabil-kun, aku sempat bertanya mengenai nama kota ini dan hal yang berhubungan dengan tempat kita sekarang. Namun, anehnya aku tidak mengerti nama kota ini. Apa yang terucap dari mulut Stelani-chan dan Fabil-kun menjadi bahasa yang tidak pernah aku dengar]


[Apa maksudmu?]


[Tempat ini tidak bisa diketahui, atau lebih tepatnya tidak mungkin diketahui oleh kita yang berasal dari tempat atau


dimensi berbeda]


Kaito langsung berpikir dalam hatinya.


‘Mungkin ini yang dimaksud oleh Kino. Sepertinya lokasi dan keberadaan kami memang tidak bisa diketahui. ‘Dunia asing’ di dimensi lain benar-benar membuat kami tidak memahami tempat dan nama dari lokasi ini’


Ryou juga terlihat begitu serius.


‘Seperti itu maksud Kino waktu itu. Ternyata benar, mustahil mengetahui keberadaan kami saat ini. Ini mungkin terlihat seperti Korea di ‘dunia’ asalku dan Kino, tapi ini bukanlah Negara Korea’


Ketiga remaja itu sepakat mengangguk dan berpura-pura memahami kata-kata tersembunyi itu.


Ryou memulai aktingnya.


“Benar. Kami murid pertukaran pelajar. Tapi, karena kami baru tiba jadi kami tidak mengerti apa yang terjadi. Saat sampai, semua jadi seperti ini”


“Jika tidak keberatan, apakah kalian bisa menjelaskan situasi ini pada kami? Kami sama sekali tidak mengerti tentang semuanya. Bagaimanapun juga, kami ini orang yang berasal dari Negara lain jadi kami ingin tau awal tragedi ini” Kaito ikut melakukan akting yang tidak kalah bagus


Kino mencoba tenang dan melihat kedua orang yang ada di sampingnya.


‘Sejak kapan mereka bisa satu pemikiran seperti itu? Tapi, syukurlah Ryou tidak mengatakan sindiran dan kalimat kasar pada Kaito-san’


Padahal, kenyataannya Ryou masih sering memaki Kaito tanpa sepengetahuan Kino. Mari rahasiakan itu darinya untuk sementara waktu.


Kim Yuram dan Ha Jinan melihat Seo Garam. Dia melirik dan memintanya untuk bercerita pada ketiga remaja itu.


Seo Garam mengeluarkan sesuatu. Itu adalah ponsel.


“Ponsel!” Kino dan Ryou terkejut


Hanya Kaito yang terdiam. Dia belum pernah melihat sesuatu seperti itu sebelumnya. Dia mencoba untuk bersikap tenang agar tidak menimbulkan kecurigaan.


Sementara Seo Garam terkejut mendengar mereka terkejut.


“Ada apa?”


“Di tempat ini…ada ponsel?” tanya Kino dengan wajah terkejut


“Benar. Benda ini sangat penting di situasi seperti ini. Memang dimana milik kalian?”


“Itu…itu hilang! Benar! Hilang akibat dikejar oleh para zombie itu. Tampaknya sudah rusak. Benar kan, Kino? Kaito?” Ryou mencoba berbohong untuk menutupinya


“Benar. Itu terjatuh tadi” Kaito mengimbangi kebohongan Ryou


“Begitu. Sayang sekali. Padahal itu–”


“Itu tidak penting! Sekarang beritau kami kenapa bisa ada makhluk itu di tempat ini?!” Ryou langsung bertanya tanpa mendengar kalimat terakhir Seo Garam


Seo Garam dengan cepat memberitau sebuah obrolan dari grup kelasnya.


“Semua itu…berawal dari isi obrolan ini”


Ketiga remaja itu meminjam ponsel Garam dan melihatnya baik-baik.


“Ini…bohong kan?”


“Itu benar…semua itu berawal dari obrolan itu. Setelahnya…tiba-tiba semua jadi seperti ini”


Di dalam obrolan itu, terlihat sebuah judul chat yang nama dan isinya cukup provokatif.


[Zombie akan mengambil alih Negara ini! Selamatkan diri kalian sebelum kalian mati!]


******