
Untuk beberapa saat, suasana menjadi hening. Ryou menunjuk baris akhir poin tersebut.
“Hanya bagian ini yang belum sepenuhnya terpenuhi, meskipun kita baru saja lolos dari kejaran mereka”
“Benar. Dan jika tulisan ini benar, maka kita akan selamat selama bersama pemain terpilih” kata Kaito sambil melihat ke arah sosok seseorang
“Pemain terpilih di sini adalah dirimu, Song Haneul-san”
“Apa? Aku pemain terpilih?!”
Betapa terkejutnya Song Haneul mendengarnya.
“Kenapa jadi aku? Apakah kalian tidak salah?”
“Tidak. Itu benar. Song Haneul-san adalah pemain terpilih yang telah diatur sesuai naskah ini. Song Haneul-san juga sudah menduga ini menjadi kenyataannya, bukan? Seharusnya kamu sudah mengetahui ini sejak event berubah menjadi aneh”
“……” Song Haneul terdiam mendengar kalimat Kino
“Itu…aku awalnya hanya menduga saja dan–”
“Song Haneul-san sudah mengetahuinya dan kamu juga sudah membuktikannya. Bukankah di pembicaraan waktu itu Song Haneul-san jelas mengatakan bahwa mereka benar-benar di sana saat aku menjelaskan keberadaan para zombie di pintu gerbang asrama?”
Song Haneul masih terdiam. Melihat respon perempuan itu, Ryou sedikit jengkel.
“Kita tidak perlu membahas hal ini lagi, Kino. Aku tau kau hanya berusaha menyangkal semua itu, Song Haneul. Tapi, ini bukan waktunya melakukan penyangkalan”
Kaito berusaha memberikan sebuah keyakinan pada Song Haneul kali ini.
“Apa tidak bisa menganggap kami bertiga adalah pemain hidup yang telah berhasil keluar dengan selamat bersama pemain terpilih? Itu lebih masuk akal, bukan? Dengan begitu, bagian terakhir mengenai kunci keberhasilan kita keluar dari sini berpeluang untuk menjadi kenyataan”
“Menjadi kenyataan?”
“Benar”
“Song Haneul-san, hanya kamu sendiri yang hidup dari tiga pembuat aplikasi [Event Horror Apps] ini. Jika Song Haneul-san tidak ingin semua berakhir menjadi penyesalan, kita harus menyelesaikannya bersama”
Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Kino membuat perempuan itu mulai berpikir.
‘Jika benar, artinya akhir event ini telah ditentukan. Meskipun tidak ada batasan waktu yang tertulis di penjelasan naskah acara, tapi seandainya semua yang tertulis menjadi kenyataan artinya kami sudah dipastikan akan tetap berhasil’
“Song Haneul, kuatkan dirimu demi kedua teman seperjuanganmu. Kami juga tidak akan membiarkanmu mati sia-sia” kata Ryou dengan tatapan serius
Mendengar ucapan itu, Song Haneul akhirnya mulai memiliki sedikit keberanian untuk menerima kenyataan.
“Kita pasti akan selamat, benar kan?” Song Haneul mencoba meyakinkan kembali hatinya
“Selamat. Kita akan selamat”
“Tidak ada di antara kita yang ingin mati muda. Setidaknya, kau bisa hidup dengan membawa harapan kedua temanmu itu” Kaito mencoba memberinya semangat
Setelah mereka selesai memantapkan hati, rencananya selanjutnya segera disusun. Tidak semuanya akan melibatkan Song Haneul sejak ada tujuan lain yang dimiliki ketiga remaja itu, namun untuk saat ini ada fokus yang harus didahulukan.
“Kita harus fokus mendapatkan kunci untuk membuka pintu gerbang utama. Abaikan yang lain untuk sekarang. Kunci itu adalah target utama”
Ryou mencoba meyakinkan semuanya. Dia bahkan memberikan penekanan pada kata ‘abaikan yang lain’ sambil menengok ke arah Kaito saat mengatakannya.
‘Dia mencoba menyindirku ya?’ pikir Kaito
“Ryou benar. Kunci itu adalah hal yang harus kita dapatkan. Tingkat kesulitannya saat ini adalah bagaimana caranya untuk lolos dari zombie di lorong koridor sampai luar” Kino mulai terlihat serius
“Bertarung dengan mereka hanya akan semakin membuat energi kita terkuras, tapi tidak melakukan apapun hanya akan membuat jumlahnya tetap. Paling tidak mengurangi mereka sedikit akan membantu” ujar Ryou
Kaito berpikir sejenak.
‘Dengan kemampuan dan kecepatanku, aku mungkin bisa membunuh lebih dari 50 zombie sekaligus. Tapi saat ada di dekat gerbang utama nanti, aku tidak tau estimasi dari zombie yang menunggu di sana’
‘Kecepatan serangan Kino dengan senjata yang sekarang sudah cukup baik jadi aku tidak khawatir. Dan untuk Ryou, sifatnya itu sudah membawa perkembangan gaya bertarung yang kuat. Masalah utamanya adalah Song Haneul’
‘Sekalipun dia adalah pemain terpilih yang dimaksud oleh tulisan itu, aku masih tidak bisa menjamin dirinya mampu bertarung atau sekedar melindungi diri. Jika terjadi sesuatu dan salah satu dari kami harus melindunginya, apakah itu mungkin dilakukan?’
Dari pikiran itu, Kaito bertanya pada Song Haneul.
“Bertarung?”
“Kau memiliki dua bilah pisau di tanganmu untuk melindungi diri. Aku ingin tau apakah kau bisa bertarung untuk melindungi dirimu sendiri?”
“Aku…aku tidak pernah bertarung sebelumnya”
“Aku mengerti itu, tapi aku yakin akan ada waktu dimana kami bertiga tidak akan bisa melindungimu. Kami akan berusaha untuk tidak melibatkanmu dalam pertarungan. Namun, jika jumlah zombie di depan pintu gerbang utama nantinya tidak kalah banyak…aku hanya khawatir kau harus bertarung”
“Ah…” Song Haneul mulai cemas
“Kaito-san…”
“Aku harus memasukkan semua kemungkinan, Kino. Dalam pertempuran, selalu ada peluang yang tercipta. Baik itu peluang kemenangan atau peluang kematian. Tentu saja aku akan melindungi kalian semua juga, tapi ada kalanya keberuntungan tidak selalu berpihak pada kita”
“Iya. Contohnya keberuntungan milikmu” celetuk Ryou tanpa pikir panjang
“Terima kasih sudah mengingatkanku” kata Kaito dengan wajah datar
“Sama-sama”
Sungguh sebuah sindiran pedas yang tidak kenal waktu dan tempat dari Ryou. Meskipun sedang dalam mode serius, dia tidak pernah kehilangan momen mengatakan kalimat ‘menyejukan jiwa’ untuk Kaito.
Song Haneul yang awalnya cemas jadi berubah sedikit lebih baik.
“Kita abaikan yang tadi dan kembali ke topik. Intinya, aku ingin memastikan bahwa paling tidak, kau harus siap mengotori tanganmu dengan senjata itu”
Song Haneul sudah menyadari sejak melihat zombie Lee Seung Chan saat itu. Dia terlalu lemah untuk melihat temannya terbunuh. Tapi ini masalah hidup dan mati.
“Aku mengerti. Jika memang terpaksa, aku akan bertarung. Bukan, aku siap bertarung! Aku tidak ingin membuat kalian repot. Selain itu, aku mengerti bahwa jumlah mereka yang banyak bisa saja membuat kalian bertiga tidak bisa sepenuhnya fokus pada sisi lainnya”
“Tepat sekali” Kaito tersenyum mendengar kalimat tersebut
“Kaito, aku siap untuk bertarung. Kalian fokuslah pada apa yang ada di depan kalian dan aku juga akan berusaha untuk berjuang”
Sedikit masih diragukan oleh ketiga remaja itu, tapi secara tekad hal itu masih diterima. Pada akhirnya, mereka juga akan tetap melindunginya.
“Sekarang, kita harus memberitau mereka yang ada di gedung arsip” usul Kino
“Memberitau mereka itu…”
“Mahasiswa yang selamat, Song Haneul-san. Seperti yang kami ceritakan, juniormu yang selamat berkumpul di sana dan aku rasa mereka harus tau hal ini untuk membuat mereka waspada”
Song Haneul tersenyum senang. Terbesit sebuah ide agar semua mahasiswa yang ada di gedung arsip bisa percaya bahwa mereka telah selamat.
******
Di gedung arsip, beberapa dari mahasiswa itu ada yang baru saja makan dan ada yang sudah tidur karena lelah secara mental. Beberapa orang termasuk Seo Garam dan Kang Ji Song berjaga di bagian depan dengan senjata.
Tidak lama kemudian, ponsel para mahasiswa yang masih aktif mulai bergetar. Ha Jinan dan Kim Yuram yang duduk di lantai dekat tempat makanan pun menyadarinya
“Yuram, ponselmu bergetar” Ha Jinan memberitau Kim Yuram di sampingnya
Begitu Kim Yuram mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai, mereka semua dibuat terkejut.
“Ini pemberitauan dari grup! Ada yang mengirim chat di [Event Horror Apps]” kata salah seorang mahasiswa
Kim Yuram terlihat hampir menangis karena senang. Ha Jinan yang melihat layar ponsel Kim Yuram langsung mengambil dan membuka ponselnya juga.
“Ini…Kino-ssi dan semuanya” Ha Jinan tersenyum bahagia
Seo Garam dan Kang Ji Song yang penasaran menghampiri keduanya dan melihat apa pesan yang ada di grup tersebut.
“Foto? Ah! Song Haneul-sunbae dan mereka bertiga!!”
“Syukurlah, mereka benar-benar sudah bersama dengan sunbae. Syukurlah”
Sebuah foto yang dikirimkan oleh kontak [Song Haenul EHA] telah menciptakan sebuah senyuman kebahagiaan untuk mereka semua. Foto yang menjadi sumber kebahagiaan lain di tengah makhluk mengerikan di luar sana.
******