Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 405. Hari Pertama Sebagai Murid Akademi bag. 3



Sampai sambutan dari senior selesai, Ryou masih duduk dengan menggigit ibu jarinya dan menggerutu. Gerutuan itu semakin terdengar oleh beberapa siswa di kanan dan kiri serta di bagian depan dan belakangnya.


“Kapan selesainya? Mereka mau membunuh kita semua secara tidak langsung ya? Aku tidak percaya mereka bisa menyisipkan hal tidak berguna dalam upacara penerimaan”


“Tidak ada di sekolah yang aku tau bisa mengadakan upacara selama ini. Mereka mau membuat kita semua jadi militer sebelum belajar ya?”


Kino menengok ke arah sang adik dan berkata, “Ke–kecilkan suaramu itu, Ryou!” bisiknya. Namun yang namanya Ryou tidak mungkin mau berhenti menggerutu sebelum semua isi hatinya keluar.


“Tidak. Biarkan saja semua orang dengar. Kalau perlu biar para dewan itu tau seberapa melelahkannya berdiri seperti ini”


“Hebat sekali mereka semua mau bertahan dengan kaki gemetar begitu. Aku tidak mau seperti itu!”


Kaito hanya menahan tawa karena sudah tau sifat penolongnya tersebut. Yang satu sangat lembut dan yang satu blak-blakan seperti mobil dengan rem blong.


Beberapa murid yang mendengar menengok ke arah Kino dan Ryou sehingga terlihat dari depan.


Para Dewan Sihir yang melihat itu sepertinya menyadarinya. Emilia, Tatiana dan Xenon tampak kenal dengan orang yang menarik perhatian tersebut.


“Emilia-sama, itu…”


“Anak yang kemarin di lobi. Yuki…Kino dan Ryou kalau aku tidak salah ingat”


Xenon dengan ekspresi pucat menutup wajahnya dan bergumam, “Si bodoh itu! Aku akan melemparnya nanti dari atas tempat tidur!”


Barbara Lindsey berjalan mengambil mic dan bertanya, “Ada apa? Kenapa bagian belakang gaduh sekali?”


Sontak hal itu menarik perhatian Lucas, Mark serta Rexa dan yang lainnya. Dewan Sekolah juga tampak tidak pernah menemukan hal yang seperti ini.


“Apa yang terjadi, Master Dresden?” tanya salah seorang staff guru


“Ahaha, ada hal menarik yang akan terjadi. Ini adalah hal yang menyenangkan. Tahun ini, tidak begitu buruk”


Pertanyaan dari Barbara Lindsey itu menarik perhatian semua murid yang sebagian mengarahkan pandangan matanya ke bawah.


“Hmm? Apa yang ada di bawah sana?” tanya Barbara Lindsey


Salah seorang murid ingin menjawab tapi rupanya ada yang lebih berani.


“Ada yang duduk di lantai karena sudah bosan dan nyaris pingsan mendengarkan sambutan yang terlalu lama!”


“Apa?!”


Barbara Lindsey terkejut dengan ucapan itu yang tentu saja Xenon lebih terkejut lagi.


“Aku akan mencekik leher anak itu!” katanya kesal


Kino yang langsung menengok ke arah Ryou berubah panik seperti akan pingsan.


“R–Ryou! Ke–kenapa kamu justru be–be–berteriak!”


“Memang salah? Kurang keras ya? Sebentar, biar kuulangi agar jelas” Ryou menarik napasnya dalam-dalam dan berteriak kembali, “Ada murid baru yang duduk di lantai karena sudah stress mendengarkan pidato tidak jelas soal pertahanan dan asmara dari pengajar tingkat satu yang akhirnya menahan semua orang dua jam lebih lama dari yang seharusnya!”


“Ryou!!” sang kakak berteriak mencoba menenangkan sang adik


Kaito yang ada di samping Ryou tidak bisa menahan tawanya.


“Ahahaha, kau menakjubkan. Aku sudah lelah terkejut setelah bersamamu untuk waktu yang lama. Ahahaha, perutku sakit”


“Kaito-san!!” pandangan mata Kino seakan meminta tolong Kaito untuk menenangkan Ryou. Kaito menyelesaikan tawanya terlebih dahulu sebelum akhirnya dia mengulurkan tangannya untuk membantu Ryou berdiri.


“Bangun, Ryou. Kakakmu bisa terkena serangan jantung mendadak sebelum kalian berhasil kembali ke Jepang nanti”


Ryou menerima uluran tangan Kaito dan berdiri sambil menepuk-nepuk celananya.


Di depan, tampaknya Barbara Lindsey tidak terima dengan perkataan murid itu dan langsung berteriak dengan mic di tangannya.


“Siapa yang berani sekali bicara begitu pada pengajarnya?! Maju ke depan dan akan kuhukum kamu!”


Ryou tersenyum sinis dengan ekspresi menantang sambil berkata.


“Bagus, kenapa tidak dari tadi saja begini? Akhirnya kita bisa melihat si gendut itu dari dekat. Kino, minggir. Akan kuselesaikan sebelum makan siang dan kita rayakan pesta kemenanganku setelah ini”


“Eh? Ryou? Mau ke–...Ryou!”


Kino tidak bisa menghentikan adiknya kali ini dan Ryou seketika menjadi pusat perhatian. Sang kakak menahan perasaan takutnya dan berdoa, “Kami-sama, tolong jangan biarkan Ryou menjadi liar seperti di sekolah dulu”


“Setidaknya kalaupun Ryou liar, biarkan dia yang menang. Aku mohon”


“Tadi kau berdoa apa?”


“Agar Ryou tidak membuat masalah” jawab Kino dengan penuh harap


“Tapi kau bilang semoga dia yang menang. Kenapa kau berdoa begitu?”


“Itu karena dia adikku jadi aku harus selalu mendukungnya selama dia benar”


“Um, Kino…dia akan berdebat dengan guru di muka umum seperti ini. Itu jelas salah, Kino”


“Setidaknya dia tidak akan menendang kaki pengajar itu seperti yang pernah dilakukannya di sekolah kami saat masih di Jepang”


“......” Kaito mematung


Di dalam hati Kaito, dia hanya bisa berkomentar, ‘Kino sudah sangat percaya pada adiknya ya’


Sekarang, Ryou sampai di hadapan sang pengajar gendut yang membuat parameter emosinya naik ke titik maksimal.


Barbara Lindsey terlihat marah dan kesal padanya.


“Jadi kamu yang berteriak seperti itu tadi?!”


“Benar. Aku adalah siswa yang dengan percaya diri mengungkapkan isi hatiku tentang betapa membosankan dan lelahnya aku mendengar semua omong kosong darimu, Lady Barbara Lindsey” katanya dengan nada meledek


Jelas Barbara Lindsey membentaknya dengan mic.


“Apa kamu sadar apa yang telah kamu lakukan, dasar murid baru tidak sopan”


Ryou terlihat kesal sekarang dan mendekati lokasi Barbara berdiri.


“Dengarkan aku, Lady-san. Aku tidak peduli seperti apa isi pembukaan atau pidato dari para master di sini”


“Yang aku permasalahkan adalah betapa konyolnya penjelasan darimu yang memakan waktu sampai dua jam lebih”


“Memang kau pikir kami ada di sini, berdiri dengan lelah sampai ada yang gemetar hanya untuk mendengarkan omong kosong soal hubungan senior dan junior atau soal pacaran di luar jam sekolah?!”


“Aku tidak peduli dengan sihir pertahanan mana yang kau ajarkan pada murid baru sepertiku dan yang lain, tapi aku tidak mau lebih lama lagi berada di tempat ini mendengarkan daftar sambutan lainnya”


Ryou bahkan berani mengambil kertas yang ada di atas meja dan melihat daftar susunan acaranya.


Setelah membolak balik halamannya, Ryou bahkan tertawa dan bertanya pada Barbara Lindsey dengan nada merendahkan. Dia bahkan sampai menggoyang-goyangkan kertas daftar susunan acara tersebut sebelum akhirnya dibanting kembali ke atas meja.


“Jelaskan dimana dari daftar ini yang merupakan bagianmu?!”


“Jawabannya, tidak ada! Itu semua hanya karena kau ingin terlihat eksis di hadapan para Dewan dan murid baru! Konyol sekali”


Barbara Lindsey terlihat tidak senang sama sekali dan membentaknya kembali.


“Berani sekali kamu bertindak seperti ini?! Apa kamu tidak malu! Kamu sedang ada di hadapan semua murid dan Dewan Sekolah, bahkan anggota Dewan Sihir!”


“Memangnya kenapa kalau di depan Dewan Sekolah dan Dewan Sihir! Aku mau hak milikku dan kau tidak bisa seenaknya saja mengambil itu!” teriak Ryou di depan


Ryou bahkan kembali bersikeras dengan pendapatnya, “Di dalam daftar itu seharusnya setelah sambutan dari Lucas Xelhanien, senior tadi yang menyampaikan pidatonya. Setelah itu, berdoa untuk kelancaran para siswa menuntut ilmu, mars sekolah dan upacara selesai!”


“Ini sudah siang dan bahkan senior tadi baru selesai dengan sambutannya, kau tidak berpikir sekarang sudah jam berapa, hah?!”


“Kalau mau mengadakan sesi curhat, sebaiknya dilakukan di ruang konseling! Aku mau upacara ini berakhir karena waktu sudah terbuang sia-sia!”


Semua orang di sana langsung terdiam.


Rexa melihat ke arah Lucas yang tersenyum senang dan bertanya, “Kita harus…bagaimana?”


“Biarkan saja. Aku suka anak itu”


“Aku tidak peduli kamu menyukainya atau tidak, tapi Barbara-sensei akan memakannya nanti”


“Tidak akan. Jangan cemas, ini akan selesai sebentar lagi”


Mark yang awalnya berwajah datar berubah menjadi sangat bersemangat, “Dia hebat” kemudian dia memanggil Rexa, “Rexa, berikan mereka bertiga padaku. Aku butuh mulut itu di divisiku dan aku butuh Kaito”


“Eh?” Rexa melihat Mark yang tersenyum senang


“Aku yakin Yuki Ryou dan aku akan cocok. Kami bisa jadi rekan yang baik”


******