Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 24. Hari yang Tenang bag. 1



Keadaan di ruangan itu mendadak berubah hening. Kedua kakak beradik itu hanya terdiam, menatap wajah Kaito yang masih belum menunjukkan ekspresi apapun. Setelah beberapa detik kemudian, keheningan itu pecah saat Ryou mulai bangun dari tempat tidur dan mendekatinya.


“Kaito, coba katakan sekali lagi padaku”


“Sepertinya pencarianku di ‘kedua dunia’ ini masih belum berakhir. Aku tidak yakin tapi melihat diriku yang masih berdiri di sini, hanya penjelasan itu yang paling masuk akal”


“Kau tidak serius mengatakannya, kan?”


“Aku sendiri juga tidak mengerti. Sebelumnya, aku akan langsung pergi ke lokasi lain begitu kepingan ingatan itu masuk ke dalam tubuhku. Jika aku masih di sini artinya masih ada kepingan ingatanku yang lain”


Mendengar itu, Ryou langsung berteriak sambil menggaruk kepalanya.


“Lalu, untuk apa semua drama yang tadi kita lakukan!!!. Berpelukan dan mengatakan kalimat perpisahan begitu!!. Kembalikan semua rasa haru dan malu yang tadi sudah ku keluarkan!!”


“……”


Kaito hanya diam mematung. Ini situasi yang rumit. Siapa yang mengira hal seperti ini akan terjadi. Setelah perjalanan panjang, Kaito masih harus terjebak di tempat itu. Tentu saja itu bukan keinginannya. Masih harus bertarung meregang nyawa di ‘dunia malam’ lagi adalah mimpi buruk. Tapi nyatanya, bukan kebencian yang muncul di hatinya melainkan perasaan lega. Dia merasa lega karena tidak harus berpisah dengan kedua remaja itu.


Kino yang terdiam tiba-tiba tertawa.


“Ahahaha…siapa yang menyangka akan berakhir seperti ini”


“Jangan tertawa, Kino! Ini tidak lucu sama sekali! Padahal aku sudah menetapkan hati untuk bersikap lembut padanya dan mengantarkan kepergiannya dengan rasa haru. Kalau seperti ini, aku merasa dikhianati” Ryou mengajukan protes


Sambil menunjuk wajah Kaito dengan telunjuknya, Ryou berkata pada Kaito “kau harus bertanggung jawab!”


“Aku–”


Kino mendekati kedua orang itu dan tersenyum pada mereka.


“Itu artinya kita bertiga masih akan bersama. Bukankah itu hal yang bagus? Kaito-san juga berpikir begitu, iya kan?”


Kaito tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan membalas senyuman itu.


“Artinya aku masih memiliki kesempatan untuk membayar semua hutangku pada kalian beserta bunganya”


“Dan bunganya itu adalah satu pukulan dan satu tinju yang sudah aku katakan padamu sebelumnya” Ryou mengepalkan tangannya dengan ekspresi menakutkan


“Mohon bantuannya sekali lagi, Kaito-san” Kino mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Kaito


Perpisahan tersingkat yang pernah terjadi dalam hidup ketiganya. Tidak sampai satu menit mereka melakukan drama mengharukan dan sekarang drama itu berakhir bahagia tanpa konflik sama sekali. Sungguh pagi hari yang begitu berwarna untuk mereka bertiga, sampai suara ketukan pintu sedikit merusak suasana tersebut. Kino membuka pintu tersebut dan melihat istri pemilik toko bertanya dengan tubuh gemetar.


“Apakah ada sesuatu?”


“Maafkan kami. Hanya ada sedikit masalah tapi sudah selesai. Sebelumnya, terima kasih banyak karena sudah meminjamkan ruangan ini dan memberikan kami sarapan. Adikku sudah bangun dan sekarang kami akan permisi”


“Oh…begitu”


Istri pemilik toko itu melihat ke arah Kaito yang siap dengan pedang di pinggangnya dan langsung pergi dengan wajah pucat. Ryou hanya menengok Kaito dengan ekspresi menyebalkan.


“Sudah kuduga kau punya bakat menjadi kriminal. Setelah kegaduhan tadi pagi yang kau ceritakan dan drama perpisahan tadi, aku tidak akan heran kalau sosiopat sepertimu berbuat ulah. Lihat seperti apa wajah pemilik toko itu juga, kan?”


“Bisakah aku membuatmu pingsan lagi agar kau diam, Ryou? Kau jadi lebih manis kalau diam. Selain itu, aku juga tidak akan mendengar desisan kucing liar di pikiranku jika kau diam. Aku serius”


“Sepertinya kau senang sekali cari masalah!!”


Pembicaraan santai mereka berdua akhirnya dihentikan secara paksa oleh Kino yang meminta mereka membereskan ruangan serta barang-barang mereka dan turun untuk berpamitan dengan pemilik toko roti di lantai bawah. Hal menakjubkan yang didapatkan mereka pagi ini selain sarapan enak adalah sebuah kantong besar berisi roti hangat yang diberikan secara cuma-cuma oleh pemilik toko kepada mereka saat keluar dari toko roti itu, bersamaan dengan ucapan pujian dan terima kasih.


“Berkat kejadian tadi pagi, banyak sekali orang-orang yang datang dan penasaran untuk mampir sehingga mereka juga membeli roti di toko kami”


“Roti kami langsung terjual habis dalam waktu singkat. Ini semua berkat kalian. Ini ambilah sebagai ucapan terima kasih”


Itulah yang dikatakan oleh pemilik toko roti dan istrinya. Keberuntungan itu tidak disia-siakan oleh mereka bertiga meskipun Kino masih merasa malu menerima dan  membawa kantong roti hangat itu bersama mereka. Setelah berpamitan, mereka bertiga keluar dari toko roti itu.


******


Sepanjang jalanan besar, pemandangan tidak berubah seperti kemarin. Kios-kios dan pedagang melakukan aktivitasnya. Penduduk kota juga sangat ramai dan ceria. Benar-benar tidak ada yang mengira kalau semalam kota itu berubah menjadi hutan dikelilingi tanaman merambat dan akar besar serta pohon besar di sana. Meskipun sudah dua kali melihat hal seperti ini, kedua kakak beradik itu tetap tidak terbiasa


“Aku ingat aku ditendang dengan keras dan merasakan tanganku patah. Sekarang bahkan bekas lukanya sama sekali tidak ada”


“Bukan kau saja, Kino. Aku juga sudah merasakan seperti apa rasanya ditendang oleh kambing. Sepertinya aku akan membalas dendam dengan makan menu yang terbuat dari daging kambing jika di sini ada” Ryou terlihat kesal mengingat kejadian yang menimpahnya semalam


Kaito hanya mendengarkan mereka dan berjalan melihat-lihat. Lalu, dia berhenti di depan sebuah toko.


“Kalian berdua, apakah kantong kain berisi penawar itu masih akan disimpan?”


“Memang kenapa dengan ini?” Ryou mengambil kantong kain berisi penawar yang terikat di sabuk pengikat pedangnya


“Jika tidak diperlukan, kita bisa menjualnya ke tempat ini” Kaito menunjuk ke toko tempat mereka berhenti


Toko ini adalah toko ramuan obat bernama [Magasins d'herbes et de poisons]. Kaito menjelaskan bahwa tempat itu mirip dengan toko obat yang dikunjunginya beberapa waktu lalu namun menyediakan jasa jual beli bahan mentah atau jadi yang berhubungan dengan unsur obat-obatan dan racun.


“Jika kalian tidak keberatan, aku ingin menjual semua penawar racun yang kita punya untuk ditukar dengan uang. Bagaimana pendapat kalian?”


Kino dan Ryou saling melihat satu sama lain dan setuju dengan sarannya. Akhirnya setelah itu diputuskan, mereka memberikan dua kantong kain berisi penawar racun kepada Kaito dan dia masuk seorang diri ke dalam toko tersebut. Kedua kakak beradik itu memutuskan untuk menunggu di kafe yang berada berseberangan dengan toko tersebut.


Setelah masuk dan duduk di meja dekat jendela, entah kenapa keduanya menjadi sedikit tenang. Ryou yang biasanya akan mengeluarkan satu atau dua kata, apapun itu, justru tidak berinisiatif untuk mengatakan apapun pada Kino. Suasana di sekitar mereka terasa sangat canggung. Kino berusaha mencairkan suasana dengan mencoba memulai pembicaraan.


“Ryou, apa kau masih lapar? Mau makan rotinya?


“……” Ryou hanya terdiam


“Apa Ryou marah karena rencanaku saat kita di pohon besar waktu itu? Aku masih ingat kalau Ryou mau memarahiku setelah berhasil. Aku sudah siap mendengarkan semua emosimu”


“……”


“Ryou? Padahal, kita masih baik-baik saja sebelumnya. Apa kamu semarah itu padaku sampai tidak mau menjawabku?”


Ryou melihat wajah sang kakak yang terlihat sedih. Ini tidak seperti dia benar-benar akan memarahinya. Hanya saja, tatapan Ryou saat ini mengekspresikan kekecewaannya pada dirinya sendiri.


“Jika saat itu aku melindungimu lebih baik, kau tidak akan mengalami hal mengerikan dan terluka parah seperti itu, bahkan sampai menyebabkanmu mengalami patah tulang dan luka serius…. Aku tidak percaya aku membiarkanmu terluka dua kali setelah aku berkata dengan sangat yakin bahwa aku bisa melindungimu”


“Itu tidak benar. Ryou sudah melindungiku dengan…”


“Itu belum cukup!” Ryou memotong pembicaraan Kino dan bicara dengan nada tinggi


Beberapa pengunjung melihat ke tempat mereka. Kino tersenyum malu sambil minta maaf karena membuat keributan. Setelah semuanya kegaduhan itu berakhir, Kino menghela napas panjang dan mulai menatap mata adiknya.


“Dengarkan aku, Ryou. Semua yang dikatakan olehmu tidak ada yang benar untukku. Ryou melindungiku dengan baik dan aku tau itu. Aku juga berusaha melindungimu dan aku tau Ryou akan berkata bahwa aku sudah melakukan yang terbaik. Ryou dan aku sudah melakukan hal terbaik satu sama lain, jadi jangan mengatakan Ryou yang menyebabkan aku terluka”


“Tapi–”


“Selain itu, nee…saat Ryou tertidur tadi, Kaito-san menceritakan semua hal hebat yang Ryou lakukan untuk melindungiku. Kamu menakjubkan!. Aku benar-benar terharu mendengar semua yang diceritakan Kaito-san, tentang Ryou yang melawan makhluk bernama satyr itu dan melindungiku sambil bertarung. Aku benar-benar sangat senang mendengar cerita itu”. Kino menunjukkan wajahnya yang tersenyum ceria dan memuji sang adik


Ryou terlihat terkejut mendengarnya. Dia mengingat kalimat Kaito yang awalnya dianggap sebagai sebuah candaan.


[Aku hanya memujimu, Ryou. Kino akan terkejut saat aku menceritakan kisah heroik-mu nanti. Percayalah]


‘Dia benar-benar mengatakannya pada Kino. Benar-benar tidak tau malu’


Meskipun Ryou bergumam seperti itu dalam hati, tapi wajahnya tersipu karena mengingat perkataan Kaito dan mendengar pujian sang kakak untuknya. Pada akhirnya suasana tegang mereka berakhir. Kino mengambil jam saku yang disimpannya dan memberikannya pada Ryou.


“Tidakkah Ryou ingin menyimpan benda ini? Selama ini aku yang selalu menyimpannya. Benda ini Ryou yang pertama menemukannya, kan? Sebaiknya sekarang Ryou yang membawa ini”


“Tidak perlu. Rasa penasaranku sudah membuat kita terjebak dalam situasi rumit seperti ini. Kalau aku yang membawa jam saku itu, hanya akan menambah masalah untukku. Kino bisa menyimpannya. Lagi pula, kau lebih cocok membawanya daripada aku. Aku cukup membawa pedang ini untuk melindungi diri”


“Begitu. Aku mengerti”


Kino mengambil jam saku itu kembali dan melihat waktu yang ditunjukkan pada jam. Sudah jam 07.43, baru tiga belas menit berlalu sejak mereka keluar dari toko roti sebelumnya. Kino lihat kafe tempatnya dan Ryou duduk. Dia jadi berpikir semua yang telah disentuhnya pagi ini dan kemarin akan muncul kembali saat ‘dunia malam’ datang dan hal itu memberikan perasaan aneh untuknya.


Setelah beberapa menit, Kaito keluar dari toko tersebut dan melambaikan tangannya ke arah kedua kakak beradik yang melihat dari jendela di kafe seberang. Keduanya keluar dari kafe tersebut dan menghampiri Kaito.


“Sudah selesai, Kaito-san?”


“Sudah. Semua sudah terjual dan harga yang diberikan oleh mereka cukup bagus karena kualitas penawar itu sangat tinggi”


“Tentu saja tinggi. Kau mendapatkannya dengan menipu pegawai toko obat kemarin! Bahkan aku masih ingat apa yang kau lakukan untuk mendapatkannya. Dasar penjahat!” Ryou bicara dengan nada meledek


“Dan kau juga sudah menggunakan benda yang kudapatkan dengan menipu itu untuk menyelamatkan dirimu. Bukankah sekarang kau juga sudah menjadi penjahat sepertiku, Ryou?”


“Ukh….Jangan samakan aku dengan dirimu!”


“Kumohon tenanglah, Ryou. Kaito-san juga jangan menjawabnya”


Kaito hanya tersenyum dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja. Mereka berjalan menelusuri jalan besar di kota sekitar sepuluh atau lima belas menit. Jalan besar itu memasuki sebuah belokan dengan gang yang luas. Di sisi kanan dan kiri tidak terdapat bangunan pertokoan namun berganti dengan pemandangan rumah penduduk dengan berbagai ukuran. Kota tersebut ternyata lebih luas dari yang kedua kakak beradik itu kira.


“Kaito, itu bukan jalan menuju kedai itu. Kita sedang melewati jalan yang berbeda. Kemana tujuan kita sekarang?” Ryou memperhatikan jalanan dan sekitarnya


“Kita memang sedang menuju jalan yang berbeda dengan yang kemarin. Aku merasa harus melakukan sesuatu. Itulah sebabnya kita tidak akan menginap di tempat sebelumnya”


“Selama ini aku tidak tau ada tempat seperti ini. Bahkan aku tidak berpikir akan pergi ke daerah ini saat di ‘dunia malam’. Apa Kaito-san sudah sering ke tempat ini juga?”


Kino mulai terlihat kagum dengan wilayah yang sedang dilewatinya hingga tidak berhenti melihat rumah dan bangunan di sisi kanan dan kirinya.


“Aku hampir tidak pernah ke daerah ini, tapi aku pernah pergi ke salah satu tempat di sini sekali saat berkeliling kota sebelum bertemu kalian. Aku tidak berpikir untuk ke sini lagi sebelumnya karena menurutku tidak begitu penting dimana aku berada. Pada akhirnya saat ‘dunia malam’ tiba, semua ini akan menjadi bangunan tanpa apapun di dalamnya”


“Aku rasa kita butuh mencari penginapan di sekitar sini. Itulah kenapa kita berjalan ke daerah ini sekarang”


Tempat itu seperti kawasan penduduk. Rumah-rumah dengan taman kecil dan tangga kecil ada di sana. Anak-anak bermain di sepanjang jalan itu tanpa perlu khawatir banyak penduduk yang padat.


Setelah beberapa menit, mereka sampai di suatu tempat bernama [Hébergement Clarks]. Tempat itu adalah sebuah penginapan dengan tiga lantai. Bentuknya tidak berbeda dengan kedai makan [Ciel’s Café] sebelumnya, yang membedakan adalah, tempat ini benar-benar hanya sebuah penginapan tanpa restoran makan.


Saat mereka membuka pintu, ketiganya disambut oleh dua orang pegawai penginapan di meja resepsionis. Kaito yang mengurus semua administrasinya sejak dia sudah terbiasa dengan semua itu. Tapi, entah kenapa dia begitu lama di sana. Kino melihat jam sakunya dan waktu sudah menunjukkan pukul 08.10.


Setelah semuanya selesai, mereka diberikan kunci dan pergi menaiki tangga menuju lantai atas. Di lantai tersebut hanya terdapat dua pintu di tiap sisi. Ryou mulai berpikir tempat itu benar-benar tidak sesuai dengan namanya.


“Bukankah ini penginapan? Kenapa mereka hanya menyediakan empat kamar di tiap lantai? Kau yakin tidak salah pilih, Kaito? Aku pribadi lebih suka tempat kemarin dibandingkan tempat ini” Ryou mengeluarkan semua pendapatnya


“Ada alasan kenapa aku memilih tempat ini. Selain itu, aku sudah bertanya semua fasilitas yang ada pada pegawai di bawah. Setidaknya, kita bisa istirahat di tempat ini”


Kaito berdiri di depan pintu kamar yang berada di sisi kiri dari tangga. Dia memasukkan kunci dan membuka pintu kamar tersebut. Saat melangkahkan kaki dan masuk, pemandangan pertama yang dilihat mereka cukup mengejutkan.


Ruangan itu begitu luas, bahkan ada dapur kecil dengan wastafel juga kamar mandi dan toilet di sebelah kiri. Terdapat dua tempat tidur, satu berukuran besar seperti ukuran king size yang memuat dua orang dan satu lagi berukuran kecil yang cukup untuk memuat satu orang. Ada empat buah kursi dengan sebuah meja untuk makan serta lemari kayu besar yang ketika dibuka memiliki empat buah handuk kecil dan dua selimut cadangan. Sekarang tempat itu benar-benar membuat kedua kakak beradik itu terkejut.


“Apa ini sungguh-sungguh penginapan?! Ini mirip dengan apartemen 1DK di Jepang atau rumah sewa sederhana. Aku tidak menyangka akan melihat tempat seperti ini di sini” Ryou terlihat sangat senang


Kaito menutup dan mengunci pintunya sambil melihat-lihat tempat itu. Kino meletakkan kantong besar berisi roti-roti itu di atas meja dan berjalan ke arah sisi kiri kamar tersebut. Dia juga terlihat senang seperti sudah lama tidak melihat dapur dan kamar mandi.


“Mereka punya kompor juga. Sepertinya sudah lama aku tidak melihat kompor. Aku merasa seperti baru kemarin membuat makan malam untuk kita berdua, Ryou”


Ryou menyusul kakaknya yang berada di dapur dan melihat-lihat dapur dan kamar mandinya.


“Kau benar. Saat kita datang pertama kali ke tempat ini, kita baru saja selesai makan malam, iya kan? Padahal kurang dari dua hari, tapi aku merasa kita sudah berada lama sekali jauh dari rumah”


“Ini menakjubkan. Bagaimana bisa Kaito-san memilih tempat ini?”


“Aku terkejut kau bisa menemukan tempat seperti ini, Kaito. Kau jenius!”


“Aku tidak tau detail tempat ini. Aku bertanya pada pegawai di bawah dan mereka memberikan gambaran kamar ini padaku, jadi aku menyetujuinya. Hanya saja karena harganya cukup mahal, mereka meminta bayaran terlebih dahulu”


Kino dan Ryou berjalan keluar dapur dan duduk di kursi kayu.


“Jadi tujuanmu menjual penawar racun tadi untuk ini? Bukankah percuma saja mengeluarkan uang banyak dengan situasi kita yang sekarang ini, Kaito?”


“Seperti yang ku katakan sebelumnya, ada alasan kenapa aku memilih tempat ini”


“Alasan?”


“Sejujurnya saja, sudah lama sekali aku ingin mandi. Meskipun setelah ‘dunia siang’ datang semua noda dan aroma darah serta keringatnya lenyap, aku masih merasa sangat jijik dengan cairan kental ungu dari tubuh goblin dan giant orc yang mengenai semua pakaianku tadi malam”


Kaito memberikan tekanan pada kata ‘jijik’ seakan-akan dia memang mengucapkan itu dari lubuk hati yang terdalam. Jubah yang dikenakannya selama ini adalah salah satu benda favorit selain pedang yang dibawanya. Karena itu, mengingat kejadian ketika pakaiannya dihujani darah goblin dan giant orc membuat tatapan matanya menjadi sinis saat mengingatnya.


“Kalau dipikir-pikir, aku dan Kino juga terkena darah aneh itu. Setelah mendengarmu, sekarang aku juga jadi ingin mandi” Ryou jadi ikut merasa jijik saat melihat pakaiannya sendiri


“Aku ingin menghilangkan semua perasaan jijik itu dengan mandi. Karena itu, aku mencari tempat yang menyediakan kamar mandi atau sejenisnya, mengingat tempat sebelumnya tidak menyediakan kamar mandi”


“Kau benar, Kaito. Aku setuju” Ryou membenarkan kata-kata Kaito


“……”


Kino hanya terdiam mendengarkan mereka berdua mengekspresikan perasaan mereka yang ingin mandi. Sekarang, Kino berada dalam kebingungan di hatinya.


‘Kalau aku memikirkannya lagi, entah kenapa sejak datang ke tempat ini aku merasa tidak ingin pergi ke toilet atau benar-benar merasa lapar meskipun aku makan. Tapi, aku dan Ryou masih bisa merasa lelah dan mengantuk. Bukankah itu aneh?. Apakah hal itu karena kami sedang berada di ‘dunia lain’ atau ada hal lain?’


Semua itu membuatnya begitu penasaran. Tidak ada hal yang aneh dengan pikiran tersebut karena itu semua benar. Manusia normal pasti akan merasa lapar, pergi ke toilet, merasa lelah dan mengantuk. Akan tetapi dalam kasus mereka sekarang, kondisi normal selayaknya yang manusia rasakan tidak sepenuhnya dirasakan mereka dan itu cukup aneh. Kino ingin bertanya tentang hal itu pada Kaito, tetapi dia menyimpannya. Semua situasi mereka sudah cukup aneh, seharusnya dia bisa menerima keanehan lain pada dirinya. Akhirnya, pikiran itulah yang dia jadikan sebagai jawaban dan mengurungkan niatnya untuk bertanya.


Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu menunjukkan pukul 08.10. Sudah cukup lama waktu yang berlalu sejak Kaito keluar dari toko penjual ramuan dan obat di jalanan besar di kota sampai menemukan tempat ini.


“Kino, Ryou,  aku akan pergi sebentar. Jika kalian lelah, kalian bisa tidur dulu sebentar. Tapi jika ingin mandi, tolong tunggu sebentar sampai aku kembali. Aku hanya akan pergi sekitar tiga puluh menit sampai satu jam”


“Kaito-san tidak mau istirahat sebentar?”


“Kau mau kemana, Kaito?”


“Pergi mencari sesuatu. Tidak akan lama. Kalau bisa, tolong tunggu aku sebentar jika ingin mandi. Apakah itu masalah?”


Kedua kakak beradik itu melihat satu sama lain dan mengangguk tanda mereka akan menunggunya. Kaito meninggalkan kunci kamarnya di atas meja dan pergi. Sekarang hanya ada kedua kakak beradik itu di dalam kamar.


******


Kaito keluar dari kamar dan menuruni tangga. Dia keluar dari tempat itu dan pergi ke tempat di belakang penginapan. Jalannya tidak seramai di jalanan utama tapi sangat hidup. ada banyak kios buah dan bunga yang sederhana di sepanjang jalan itu. Sekitar sepuluh menit Kaito terus berjalan lurus sampai akhirnya dia sampai di sebuah toko pakaian yang besar dan ramai bernama [Vêtements et boutiques].


“Sudah lama sekali aku tidak melihat toko ini. Tidak seperti waktu itu, kurasa aku akan membeli sesuatu kali ini”


Kaito membuka pintu toko dan masuk ke dalam. Di sana banyak sekali pelanggan yang kebanyakkan adalah wanita. Mereka dilayani oleh beberapa pegawai. Hal itu wajar saja karena tempat itu sangat besar dan menyediakan berbagai pakaian dengan kualitas terbaik dan murah. Tidak menunggu lama sampai Kaito dihampiri oleh seorang gadis muda yang merupakan salah seorang pegawai toko.


“Selamat datang, tuan. Apakah ada yang bisa saya bantu”


“Aku ingin membeli beberapa pakaian. Bisa aku mendapatkan rekomendasi pakaian yang mudah dikenakan dan nyaman untuk bergerak. Juga bisa dipakai untuk semua ukuran”


“Baik. Kami memiliki beberapa pakaian seperti itu. Untuk anda sendiri atau orang lain?”


“Untukku dan juga remaja laki-laki”


“Baik. Silahkan lewat sini, tuan” pelayan itu tersenyum dan menunjukkan padanya beberapa pakaian yang terbaik


Seperti yang dikatakan olehnya, Kaito sudah pernah ke toko pakaian itu sebelum bertemu dengan mereka berdua. Perulangan yang terus terjadi padanya membuat Kaito sudah mempelajari hampir seluruh seluk-beluk kota,


termasuk beberapa toko di tempat itu. Dia bahkan mengingat sesuatu yang membuat wajahnya terlihat aneh saat sedang memilih pakaian.


‘Dulu saat ke sini, aku tidak pernah ingin mampir karena aku cukup takut dengan barisan para wanita di tempat ini. Karena itu, aku batal ke sini dan memutuskan untuk tidak akan pernah ke sini lagi kalau bisa. Aku masih mengingat dengan sangat jelas, ketika aku baru membuka pintu toko ini dan melihat para wanita itu saling melempar barang-barang mereka hanya untuk sepotong pakaian dengan harga sangat murah. Syukurlah, disaat aku memberanikan diriku untuk masuk sekarang, pelanggan di tempat ini tidak begitu liar’


Sepertinya Kaito memiliki beberapa trauma khusus terhadap sesuatu. Sebuah fakta menarik lainnya dari seseorang yang bisa membunuh sekawanan monster mengerikan dengan cepat namun menghindari barisan wanita yang mengejar potongan harga.


******


Yuki bersaudara berada di dalam kamar penginapan itu. Ryou masih senang melihat-lihat setiap sudut kamar penginapan tersebut sedangkan Kino duduk di kursi kayu dengan ekspresi wajah seperti sedang berpikir.


“Rasanya seperti di Jepang versi dunia lain. Aku masih tidak percaya kita bisa berada di ruangan mirip dengan apartemen 1DK  begini”


“Umm…kamu benar, Ryou”


“Kino?”


Ryou melihat Kino yang sedikit murung dan memikirkan sesuatu. Tentu saja, semua hal yang dipikirkan olehnya itu pasti sesuatu yang ada hubungannya dengan situasi mereka.


“Kau kenapa, Kino? Apa ada hal yang mengganggumu?”


“Aku hanya berpikir, setelah semua perjuangan panjang kita untuk mendapatkan permata Kaito-san ternyata masih ada yang lain di ‘kedua dunia’ ini. Bukankah itu sangat sulit bagi Kaito-san?. Itu artinya dia masih harus menghadapi makhluk mengerikan itu lagi. Padahal selama ini dia sudah cukup banyak menghadapi bahaya”


“Tapi bukan berarti dia akan menghadapi hal itu sendirian. Bukankah kita masih bersamanya. Selain itu, kau juga mengatakan bahwa kita akan sangat aman bersamanya”


“Ryou benar, tapi–”


“Dengar, Kaito adalah orang yang hebat dan bisa diandalkan. Asal kau tau, dia adalah orang kedua yang masuk dalam daftar panutanku setelah kau, jadi sudah pasti bisa dipercaya”


“Meskipun Ryou selalu bicara pedas padanya?”


“Itu…itu bukti kalau kami dekat!!. Aku tau Kaito juga tidak akan menganggap ucapan pedasku dengan serius. Sudah jangan bahas itu lagi!” Ryou mendadak merasa panik dan berguling ke tempat tidur ukuran besar


Kino tersenyum melihat adiknya bersikap malu seperti itu. Dia bangun dari kursinya dan pergi ke tempat tidur besar dan merebahkan tubuhnya.


“Nee…Ryou…”


“Hmm, apa lagi?”


“Aku ingin tau ingatan seperti apa yang didapatkan Kaito-san dari permata itu. Menurut Ryou, apakah sopan jika kita menanyakan hal itu padanya? Kaito-san juga mengatakan telah memiliki tiga ingatan lain sebelumnya, tapi dia hanya mengatakan pada kita tentang dua ingatan yang didapatkannya. Sejujurnya itu membuatku sedikit penasaran”


“Sebaiknya kita tidak bertanya jika bukan dia yang mengatakannya. Aku berpikir ingatan yang tidak dikatakan olehnya kemungkinan ingatan yang paling penting atau ingatan yang paling menyakitkan. Aku memang memintanya untuk tidak menyembunyikan apapun dari kita, tapi aku tidak akan sejahat itu sampai membuatnya mengatakan hal yang baginya sangat rahasia”


“Ryou benar. Selain itu, aku juga masih memikirkan apa yang terjadi pada Kaito-san saat dia tiba-tiba bicara sendiri waktu itu. Sebenarnya aku merasa sangat bersalah karena harus berbohong padanya”


“Tapi, jika kita mengatakan hal yang sesungguhnya tentang dia yang bicara hal pribadi tanpa dia sadari, aku merasa hubungan kita dengannya akan berubah. Aku yakin, kau sendiri tidak ingin kepercayaan yang sudah kita bangun satu sama lain jadi hancur karena hal itu, iya kan Kino? Anggap saja kita sedang melindungi perasaan Kaito. Selain itu…”


“Selain itu?”


“Aku tidak mau terkena tamparan di wajahku!. Kau tau kenapa dia akhirnya mau mengatakan hal-hal yang tidak dia katakan pada kita, kan? Aku tidak mau dia membalasku, pokoknya tidak akan! Jadi, sebaiknya kita lupakan apa yang kita bicarakan ini dan menganggap semua baik-baik saja”


“Aku rasa Ryou benar, maafkan aku. Kurasa aku akan diam saja dan berhenti memikirkan hal itu. Aku mulai lelah. Sebaiknya kita tidur”


“Hmm… mataku mulai berat. Berada di ‘dunia malam’ dan bertarung dengan makhluk merepotkan semalaman itu menguras energi. Selain itu aku yakin Kaito juga akan langsung istirahat. Selamat malam, Kino”


“Selamat malam, Ryou”


Keduanya menutup mata dan tertidur. Di pagi hari itu, sebuah ketenangan dirasakan oleh mereka yang masih akan berjuang menghadapi satu lagi malam yang tidak akan mudah dilalui.


******