
Ryou menunjukkan nomor kontak yang ada di layar ponsel Seo Garam. Tertulis [Song Haneul-sunbae] di sana.
“Ryou…kamu mau menghubungi…Song Haneul-san?”
“Benar. Kalau sudah seperti ini, hanya tinggal ini caranya. Aku tidak mau membuka aplikasi pembawa sial itu. Selain itu, akan lebih baik jika kita bisa mendengar suaranya”
“Ryou benar. Itu mungkin akan jadi cara tercepat untuk sekarang” Kaito mendukung ide Ryou
Kino mengangguk. Setelah nomor tersebut ditekan oleh Ryou, kedua orang lainnya menunggu respon yang ditunjukkan Ryou.
Sengaja saat itu, Ryou tidak menggunakan mode speaker karena akan sangat berbahaya jika sampai lokasi mereka diketahui oleh para zombie di depan gerbang gedung asrama.
Sudah nyaris dua menit namun tidak ada yang mengangkat.
“Tidak diangkat” kata Ryou sambil mematikan teleponnya
“Apa ada suara tertentu?”
“Tidak ada. Hanya suara ‘tuut…tuut…’ seperti itu”
“Suara ‘tuut…tuut…’ itu…suara apa?” tanya Kaito polos
Itu tidak mengherankan, sejak ponsel dan semua yang ada di dalam kampus itu adalah sesuatu yang baru pertama kali Kaito lihat.
“Oh iya, kau tidak tau ya. Itu suara panggilan. Sebelum tersambung biasanya akan ada suara seperti itu dahulu. Coba, kau dengarkan sendiri”
Ryou kembali menekan nomor Song Haneul dan memberikannya pada Kaito. dia mengarahkan ponselnya ke telinga seperti yang Ryou lakukan sebelumnya dan mendengar suara yang dimaksud Ryou.
“Ada…suara…” Kaito terkejut
“Itu artinya nomor sedang coba disambungkan. Tapi, jika tidak ada yang mengangkat–”
“Halo?”
“……!!!” Kaito terkejut mendengar suara yang terdengar di telinganya
“Halo?”
“Kino…Ryou…teleponnya…bisa mengatakan halo padaku”
“Apa?!” kedua kakak beradik itu terkejut
Kaito memberikan ponselnya kembali pada Ryou dan dengan cepat dia langsung menjawab panggilan tersebut.
“Halo? Seo Garam? Hoobae?”
“……!!!” Ryou tidak percaya dengan apa yang dia dengar
“Apa…apa benar ada yang menjawab, Kaito-san?”
“Ada. Suara perempuan”
“Ryou…” Kino melihat wajah Ryou yang terdiam
“Ini…suara perempuan. Ini…ini Song Haneul” bisik Ryou
Ryou memberikan ponselnya pada Kino dan memintanya untuk bicara padanya.
“Halo? Hoobae, apa kalian selamat? Sedang dimana kalian? Apa yang terjadi dengan yang lain? Garam? Seo Garam?!”
“Song…Haneul-san?”
“Apa? Siapa ini?”
“Apa ini benar-benar Song Hanuel-san?”
“Benar. Tapi, aku tidak kenal suaramu. Siapa kamu? Ini nomor Seo Garam-hoobae. Apa yang terjadi padanya?! Apa kamu sedang bersama dengannya?! Bagaimana dengan yang lain? Apa ada yang selamat?!”
Suara perempuan itu tampak terdengar begitu jernih, menandakan dia berada di tempat yang aman. Tapi, dari responnya di telepon tampaknya dia begitu panik sekarang dan sulit untuk menenangkan diri.
Kino berusaha untuk bicara dengannya setenang mungkin.
“Song Haneul-san, perkenalkan namaku Yuki Kino. Aku…aku…”
Kino melirik kedua orang yang sedang melihat dirinya dengan wajah penuh semangat yang menggebu-gebu.
“Apa katanya?” tanya Kaito
“Apa yang harus aku katakan? Aku tidak ingin berbohong” kata Kino panik sambil menutupi layar ponsel dengan tangannya
“Memang kau ingin bilang apa padanya?”
“Baru ingin perkenalan”
“Bilang saja kita mahasiswa baru! Kan sejak awal semua sudah berpikiran begitu! Wahai kakakku, kau ini butuh belajar melakukan kebohongan demi kebaikan” Ryou mencoba memberikan sedikit ‘dukungan’
“……” Kaito yang mendengar itu melihat Ryou dengan wajah datar
Dia bahkan sempat berkomentar dalam hati.
‘Astaga, dia benar-benar bisa mengajarkan kakaknya seperti itu? Aku senang Kino adalah sosok yang baik. Kalau dia terlalu polos, aku yakin sudah dari dulu Ryou berhasil menghasutnya’
Kino tidak yakin mengatakan kebohongan karena dia terlalu jujur dan baik. Tapi, sepertinya dia harus melakukannya.
“Halo…Yuki Kino, kamu masih di sana? Sebenarnya apa yang terjadi? Aduh, kenapa sinyalnya jelek sekali?! Di saat dunia nyaris kiamat di sini…halo…halo…dengar aku tidak?”
Tampaknya, Song Haneul juga sedikit salah paham dengan keadaan ini dan Kino memanfaatkannya untuk mengalihkan pembicaraan.
“Song Haneul-san, apakah sinyalnya sudah membaik?”
“Ah! Syukurlah kamu masih di sana, Yuki Kino! Apa kamu sedang bersama hoobae?”
“Aku sedang bersama dengan adik dan sahabatku. Kami sedang berada di…” Kino melirik kembali ke arah dua orang itu
Ryou memberikan tanda untuk Kino berkata jujur.
“Tidak apa-apa, bilang saja kondisi yang sebenarnya” bisik Ryou
“Kami sekarang sedang berada di balik dinding bertuliskan ‘Gedung Fakultas Seni Rupa’. Di depan kami saat ini, ada kawanan zombie yang sangat banyak dan memenuhi hampir di sepanjang jalan menuju asrama mahasiswa”
“Apa?! Mereka benar-benar ada di sana? Kenapa bisa?!”
“……?” Kino menjadi bingung dengan jawaban tersebut
‘Mereka benar-benar ada di sana katanya?’ Kino bertanya-tanya dalam hati
Suara perempuan itu kembali bicara dengan Kino.
“Seo Garam dan yang lain masih hidup. Mereka bersembunyi di dalam gedung arsip”
“Ada berapa orang yang hidup?”
“Di dalam gedung arsip ada sekitar 28 orang yang selamat. Ditambah dengan kami bertiga jadi seluruhnya ada 31 orang yang masih hidup”
“……”
“Song Haneul-san?”
Suara perempuan itu terdiam. Kino sempat panik kenapa tiba-tiba tidak ada pembicaraan lagi. Tidak lama setelah itu, terdengar suara tangisan dari ponsel. Itu suara Song Haneul yang menangis.
“Hiks…hiks…kenapa jadi seperti ini? Hiks…Leon-nim…Seung Chan…”
“Song Haneul-san…jangan menangis…” Kino mencoba menengangkan lawan bicaranya di telepon
Kaito berbisik pada Ryou.
“Menangis? Perempuan itu menangis?”
“Tampaknya begitu. Kino, coba kau tanya lokasi keberadaannya. Kita harus mencari tau dimana dia berada sekarang”
“Song Haneul-san, dimana lokasimu sekarang? Apa tempat tersebut aman?”
“Aku…aku sekarang ada di dalam gedung asrama”
“Apa?!” Kino begitu terkejut
“Kino, apa katanya?!” tanya Kaito
“Gedung asrama. Song Haneul-san ada di dalam gedung asrama itu”
“Hah?! Bagaimana mungkin dia bersembunyi di sana?!” Ryou tidak kalah kaget dan syoknya seperti sang kakak
“Ini tidak benar. Kino, tanyakan bagaimana dia bisa masuk ke dalam”
“Song Haneul-san, bagaimana kamu bisa ada di–”
-Tuut…tuut
“Eh?” Kino terkejut
Panggilan tersebut tiba-tiba terputus dan dia melihat ponsel milik Seo Garam.
“Baterainya habis”
“Apa?! Habis?! Akh, si bodoh itu tidak memeriksa kembali baterainya ya! Bisa kita buang saja ponselnya?”
“Ryou, jangan berkata seperti itu. Tenanglah” sang kakak mencoba menenangkan sang adik
“Ponsel itu tidak berguna kalau tidak ada baterai, tidak ada paket internet, tidak tersambung dengan wifi dan tidak ada game di dalamnya. Ponsel Garam memiliki salah satu dari alasan itu jadi kita buang saja” kata Ryou dengan santainya
“Ryou, aku mohon berhenti bicara begitu”
“Huh! Menyusahkan!” Ryou cemberut
“……” Kaito hanya melihat tanpa berkomentar
Sekarang, mereka dalam masalah dan tidak bisa melakukan apapun.
“Di saat kita sudah berhasil tersambung dengan Song Haneul dan mengetahui keberadaannya, komunikasi kita kembali terputus. Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Ryou dengan sedikit emosi
“Aku tidak tau. Kita tidak mungkin kembali ke gedung arsip karena jaraknya cukup jauh dari sini” jawab Kaito
Kino mencoba berpikir sebentar. Dia coba mengatakan sebuah ide yang mungkin tidak jauh berbeda dengan yang dikatakan Kaito.
“Jika salah satu dari kita kembali ke gedung arsip dan dua orang lainnya berjaga untuk mengawasi tempat ini, bagaimana menurut kalian?”
“Hah?”
“Komunikasi sangat kita perlukan untuk mencari tau bagaimana Song Haneul-san bisa ada adi dalam gedung yang dikelilingi zombie-zombie itu. Walaupun mereka tidak bergerak sama sekali, tapi hal itu perlu dicari tau. Bisa saja ini adalah kekuatan dari permata Kaito-san”
“Tapi, bukankah itu juga cukup beresiko?”
Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.56.
“Ini sudah hampir jam tiga sore. Kita sudah memakan waktu terlalu lama. Jika sampai matahari terbenam dan malam datang, mungkin saja ada perubahan pada perilaku zombie-zombie itu”
“Tapi, aku tidak yakin kita bisa menerobos ke dalam. Di dalam pagar itu ada gedung asrama yang luasnya tidak kalah dari wilayah kampus ini. Dari gambar yang kita lihat sebelumnya saja sudah diketahui bahwa ada 5 gedung di dalam. Tidak mungkin kita mencarinya satu per satu”
Kino memberikan penjelasan yang masuk akal pada Kaito. Dengan berpikir sejenak, Ryou dan Kaito mulai mempertimbangkan usulan Kino.
“Kesempatan ini bisa kita manfaatkan untuk kembali ke sana karena semua zombie itu sedang berkumpul pada satu titik” lanjut Kino mencoba meyakinkan
“Aku setuju dengan Kino. Kita juga belum tau ada dimana posisi Song Haneul dengan detail” Ryou mendukung usulan sang kakak
Sekarang, dua lawan satu. Kaito tidak punya pilihan selain menyetujuinya.
“Baiklah. Lalu, siapa yang mau berlari ke gedung arsip?”
“Aku” Ryou menunjuk dirinya sendiri
“Ryou?”
“Aku akan jauh lebih tenang jika Kaito berada bersamamu Kino. Seandainya para zombie itu mulai menyerang kalian sekalipun, dengan kecepatan serangan Kaito yang kita tau selama ini, aku tau dia bisa melindungimu dengan baik”
“Ryou…” Kino tampak begitu cemas
“Lagipula, aku memiliki kemampuan lari yang cepat. Apa gunanya semua piagam dan piala yang selama ini aku dapatkan? Aku sangat percaya diri dengan kemampuanku” Ryou tersenyum percaya diri
Tidak lama setelah itu, dia mengambil kembali ponsel Seo Garam.
“Tunggu di sini. Aku akan segera kembali”
Ryou langsung berlari secara sembunyi-sembunyi untuk keluar dari sana. Ketika jaraknya sudah jauh, dia langsung berlari dengan cepat.
“Ryou…hati-hati…” gumam sang kakak dengan wajah cemas
“Jangan khawatirkan Ryou, Kino. Adikmu itu selain cerewet, dia juga bisa diandalkan. Tugas kita adalah memastikan mereka sama sekali tidak bergerak dari tempatnya. Itu juga mempengaruhi tingkat keberuntungan kita”
Kino terdiam dan memejamkan matanya seraya berdoa.
‘Kami-sama, aku mohon tolong jangan biarkan rencana ini gagal. Aku mohon lindungi Ryou dan kami semua. Semoga kami bisa cepat mengakhiri bencana ini secepatnya’
******