
Stelani dan Fabil yang berhasil meloloskan diri dari tempat itu akhirnya berlari secara sembunyi-sembunyi sambil mengamati tempat itu. Karena Fabil menggendong Stelani, dia tidak bisa berlari dengan cepat seperti biasa.
“Nee, kau yakin kau tidak apa-apa Fabil?” tanya Stelani dengan wajah cemas
“Aku baik-baik saja. Jangan pikirkan hal lain dan kita pergi dari sini!”
Fabil masih berlari dengan napas terengah-engah. Suasana di sekitar area itu sepi dan tidak ada siapapun. Setiap sisi jalan tidak ada apapun kecuali toko dan kios yang tutup. Benar-benar seperti kota mati yang tak berpenghuni.
Sepanjang jalan itu, Fabil mungkin tidak begitu memperhatikan sisi samping dan fokus pada apa yang di depannya, namun tidak untuk Stelani. Dia memperhatikan semua yang ada di samping kanan dan kirinya.
Dengan dua bilah pisau di tangannya, dia menggenggamnya dengan erat sambil terlihat takut. Tangannya bahkan gemetar.
Fabil yang merasa aneh pada Stelani yang diam bertanya pada gadis itu.
“Kau kenapa Stelani? Apa kaki dan tanganmu masih sakit?”
“Fabil…tempat ini…tempat ini bukan seperti tempat asing yang aku tau”
Fabil berhenti lalu bertanya lagi pada Stelani.
“Kenapa?”
“Lihat sekelilingmu sekarang”
Fabil yang bingung melihat sekeliling tempat itu dan dia mulai menyadari betapa mengerikannya pajangan di semua toko dan kios itu.
“Tu–tubuh….tubuh manusia!!”
Gadis itu nyaris terjatuh karena anak laki-laki yang menggendongnya terkejut sehingga melupakan fakta bahwa dia sedang menggendong dirinya. Dengan cepat juga memegangi pundak Fabil. Tentu saja usahanya tidak begitu mulus karena dia memegang dua pisau ditambah tangan kirinya yang masih sangat sakit.
Menyadari dirinya nyaris menjatuhkan Stelani yang sedang digendongnya, Fabil langsung dengan cepat menguatkan pegangannya agar tidak menjatuhkan Stelani.
“Fabil!!” Stelani berteriak karena nyaris jatuh
“Ma–maafkan aku. Aku benar-benar terkejut dengan ini semua!”
“Tapi jangan lupakan aku yang sedang kau gendong, dasar bodoh!”
“Aku minta maaf”
“Ayo kita pergi dari sini! Jangan sampai kita tertangkap oleh wanita jahat itu atau kita akan gagal menolong Kino-niisan!” seru Stelani yang sedikit menggoyang-goyangkan pundak Fabil dengan tangannya
Fabil mengangguk dan berlari kembali.
Sepanjang jalan yang sepi itu, mereka mulai tidak bisa berpikir jernih.
“Tempat macam apa ini? Kenapa semuanya berisi tubuh manusia? Kenapa bisa kita berakhir di tempat ini?” tanya Fabil dengan perasaan takut
“Aku sempat mendengar kata Justin sebelum kita dibawa. Ini pasti ada hubungannya dengan Justin-sama!” kata Stelani menyimpulkan
“Tapi kenapa? Bukankah dia sekarang ini masih mencoba menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang itu? Kenapa dia mencoba menyakiti kita yang selalu mencari uang untuknya? Ini tidak masuk akal!” Fabil berkata dengan nada heran dan marah di saat yang sama
Stelani tidak bisa memberikan jawabannya tetapi dia mulai berpikir.
‘Justin-sama masih mencoba mencari pria berpedang yang kami lihat di dekat kolam air mancur pagi ini. Artinya anak buahnya yang semalam juga masih belum menemukannya. Mungkinkah ini ada hubungannya? Atau mungkin Justin-sama sudah bosan dengan kami semua?’
Pikiran negatif mulai menghantui perasaan Stelani. Tetapi dalam situasi mereka saat ini, bukan saatnya memikirkan semua itu dan tetap berfokus pada rencana melarikan diri mereka.
Di depan mereka sekarang terdapat belokan, yang semuanya itu tidak terlihat sebagai opsi pilihan yang bagus. Fabil sempat berhenti dan terlihat bingung.
“Kita pilih yang mana?” Fabil terlihat bingung
Stelani melihat ke depan dan dia sendiri tidak yakin dengan pilihannya.
“Tadi kita ambil belokan mana sebelum ini?”
“Aku mengikuti instruksimu untuk belok kiri setelah berlari dari tempat kita keluar tadi”
“Normalnya kita harusnya memilih jalan sebelah kanan tapi aku tidak tau apakah kanan itu adalah belokan yang tepat” pikir Stelani dengan serius
“Kuberitau kau, Stelani. Tidak ada pilihan yang bagus untuk kita di tempat ini! Kita harus melakukannya dengan cepat atau Kino-niichan akan mati!!”
Mendengar kata Kino, Stelani menjadi serius dan memutuskan untuk mengambil belokan ke arah kiri.
“Kiri? Bukan kanan seperti yang kau bilang tadi?” Fabil bertanya karena ragu
“Kau sendiri yang bilang kita tidak memiliki pilihan bagus dan harus cepat! Kita ambil kiri sekarang!”
Stelani tampak sudah kesal dan mulai memarahi anak laki-laki yang sedang menggendongnya. Fabil hanya bisa menghela napas dan mengencangkan pegangannya agar tidak menjatuhkan gadis itu. Akhirnya, pilihan Stelani yang diambil.
Sekarang, harapan mereka hanyalah bisa keluar dari sana dan meminta bantuan dari luar untuk menyelamatkan Kino.
**
Di tempat lain di dalam pasar gelap, ada dua orang remaja laki-laki yang sedang bingung dan tampaknya akan terjadi perdebatan diantara mereka.
“Aku baru menyadari sesuatu yang penting. Kita memang harus mencari tempat pengelola itu berada, tapi…kemana kita harus mencarinya?” tanya Kaito dengan wajah bingung
Ryou terdiam dengan mata lebar dan wajah datar. Ekspresinya semakin aneh dan itu terlihat bersamaan dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
“A…kau benar. Kemana kita pergi sekarang?”
Mendengar kalimat itu, Kaito mulai terlihat kesal dan marah pada Ryou.
“Ini semua karena kau yang menyerangnya duluan sebelum dia mengantarkan kita ke tempat pengelola pasar gelap ini, dasar bodoh!”
Ryou tidak mau disalahkan dan akhirnya membalas kata-kata Kaito dengan wajah kesalnya juga.
“Kau kira aku tidak kesal mendengar kakakku nyaris dibunuh seperti itu, hah?! Kino disiksa olehnya dan kau ingin aku diam saja?! Kau tau, aku hanya punya satu kakak di dunia ini dan itu adalah Kino!”
“Aku tau Kino kakakmu dan kita datang ke sini untuk melakukan transaksi dengan pengelola tempat ini untuk menyelamatkan mereka! Sudah bagus otot besar itu mengizinkan kita masuk setelah dia mendengar kita membunuh Justin!” Kaito kembali membentak Ryou
“Aku tidak mau disalahkan! Lagipula, aku tanya padamu siapa yang memenggal kepala si otot besar itu?”
“……” Kaito diam dan tidak menjawab
Ryou yang melihat reaksi itu langsung menunjuk wajah remaja di depannya.
“Hayo, itu kan kau yang melakukannya!”
“A–aku memang melakukannya, tapi aku tanya padamu siapa yang menembak dan menusuknya dengan pedang?”
“……” kali ini Ryou yang diam dan tidak menjawab
“Kau yang melakukannya!”
“Lalu kemana kita mencarinya sekarang?!”
“……”
Seketika mereka berdua terdiam. Perdebatan itu pada akhirnya tidak menghasilkan apapun dan hanya menciptakan drama saling menyalahkan satu sama lain.
“Sudah sudah, kita hentikan ini! Kita harus mencari ke tempat ini apapun yang terjadi! Kalau perlu kita berpencar untuk menemukannya” Ryou mulai mengusulkan sesuatu
Wajah Ryou saat mengatakannya memang terlihat kesal tapi idenya itu serius. Dia benar-benar bermaksud untuk berpencar mencari tempat pengelola pasar gelap itu dengan cara berpencar.
Tentu saja Kaito menolaknya.
“Kau kira tempat ini hanya sebesar kandang kucing? Kau tidak lihat seberapa luas tempat ini? Tempat ini bahkan mungkin sama luasnya dengan pusat kota!”
“Lalu cara seperti apa yang kau punya?!” Ryou mulai emosi kembali
Kaito sudah tidak mau meladeni emosi anak itu dan mulai berpikir dengan caranya sendiri. Dia benar-benar memikirkannya.
‘Pengelola pasar gelap sekaligus pemilik tempat ini…tidak mungkin mereka tinggal di tempat biasa seperti semua kios dan toko penuh mayat ini. Pasti ada sesuatu yang berbeda, misalnya saja…bangunan paling mencolok atau paling tinggi di tempat ini’
Ryou menunggu Kaito selesai berpikir. Wajahnya mulai terlihat panik ketika mengingat kembali kalimat pria besar yang baru saja dilawannya.
[Dia hanya dipukul pada bagian perutnya hingga pingsan sambil dicekik. Hanya sebuah sayatan dan tusukan tidak akan membuatnya mati dengan cepat]
Mengingat itu, Ryou menggigit bibirnya lagi sampai mengeluarkan darah dan mengepalkan tangannya dengan kuat.
‘Kino…apapun yang terjadi kau harus selamat! Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika sampai terjadi hal yang buruk padamu! Kami-sama, aku mohon lindungilah satu-satunya kakak yang paling penting dalam hidupku ini! Aku mohon!’
Kaito mulai memiliki beberapa dugaan. Sebelum dia mengatakan hal itu pada Ryou, dia menepuk pundak remaja itu.
“Ryou…”
Ryou kaget dan menyadari rasa sakit di bibirnya. Dia menghapus darah di bibirnya dengan ibu jarinya sambil menatap Kaito.
“Sudah menemukan sesuatu?”
“……” Kaito terdiam
Dia bisa melihat betapa tertekannya Ryou. Kaito menyadari itu dan mencoba tidak menyulut pembicaraan sensitif. Selain itu, ada hal penting yang harus disampaikan olehnya
“Ryou, ini hanya dugaanku tapi aku rasa ada beberapa petunjuk yang bisa kita jadikan sebagai dasar meskipun aku tidak yakin”
“Apa itu?! Katakan!” Ryou menjadi tidak sabar mendengarnya
“Sejak orang yang ingin kita temui adalah pengelola sekaligus pemilik tempat ini maka bisa dikatakan dia adalah orang paling penting”
“Aku tau itu! Aku bahkan sudah menyindir Riz berkali-kali soal pria bernama Jack yang menjadi panutannya itu!”
“Aku rasa dia ada di salah satu bangunan penting atau paling mencolok atau paling tinggi di sini”
“Ba–bangunan mencolok atau paling tinggi?”
“Benar. Sekarang perhatikan baik-baik keseluruhan tempat ini dan aku yakin kita akan menemukannya”
Ryou dan Kaito mulai berjalan dengan langkah cepat ke depan. Kalimat bangunan mencolok dan paling tinggi itu benar-benar mudah dipahami. Hanya perlu kurang dari lima menit setelah berjalan cepat, mereka melihat bangunan paling tinggi yang jaraknya cukup jauh dari tempat mereka berada.
“Bingo! Tidak ada bangunan tinggi lain di tempat ini selain bangunan itu!” Ryou mulai terlihat senang
“Kalau begitu ayo kita ke sana!”
Ryou dan Kaito akhirnya memutuskan untuk pergi ke sana. Tapi tidak lama dari arah belokan di depan mereka, ada yang datang.
“Mereka…bukankah mereka itu adalah–“
**
Fabil berlari sambil menggendong Stelani. Jalan yang dipilih oleh mereka adalah belokan ke kiri dengan arah lurus setelahnya.
“Apa kau pikir kita akan baik-baik saja?” tanya Fabil sambil berlari pelan
“Mungkin”
Semakin lama, kecepatan Fabil semakin melambat dan dia terpaksa berhenti lalu menurunkan Stelani. Fabil langsung menjatuhkan diri dan duduk di jalan dengan napas terengah-engah.
“Kita…isti…rahat…sebentar….haah…haa…haaa”
“Kau baik-baik saja, Fabil?” tanya Stelani yang jongkok di dekatnya dengan wajah cemas
“Kau…menanyakan…pertanyaan paling tidak masuk akal…di…saat seperti…ini” Fabil menjawab meskipun terputus-putus akibat mencoba mengatur napasnya
“Aku serius?!”
“Aku juga serius!”
Stelani sudah tidak mau bertanya lagi. Niat awalnya dia bertanya karena dia khawatir. Fabil akhirnya mulai dapat mengatur napasnya dengan baik dan mulai bicara pada Stelani.
“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung tapi pertanyaanmu itu memang aneh di saat seperti ini”
“Terserah. Kita harus pergi dari sini. Apa kau mau menggendongku lagi?”
“Apa kakimu baik-baik saja?”
“Aku tidak yakin tapi setelah digendong olehmu kurasa sudah cukup baik. Tapi aku tetap tidak bisa berlari”
“Begitu. Kalau begitu akan kugendong lagi. Jangan khawatir, aku sudah baik-baik saja”
Tentu saja dia masih tidak baik-baik saja tapi tidak ada pilihan selain membuat semuanya tampak baik. Mereka sudah kehilangan banyak waktu. Fabil mulai menggendong Stelani kembali lalu berlari.
Tepat di depannya ada sebuah jalanan yang cukup lebar. Ketika mereka hampir keluar dari belokan itu, Stelani langsung berkata.
“Belok kanan!”
“Aku mengerti!”
Ketika mereka berbelok, mereka dikejutkan dengan pertemuan tidak terduga.
Wajah Stelani dan Fabil tampak begitu takut melihat apa yang ada di depannya.
“Ke–kenapa bisa ada di sini?!
******