Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 411. Kisah dari Cinta Tanpa Batas bag. 2



Bagai mendengar sebuah lelucon tidak lucu atau sebuah mimpi buruk, Vexia seperti ingin membanting semua piring di meja makan setelah mendengar kalimat dari suaminya.


“Apa katamu? Apa kamu sadar dengan yang kamu ucapkan, suamiku!”


“Kenapa? Aku tidak salah. Axelia sekarang adalah istriku. Jadi tidak salah jika aku mengatakan bahwa dia adalah orang yang aku cintai juga”


Revon kemudian berdiri dan menatap istri pertamanya dengan mata dingin tanpa ekspresi.


“Aku tegaskan sekali lagi bahwa aku tidak senang dengan perlakuan arogan yang kamu lakukan pada wanita yang aku cintai, Vexia”


Axelia terkejut mendengar kalimat itu. Bagaimanapun juga, hampir mustahil untuk Revon mengatakan bahwa dia mencintainya.


Setidaknya itu yang ada dalam pikiran wanita cantik itu. Dan pagi itu, dia mendengarnya sendiri.


Sontak hal itu langsung membuat Vexia tersulut emosi. Niatnya untuk membanting semua piring dan benda-benda di meja makan terjadi.


Dia membuang semuanya ke lantai. Makanan mewah dan teh hangat di meja hancur di lantai. Dengan wajah penuh kebencian miliknya, Vexia menunjuk Axelia.


“Dia! Dia istri yang kamu cintai?! Lalu bagaimana denganku yang melahirkan pewaris sah keluarga ini?!”


“Dia hanya pelayan kotor, tidak berarti dan aib bagi van Houdsen! Dia adalah perusak rumah tanggaku dan kamu, suamiku!”


“Harusnya dia berlutut mencium kakiku sebelum aku mengizinkan kalian menikah dan setelah itu, aku bisa menendang wajah sok polosnya itu!”


Revon mendekati Vexia dan tanpa diduga semua orang terpaku dan mematung.


-PLAAK!


Suara tamparan yang begitu keras terdengar dan bersama dengan itu sebuah tanda merah di pipi Vexia terlihat. Cukup besar dan tebal hingga membuat air matanya menetes.


“Aku ingat apa yang pernah aku katakan padamu, Vexia. Tapi aku tidak pernah ingat kamu boleh bicara begitu pada istriku”


“Meskipun statusmu adalah istri pertamaku, tapi Axelia memiliki kedudukan yang sama dalam hukum dan aturan bangsawan sejak aku menikahinya secara sah”


“Aku tidak ingat pernah mengizinkanmu dengan lancang berkata seperti itu. Jaga dan lihat dengan siapa kamu bicara dan berhadapan dengan siapa kamu saat ini, Vexia”


“......!!”


Bagaikan terkena sambaran petir di pagi hari, Vexia seperti tidak terima dengan tamparan yang diberikan oleh sang suami.


“Beraninya kamu…”


“......”


“Beraninya kamu membela wanita lacur itu, Revon!!”


Ekspresi seperti iblis mulai terlihat. Meskipun kata iblis di sini hanya kiasan.


Wajah Vexia terlihat begitu kesal dan seperti akan memakan Axelia hidup-hidup, dia menatap wanita itu dengan amarah yang memuncak.


Axelia bangun dari tempat duduknya dan mundur. Sang pelayan setia, Marie langsung menjaganya dan memastikan sang majikan tidak menjauh darinya.


Vexia seperti mengeluarkan aura sihir. Elemen yang keluar adalah es.


Seketika hawa dingin terasa dan debu kristal es mulai terlihat.


“Tidak bisakah kamu berhenti merusak semuanya dariku, lacur? Rexa anakku dan masa depannya hancur karena anak kotor itu dan kamu, Revon…dengan mudahnya membela dia di hadapanku”


“Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu sebagai bangsawan dan kepala keluarga ini?!”


Emosi itu tidak membuat Revon takut. Malah sebaliknya, dia melihat Vexia dengan ekspresi yang begitu dingin.


“Aku hanya ingin mengatakan bahwa semua hal yang aku lakukan adalah permintaan Rexa sebelum dia pergi dari sini”


“Apa? Jangan berbohong! Anakku tidak akan meminta hal itu! Wanita murahan itu membuat Rexa berubah! Dia dan anaknya yang kotor itu!”


Mendengar kata anak kotor terus menerus membuat Axelia sedikit sakit hati dan akhirnya membuka suaranya.


“Hah?! Berani sekali kamu menjawabku!”


“Xenon adalah malaikatku, dia bukan darah kotor! Dia adalah anak yang paling aku cintai dan aku tidak ingin mendengar siapapun berkata kasar tentangnya termasuk dari Vexia-sama sekalipun!”


Air mata keluar dari wanita itu. Memang, sebagai darah yang berasal dari rakyat biasa, Axelia tidak memiliki dasar sihir dan bisa dikatakan tidak ada sihir yang bisa digunakan olehnya. Dia hanyalah wanita biasa tanpa sihir.


Meski begitu, anaknya yaitu Xenon dapat dikatakan sebagai jenius alami menurut penuturan Mark Vermillion. Potensinya bahkan diakui bisa mengalahkan Rexa van Houdsen yang merupakan keturunan 100% bangsawan.


Namun hal itu tidak diketahui oleh mereka.


Kata-kata Axelia itu cukup mengejutkan semua yang ada di sana karena baru pertama kali ini dia membalas ucapan Vexia.


Bagaimanapun juga dia seorang ibu, tidak ada di dunia ini yang suka mendengar anaknya dihina di depan matanya.


Revon sendiri memperlihatkan sebuah senyum tipis saat wanita itu mengeluarkan nada melawan kepada Vexia.


Dia ingat apa yang dikatakan oleh Rexa sebelum keluar dari rumah itu.


[Jangan pernah membiarkan Ibu Axelia disakiti oleh Ibu Vexia]


[Aku akan menggunakan kekuasaanku sebagai Dewan Sihir untuk melindunginya dan Ibu Axelia. Aku tidak akan membiarkan istri pertamamu itu berbuat seenaknya seperti yang dia lakukan padaku]


Revon memang tidak bisa menahan semua hal buruk yang telah dilakukan Vexia pada Axelia, tapi setidaknya dia sudah membalas satu dari sekian banyak hal buruk tersebut.


Menampar istrinya di depan istri yang lain cukup membuat harga diri korban tamparan terluka dan itu tidak buruk.


Ditambah lagi Axelia berani menjawab. Dia bahkan belum selesai dengan pembelaannya.


“Aku tidak masalah mendapatkan perlakuan buruk dari Vexia-sama. Aku menyadari tempatku di sini dan aku tidak ingin menjadi orang yang merusak semuanya”


“Tapi aku mohon jangan berkata hal yang buruk tentang anakku! Xenon adalah malaikatku dan satu-satunya permata di dunia yang sangat aku cintai”


“Tolong, jangan mengatakan hal sekejam itu padanya seperti yang pernah Vexia-sama katakan padanya dulu!”


“Hiks…jangan…membuatnya berada dalam kesedihan seperti dulu. Hiks…”


Melihat sang istri kedua menangis membuat Revon ingat betapa buruknya semua hal ini.


Vexia tidak terpengaruh dengan itu dan mengeluarkan aura dingin yang semakin kuat.


“Berani sekali kamu bermain kotor. Air mata buaya itu tidak berguna sama sekali!”


Saat Vexia mengambil piring di meja dan hendak melemparnya ke arah Axelia, Revon langsung memegang tangan wanita itu hingga dia meringis kesakitan.


“Akh! Lepaskan aku!”


Revon tidak melepaskannya sama sekali. Dia bicara dengan nada dingin.


“Sekali lagi aku akan mengatakan peringatanku yang terakhir, Vexia. Jangan berbuat hal seperti ini lagi baik di depan maupun di belakangku atau…”


“Apa yang mau kamu lakukan?! Apa tujuanmu terus membela lacur itu!” bentak Vexia


“Aku akan mengembalikanmu ke tempat orang tuamu”


-CRAAASH


Piring di tangan Vexia terjatuh dan pecah. Revon melepas tangan wanita itu dengan melihat ekspresi syok miliknya. Dengan mundur beberapa langkah, Vexia seperti orang yang tidak percaya pada kata-kata sang suami.


“Aku tidak percaya…aku tidak percaya kamu berani mengatakan hal itu, Revon van Houdsen!!”


Kemudian dia berlari keluar dari ruang makan.


Kini, hanya suara tangis Axelia yang terdengar di dalam ruang makan itu.


******