
Di dalam ruangan itu, suasana hening tercipta sesaat. Jack mulai mengatakan sesuatu dan sekarang wajah kedua tamunya itu berubah panik.
“Jadi katakan padaku, apakah orang tersebut ikut bersama kalian ke tempat ini?”
Arkan memang panik namun tekadnya sudah kuat. Tidak ada alasan untuk ragu.
“Be–benar. Orang tersebut ada di luar karena tidak diizinkan masuk oleh penjaga gerbang”
“Apa dia benar-benar pria berpedang tanpa sarung pedang yang dimaksud?” tanya Seren
“Benar. Aku tidak yakin aku bisa memberitau namanya kepada kalian tapi jika hanya ciri-ciri fisik aku mungkin masih bisa memberikannya”
“……”
Jack dan Seren terdiam. Mereka saling melihat satu sama lain lalu tersenyum.
“Lupakan soal itu. Aku akan menemuinya nanti. Lagipula sejak Justin mati maka dia bukan lagi target kami. Aku tidak mau melakukan tugas dari orang yang telah mati. Ahahaha”
Siapa yang menyangka bahwa Jack justru dengan mudah mengabaikannya hal itu dan langsung ke pokok pembicaraan.
“Jadi, kita bicarakan soal transaksi pertukaran yang kau katakan. Kau ingin menukar mayat itu serta memintaku membatalkan seluruh sisa transaksi yang telah dibuat dengan Justin, termasuk membebaskan anak-anak itu?”
“Apa yang Jack-sama katakan itu benar. Aku tidak ingin ketiga orang itu terlibat atau menjadi barang dagangan. Sejak awal mereka itu bukan barang dagangan. Setidaknya untukku”
Arkan sengaja menambahkan kalimat terakhirnya itu karena dia sadar dia sedang bicara dengan penjual manusia. Secara terang-terangan dia memberikan penekanan pada kalimat terakhirnya itu.
“Ahahaha, kau benar. Mereka itu masih ‘belum’ menjadi dagangan. Tenang saja” ucap Jack sambil tertawa
“Belum?” Arkan bertanya sambil menunjukkan wajah takut setelah mendengarnya
“Aa. Niatnya mau kujual seperti biasa. Tapi karena suatu hal, aku sudah tidak lagi tertarik jadi aku memutuskan untuk menjual mereka dalam keadaan hidup”
-Deg
Arkan berubah semakin pucat dan jantungnya langsung berdegup kencang sepertinya mendapat firasat buruk lain terhadap kalimat yang diucapkan oleh Jack.
“Jack-sama, kenapa kau–“
Di saat dia ingin bertanya lebih lanjut mengenai alasan kenapa dia begitu cepat menerima pertukaran ini tapi Jack kembali bicara.
“Ah, langsung saja kita selesaikan ini agar aku bisa cepat melakukan tugasku. Baik, aku terima mayat Justin temanku itu dan aku membatalkan semuanya termasuk kedua anak-anak itu akan kukembalikan”
“Sungguh?!” Arkan seakan tidak percaya dengan apa yang dia dengar
-Deg
Riz merasa ada yang tidak benar dengan kalimat Jack. Akan tetapi Arkan sepertinya terlalu terkejut mendengar transaksinya bisa diterima begitu saja. Riz berusaha meluruskannya.
“Sebentar, Jack-sama. Mengenai yang tadi itu sepertinya ada kesala–“
Tetapi sepertinya dia tidak sempat melakukannya karena Jack melanjutkan kalimatnya.
“Karena sejak awal tidak pernah ada perjanjian tertulis antara aku dengan Justin jadi tidak masalah. Selain itu, seperti yang kukatakan sebelumnya…untuk apa melanjutkan permintaan bisnis dari orang yang telah mati? Itu hanya akan membuang-buang waktu”
“……” Arkan dan Riz saling memandang satu sama lain mendengar Jack bicara demikian
“Meskipun anak-anak itu awalnya sangat aku inginkan, tapi karena aku sudah kehilangan minatku dan beralih ke yang lain jadi lebih baik membuang barang yang tidak kau sukai. Yah, begitulah kira-kira. Dengan begini transaksi selesai dan aku tidak akan mempermasalah ini ke depannya”
“Benar-benar sudah–“
Wajah Arkan menjadi senang namun dia harus mendengar fakta mengejutkan lain yang membuatnya menjadi syok.
“Tapi sedikit informasi untuk kalian. Anak-anak itu baru saja melarikan diri dari tempat ini tidak lama setelah kita masuk lobi” kata Jack santai
“Apa!!” Arkan dan Riz berdiri bersamaan dengan wajah panik
“Mereka masih hidup. Hanya mengalami sedikit lecet saja tapi belum ada yang aku patahkan. Jadi tenang saja. Yah, mungkin satu sampai lima helai rambut mereka sudah hilang ketika dibawa ke tempat ini tapi mereka sudah tidak ada di sini”
“Ke–kenapa kau tidak memberi tau secepatnya?!” Arkan panik dan bicara dengan nada tinggi kepada Jack
Sepertinya, dia sudah lupa dengan siapa dia sedang berhadapan. Riz langsung menengok panik ke arah Arkan yang bicara tidak sopan pada Jack. Lalu dia juga melihat wajah Seren sama yang sudah siap mengambil sesuatu di pinggang belakangnya.
‘Si bodoh ini!’ teriak Riz dalam hati
Jack masih terlihat santai dan tersenyum lalu seperti menahan sang istri untuk tidak melakukan apapun. Seren akhirnya menggandeng tangan suaminya dengan senyum manis.
“Aku minta maaf. Tadinya, aku sengaja membiarkan pintu ruang penyimpanan tidak terkunci karena aku tau mereka akan mencoba meloloskan diri. Kalau masih menjadi daganganku, aku ingin menggunakan mereka sebagai pemanasan untuk tempat ini sebelum pembukaan”
“Apa yang–“
“Biasanya pelangganku masih senang dengan barang hidup segar yang bebas berkeliaran di sini. Mereka bisa memburunya sendiri di pasar gelap”
“……” Arkan menjadi semakin syok mendengarnya
“Aku pernah bilang pada Riz dan semua pedagang pasar gelap kalau mereka bebas membawa senjata apapun. Hal itu memungkinkan pasar sangat ramai dan aku tidak akan kehilangan pasokan manusia untuk kujual. Jadi kalau mereka mencoba bersembunyi di tempat ini, selama tidak keluar gerbang maka mereka masih berpotensi menjadi dagangan penjual lain. Atau nantinya bisa kutangkap sendiri agar bisa kupromosikan sebagai budak berharga murah”
‘Ini gila! Dia iblis! Ternyata dia memang bukan manusia!’Arkan bergumam dalam hatinya
Jack melanjutkan kalimatnya.
“Mereka sudah bukan barang daganganku lagi jadi kalian bisa membawanya pulang. Tapi karena William belum mengetahui hal ini mungkin dia bisa mematahkan tulang kedua anak-anak itu nanti. Kalian bisa pergi bersama istriku dan nanti dia sendiri yang akan mengatakan pada William agar tidak menyakiti mereka dan kalian semua sampai keluar dari tempat ini”
Jack mencium kening sang istri dan memintanya untuk pergi bersama mereka berdua. Sebelum semuanya selesai, Arkan dengan terburu-buru langsung keluar ruangan itu untuk mencari anak-anak itu sendiri.
Hebatnya lagi, dia sama sekali tidak berpamitan atau mengucapkan kalimat lain kepada Jack selaku pemilik tempat itu. Mungkin kalau suasana hati kedua pasangan itu sedang buruk, Arkan bisa benar-benar berakhir menjadi pajangan. Tapi sepertinya keberuntungan memihaknya kali ini.
“Wah wah, dia semangat sekali. Seren sayangku, tolong perlakukan dia dengan baik ya. Ingat karena mereka masih pelanggan kita sebelum keluar dari pasar ini jadi perlakukan mereka dengan lembut”
“Baik”
“Jangan melempar senjata ke arah mereka”
“Aku mengerti sayangku”
“Dan jangan melukai mereka sekalipun kau kesal. Banyak hal yang harus dilakukan setelah ini jadi aku ingin kau tidak lelah, cintaku”
“Aku mengerti. Aku pergi menyusulnya ya”
“Nee, Jack sayangku. Aku mau membungkus ini dulu karena Arkan harus menghabiskannya”
“Lakukan sesukamu. Kotak makan dan botol air minumku ada di ruang sebelah. Gunakan itu saja ya. Jangan lupa dicuci kembali karena mau dipakai lagi untuk membawa makanan milik kita saat pergi berkunjung ke tempat mertua cantik milikku itu”
“Baiklah”
Dan benar saja, Seren benar-benar membawa cangkir teh dan kue krim bagian Arkan.
Di dalam ruangan itu hanya tersisa Jack bersama Riz. Jack melihat Riz yang masih berdiri dengan wajah pucat dan syok. Dia bertanya dengan wajah santai.
“Ada apa? Transaksinya sudah selesai, Riz. Aku akan membawa mayat temanku itu ke tempat biasa. Apa kau sedih karena Justin benar-benar mati di tangan orang tak terduga?”
Riz diam beberapa saat. Arkan mungkin tidak sempat menanyakannya namun Riz menyadari pertukaran itu tidak benar-benar berjalan sesuai keinginannya.
“J–Jack-sama…boleh aku bertanya mengenai pertukaran yang baru terjadi?”
“Tentu. Memang ada apa dengan pertukarannya?”
“Ka–Kau bilang kalau kau setuju untuk membatalkan semua transaksi Justin denganmu dan membebaskan orang yang dibawa kan?”
“Benar”
“Tapi kenapa kau hanya mengatakan dua anak?”
Riz mulai menunjukkan wajah paniknya. Seketika dia merasa aura aneh yang membuat bulu kuduknya merinding. Mata Jack mungkin terlihat santai dan tidak ada perubahan ekspresi aneh di wajahnya. Namun itu tidak benar.
“Apanya yang salah? Justin dan aku memang melakukan transaksi seperti yang dikatakan oleh Arkan”
Jack menjelaskan semuanya.
“Dia memintaku untuk menemukan pria berpedang tanpa sarung pedang lalu menangkapnya hidup-hidup. Sebagai gantinya, aku boleh memiliki kesembilan malaikat kecilnya dan bisa diambil dengan cara apapun selama proses pencarian dilakukan. Karena Seren ingin mengambil anak-anak itu satu per satu jadi dia bertanya pada Arkan mengenai tempat tinggal anak-anak itu dan akhirnya mereka membawa dua diantaranya ke tempat ini. Apa yang kukatakan benar, kan?”
“I–itu benar tapi…ada yang tidak benar di sini!”
“Apanya?”
“Bukankah Arkan dari awal mengatakan dia ingin menukar mayat Justin dengan ketiga orang yang diambil! Arkan menceritakannya kepadaku kalau ada tiga orang yang dibawa oleh Seren-sama ke tempat ini, jadi bukankah seharusnya Jack-sama membebaskan satu orang lagi!”
“……” Jack terdiam
Saat Arkan dan Jack membahas kontraknya, Riz benar-benar mendengarkan semua yang dikatakan oleh masing-masing pelaku dengan teliti. Itulah sebabnya dia bisa mengatakan semua itu dan itulah salah satu alasan mengapa Arkan sempat memintanya untuk membantu.
“Aku…aku tidak tau kalau masalahnya bisa seperti ini. Pe–perlu Jack-sama ketahui bahwa satu orang lagi yang dibawa oleh Seren-sama itu adalah teman dari pria berpedang tanpa sarung pedang yang ada di luar dan sejak dia sendiri yang membunuh Justin, dia ingin menukarnya dengan nyawa tiga orang termasuk temannya juga”
“……” Jack masih mendengarkan
“Awalnya dia juga ingin masuk ke tempat ini tapi paman Will menghalanginya masuk dengan alasan aneh. Aku berpikir bahwa paman Will sengaja menahannya karena dia adalah orang yang dicari oleh Justin sejak kalian menerima permintaannya. Sampai saat ini paman Will tidak tau bahwa isi gerobak yang kami bawa adalah Justin”
“……”
“A–aku berpikir bahwa bukankah barter yang terjadi itu–“
Belum selesai dengan pembelaan yang dimilikinya, Jack memotong penjelasan Riz.
“Sepertinya kau sudah salah paham dengan penjelasan antara kontrak yang kubuat dengan Justin dan transaksi yang terjadi barusan, Riz”
“Eh?”
“Kau dengar apa yang kukatakan? Aku melakukan transaksi dengan Justin dan mendapat imbalan sembilan malaikat kecilnya. Saat dia mati maka aku tidak lagi memiliki kewajiban untuk melakukan permintaannya lagi tetapi pembayaran yang kudapatkan tidak wajib kukembalikan”
“……” Riz mendengarkan Jack dengan wajah syok dan mulut terbuka
“Sejak Arkan membawa mayat Justin ke tempat ini untuk melakukan pertukaran maka nilai yang sepadan untuk mayat itu adalah sembilan malaikatnya. Hal itu dikarena mereka adalah bayaran yang kuterima darinya saat dia masih hidup. Bisa dikatakan seperti aku mengembalikan semua imbalan yang kuterima dari Justin dan ditukar dengan mayatnya”
“A–apa?!”
“Terlepas dari siapa yang membunuh Justin, orang terakhir yang kau maksud itu tidak pernah ada dalam isi kontrak yang kubuat dengan Justin. Jadi, untuk apa aku mengembalikannya?”
“Eh? Musta–“
“Anak yang kau maksud itu adalah remaja laki-laki dan istriku bercerita bahwa remaja itu sudah bersama dua anak itu saat dia sedang menuju tempat tinggal anak-anak itu. Dia dibawa ke tempat ini sebagai hadiah dari istriku untukku”
“Ta–tapi itu tidak sesuai dengan pertukaran yang kami ajukan!”
“Tapi itu sesuai dengan kondisi kontrakku dengan Justin di awal”
“……!!!”
“Tidak peduli apa yang kau katakan atau yang diajukan oleh Arkan di awal. Bagiku yang senilai dengan mayat Justin adalah sembilan malaikat miliknya. Oleh karena itu aku akan membiarkan kalian membawa kedua anak itu dan aku tidak akan melakukan hal buruk kepada mereka”
Riz sempat terdiam. Wajahnya panik dan hampir tidak bisa memikirkan apapun. Kecuali sebuah pikiran yang dia sendiri baru menyadarinya.
[Lalu bagaimana jika dia justru tertarik pada mereka?!]
Dia ingat kalimat itu.
Sambil melihat Jack meminum teh di cangkitnya, Riz menelan ludah dan memberanikan diri untuk bertanya.
“Jack-sama…apakah Jack-sama menggunakan alasan itu untuk tidak melepaskan remaja itu?”
Jack terdiam. Cangkir teh yang baru saja menempel di bibirnya tertahan.
“Jack-sama selalu mengabaikan manusia atau mayat yang tidak menarik perhatianmu begitu saja dengan mengabaikan mereka atau menjual mereka dengan harga murah. Tapi kau akan menggunakan semua cara agar bisa mempertahankan barang berpotensi atau yang sangat kau sukai. Jadi…”
Riz mengepalkan kedua tangannya dan berbicara dengan nada agak tinggi.
“…Jadi aku merasa bahwa kau menggunakan semua penjelasan aneh itu sebagai alasan agar tidak melepaskan remaja itu! Apakah yang kukatakan itu benar?!”
Mendengar hal itu, Jack meletakkan kembali cangkir tehnya dan tersenyum. Senyuman yang mencerminkan psikopat sesungguhnya dan langsung membuat Riz hampir kehilangan kekuatan untuk berdiri.
Dia menjatuhkan tubuhnya untuk duduk di sofa kembali dengan wajah pucat. Sebuah kalimat keluar dari mulut Jack.
“Aku senang kau mengenalku dengan sangat baik, Riz”
******