
“Haa~sungguh tidak tau malu”
Kalimat itu adalah sebuah kalimat bernada sindiran yang dikatakan oleh Ryou dengan tatapan sangat dingin.
Sikapnya bahkan menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Ini seperti mereka semua adalah pemicu paling bagus untuk membuatnya mengatakan hal lebih jahat lagi tanpa perlu menyesali apapun.
“Kalian semua sungguh tidak tau malu. Sungguh menyedihkan, begitu lemah, tidak memiliki keberanian, senang mengorbankan orang lain, bodoh, tidak tau aturan, seenaknya sendiri, apa lagi ya…? Coba aku pikirkan dulu hinaan yang tepat untuk kalian ya…”
“Ryou-ssi…” Seo Garam menjadi panik mendengar Ryou berkata begitu
“Kau…kau itu…” bahkan Kim Yuram tidak menyangka Ryou akan berkata seperti itu
Wajah sang kakak menjadi begitu pucat. Sepertinya, jika terus begini hanya akan memancing sebuah perkelahian seperti sebelumnya. Dan tidak perlu menunggu lama, Park Cho Joon langsung mencoba menyerang.
Tapi, kali ini dia mengabaikan omongan Ryou dan menargetkannya pada Kaito.
“Hiyaaa!!!” sebuah tinju diarahkan pada Kaito
Kaito yang kebetulan membelakanginya sempat menghindar tanpa menengok dan langsung berputar untuk menendangnya ke belakang dengan keras.
-BRUUUK
“Kaaagh!!”
Tendangan keras itu membuat tubuh Park Cho Joon terdorong sampai mendekati tumpukan kursi dan meja yang menahan pintu masuk kantin. Seketika mereka semua yang melihatnya langsung terdiam dan menjadi pucat.
Kino dan Ryou menengok ke belakang. Kino begitu terkejut sampai menghampiri Kaito.
“Kaito-san…kamu baik-baik saja? Apa yang terjadi?”
“Dia mencoba menyerangku. Aku hanya melakukan itu untuk pertahanan diri seperti yang kau lakukan. Tapi, sepertinya dia terlalu lemah untuk menahan tendangan itu” jawabnya dengan santai
“Kaito-san…” Kino hanya bisa menatap cemas
Ryou hanya melihat Park Cho Joon yang terkapar dan belum bergerak dengan wajah datar di kejauhan. Dia kembali melanjutkan hinaannya kembali.
“Oh, aku sudah punya lainnya. Tadi sampai dimana kita? Seenaknya sendiri, benar. Aku lanjutkan dulu ya. Kalian semua itu hanya mengandalkan orang lain untuk menyelamatkan diri kalian, tapi tidak mau dipanggil lemah. Kalian membiarkan orang lain yang melakukannya karena kalian tidak mau membahayakan diri sendiri, tapi tidak terima dipanggil pengecut….”
“……”
“Sebenarnya kalian semua ini mahasiswa sungguhan atau anak kecil yang sok masuk sekolah tinggi?”
Sarkas tapi benar, itulah pujian untuk Ryou saat ini. Sepertinya orang-orang seperti para mahasiswa dan Park Cho Joon itulah yang membuat Ryou bisa semakin menjadi-jadi dalam meningkatkan tingkat ketajaman makian miliknya.
“Ryou, kumohon cukup sampai di situ. Jangan mengatakan apapun lagi, aku mohon” sang kakak segera menghampirinya dan memohon padanya
“Aku tidak suka orang seperti mereka, Kino. Kau tau seperti apa sifatku ini, kan? Mereka tidak mengerti bahwa mereka mungkin saja tidak memiliki kesempatan untuk selamat. Dan sekarang mereka bisa saling mengorbankan satu sama lain”
Seo Garam, Kim Yuram dan Ha Jinan hanya mendengarkan semua ucapan Ryou sambil berpikir.
‘Berakhir mengorbankan orang lain katanya…’
‘Tapi, aku tidak bisa menyangkal hal itu. Saat Ha Jinan kembali dengan makanan dan nyaris mati karena ulah Park Cho Joon, tidak ada yang mau menyelamatkannya karena mereka begitu takut. Selain itu….’
‘Mereka dengan mudahnya meminta Kaito-ssi untuk melindungi mereka semua karena mereka menganggap mereka lemah dan tidak ingin terlibat dalam bahaya…itu kejam’
Tampaknya ketiga mahasiswa itu setuju dengan pemikiran Ryou. Mereka mulai mendekati Kang Ji Song dan membela Ryou.
“Ji Song, sebaiknya jangan menjadi provokator lain seperti Cho Joon. Ini sudah membuang banyak waktu dan energi. Kita juga harus berpikir untuk menyelesaikan event berbahaya ini dan meminta bantuan keluar” kata Seo Garam dengan wajah serius
“Kau mau menjadi pahlawan, Seo Garam?!” Kang Ji Song tampaknya sangat kesal
Kim Yuram membelanya.
“Ini bukan soal menjadi pahlawan! Kalau kau pakai otakmu untuk berpikir, kau juga akan membenarkan semua perkataan Ryou. Selain itu, masalah utama yang dikatakan mereka bertiga itu benar! Kau juga sependapat dengan itu, kan?”
“Ukh…” Kang Ji Song terdiam
Tampaknya Kang Ji Song sendiri sadar akan hal itu, namun dia tersulut emosi.
“Sebaiknya hentikan ini semua dan–”
-GRAAA…GRAAA
Dari arah luar pintu, terdengar suara yang tidak asing.
“Kyaaaa!!”
“Tidak!! Itu mereka!!”
“Kenapa mereka datang lagi!!”
Semua mahasiswa itu kembali histeris. Mereka yang awalnya terdiam menjadi begitu panik. Park Cho Joon yang berusaha berdiri mundur dengan wajah pucat dan takut.
“Me–mereka…mereka datang lagi?!” teriaknya histeris
Seo Garam terlihat takut dan Ha Jinan mulai menangis. Kim Yuram memeluknya untuk menenangkannya walaupun dia sendiri gemetara.
Sudah begitu, hal lain yang membuat panik adalah sepertinya suara teriakan mereka itu sempat terdengar dari luar sehingga pintu kantin mulai bergetar.
-BUUK…BUUK…BUUK…
-GRAA…GRAA…GRAA…
Mereka mulai memukul-mukul pintu. Karena penahan pintu kantin yang terbuat dari susunan kursi dan meja mulai bergetar juga, bisa dikatakan kalau para zombie di luar kantin berjumlah lebih banyak dari sebelumnya.
“Mereka mencoba masuk. Itu karena kalian terlalu berisik. Kalau kalian ingin mati dengan cepat, harusnya dilakukan sendiri sejak awal” Ryou masih sempat memberikan kritikan
“Ryou, jangan bicara kejam begitu. Ini bukan waktu yang tepat!” Kino mulai memarahi sang adik
Dengan wajah penuh kepanikan dan keringat dingin, Park Cho Joon yang masih kesulitan berdiri mulai menunjuk Kaito.
“Kau! Orang sok kuat yang bermulut besar! Kau bilang kau kuat dan bisa mengalahkan mereka, kan? Aku tidak percaya sampai kau membuktikannya pada kami semua!”
“Apa?” Kaito memberikan tanggapan dingin
“Di sini hanya kau yang memiliki senjata! Sekarang keluar dan bunuh mereka semua untuk kami! Buktikan kalau kau kuat dan bukan sekedar bermulut besar!!”
Tampaknya Park Cho Joon masih bisa menyulut emosi orang lain.
Mendengar itu, mahasiswa lain ikut menyudutkan Kaito yang bersenjata.
“Kau harus melindungi kami! Kau bilang kau kuat, kan?”
“Jangan diam saja, orang asing!! Mereka bisa masuk kapan saja! Penahan itu tidak akan bertahan lama! Habisi mereka dan buat dirimu berguna!”
Di saat seperti ini, tampaknya tidak ada yang bisa berpikir jernih. Bahkan sepertinya mereka melupakan hal penting.
“Kalian semua yakin? Kalau pintu itu dibuka dan aku keluar untuk membunuh mereka, aku tidak mungkin bisa menahan mereka sendirian jika jumlahnya banyak. Sekalipun aku bisa membunuh mereka, dari mereka tetap saja akan ada yang masuk” jelas Kaito
“……” semua orang masih terlihat panik
“Dan seandainya itu terjadi, coba tebak siapa yang akan mati karena serangan mereka?” Kaito menatap Park Cho Joon dengan wajah dingin
Ryou menarik tangan Kino ke arah dapur kantin. Dia juga turut mengajak ketiga mahasiswa itu bersamanya.
“Kalian bertiga ikut ke sini sebentar. Biar Kaito yang mengurus para pengecut itu”
“……”
Dengan wajah bingung, ketiganya mengikuti Kino dan Ryou ke dapur kantin.
Di dapur kantin, terdapat beberapa barang seperti alat-alat kebersihan dan sudah pasti alat masak. Ryou mulai membuka setiap laci di sana tapi tampaknya dikunci.
“Sial! Terkunci! Kenapa bisa dikunci semua?!”
“Apa yang kamu cari, Ryou?”
“Pisau dan semacamnya! Yang namanya dapur kantin pasti punya pisau daging atau pisau apapun untuk memasak. Tadinya aku ingin sekali mengambil itu untuk senjata kita tapi sepertinya tidak bisa karena semua laci-laci ini terkunci!” Ryou tampak kesal
“Kau bermaksud melawan mereka semua?!” Seo Garam terkejut mendengar niat Ryou tadi
“Tentu saja serius! Aku tidak mau menjadi mayat berjalan seperti mereka. Kalau kau mau mencoba menjadi mayat berjalan seperti Kim Eunji sebelum ini, silahkan saja”
“Kau ini jangan main-main! Jaga ucapanmu itu!” Kim Yuram langsung membentak Ryou
“Tapi itu kenyataan. Kalau tidak percaya coba saja keluar sendiri” Ryou menanggapi Yuram dengan dingin
Kim Yuram tidak bisa membalas. Kematian Kim Eunji memang sebuah pukulan tersendiri untuk temannya, Ha Jinan dan juga dirinya.
Kino tidak ingin membuat sang adik terus berdebat dan memilih untuk membantunya mencari.
“Bukan saatnya untuk bertengkar. Sebaiknya kita mencari benda yang bisa membantu menahan serangan para zombie itu dan benda yang bisa dipakai sebagai senjata”
Kino mulai mencari. Garam tampaknya tidak ingin membuang waktu dan mulai mengambil panci dan penggorengan sebagai senjata.
“Aku rasa ini bisa memukul mereka. Kalian berdua juga sebaiknya mengambil beberapa benda seperti sapu dan penggorengan yang lebar untuk memukul mereka”
Kim Yuram dan Ha Jinan saling melihat satu sama lain dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Seo Garam.
Sementara di luar, Kaito masih harus berdebat dengan para mahasiswa yang mulai kehilangan akal sehatnya.
“Jangan banyak alasan! Pokoknya aku tidak mau mati dan kau yang harus melawan mereka seperti sebelumnya!”
“Itu benar!”
Semua mahasiswa itu tampaknya sudah tidak bisa berpikir yang dengan sehat. Kaito tidak mau meladeni mereka semua secara serius tapi tampaknya situasi mereka saat ini tidak begitu beruntung.
Para zombie di luar sana semakin keras mendorong pintu tersebut dan satu per satu kursi yang menahan pintu mulai berjatuhan.
“Kyaaaa!!”
“Tamat sudah kita semua!”
“Aku tidak ingin mati! Mama!!”
“Bagaimana nasib pacarku!”
“Lakukan sesuatu! Lawan mereka, orang asing!” Park Cho Joon kembali menyudutkan Kaito
Kaito tampaknya memiliki kesabaran yang banyak sampai tidak mau memikirkan kalimat provokatif tersebut. Di saat itu, Ryou keluar dan berteriak.
“Kaito, jangan khawatir! Kalau mereka menyuruhmu untuk melawan mereka, buka saja pintunya lebar-lebar!”
“Ryou” Kaito melihat ke arah Ryou yang baru keluar dari dapur kantin
Mendengar seruan Ryou, para mahasiswa itu mulai meneriakinya kembali dengan kesal.
“Kau mau kami mati ya?!”
“Jangan bercanda! Jangan coba-coba membunuh kami ya!”
“Oi, manusia labil! Tadi kan kalian sendiri yang menyuruhnya melawan zombie-zombie itu! Kalau pintunya tidak dibuka, bagaimana caranya bisa membunuh mereka! Kalian itu punya otak tidak!” Ryou kembali marah-marah pada semua mahasiswa itu
Kaito berteriak ke arah Ryou.
“Ryou, kau menemukan senjata untuk melawan mereka? Pintu itu tidak akan bertahan lama. Sepertinya banyak sekali zombie yang masuk dan sudah menargetkan tempat ini karena suara berisik tadi”
“Aa. Aku sudah memiliki ini!” Ryou menunjukkan penggorengan besar dan centok makan di tangannya
“Itu…”
“Penggorengan super besar untuk memukul kepala mereka! Intinya, selama kepala mereka yang hancur dan tidak terkena gigitan atau cakaran mereka, kita akan hidup!” Ryou begitu percaya diri
Keempat orang lainnya keluar dengan membawa benda yang tidak jauh berbeda, mulai dari panci, penggorengan, centong dan alat-alat kebersihan seperti sapu dan tongkat pel.
Ha Jinan memilih berdiri di dekat Kino.
“Ki–Kino-ssi…”
“Jangan khawatir, Jinan-san. Kami akan sebisa mungkin melindungi kalian. Aku juga tidak ingin ada yang mati”
“……” Ha Jinan terlihat memerah mendengar ucapan Kino yang lembut
Tampaknya gadis itu benar-benar menyukai Kino. Kim Yuram sempat memperhatikan cara Ha Jinan melihat Kino, namun setelah itu dia mengabaikannya kembali dan berfokus pada hal lain.
“Seo Garam, coba tanya pada semua orang di grup. Kita sudah tidak punya waktu lagi! Tanyakan apakah ada lokasi terdekat yang bisa kita datangi? Kita mungkin bisa ikut mengungsi di sana sementara dan mendiskusikan hal lain”
“Aku mengerti. Pegang ini untukku sebentar”
Garam memberikan tongkat pel yang dia pegang pada Kim Yuram dan mengeluarkan ponselnya.
Baru saja dia membuka isi chat di grup yang ada pada aplikasi [Event Horror Apps], wajah Seo Garam menjadi pucat ketika melihat ada isi chat pada ponselnya.
******