
Kino berlari kembali menelusuri jalan yang panjang tersebut. Di sepanjang jalan, Kino melihat beberapa gang kecil setidaknya satu sampai dua kantong sampah. Dia hanya bisa melihat betapa sepinya tempat itu dan mulai menyadari bahwa hanya dia yang berlari di sana.
“Ini seperti berada dalam film horror namun versi nyata. Seandainya Ryou tau tentang tempat ini, dia pasti mengira sedang berada dalam permainan game bertema zombie. Padahal benci sekali dengan cerita Hanako di toilet wanita”
Baik, satu lagi kelemahan Ryou selain sang kakak adalah cerita Hanako.
Suatu saat nanti jika Kaito mengetahuinya, ini bisa menjadi senjata kedua yang bisa digunakan olehnya untuk membungkam mulut pedas Ryou.
Setelah beberapa lama, dia menyadari ada jalan lain di depannya.
“Itu–”
Sedikit menaikkan kecepatannya berlari, dia sampai di pertigaan.
“Sudah kuduga jalannya akan bercabang seperti ini. Tidak mungkin jalanan sempit dan gelap begini akan terus lurus tanpa hambatan. Aku harus mencari Theo-kun kemana lagi sekarang?”
Karena hanya ada tembok bangunan di depan matanya sekarang yang artinya pilihan yang tersisa tinggal kanan atau kiri.
Kino memperhatikan setiap belokan itu dengan seksama dan teliti. Untuk beberapa detik, dia mendapatkan pencerahan.
“Baiklah, kalau begini sudah bisa dipastikan bahwa belokan manapun yang kupilih tetap memiliki resiko dan aku sudah mencapai level maksimal untuk kecurigaan pada semua jalan ini”
Belum selesai dengan semua yang dikatakannya barusan, dia merasa seperti harus mengambil langkah selanjutnya agar bisa cepat menemukan Theo.
Akan tetapi, Kino akhirnya menyadari bahwa dia sekarang menjadi orang yang sedang tersesat di sana.
“Aku benar-benar tidak tau harus kemana sekarang. Tidak ada jaminan aku bisa keluar dengan selamat dari tempat ini. Selain itu juga…”
Kino melihat ke atas. Dia mencoba menatap langit dari tempat dia berdiri sekarang.
“Kupikir hanya perasaanku tapi entah kenapa sinar matahari tidak bisa masuk dengan baik ke daerah ini. Aku rasa ini penyebab kenapa tempat ini terasa lembab dan tidak menyenangkan, apalagi jika di beberapa tempat terdapat kantong sampah dalam jumlah banyak. Aku penasaran kenapa hal ini bisa terjadi?”
Masih bingung dengan jalan yang dipilih, Kino memutuskan untuk ke jalan sebelah kiri yang dirasa memiliki bangunan lebih banyak dan terdapat lebih banyak belokan.
“Aku rasa jalan di sebelah kiri tidak begitu buruk. Aku melihat banyak sekali belokan. Aku berharap aku masih ingat jalan kembali nanti dan segera menemukan Theo-kun”
Ini adalah logika yang aneh dimana rata-rata orang akan memilih jalan tanpa banyak belokan agar bisa cepat keluar. Namun dalam pikiran anak jenius seperti Kino, selalu ada kemungkinan tidak masuk akal. bahwa jalan lurus itu hanya jalan buntu atau membawanya kembali ke titik awal.
Itu wajar sejak dia berada di tempat yang jauh dari kata normal.
Alasan lain kenapa memilih jalan dengan banyak belokan juga membuat rasio untuk menemukan akses baru lebih besar. Tujuannya adalah untuk menemukan Theo jadi ada kemungkinan anak itu melewati jalan ini.
Pikiran itu terlalu serius untuk remaja seusianya. Mungkin itu juga pengaruh kondisinya saat ini. Yang jelas, dia percaya pada pilihannya.
“Setidaknya meskipun mungkin akan tersesat lebih dalam tapi masih lebih baik daripada memilih jalan buntu. Walaupun sebenarnya aku merasa seperti membuat diriku sendiri repot. Ryou pasti akan memarahiku jika tau”
Kino yang sudah memutuskan untuk mengambil arah kiri mulai berlari menelusuri jalan tersebut.
Seperti yang diduga olehnya, jalan itu memang memiliki lebih banyak bangunan yang terbuka tanpa pintu dengan perabotan nihil alias kosong. Terdapat banyak kotak-kotak barang tersusun meninggi ke atas beberapa baris dan juga kantong plastik yang menumpuk di beberapa sisi depan bangunan atau gang sempit lainnya.
‘Aku tidak menyangka benar-benar seperti ini. aku merasa seperti dalam labirin’ pikirnya dalam hati
Kino terus berlari dan akhirnya mulai berhenti karena berada dalam pilihan jalan kembali.
Terdapat empat pilihan termasuk jalan dia sekarang. Dia bisa saja mundur atau maju kembali. Atau dia bisa mengambil jalan di sisi kanan atau kiri tempat dia berada sekarang yang membentuk sebuah gang kecil yang gelap.
“Sekarang aku benar-benar tersesat. Theo-kun…kumohon dimana kamu sekarang?”
Kino terdengar lirih sekali saat mengatakan kalimat itu.
Dia melihat jam sakunya sekarang dan waktu sudah menunjukkan pukul 10.15. Sudah hampir siang hari dan dia belum bisa menemukan kemana Theo pergi.
“Bagaimana ini? Theo-kun!! Apa kamu di sini? Theo-kun!” Kino berteriak memanggil nama Theo
Tempat sepi itu memberikan efek gema yang cukup keras. Mengingat banyak sekali bangunan yang rusak di sana memberikan suasana horror yang kental.
Kino memasukkan kembali jam saku silver itu dan mulai berpikir.
“Aku harus bagaimana sekarang? Jangankan petunjuk tentang jam saku itu, menemukan seorang anak kecil saja mungkin akan menjadi hal sulit untukku saat ini”
Kino mencoba maju namun dia tampak ragu.
Tidak lama dari sisi gang sempit sebelah kirinya, dia merasa ada sesuatu yang mendekatinya.
“Eh?!”
Kino menengok lalu dia terkejut dengan apa yang dilihatnya.
“Kino-niisan!!”
“Kino-niichan!!”
“S–Stelani-chan! Fabil-kun!” Kino terkejut melihat mereka berdua
Kedua anak-anak itu memeluknya dengan perasaan senang seakan-akan sudah lama tidak bertemu dengannya.
“Kino-niisan, kami pikir kami tidak akan bisa bertemu secepat ini denganmu lagi. Senangnya~”
“Kino-niichan!!”
“Kalian berdua–”
Kino awalnya cukup terkejut dan panik, namun melihat mereka memeluknya dengan sangat erat seperti itu, membuat perasaannya menjadi lebih tenang. Dia mengelus rambut kedua anak itu dengan lembut sambil tersenyum.
“Aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian berdua di sini. Coba, tunjukkan wajah kalian berdua padaku”
Kino melepaskan pelukannya dan melihat kedua wajah anak itu. Dia melihat wajah memerah keduanya seperti menahan tangis.
“Lihat, wajah kalian seperti strawberry yang kita makan pagi ini. Tersenyumlah” Kino tersenyum pada keduanya
Melihat senyuman kakak yang ingin mereka temui hingga berdebat sebelum pergi tadi membuat mereka sangat senang.
Stelani dan Fabil berusaha tenang dan tersenyum kembali. Sekarang Kino tidak sendirian.
‘Syukurlah aku bertemu dengan mereka kembali. Ternyata mereka benar-benar tinggal di sini’ pikirnya dalam hati sambil memasang wajah tersenyum
Stelani mulai menyadari sesuatu.
“Kino-niisan, apa yang kau lakukan di sini?”
“Benar juga. Ini tidak seperti Kino-niichan mengikuti kami dari belakang kan? Apa yang membuatmu kemari?” Fabil tidak bisa menghentikan dirinya untuk ikut bertanya
Kino mulai terlihat bingung dan bertanya pada kalian.
“Apa kalian berdua melihat Theo-ku? Anak dengan baju orange topi coklat masuk ke sini?”
“Apa?!” Stelani dan Fabil terkejut secara bersamaan
“Kenapa?” Kino yang terkejut mendengar mereka menjadi bingung
Wajah kedua anak itu langsung berubah.
“Theo…Kino-niichan bertemu Theo?! Bagaimana bisa?” Fabil bertanya dengan panik dan penuh rasa heran
“Aku–”
Karena sudah tidak mau tersesat lebih lama, Kino menceritakan semuanya kepada kedua anak itu. Dia menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Theo dan kenapa dia bisa berakhir di tempat asing ini.
Sepanjang cerita Kino, Stelani dan Fabil terus menelan ludah mereka sambil terlihat panik.
Keduanya bahkan tidak bisa berhenti bergumam dalam hati.
‘Siapa yang menduga akan ada takdir seperti ini?’
‘Kino-niichan bertemu dengan Theo hanya berselang beberapa menit saja setelah kami!. Apa Kino-niichan sudah tau tentang Theo yang mencuri di altar?!’
Selesai dengan ceritanya, Kino memandang kedua anak tersebut.
“Kalian berdua ada apa? Apa kalian tidak enak badan? Wajah kalian sepucat itu sekarang” Kino terlihat khawatir melihat keduanya diam dengan wajah pucat
“……” Stelani dan Fabil terdiam
Selang beberapa detik kemudian, Stelani memberanikan diri untuk bertanya.
“Ki–Kino-niisan, setelah bertemu dengan Theo apa yang mau kau lakukan padanya?”
“Apa?” Kino terlihat bingung dengan pertanyaan itu
“Setelah kau menemukan Theo, apa yang akan Kino-niisan lakukan padanya?”
“Aku hanya ingin menemukannya karena dia mengatakan akan membantuku menemukan jam saku milikku yang hilang”
“Jam–”
“Tapi karena aku sama sekali tidak mengerti apa yang akan dia lakukan jadi aku mencoba mencarinya. Theo-kun berbohong padaku dan pergi sendirian entah kemana. Tentu saja aku mengkhawatirkannya dan takut terjadi sesuatu padanya” Kino melanjutkan ucapannya kembali
“……”
Mungkin terdengar terlalu bagus namun karena itu Kino yang mengatakannya, Stelani dan Fabil mempercayai hal itu.
“Sejauh ini aku tidak bisa menemukan jalan yang mungkin dilalui olehnya jadi aku tidak tau kemana dia pergi. Apakah Theo-kun sudah pulang juga?”
“Dia masih belum pulang. Kami baru saja ingin mencarinya” Fabil menjawab pertanyaan itu
“Begitu. Kemana tempat yang kira-kira dikunjungi olehnya sekarang? Aku sama sekali tidak mengerti tentang tempat asing ini. Bagaimana bisa kalian tinggal di tempat yang tidak layak seperti ini? Apakah kalian benar-benar tidak sedang dalam masalah?”
“……” keduanya hanya diam dengan menahan rasa paniknya
“Jika memang kalian membutuhkan bantuanku sebaiknya kalian mengatakannya. Aku pasti akan melakukan sesuatu untuk kalian semua”
“……”
“Stelani-chan, Fabil-kun…apakah yang dikatakan Michaela-chan di restoran mengenai pria bernama Justin itu benar? Apakah karena dia, kalian semua tinggal di tempat seperti ini? Kalian yang masih kecil juga menghabiskan waktu dari pagi untuk mengemis di altar. Apakah itu juga karena perintah pria itu?” Kino terlihat semakin panik ketika bertanya kepada mereka berdua
“……”
Tidak ada satupun dari keduanya yang mau menjawab. Keduanya hanya diam dengan wajah takut dan panik.
Kino menghela napasnya dengan lembut dan mulai memeluk mereka kembali sambil membisikkan sesuatu.
“Dengar, kalian masih sangat kecil. Kalian berhak bahagia. Mungkin ini semua adalah takdir, aku bisa bertemu dengan kalian. Jika memang kalian tidak bisa melakukannya sendiri, akan jauh lebih baik untuk kalian meminta tolong. Aku tidak akan meninggalkan kalian sendirian. Kumohon percayalah padaku”
“……”
Sekarang, apa yang sebelumnya dikatakan oleh Fabil tentang mereka yang tidak boleh melibatkan Kino dalam masalah ini seperti debu yang terbang terbawa angin.
Selesai dengan kata-kata manisnya itu, telinga Kino ditemani oleh tangisan mereka meskipun tidak keras. Hanya butuh waktu kira-kira tiga sampai lima menit untuk mereka tenang dan mau bicara.
Stelani dan Fabil yang mencoba bersikap dewasa mulai menghapus air matanya dan melihat wajah Kino kembali.
“Sudah tenang?” Kino bertanya dengan senyum
“Mmm…” mereka mengangguk
Keduanya mulai bercerita hal-hal tidak menyenangkan yang mereka alami selama ini.
“Justin-sama adalah orang yang seperti Michaela katakan di restoran, Kino-niisan. Dia sangat jahat dan tidak segan-segan memukul kami jika kami tidak membawa uang kepadanya” kata Stelani sambil mencoba menghapus sisa air matanya
“Karena itu Theo melakukan banyak pekerjaan berat untuk membantu kami yang mengemis di pintu masuk altar” jelas Fabil
Kino teringat kalimat Theo ketika duduk bersamanya di pusat kota tadi.
[Aku melakukannya untuk teman-temanku. Jika aku mendapatkan uang, aku akan bisa mendapatkan roti untuk mereka makan]
Mengingat hal itu, Kino menjadi sangat sedih. Dia kembali mendengarkan cerita anak-anak itu kembali.
“Kami sekarang sedang mencoba mencari Theo untuk membantu kami bagaimana caranya bisa lepas dari Justin-sama. Justin-sama yang sekarang sangat berbahaya, Kino-niisan” Stelani terlihat serius ketika mengatakan hal itu
“Berbahaya? Apakah kalian dipukuli lagi olehnya karena tidak membawa uang yang cukup?”
“Bukan itu. Kami mendengar dari Theo kalau dia membunuh lima orang di bar semalam dan kami sudah mengkonfirmasi bahwa hal itu benar. Dia membunuh mereka semua tanpa perasaan dan itu sudah membuktikan bahwa kami sudah dalam bahaya sekarang”
“Apa?! Pria itu…membunuh katamu…” Kino terlihat kaget dan syok mendengarnya
******
Di jalan sempit lainnya, terlihat dua orang yang berjalan dengan santai setelah berlari dengan kecepatan yang tidak biasa.
“Madame…Madame…”
Terdengar suara Will yang memanggil Seren dengan santai.
“Ya? Kenapa?”
“Aku hanya ingin tau kenapa kita tadi langsung berlari tanpa suara seperti itu? Bukankah itu sangat merepotkan”
“Aku hanya tidak mau orang yang bersembunyi sebelumnya menyadari seperti apa ciri-ciri kita”
“Bukankah Madame bilang tadi–”
“Itu karena Will tidak peka. Seharusnya kemampuanmu itu lebih diasah. Kau tidak mau Jack yang mengasah ketajaman inderamu? Aku yakin suamiku sangat ahli dalam mengajar”
“Tidak tidak tidak tidak. Jangan Monsieur yang melakukannya, Madame. Kalau beliau yang melakukannya, jangankan cacat…kepalaku mungkin sudah tergantung di tokonya setelahnya”
“Kau pasti begitu senang kalau Jack sampai membantu mengasah kemampuan bertarungmu itu, sampai-sampai mau dibunuh olehnya. Apa Will itu penggemar berat suamiku?” Seren tersenyum manis mendengar apa yang dikatakan Will
“……”
Ada perbedaan persepsi diantara mereka. Dan bisa terlihat jelas bahwa Will tidak berpikir seperti yang dikatakan Seren.
‘Madame, suamimu itu lebih mengerikan dibanding dirimu. Itulah sebabnya aku tidak suka meminta kenaikkan gaji padanya. Bisa-bisa bukan gajiku yang naik tapi harga kepalaku yang naik di tokonya’
******