Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 178. Event Horror bag. 8



“Jika aku yang melakukannya, aku tidak akan segan-segan menghancurkan wajahnya seperti yang aku lakukan pada para makhluk jelek barusan. Aku tidak merubah pikiranku untuk meninggalkan pria bernama Park Cho Joon di sini, karena menurutku dia pantas untuk mati”


Ucapan Ryou membuat semua orang terdiam. Kaito tidak merubah ekspresi datar pada wajahnya tapi Kino langsung berdiri di hadapannya dan menasehati sang adik.


“Ryou, lihat aku. Jangan bicara begitu. Ini bukan waktunya untuk berdebat dan membiarkan siapapun mati”


“Tapi kalau dia saja sudah pernah mencoba membunuh temannya sendiri seperti itu karena gadis yang dia sukai mati, bukan tidak mungkin dia akan melakukannya lagi”


“Ryou…”


“Aku berani bertaruh dia masih akan mencoba membunuh Ha Jinan lagi” kata Ryou sambil melihat Ha Jinan


Gadis itu langsung merasa ketakutan dan bersembunyi di belakang Seo Garam.


“Ga–Garam-ssi…”


“Kami akan melindungimu, Jinan-ssi. Cho Joon tidak akan bisa melakukan hal buruk lagi padamu” bisik Seo Garam


Ha Jinan masih sangat ketakutan mengingat dia nyaris mati karena cekikan itu. Bahkan, bekas cekikannya masih belum hilang.


Kino bicara lagi pada sang adik, berharap dia tidak menjadi provokator dalam kondisi mencekam seperti itu.


“Ryou-kun, Ryou-kun…dengarkan aku. Ini bukan saatnya untuk membahas hal seperti itu. Pertama kita harus selamat dan mencari cara agar bisa keluar dari situasi seperti ini. Semua orang harus bisa selamat dan–”


“Kino, aku tidak berpikir pikiran naïf milikmu itu akan membantu. Aku aku perjelas sesuatu pada mereka semua dan juga dirimu. Yang akan aku lindungi hanya kau dan Kaito, sekalipun dia bisa melindungi dirinya sendiri”


“……” Kaito hanya mendengarkan


“Dan selama ada kita terjebak dalam situasi berbahaya, aku hanya akan mempercayai informasi dari orang yang aku anggap bisa dipercaya. Contohnya Seo Garam dan dua orang gadis itu saja. Yang artinya, selain mereka…aku tidak akan percaya pada siapapun”


“Ryou…” Kino berubah menjadi sedih


“Maaf saja kalau mereka harus sakit hati, tapi aku mengatakan itu berdasarkan sikap pertama yang mereka tunjukan pada kita” tegas Ryou


“……”


“Aku selalu percaya bahwa first impression itu penting dan kesan yang mereka tunjukan pada kita adalah penolakan. Sekalipun mereka akhirnya berubah” lanjut Ryou


Kang Ji Song dan para mahasiswa itu tidak membalasnya karena semua hal yang dikatakan oleh Ryou benar. Meskipun Kino sudah melupakan itu, tapi dua orang lainnya mungkin memiliki pendapat berbeda.


‘Itu benar. sekalipun Kino-ssi telah melupakan itu…tapi sang adik memiliki sifat yang bertolak belakang dengan sang kakak. Aku tidak akan menyalahkannya. Sejak mereka memang memiliki hak untuk berpikir demikian dan sikapku waktu itu juga…’ ucap Kang Ji song dalam hati


Kaito mengeluarkan jam sakunya dan waktu telah menunjukkan pukul 09.53 di pagi hari. Sudah nyaris satu jam berlalu dan tampaknya hal ini hanya akan membuat kondisi mereka semakin buruk.


“Maaf memotong diskusi kakak adik kalian yang sengit, tapi kita kehabisan waktu” ucap Kaito sambil memasukan kembali jam sakunya


Kim Yuram tampaknya masih tidak merubah pikirannya juga.


“Aku akan tetap menghajarnya”


“Yuram-san!” Kino memanggilnya


Namun tampaknya gadis itu sudah tidak memikirkan apapun. Dia masuk dan menghampiri Park Cho Joon yang terlihat waspada dengan panci di tangannya.


“Mau apa kau kemari?! Apa di luar sudah aman?”


“Park Cho Joon, aku tidak terima perlakuan yang kau lakukan pada aku dan Ha Jinan tadi! Kau juga sudah melakukan tindakan buruk dengan memukul Kang Ji Song! Apa kau memang ingin membunuh kami semua?!” Kim Yuram membentaknya


Bersama dengan suara itu, semua orang masuk ke dalam dapur kantin dan melihat apa yang dilakukan oleh Kim Yuram dan Park Cho Joon. Sementara Kaito bersiap di kantin dengan pedang di tangannya.


“Hah! Apa yang kau katakan?! Sejak Eunji mati akibat kecerobohan gadis tidak berguna seperti Ha Jinan, kalian yang membelanya lebih pantas untuk mati!”


Mahasiswa lain mulai kesal dan membentak Park Cho Joon.


“Oi! Ucapanmu itu keterlaluan, Park Cho Joon!”


“Kau nyaris membuat kami semua mati dan membahayakan mereka!”


“Kau juga yang memukul Kang Ji Song, kan?! Dasar iblis!”


“Seharusnya kau yang arogan itu yang mati!”


Sebuah kalimat yang membuat Park Ji Song marah sampai melempar panci yang dia pegang tiba-tiba ke arah Kim Yuram.


“Akh! Apa yang kau lakukan!” Kim Yuram menahan sakit


Panci itu mengenai lengan kanan Kim Yuram. Cukup menyakitkan karena dilempar dengan jarak dekat dan keras seperti itu oleh pria yang penuh dengan emosi.


“Yuram!!” Seo Garam langsung menolongnya


Kino ikut membantu mereka.


“Kim Yuram-san, sebaiknya kita keluar dari sini sebelum semuanya–”


“Park Cho Joon-san, ini bukan saatnya mengatakan hal seperti itu! Kita harus segera pergi sebelum zombie itu kembali ke tempat–”


“Diam kau, bocah asing pengganggu! Kau jangan ikut campur! Karena kau berani mempermalukan aku tadi, kau juga lebih baik mati! Kalian semua tidak berguna! Sampah! Ini semua karena kalian!”


Sungguh luar biasa hebat Park Cho Joon yang telah kehilangan rasa malu dan harga dirinya itu. Semakin lama, dia semakin tidak bisa menyadari bahwa semua yang dia katakan adalah bukti bahwa dia pengecut.


“Kau dan semua orang yang lainnya lemah! Dasar sampah! Sampah! Sampah! Sampah!”


Ryou yang menggambil panci yang ada di bawah menghampiri Park Cho Joon dan dengan keras dia memukul wajah Park Cho Joon tanpa memberinya kesempatan untuk mendengarkan aba-aba.


-BUUK


“Aaakh!!”


-BUUK…BUUK


Pukulan itu dilakukan beberapa kali. Seperti yang dia lakukan kepada para zombie beberapa waktu lalu, dia benar-benar berniat untuk menghancurkan wajah pengecut yang hanya berani bermulut besar.


Gerakan itu disaksikan oleh semua orang kecuali Kaito.


Park Cho Joon tentu saja bermaksud menyerang balik dengan sesekali melancarkan pukulan dan tendangan ke arah Ryou, namun sepertinya perbedaan pengalaman mereka terlalu besar.


Sejak Ryou sendiri memiliki dasar olahraga dan bela diri yang kuat, semua serangan dari Park Cho Joon itu hanya seperti gerakan dasar orang yang dimabukan oleh emosi.


Terakhir, dia begitu kesal dengan pria bermulut besar itu hingga akhirnya dia menyerang kelemahan Park Cho Joon yaitu dengan menendang bagian paling pribadi milik laki-laki itu disertai dengan pukulan keras ke arah wajah dengan panci.


“……” semua orang terdiam termasuk sang kakak


Beberapa mahasiswa bahkan terlihat pucat melihat Park Cho Joon harus merasakan sakit luar biasa pada bagian kebanggaan para laki-laki. Lebih mengerikan lagi, yang melakukannya adalah seorang laki-laki juga.


Kim Yuram yang melihat hal tersebut cukup terkejut hingga tidak bisa melepaskan pandangannya pada ekspresi serius Ryou.


Ketika Park Cho Joon tidak bisa lagi bangkit dan terkapar lemah di lantai, Ryou membuang panci tersebut ke arah Park Cho Joon sambil menatapnya rendah.


“Kau seperti anjing yang senang sekali menggonggong. Dengar baik-baik kalau telingamu masih berfungsi dengan benar. Aku sangat membenci pria banci yang hanya bisa memukul wanita. Dan aku paling benci ada seseorang yang berani macam-macam pada kakakku”


“Kh…”


“Aku sudah bilang sejak awal, jika berani menyakiti kakakku, maka aku tidak akan segan-segan pada siapapun. Dan aku ingin membuktikan pada semua orang di sini bahwa aku tidak pernah main-main dengan ucapanku”


Ryou lalu berlutut dan bicara pelan pada Park Cho Joo.


“Sedikit rahasia untukmu. Kau mungkin bisa bermulut besar, tapi aku pernah membunuh orang lain dengan tangan ini”


-Deg


Wajah Park Cho Joon melihat ekspresi dingin dari Ryou. Sorot mata tajam ditunjukkan olehnya sehingga Park Cho Joon sekalipun tidak bisa menyangkal semua itu.


“Aku pernah membunuh orang yang sama menyebalkannya denganmu dan aku rasa aku mungkin bisa melakukan itu lagi padamu. Apa bedanya membunuh satu dua orang dalam kondisi seperti ini? Zombie di luar sana dulunya juga manusia normal. Jadi bukan hal aneh jika aku membunuhmu dengan alasan kau telah terinfeksi virus mereka”


“Kau mengancamku?!” ucap Park Cho Joon dengan ekspresi yang mulai terlihat sedikit takut


“Aku tidak mengancam. Aku hanya mengatakan apa yang ada dalam pikiranku. Sebaiknya kau berhati-hati dengan tindakanmu itu. Karena aku bukanlah orang baik seperti kakakku”


Ryou lalu berdiri dan berjalan meninggalkan Park Cho Joon yang masih belum bisa bangun.


“Kino, kita pergi dari sini. Aku selesai dengan orang itu” Ryou menarik tangan sang kakak


“Tunggu sebentar…Ryou…”


“Aku akan mendengarkan semua ceramahmu setelah kita keluar dari sini” Ryou terlihat serius


“Ryou…”


Mereka semua mengikuti Ryou. Kim Yuram yang dibantu oleh Seo Garam mulai berjalan keluar. Namun sebelum itu, Seo Garam mengambil kembali ponsel Yuram yang ada di lantai.


Dia melihat Park Cho Joon yang masih mencoba berdiri dengan wajah penuh luka lalu berkata.


“Cho Joon, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan padamu. Jika Eunji masih hidup, dia akan sangat menyesal telah disukai oleh pengecut sepertimu”


“Kau!!” Park Cho Joon berteriak ke arah Garam yang telah pergi meninggalkannya sendiri


Kaito melihat mereka semua telah keluar. Dia mendekati Ryou yang menggandeng tangan Kino.


“Kaito, maaf sudah membuatmu menunggu”


“Tidak masalah. Semua masih aman, namun kita tidak memiliki banyak waktu. Kita pergi dari sini”


Semua mengangguk. Kim Yuram berkata bahwa dirinya sudah lebih baik dan setelah menerima ponselnya kembali, mereka pergi dari ruang kantin penuh mayat dan darah itu meninggalkan Park Cho Joon.