
“Aku turut berbela sungkawa. Ternyata, mentalmu sudah diuji sejak pertama kali bertemu dengannya” ucap Ryou dengan wajah datar
“Terima kasih” jawab Kaito santai sambil memimum tehnya
“Kaito-san…kamu benar-benar tidak apa-apa? Setelah itu apa yang terjadi?” Kino bertanya dengan ekspresi keingintahuan yang kuat
“Aku terpaksa memakai dapurnya untuk memasak. Dia menunjukkan letak dapurnya padaku lalu memberiku catatan resep dengan gambar aneh dan tulisan yang tidak aku pahami”
“……”
“Hanya dengan berbekalkan insting dalam membedakan garam dan gula, aku membuat makanan yang disebut telur gulung itu untuk sarapan kami”
“Sungguh sulit untuk dipercaya. Ternyata kau hebat juga bisa membedakan garam dan gula di tempat asing seperti itu” puji Ryou dengan wajah serius
“……” Kaito terdiam dengan kalimat Ryou
Dia tidak tau apakah itu sebuah hinaan atau pujian, tapi dia memilih tidak berkomentar.
“Setelah itu, apa yang terjadi pada kalian?” Kino terlihat penasaran dengan kelanjutan cerita Kaito
Kaito kembali bercerita.
******
Ini adalah bagian dari ingatan lain dari Kaito.
Setelah mereka berdua selesai memakan sarapan yang dibuat oleh pemuda itu, terlihat wajah puas keduanya.
“Ini yang disebut telur gulung~” kata perempuan itu
“Kau benar-benar tidak bisa membedakan garam dan gula ya?”
“Aku bisa! Jahat sekali kamu berkata begitu, dasar remaja dunia lain yang tidak sopan!”
“……”
Pemuda itu memilih diam dan menghela napasnya. Setelah itu, perempuan itu mulai tersenyum.
“Maaf maaf, aku hanya menggodamu. Jangan terlalu tegang ya”
“Hmm” respon yang sangat dingin
“Kamu marah?” tanya perempuan itu dengan senyumnya
“Tidak. Aku masih menunggu kau menceritakan semuanya padaku”
“Begitu. Kalau begitu kita jalan-jalan ke taman sebentar ya. Di sana ada tempat yang sangat nyaman untuk mengobrol”
Pemuda itu hanya diam dan mengikuti perempuan itu pergi. Selama berjalan menuju taman yang dimaksud, pemuda itu cukup terkejut. Dia terkesan dengan betapa luas dan indahnya rumah tersebut.
“Apa kau merawat tempat ini sendiri?” tanya pemuda itu penasaran
“Hmm, aku merawatnya sendiri. Tapi tidak benar-benar sendiri”
“Apa maksudnya?”
“Aku menggunakan kemampuanku untuk membuat tempat ini selalu indah dan bersih. Semacam kemampuan magis. Pernah dengar?”
“Magis? Apa itu?”
“Sepertinya tidak pernah dengar ya. Semacam sihir tapi aku tidak benar-benar menyebut itu sihir. Hmm…berkah dari Dewa…kurasa”
“Dewa ya…”
Sambil berjalan, mereka akhirnya sampai di sebuah tempat teduh dengan banyak bunga di tengah sebuah danau buatan. Ada jembatan yang terhubung ke sana.
Melihat tempat tersebut, hati pemuda itu mulai membaik. Selain itu, dia merasa bahwa perempuan cantik di hadapannya sekarang bukanlah orang jahat.
“Ayo duduk sini. Kita mengobrol sebentar”
Pemuda itu duduk berhadapan dengan perempuan tersebut.
“Aku belum memperkenalkan diri ya. Nama keluargaku adalah Shirogane. Shirogane Ru Lan”
“Ru…Lan…?”
******
-Braaak
Terdengar suara gebrakan meja. Itu adalah suara Ryou yang berdiri dengan wajah syok. Bukan hanya Ryou, Kino menatap Kaito dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan Ryou.
“Shi–Shiro…Shirogane…” Kino tampak syok
“Kaito…itu…itu nama Jepang. Itu nama yang berasal dari tempat tinggal aku dan Kino! Sudah kuduga kau berasal dari Jepang!”
Kaito cukup terkejut. Selama ini, dia tidak menyangka kalau orang yang menyelamatkannya itu memiliki kesamaan nama dengan negeri asal Yuki bersaudara.
“Apa benar begitu? Aku tidak mengerti tapi negeri tempat tinggal orang itu bukan bernama Jepang”
“Apa nama tempatmu berasal?!”
“Yamato. Negeri tempat orang yang menyelamatkanku tinggal bernama Yamato”
-Deg
Terungkap sudah kecurigaan kedua kakak beradik itu sejak awal.
'Nama orang yang menolong Kaito memiliki kosakata Jepang dan yang lebih mengejutkan, besar kemungkinan nama negeri itu adalah Jepang di masa lalu. Bagaimana mungkin Kaito tidak menyadari kesamaan nama kami berdua ketika pertama kali bertemu?' pikir Ryou dalam hati
‘Negeri tempat Kaito-san berada saat itu kemungkinan adalah Jepang di masa lalu. Atau mungkin sebuah dunia lain yang memiliki struktur seperti Jepang’ pikir Kino dalam hati
“Katakan! Apakah mereka menggunakan tulisan kanji atau hal seperti itu? Apa mereka bicara dengan bahasa Jepang atau semacamnya?!” Ryou begitu antusias
“Ryou, tenanglah. Cerita Kaito-san belum selesai” Kino mencoba menenangkan sang adik
“Aku tidak paham bahasa Jepang. Tapi sejak awal aku dan ‘orang itu’ bicara menggunakan bahasa Franka seperti sekarang”
Ryou duduk kembali. Masih banyak pertanyaan mengenai misteri ini.
“Negeri Yamato dengan bahasa Franka, mana ada yang seperti itu. Tapi…tapi nama Shirogane itu benar-benar nama Jepang”
“Aku yakin ada penjelasan logis mengenai hal ini. Shirogane Ru Lan-san ya…nama Ru Lan itu seperti nama Jepang tapi lebih ke nama China. Mandarin, kurasa” Kino sempat berpikir
“Nama ‘Shirogane’ mengacu pada sebuah logam mulia yang menurut cerita darinya merupakan logam yang masuk dalam unsur langkah di bumi. Sedangkan nama ‘Ru’ dan ‘Lan’ memiliki arti suka dan bunga anggrek. Begitulah yang kudengar darinya” lanjut Kaito
“Dalam bahasa Jepang, Shirogane berarti platina. Dalam bahasa Inggris disebut platinum, itu merupakan logam mulia yang langkah di kerak bumi. Sepertinya orang yang menolong Kaito-san mengetahui tentang hal itu”
“Tapi arti nama Ru Lan sendiri seperti kata terpisah dalam bahasan Mandarin. Bunga anggrek dalam bahasa Mandarin dibaca ‘Lan’. Aku rasa namanya penggabungan dari bahasa Jepang dan Mandarin” Ryou ikut menyimpulkan
“Aku tidak mengetahui apa yang kalian maksud tapi sepertinya kalian benar-benar mengetahui hal itu dengan baik. Sekarang, aku mungkin bisa percaya bahwa hubungan kalian denganku bukanlah kebetulan. Meskipun aku masih ragu bagaimana bisa hal itu terjadi”
Mereka bertiga diam sejenak. Namun spekulasi berlebihan hanya akan membuat pertanyaan di atas pertanyaan. Kino mencoba membawa arah pembicaraan ini kembali ke topik utama.
“Kaito-san, kita bisa pikirkan itu nanti. Aku masih ingin mendengar apa saja yang kamu lakukan dengan penyelamatmu itu. Benar kan, Ryou?”
“O–oo, benar! Ceritakan pada kami, Kaito! Mungkin ada petunjuk lain mengenai hal ini! Siapa tau kami bisa saja menemukan alasan kenapa ingatanmu hilang dan berakhir menjadi permata yang tersebar ke semua dimensi aneh”
Kaito memutuskan untuk melanjutkan sedikit ceritanya kembali.
******
“Ru…Lan…?”
“Benar. Shirogane itu dari nama logam mulia yang paling langkah di bumi ini, sedangkan Ru dan Lan berarti suka dan bunga anggrek. Bagaimana? Nama yang cantik, kan?” perempuan itu tersenyum senang
Senyuman itu sangat cantik sehingga sedikit membuat pemuda itu malu, meskipun tidak lama. Pemuda itu kembali ke topik pembicaraannya kembali.
“Kau bilang kau menolongku dan aku berasal dari tempat yang disebut dengan dunia lain. Bagaimana bisa hal itu terjadi?”
“Kamu…apa kamu ingat siapa namamu?”
“Eh?”
“Apa kamu ingat siapa namamu dan dari mana asalmu?”
Perempuan bernama Ru Lan itu bertanya dengan sorot mata lurus ke arah kedua bola mata pemuda di depannya.
“Namaku…”
-Deg
"Ukh!! Akh!! Kenapa?! Kepalaku...akh...!!"
Baru mencoba untuk mengatakannya, kepala pemuda itu seakan mau pecah.
Perasaan yang sama seperti yang dirasakan olehnya saat pertama kali bangun. Dia merasa sesak, napasnya seakan terhenti di pangkal tenggorokan. Seakan tercekik, dia tidak bisa mengeluarkan kata-kata karena suara seperti tertahan.
Keringat dingin muncul dan langsung membuat seluruh pakaiannya yang kering basah. Perban di kepala dan tangannya mulai dibasahi oleh keringatnya.
‘Apa yang terjadi! Aku…aku tidak bisa bernapas?! Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku! Siapa aku? Kenapa aku tidak mengingat apapun?!’ pemuda itu terus bertanya-tanya dalam hatinya
Di saat seperti itu, Ru Lan membacakan sebuah kata-kata yang tidak dimengerti oleh pemuda itu. Hanya dalam waktu sekejap, air yang tenang tiba-tiba saja bergerak seakan ada sesuatu yang menggerakannya, kelopak bunga bertebaran membuat suasana indah. Di sekelilingnya, mulai tercipta suasana yang sejuk dari hembusan lembut angin.
Terlihat ada sesuatu yang mengelilingi dirinya dan perempuan di hadapannya. Itu seperti sebuah tulisan asing dengan cahaya transparan yang mengelilingi keduanya.
Perlahan, rasa sesak dan sakit itu perlahan mulai menghilang. Berganti dengan perasaan tenang dan seketika tubuhnya terasa lebih baik.
Keringat yang membasahi tubuhnya pun perlahan menghilang, pakaiannya yang basah mulai mengering serta wajahnya yang pucat akibat sesak napas sekarang berangsur-angsur membaik.
“Sudah lebih baik?” tanya Ru Lan
“Apa itu tadi?”
“Itu namanya ‘Zhú Fǎhù’, sejenis rapalan mantra dan doa. Aku menggunakannya untuk menciptakan sebuah kekuatan magis untuk membuatmu lebih baik. Sekarang, apa kamu masih merasa tidak nyaman?”
“Tidak…tidak lagi. Terima kasih”
Melihat pemuda itu tenang, Ru Lan mulai terlihat serius.
“Baiklah, sekarang akan memintamu untuk melakukan dua hal sebelum aku bicara”
“Apa itu?”
“Pertama aku memintamu untuk jangan bertanya selama aku bicara dan yang kedua aku ingin kamu mempercayaiku selama aku bercerita”
“Apa maksudnya?”
“Aku akan mengatakan semuanya dengan jujur, tapi jika kamu meragukan ceritaku, itu sama saja dengan kamu menyangkal kenyataan. Aku merasa bahwa ada perasaan kuat yang menyelimutimu agar membuatmu melupakan kenyataan dan aku tidak ingin kamu tenggelam di dalamnya”
“Perasaan kuat? Melupakan kenyataan? Apa itu?” pemuda itu semakin dibuat bingung
“Karena itu, aku ingin kamu mempercayai semua yang aku katakan. Hanya selama aku sedang bercerita. Setelah aku selesai bercerita, kamu bebas untuk menyangkalnya”
Pemuda itu tidak begitu mengerti, namun akhirnya dia memutuskan untuk melakukan keinginan Ru Lan.
“Baik. Pertama aku ingin menceritakan awal kenapa kamu bisa ada di sini”
******
Di saat ini, Kino dan Ryou mulai terlihat tegang. Kaito mulai menceritakan bagian penting dari semua inti ceritanya.
“Dia bercerita padaku. Ketika dia sedang berdoa, dia mendengar sebuah suara tangisan. Meskipun dia tidak mengerti suara tangisan itu, dia mengatakan itu adalah suara tangisan seseorang yang baru ditinggal mati oleh orang lain”
“Seseorang yang ditinggal mati…mungkinkah itu…” Ryou berusaha menebak
“Aku tidak tau apakah itu aku atau bukan karena ‘orang itu’ juga tidak mengetahuinya. Dia bercerita bahwa saat dia sedang berdoa, suara tangisan itu semakin kuat dan tiba-tiba muncul sebuah suara dan cahaya kilat di halamannya”
“……” kedua kakak beradik itu mulai mendengarkan
“Saat dirinya tiba, dia melihatku terbaring lemah dengan penuh darah, lumpur dan luka yang parah. Dan yang lebih membuatnya cukup terkejut, dia melihat ada sesuatu yang keluar dari tubuhku”
“Keluar dari tubuh?”
“Dia mengatakan itu sebuah bola atau sebuah permata yang bersinar. Dari ceritanya, dia bilang bentuknya bulat sempurna dan mengeluarkan cahaya berwarna ungu cerah. Ukurannya kurang lebih sebesar ini” Kaito membuat lingkaran dengan tangannya lalu berkata, “kurang lebih 5-6 cm”
“Bola yang keluar itu…ingatan milik Kaito-san”
“Tepat. ‘Orang itu’ berkata bahwa dia sempat melihat bola itu bersinar dan menunjukkan sebuah rekam memori. Hampir semua memori terlihat olehnya. Tapi, ketika dia melihat semua rekaman ingatan itu…tiba-tiba bola permata itu retak dan pecah”
“……!!!” kedua kakak beradik itu terkejut
“Mungkinkah itu…adalah ingatan Kaito-san? Ingatan itu…menyebar dan pergi ke ‘dunia’ dan dimensi lain?”
“Benar. Itulah saat seluruh ingatanku hilang”
******