
Ryou dan Kaito bersama Xenon yang sedang syok saat ini.
‘Ini…salahku. Semua ini karena aku…’
Setidaknya itulah yang ada dalam batinnya. Dia mulai masuk ke dalam jurang kesalahpahaman kembali dan mengingat apa yang dikatakan oleh Rexa sebelum pergi beberapa saat lalu.
[Aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sudah memutuskan pertunanganku dengan Misha hari ini dengan mendatangi kediamannya dan soal ini sudah kuinformasikan kepada ayah]
[Aku sudah memberitau ayah dan ibu bahwa Misha dan aku bukan lagi tunangan. Earl Midford sudah tau mengenai hal ini]
[Sebelum aku mengusir Misha dari akademi, aku sudah mendatangi kediamannya di pagi hari bersama Lucas dan Mark]
Siapa yang menyangka bahwa Rexa bisa melakukan hal itu. Xenon memang tidak senang dengan Misha sejak gadis begitu membenci Xenon.
Tapi memikirkan nasib ibunya di rumah itu dan Vexia yang merencanakan semua pernikahan Rexa dengan Misha membuat Xenon khawatir pada keselamatan sang ibu.
“Apa aku…sudah berbuat salah?” gumamnya pelan
Ryou dan Kaito mencoba menenangkan Xenon yang benar-benar dalam keadaan syok.
“Xenon, kau harus tenang. Kino sedang bicara pada Rexa” kata Ryou
“Tidak…aku tau aku salah. Tidak seharusnya aku melibatkan diriku pada Rexa-sama”
“Xenon, kau dengar aku tidak. Xenon!”
Ryou sampai membentaknya dan sekarang Xenon baru bisa mendapatkan kesadarannya kembali.
“Ryou…Kai…to…”
“Xenon, tenang. Kuatkan dirimu dan jangan panik. Jangan panik, ingat. Kau harus tenang dulu sekarang” Kaito berusaha menenangkan Xenon
Xenon mencoba menarik napasnya dan pergi ke sisi dinding samping untuk bersandar. Dia mencoba untuk tenang.
“Terima kasih. Aku hanya terkejut”
Kaito berusaha bicara padanya, “Jessie dan Jene masih belum ke sini. Kemungkinan mereka masih ada di tempat para siswa di lorong sebelumnya”
“Sekarang, aku hanya ingin kau menunggu Kino dan jangan memikirkan apapun”
Xenon terdiam dan tanpa melihat, dia bertanya pada keduanya. Atau lebih tepatnya, dia menebak apa yang dilakukan oleh ketiga teman barunya itu.
“Kalian mendengar semuanya, iya kan?”
“......” Ryou dan Kaito diam
“Sudah kuduga kalian dengar semuanya”
Ryou berusaha menjelaskan situasi mereka saat ini.
“Maaf, tapi niat kami memang tidak bermaksud mendengarnya. Kau jadi aneh saat mendengar cerita dari para siswa itu jadi kami mengejarmu”
“Kemudian saat kau pergi ke ruang divisi itu, kami jelas mengikutimu tapi pikiranmu seakan membuat kami terlihat buram. Kau benar-benar mengabaikan kami”
“Saat Kaito memberitaumu mengenai Rexa, kau langsung pergi menariknya tanpa menyadari kehadiran kami”
“Jelas itu sangat…membuat kami penasaran”
Xenon menutupi wajahnya dan menghela napas panjang. Dia sama sekali tidak tau bagaimana satu hari itu bisa langsung membuatnya seperti mengalami kiamat.
Tidak lama setelah itu, Jessie dan Jene menemukan Xenon dan kedua temannya itu.
“Xen!”
‘Xenon!”
Keduanya berlari. Xenon terlihat sedikit mengabaikan mereka. Jessie langsung mendekatinya.
“Xenon, kamu baik-baik saja?”
“......”
Jene melihat Ryou dan Kaito, “Dimana Kino?”
“Mengejar Rexa”
“Barusan. Setelah bicara panjang lebar dengan adiknya yang sekarang sedang kena mental” jawab Ryou
Jene tidak bermaksud merusak suasana, tapi dia sendiri datang dengan kabar yang tidak begitu bagus.
“Aku dan Jessie sudah bicara dengan murid-murid itu. Mereka bilang Misha-sama dan Emilia-sama terlibat pertengkaran karena mengira Emilia-sama mencoba menggoda Rexa-sama”
“Kemudian, entah bagaimana tapi mereka bilang Misha-sama sempat menangis dan berteriak di koridor sambil mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkan dirinya dipermalukan begitu saja dan berlari menuju ruang rapat Dewan Sihir”
“Dan…dan kami mendengar bahwa Misha-sama keluar dari akademi karena tuntutan dari Rexa-sama”
Jene ÿang telah selesai dengan semua ceritanya melihat Xenon kemudian bertanya, “Xen, apakah itu benar? Apakah Misha-sama keluar karena Rexa-sama yang mengusirnya dari tempat ini?”
Xenon terlihat tidak mau menjawab dan akhirnya Ryou yang menjawab semuanya.
“Rexa van Houdsen menggunakan otoritasnya untuk mengusir gadis sombong itu dari sini”
“Apa?!”
“Dan perlu kalian tau, aku ada di lobi dan sempat adu mulut dengan gadis itu setelah dia menampar kakak gadis menyebalkan berusia 11 tahun itu”
“Kau ada di sana?!”
Hal itu baru pertama kali didengar Xenon kembali. Kino yang telah selesai dengan Rexa berjalan mendekati mereka dan sempat mendengar kalimat dari Ryou.
“Benar. Aku yang mendorongnya hingga jatuh dan beradu mulut dengannya. Semua orang yang ada di lobi pasti tau soal itu”
“Selain itu, Rexa tadi ada di sini dan memberitau Xenon bahwa dia dan gadis sombong itu bukan lagi tunangan karena dia sudah pergi ke rumah gadis itu bersama Lucas dan Mark. Kira-kira begitu”
Selain Kino yang berjalan ke arah mereka dan Kaito, ketiga orang lain di sana sangat terpukul. Bukan hanya terpukul, tapi syok bercampur rasa tidak percaya.
Seperti yang diduga saat ini, berita mengenai hal ini sudah menjadi buah bibir yang hangat di seluruh akademi.
Dewan Sekolah juga mendapatkan pertanyaan yang cukup banyak dari para bangsawan lain karena hubungan kerjasama anak bagian kedua keluarga pahlawan itu ikut mendapatkan dampaknya.
Meski tidak begitu terlihat penting, namun donatur akademi adalah kaum bangsawan yang di antara mereka ada yang tergabung dengan anak bagian dari Keluarga van Houdsen ataupun Keluarga Midford.
Namun demikian, hal itu tidak bisa sepenuhnya mempengaruhi Rexa dan para Dewan Sihir. Dewan Sekolah sendiri sudah mengambil tindakan soal ini.
Bahkan di ruang rapat Dewan Sihir, Lucas lebih sibuk mengurus kertas dibandingkan berita soal pemutusan hubungan pertunangan milik kedua keluarga tersebut.
“Sampai kapan kertas ini berhenti beranak cucu?” tanya Lucas dengan ekspresi datar
Di ruang itu, hanya ada Emilia, Alicia, Tatiana dan Algeria.
“Um, di ruanganku…kertasnya masih dikerjakan oleh anggota lainnya, Lucas-sama” kata Algeria
“Bisa kita lempar semua ini ke tempatmu, Algeria?”
Alicia mencoba membuat sang kakak berpikir rasional, “Lucas…jangan bicara begitu. Di luar sudah banyak gosip dan Emily menolak membantu setelah selesai sambutan karena ingin menangis di kamarnya”
“Kenapa?”
“Karena orang kesukaannya memilih masuk ke divisi milik Rexa-sama”
“Yuki Kino itu ya…kita bahas nanti saja” dengan ekspresi datar dan dingin, Lucas melihat ke arah yang lain dan bertanya, “Sekarang, boleh aku lempar semua kertas ini ke luar jendela?”
“Lucas…”
Emilia mengambil kertas milik Lucas dan berkata, “Aku yang kerjakan bagianmu. Kamu istirahatlah dulu. Aku tau kamu lelah makanya jadi seperti ini”
Lucas berdiri, “Terima kasih. Tolong urus dulu ya. Aku mau pergi sebentar”
Setelah Lucas keluar, dia berpikir sejenak.
‘Aku yakin Midford tidak akan tinggal diam’
Saat dia sedang berjalan, di depannya berdiri sosok yang tidak asing untuk Lucas. Sosok itu memanggilnya.
“Aku ingin memberitaumu sesuatu”
******