Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 27. Jam Saku yang Hilang bag. 1



Kaito mengatakan sebuah kalimat yang mustahil terpikirkan oleh mereka berdua. Bagaimanapun juga, ‘kedua dunia’ itu saling berhubungan satu sama lain. Untuk Kaito yang sudah sangat lama berada di tempat itu, hal seperti ini baru pertama kalinya terjadi. Namun kenyataannya setelah suara jam berdentang dan matahari terbenam kali ini, mereka kembali melihat langit cerah dan suasana pagi hari lagi.


“Kaito, kau serius mengatakannya?”


“Aku cukup serius dengan kata-kataku dan kupikir aku tau kenapa hal seperti ini terjadi”


“Tapi Kaito-san, jika memang benar seperti itu bukankah itu artinya setelah jam menunjukkan pukul enam kita akan kembali ke pagi hari lagi? Selain itu, apa yang membuat Kaito-san yakin bahwa ‘dunia malam’ telah hilang?”


“Salah satu alasan paling masuk akal adalah karena kita berhasil mengambil permatanya”


“……!!!”


Kedua kakak beradik itu awalnya terkejut, namun mereka mulai mengendalikan diri setelah memikirkan kemungkinan tersebut. Kalau diingat-ingat lagi, tidak ada yang menyangka bahwa permata ingatan Kaito bisa ada di ‘dunia malam’. Selain itu, kondisi perubahan kota yang mendadak berubah saat itu memang sedikit aneh, mulai dari perubahan seluruh wilayah menjadi hutan sampai pohon besar yang ternyata memiliki kepingan ingatan Kaito.


Jumlah makhluk mengerikan yang mereka hadapi juga lebih banyak dari sebelumnya dan yang paling terlihat mencolok adalah setelah mereka mendapatkan permatanya, makhluk-makhluk itu seperti berusaha untuk mengambilnya kembali dengan segala cara.


Kaito sendiri juga tidak ingin percaya dengan pemikiran awalnya tentang kemungkinan ‘dunia malam’ menghilang. Terlebih lagi dengan semua usaha Kaito sebelumnya, dia sendiri pasti tidak menyangka hal itu. Tetapi, bahkan setelah perjalanan panjangnya untuk mendapatkan kepingan ingatan tersebut, dia masih harus menemukan permata lainnya yang tersisa di suatu tempat di ‘kedua dunia’ itu.


“Selain itu, perulangan ini terjadi juga bukan tanpa alasan. Kalian mungkin tidak tau, tapi sebelum pohon besar itu muncul ketika seluruh kota berubah menjadi hutan di ‘dunia malam’, jalan yang kulalui membawaku sampai ke tempat ini. Dan di sana, letak bangunan altar dan kolam air mancur sama seperti yang sekarang terlihat”


Hal itu cukup mengejutkan untuk kedua kakak beradik itu.


“Itu artinya bangunan altar ini memiliki struktur bangunan yang sama seperti yang Kaito-san lihat ‘dunia malam’?”


“Begitulah. Tapi, kalau begini aku sendiri tidak tau harus mencari petunjuk tentang permata itu dari mana. Ini mungkin akan memakan waktu lebih lama dari sebelumnya”


Keadaan menjadi begitu membingungkan dan sekarang mereka tidak tau harus berbuat apa. Ryou sudah terlihat sudah cukup kesal dengan semua hal membingungkan ini.


“Aku sudah cukup muak dengan keadaan yang membingungkan ini! Diam juga sama sekali tidak akan menyelesaikan apapun. Kalau memang benar seperti apa yang kau katakan, seharusnya kita semua bisa menemukan satu atau dua petunjuk untuk keluar dari masalah ini”


“Satu atau dua petunjuk ya…kalau begitu bagaimana kalau kita berpencar untuk mencarinya. Ryou benar, Kaito-san. Jika hanya berdiam seperti ini, kita juga tidak akan menemukan sesuatu. Akan lebih baik jika kita mencari sesuatu di tempat ini” Kino mengusulkan idenya untuk berpencar


“Kurasa kalian benar. Setidaknya kita sudah tau penyebab ‘dunia malam’ tidak muncul lagi”


Akhirnya mereka memutuskan untuk berpencar. Kaito memilih tetap tinggal di depan kolam sedangkan kedua kakak beradik itu pergi ke bangunan altar untuk menemukan petunjuk.


******


Kedua kakak beradik itu masuk ke dalam altar. Di sana mereka melihat banyak sekali orang-orang yang berdoa, ada pula yang datang hanya untuk melihat-lihat dan mengagumi arsitektur bangunan.


“Ternyata tempat ini memang sangat indah jika diperhatikan dari dekat seperti ini. Ryou juga setuju, kan?” Kino memuji bangunan tersebut


“Tempat ini memang ramai. Aku mengerti kenapa Kaito mengatakan dia pergi ke tempat ini untuk bertahan hidup. Mereka semua datang seperti ingin memamerkan semua yang mereka miliki”


Selama ini mereka berdua tidak pernah melihat hal seperti itu, tetapi sekarang mereka mengerti alasan Kaito mencuri di tempat ini untuk bertahan hidup saat pertama kali sampai di ‘kedua dunia’ ini. Orang-orang yang datang ke tempat itu memiliki tujuan yang berbeda-beda.


Ada yang menggunakan pakaian sangat tertutup seakan memang ingin berdoa, ada yang datang dengan mengenakan pakaian terbaik berbalut perhiasan mewah, ada juga yang datang bersama banyak sekali anak kecil untuk meminta sumbangan dan berdiri pada bagian luar di depan pintu kayu besar.


“Kalau mengingat seperti apa pengalaman pertama kita datang ke sini, rasanya masih sedikit tidak percaya bahwa kita berdua hampir mati di dalam tempat ini”


Kino mengingat kembali kejadian ketika mereka bertarung dengan dark wolf di dalam altar ini.


“Kau benar, Kino. Bertarung dengan sekawanan serigala liar di tempat suci seperti ini rasanya seperti mimpi buruk. Dan sekarang kita mengalami situasi yang tidak kalah buruknya”


“Jangan khawatir. Aku yakin ini tidak akan berbahaya seperti bertarung melawan kawanan makhluk mengerikan seperti di ‘dunia malam’. Tapi mengingat tempat ini tidak memiliki keanehan apapun dan semua terlihat normal, mungkin akan sedikit mempersulit kita untuk menemukan petunjuk”


“Kau benar. Sejauh yang kuingat, kita bisa menemukan permatanya di pohon besar waktu itu karena Kaito. Aku yakin dia bisa merasakan bahwa permata itu adalah miliknya. Tapi kali ini kita bahkan tidak punya gambaran bagaimana benda itu muncul di sini dan seperti apa bentuknya. Dan yang paling merepotkan dari itu adalah–”


Kino memotong ucapan Ryou dan menjawab “kita juga tidak tau berapa jumlah permata milik Kaito-san yang menyebar di sini”


“Tepat sekali. Lihat? Baik di ‘dunia malam’ atau ‘dunia siang’, kalau masih terjebak di tempat ini semuanya pasti akan berakhir merepotkan!”


“Meskipun begitu, kita harus tetap mencobanya Ryou”


“Aku mengerti, aku mengerti”


Di dalam tempat itu, kedua mulai berkeliling. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, mereka mencoba berinteraksi dengan orang-orang sekitar dan memperhatikan seluruh tempat itu. Kino bahkan melihat siapa saja yang datang dan siapa saja yang meninggalkan tempat itu dengan sangat teliti.


‘Aku tidak yakin apakah ini penting atau tidak, tapi mungkin saja permata itu ada di salah satu bangunan di kota atau dimiliki oleh salah satu penduduk di sini. Semua itu memiliki kemungkinan yang sama. Sekarang aku harus memikirkan kemungkinan apapun yang ada sekalipun itu mustahil’


Ryou juga tidak berbeda. Dia yang saat ini berada di dekat pintu masuk altar yang besar itu juga sangat detail memperhatikan semua orang yang ada di sana. Dia bahkan melihat ke arah segerombolan orang yang berada di depan pintu masuk.


“Entah itu hanya perasaanku atau anak-anak kecil di luar itu terlalu mencolok. Mereka meminta sumbangan di tempat seperti ini. Bukankah itu sangat aneh?. Apa semua orang tidak memperhatikannya?”


Dari sekumpulan anak-anak yang berada di luar, dia melihat ada satu anak yang masuk. Anak laki-laki berkulit putih dengan rambut hitam pekat, fisiknya terlihat seperti anak usia 10-11 tahun, memakai baju orange dan topi berwarna coklat dan dia berjalan masuk bersama para penduduk yang datang.


Ryou memperhatikan anak itu dengan detail karena dari sekian banyak kumpulan anak-anak yang berdiri di luar, hanya dia yang memutuskan untuk masuk


ke altar. Tapi karena dia tidak melihat keanehan apapun sama sekali, dia mengabaikannya dan tidak lagi melirik ke arahnya. Dia melanjutkan berkeliling tempat itu sambil menggerutu dalam hati.


‘Aku merasa aku sudah cukup melihat-lihat tempat ini tapi sama sekali tidak menemukan apapun. Kalau seperti ini semuanya akan percuma saja. Selain perubahan lokasi kolam air mancur yang dikatakan oleh Kaito, di dalam altar ini tidak mengalami perubahan apapun’


Ryou sudah mencapai batasnya dan akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari tempat itu.


“Haaah…kurasa aku akan keluar dari sini bersama Kino. Aku akan mencarinya sebentar”


**


Kino sedang duduk di kursi di bagian depan dari altar. Dia terlihat sedang mengobrol dengan seorang ibu-ibu yang membawa seorang balita di pelukannya. Kino terlihat begitu dekat dengan mereka bahkan sang bayi pun terlihat begitu senang saat digendong olehnya.


“Manisnya. Siapa namamu?” Kino tersenyum menggodanya


“Namanya Ivy. Ayo, katakan halo pada kakak ini, Ivy” sang ibu menanggapi dengan senyuman


“Ivy ya, cantiknya” Kino terlihat tersenyum ceria untuk bermain dengan sang anak


“Apa kamu baru pertama kali berdoa di sini? Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya”


“Aku…” Kino sedikit bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut dan bergumam ‘bagaimana aku harus menjawabnya?’


Kino kemudian membalas pertanyaan itu.


“Iya. Aku baru datang ke kota ini jadi ini pertama kalinya aku berdoa di sini. Altar ini sungguh sangat menakjubkan dan besar. Selain itu di sini juga sangat ramai”


“Kamu benar sekali. Altar ini dan kolam air mancur di depan itu adalah daya tarik yang sangat terkenal di sini. Bahkan sejak pagi akan ada banyak sekali yang datang hanya untuk melihat kedua tempat itu. Kamu juga sudah melihatnya sendiri saat datang, iya kan?”


Kino mulai bertanya tentang hal serius. Dia mencoba menggali informasi terkait perubahan yang terjadi di kota itu. Dia mencoba memastikan kebenaran kota itu berdasarkan penjelasan dari Kaito. Jika dia benar, mungkin dia bisa mendapatkan petunjuk.


“Apakah kolam air mancur itu sejak awal memang sudah dibangun di depan altar ini, nyonya? Aku pernah mendengar dari temanku yang tinggal di sini bahwa seharusnya kolam tersebut ada di bagian pusat kota”


“Ahahaha, itu tidak benar. Pusat kota ini memang ramai, tapi sejak awal kolam air mancur itu sudah ada di depan altar ini. Aku rasa temanmu itu salah mengingatnya”


“Be–begitu ya”


Kino menjadi yakin bahwa semua perubahan yang terjadi di tempat itu akan mempengaruhi semua penduduk kota.  Tidak lama setelahnya, Ryou melihat kakaknya berada di depan dan mendatanginya.


“Kino, sudah selesai. Kita temui Kaito di luar”


“Aku mengerti” Kino bangun dan memerikan anak kecil itu pada ibunya “Aku pergi dulu Ivy-chan. Terima kasih banyak untuk waktunya yang menyenangkan, nyonya”


“Sama-sama. Semoga harimu menyenangkan”


Kedua kakak beradik itu pergi meninggalkan tempat duduk. Ryou bertanya dengan nada pelan.


“Kino, siapa tadi itu? Kenalanmu?”


“Aku hanya sempat bicara sebentar dengan wanita itu. Aku mencoba bicara dengannya untuk mengetahui apakah ada informasi atau petunjuk yang bisa kutemukan”


“Hmm…NPC dalam game ya. Lalu, apa saja yang sudah kau dapatkan dari NPC itu?”


“Wanita itu berkata bahwa kolam air mancur di depan itu sudah berada di sana sejak awal. Saat aku mengatakan kolam tersebut berada di pusat kota, dia tertawa dan  menjawab bahwa di pusat kota tidak pernah ada kolam air mancur. Bagaimana menurutmu, Ryou?”


“Sudah jelas ingatan Kaito benar. Aku yakin mereka itu NPC dalam ‘kedua dunia’ ini. Apapun yang berubah dari tempat ini, itu akan ikut mempengaruhi ingatan mereka dan mereka hanya akan mengatakan sesuai dengan keadaan tempat ini sekarang. Buktinya seperti yang terjadi pada pemilik toko roti itu. Dia sama sekali tidak mengenalku padahal mereka bertemu kita pagi ini”


“Kurasa juga begitu. Tapi sangat disayangkan ternyata tidak ada apapun yang bisa dijadikan petunjuk”


“Sejak awal sudah bisa dipastikan akan jadi seperti ini. Untuk apa disesalkan sekarang. Sekarang yang jelas kita harus keluar dari sini dan mulai mencari yang lain”


“Ryou benar. Kaito-san juga pasti sudah menunggu”


Kino mengeluarkan jam saku miliknya dan waktu yang ditunjukkan pukul 07.30. Sudah lebih dari lima belas menit mereka berada di tempat itu. Keduanya memutuskan untuk berjalan lebih cepat di tengah keramaian itu. Saat Kino baru saja memasukkan jam saku miliknya, tiba-tiba ada seseorang yang menabrak mereka berdua.


“Ma–maafkan aku, kakak”


“Tidak apa-apa. Lain kali hati-hati ya” Kino membantunya berdiri


Orang yang tidak sengaja menabrak mereka adalah seorang anak laki-laki. Ryou memperhatikannya baik-baik dan ternyata itu adalah anak yang dilihatnya beberapa waktu lalu. Anak laki-laki itu segera berbalik dan pergi menuju pintu keluar. Ryou sekilas sempat melihat gerakan anak itu pergi keluar pintu. Tidak lama setelah itu, sekumpulan anak-anak itu pergi menyusulnya satu per satu.


“Hanya perasaanku saja atau memang mencurigakan?” Ryou bergumam sendiri


Kino mendengar itu dan bertanya pada Ryou, tapi Ryou hanya menjawab “bukan apa-apa” dan keluar dari sana.


******


Sementara Kaito berada di kolam air mancur di depan bangunan altar. Dia terus memperhatikan setiap sisi di kolam tersebut. bahkan patung kecil berbentuk malaikat itu tidak luput dari tatapan tajamnya.


‘Aku ingat dengan jelas mata patung itu bersinar dan banyak sekali akar yang muncul dari tanah. Ada rumput-rumput hijau yang seharusnya tidak ada juga di dekat tempat ini. Apakah ini juga ada kaitannya dengan kepingan ingatanku yang telah berhasil kudapatkan. Hal yang paling masuk akal adalah ‘dunia malam’ telah lenyap karena permata ingatanku telah hilang dari tempat itu. Apakah itu artinya kepingan ingatanku yang lain masih ada di ‘dunia siang’ ini? Lalu untuk apa gunanya perulangan itu?’


Pikiran rumit Kaito telah membuatnya tidak bisa berhenti untuk terus memperhatikan tiap sisi kolam air mancur tersebut. Sesekali dia melihat ke bagian air kolam. Dia ingat sebelum ini, dia melihat permata ingatannya berada di dasar kolam tersebut. Dia berharap ada permata lain yang terlihat di sana. Walaupun apa yang dia harapkan tidak terwujud.


“Ternyata memang tidak ada” ucap Kaito dengan nada kecewa


Setelah berpikir untuk menyerah dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain, Kaito berbalik dan tanpa sengaja menabrak seorang anak perempuan berambut pendek dengan dress merah muda.


“Aduh!!” anak itu terjatuh ke tanah dan tampak kesakitan


“Apa kau tidak apa-apa?” Kaito mencoba membantunya untuk berdiri


“Aku tidak apa-apa. Maafkan aku tuan”


“Tidak masa–” tiba-tiba kalimat Kaito terputus setelah mendengar suara anak laki-laki yang memanggilnya dari belakang


“Stelani!! Cepat kemari! Kalau tidak cepat bisa gawat!” anak laki-laki itu berteriak ke arah anak perempuan yang menabrak Kaito


“Iya! Tuan, aku permisi. Sekali lagi aku minta maaf”


Anak itu langsung berlari ke tempat anak laki-laki yang memanggilnya. Anak laki-laki itu memiliki rambut hitam, memakai baju orange dan topi berwarna coklat. Dia keluar dari arah bangunan altar dan pergi bersama teman-temannya ke arah jalan di belakang altar. Tidak lama setelah mereka pergi, Yuki bersaudara keluar dari bangunan tersebut.


“Kaito!!” Ryou berteriak dari tangga turun menuju ke kolam air mancur tempat Kaito berdiri


“Kino, Ryou! Apakah kalian menemukan sesuatu?”


“Nihil. Sama sekali tidak ada. Aku bahkan mengikuti ajaranmu yang suka melakukan sandiwara tapi tetap saja tidak menghasilkan petunjuk yang berguna” Ryou menggerutu sambil melampiaskan kekecawaannya


“Lalu, apakah kau juga sama Kino?” Kaito bertanya pada Kino


“Aku sempat bertanya pada salah satu penduduk di dalam, salah satunya adalah seorang wanita yang selalu berdoa di sana. Dia mengatakan bahwa kolam ini memang sudah ada di depan bangunan ini sejak awal. Aku tidak bisa mempercayai hal itu sejak Kaito-san sudah lama terjebak di tempat ini. Kamu juga mengetahui hampir semua seluk-beluk kota, jadi kemungkinan besar mereka hanya mengatakan hal itu sesuai dengan kondisi ‘dunia siang’ saat ini”


“Dengan kata lain mereka hanya NPC seperti di dalam game” Ryou menambahkan perkataannya


“Kalau begitu sudah tidak ada gunanya lagi kita di sini. Sebaiknya kita pergi ke tempat lain yang memang mengalami perubahan struktur seperti tempat ini. Aku masih mengingat seluruh tempat di kota ini. Setidaknya kita bisa mencari sesuatu sebagai petunjuk dari perubahan kondisi yang terjadi di sini” Kaito mengusulkan untuk pergi dari tempat itu


Akhirnya mereka memutuskan untuk pergi dari sana. Tidak ada tujuan pasti. Mereka hanya berkeliling untuk memastikan sesuatu yang berbeda dengan tempat ini. Waktu sepertinya berjalan dengan cepat tanpa disadari. Matahari semakin tinggi dan penduduk kota semakin banyak. Kino mengambil jam saku miliknya untuk melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut.


“….Eh? Tidak ada?!” Kino menunjukkan wajah panik dan bingung


“Ada apa, Kino?”


Ryou yang  saat itu berjalan sedikit di depan Kino melihat kakaknya panik. Dia berhenti dan menoleh ke belakang untuk memastikan semua baik-baik saja.


“Kau baik-baik saja, Kino?”


“Tidak ada….ini mustahil?! Kemana perginya? Bagaimana ini?” Kino gemetar dan panik


“Apa ada sesuatu?” Kaito akhirnya menghampiri mereka


“Jam sakunya…tidak ada di saku celanaku! Apa yang harus aku lakukan?!”


“Apa?!!!” Ryou dan Kaito kaget dan terkejut


Seketika keadaan di tempat itu menjadi panik. Jam saku yang menjadi satu-satunya barang berharga dan kunci untuk mereka agar bisa kembali pulang telah hilang.


“Ini sebuah masalah yang lebih serius dibandingkan dengan lenyapnya ‘dunia malam’. Kita dalam masalah besar sekarang”


******