Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 141. Permata dan Jiwa yang Indah bag. 3



Wajah Theo tersipu malu karena dipuji oleh Ryou. Sejak awal dia tau bahwa Ryou adalah orang yang baik dan tidak begitu menyebalkan. Sejak Ryou adalah orang yang menolong teman-temannya dan adik dari kakak baik yang pernah membantunya, Theo tentu tidak sungguh-sungguh membencinya.


“Bi–bicara apa kau ini, Ryou-nii?! Aku ini memang anak yang baik, kau saja yang tidak menyadarinya!”


“Hee, mulutmu itu masih bisa menjawab ya. Dasar tsundere” ledek Ryou sambil tersenyum jahil


“Tsun…tsunde…apa itu?” Theo bertanya dengan wajah bingung


Ryou hanya tersenyum dan mengabaikannya. Dia pergi memberikan jus pada Kino. Kaito tidak melepaskan pandangannya dari Theo sejak masuk. Merasa ada yang tidak benar dengan pikiran Kaito yang kosong, Kino berbisik pada sang adik.


“Apa ada sesuatu yang terjadi setelah kalian keluar ruangan ini?”


“Tidak ada. Dia terus seperti itu. Aku sendiri tidak tau harus melakukan apa” Ryou menjawabnya dengan berbisik pula


“Apakah itu karena permata milik Kaito-san? Apakah permatanya benar-benar ada di sini? Mungkinkah Theo-kun yang…”


“Benar. Tapi, ada banyak hal yang tidak bisa diabaikan olehnya. Karena itu kita harus membicarakan ini setelah mereka semua pulang”


“Begitu”


Kedua saudara itu berbisik-bisik hingga menimbulkan keingintahuan dari anak-anak itu.


“Apa yang kalian bicarakan?” tanya Michaela


“Ah…bu–bukan apa-apa. Aku sedang bicara mengenai hal yang hanya boleh diketahui oleh orang dewasa. Kalian anak kecil tidak boleh tau” kata Ryou sambil beralasan


“Curang sekali! Aku juga sudah besar” ucap Michaela sambil cemberut


“Ahahaha, benar. Michaela-chan sudah besar. Di masa depan nanti, kamu bisa bertukar rahasia juga dengan teman-temanmu yang lain” Kino menanggapi gadis kecil itu dengan senyum manis


“Kalau begitu, nanti jika sudah besar aku akan berbagi rahasia dengan Kino-niichan~”


Kino hanya tersenyum tanpa memberikan respon, sedangkan Riz hanya terdiam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Niat awalnya menjenguk Kino untuk menanyakan perihal keanehan dalam diri remaja itu, tetapi semua berubah menjadi sebuah drama panjang dan dia sendiri hanya berperan sebagai penonton. Sungguh lucu sekaligus ironis sekali.


‘Pada akhirnya tidak ada yang bisa aku tanyakan. Meski begitu, aku cukup beruntung melihat seorang veteran menghadapi mulut tanpa aturan milik Ryou. Tidak seburuk itu menjadi penonton di sini sejak pertama datang’ Riz bicara dalam hati dengan bangga


Waktu berlalu dan akhirnya jam besuk berakhir. Tidak terasa semua yang telah mereka lakukan berakhir. Perawat telah datang dan memperingatkan mereka mengenai jam besuk yang telah selesai.


“Kino-niichan, kami pulang dulu. Nanti kami akan ke sini lagi ya. Boleh kan?” tanya Michaela pada Kino dengan wajah merona


“Tentu saja–”


“Tidak boleh!”


“Eh? Ryou?”


Sangat jenius, Ryou langsung memotong pembicaraan Kino dan berakhir dengan wajah bingung Kino yang tidak bisa mengatakan apapun.


“Pokoknya sore ini kalian tidak perlu datang”


“Kenapa begitu?! Kino-nii saja tidak menolak!” Theo mengajukan protes


“Sekarang jawab aku, anak-anak nakal. Siapa yang membangunkan kakakku saat dia baru saja tidur?”


“Ukh…itu kan…”


“Itu kan apa? Coba jawab siapa?” Ryou melihat mereka dengan tatapan dingin


“Ka–kami yang melakukannya. Tapi kan–”


“Tidak ada tapi! Kakakku orang sakit! Dia butuh istirahat dan jam besuk di rumah sakit ini seperti tidak memberinya ruang untuk bernapas, karena harus menerima tamu seperti kalian! Pokoknya kalian kembali besok atau tidak perlu kembali sama sekali!” kata Ryou tegas


“Tapi Kino-niichan tidak melarang kami datang, kan?” Michaela ikut mengajukan protes


“Benar! Ryou-niichan jangan jahat seperti itu!” anak kecil lain membela Michaela


Ryou hanya mendengarkan protes dari para marmut kecil di depannya. Dengan senyum sinis, dia membalasnya.


“Kalian para pembuat onar, lihat wajah kakakku di sana!” Ryou menunjuk ke arah Kino


Anak-anak itu melihat Kino dan mereka terkejut. Kino juga tidak mengerti apa yang terjadi sehingga tidak bisa berkata apapun.


Sekarang, drama series dari Ryou dimulai.


“Lihat wajahnya yang menyedihkan itu! Kakakku sangat tertekan karena kurang istirahat. Dia bahkan tidak sadar


kalau dirinya sedang di rumah sakit dan terbaring lemah tak berdaya seperti orang yang sudah berumur”


“Eh?” Kino menjadi syok mendengar ucapan sang adik


“Bahkan, untuk memegang garpu saja aku yakin dia tidak bisa. Aku benar, kan?” lanjut Ryou


“Benar juga. Kino-niisan hanya mampu makan dari suapan kami saja” Stelani mulai terpengaruh


“Jika Kino-niichan kurang istirahat, nanti akan semakin lama di rumah sakit ini” Fabil juga jadi ikut terpengaruh


“Benar, kan? Memang kalian tidak ingin Kino sembuh dan makan bersama kalian lagi di restoran keluarga yang pernah kalian ceritakan padaku itu?” sebuah teknik mengarang bebas lainnya dari dialog Ryou telah dikeluarkannya


“Benar juga. Kino-nii butuh istirahat” Theo akhirnya menjadi salah satu korban dari drama Ryou


“……” Kaito dan Riz hanya diam


Dengan semua kemampuan Ryou itu, Riz hanya bisa mengatakan satu kalimat dalam hatinya.


‘Mulutnya itu benar-benar berbahaya’


Kaito berhasil melupakan hal membingungkan di dalam pikirkannya sejenak dan berbalik memuji akting Ryou.


‘Selamat pada Yuki Ryou karena telah menjadi kriminal sesungguhnya. Ternyata kau berbakat untuk memanipulasi pikiran anak-anak. Sungguh di luar dugaanku’


Menakjubkan sekali. Pujian lainnya untuk Ryou akhirnya dilontakan kembali oleh Kaito. Tidak butuh waktu lama sampai semua anak-anak itu mengangguk setuju dengan semua alasannya.


“Baiklah, kami mengerti. Kino-nii, kami akan datang lagi saja besok” kata Theo sambil menghampiri Kino


“Ka–kalian yakin? Besok akan datang lagi?” Kino bertanya dengan kondisi masih mencerna semua dialog Ryou barusan


“Tenang saja. Kami juga akan istirahat. Besok kami akan membawa banyak sekali makanan untukmu”


Kino melambaikan tangannya dan dibalas oleh anak-anak itu. Riz juga hanya menghampirinya untuk berpamitan.


“Bagaimana dengan senjata kalian?” tanya Riz sebelum keluar ruangan


“Kalau tidak keberatan, bisa dibawa dulu ke bar? Nanti akan kami ambil besok jika memang Kino sudah diperbolehkan pulang” ujar Ryou


“Baiklah. Akan kusampaikan pada paman Joel di bawah. Semoga cepat sembuh, Kino”


“Terima kasih banyak, Riz-san. Sampaikan salamku pada Joel-san dan Arkan-san”


Riz keluar bersama dengan anak-anak itu. Akhirnya, setelah satu setengah jam berlalu dan mereka bisa bertiga kembali. Ryou langsung duduk di tempat tidur pasien, tepat di samping Kino.


“Drama selesai. Mereka pergi dan kita bisa bernapas lega sekarang”


“Ryou…benar-benar mengatakan semua itu? Tentang aku yang terlihat seperti orang yang berumur dan…”


“Tentu saja itu hanya kebohongan, kakakku! Tidak bisakah kau menaikkan sedikit selera humormu itu?”


“Kau memiliki selera humor yang buruk, Ryou. Aku tidak menyangka bakat aktingmu itu bisa mengalahkanku saat menjual obat penawar kalian waktu di ‘dunia siang’. Lihat sekarang, siapa yang lebih berbakat menjadi kriminal?” Kaito menyindir Ryou dengan nada santai


“Sembarangan sekali kalau bicara?!” dan Ryou tidak terima dengan kalimat tersebut


Untuk sesaat, keadaan di ruangan itu kembali memanas. Namun secara tiba-tiba langsung berubah hening. Kaito duduk di kursi dan menghela napasnya sejenak.


“Sudah selesai dengan perdebatannya?” tanya Kino pada sang adik


“Aa, sudah. Rasanya lelah sekali”


“Terima kasih untuk semua hal yang kalian lakukan” ucap Kino kepada keduanya


“Bukan apa-apa. Aku dan Kaito hanya mencoba untuk tidak terlalu terbawa suasana”


“Tapi Ryou membentak Theo-kun dan yang lain. Itu artinya kamu sempat terbawa suasana”


“Aku orang yang paling tenang, Kino. Adikmu itu sangat jenius” Ryou mulai memuji dirinya sendiri


“Terserah apa kata orang yang merasa paling jenius saja” dan Kaito meladeninya


“……” Ryou mulai melihat Kaito dengan wajah anehnya


Kino berusaha untuk tersenyum. Tidak lama setelah itu, dia mulai melihat Kaito.


“Benar juga. Kino, obat yang kita bahas sebelumnya ada di–”


“Kaito-san…” Kino memotong pembicaraan Kaito


“Ada apa?”


“Saat tadi Kaito-san tidak sengaja bertabrakan dengan Theo-kun, apakah kamu melihat permata ingatanmu ada padanya?”


“……” Kaito terdiam


“Ryou sudah mengatakannya. Aku juga sudah merasa ada yang aneh. Theo-kun…memilikinya kan?”


Setelah beberapa detik tidak bicara, Kaito hanya mengangguk sekali dan memejamkan matanya.


“Kenapa tidak segera mengambilnya? Bukankah dengan menyentuhnya akan membuatmu mendapatkan kembali ingatan yang hilang itu?”


“Kalau aku melakukannya, kita akan langsung berpisah. Dengan keadaanmu yang seperti sekarang, aku tidak tau apakah kalian akan kembali ke tempat asal kalian atau justru terjebak lagi bersamaku. Selain itu…”


“Dia bilang kalau Theo dan yang lainnya itu bukanlah NPC melainkan orang yang benar-benar hidup di ‘dunia’ ini” Ryou melanjutkan ucapan Kaito yang terhenti di tengah-tengah


“Jadi itu yang membuatmu cemas, Kaito-san?”


“Semua ini saling terhubung, Kino. Kalian juga tau akan hal itu. Kepingan ingatan itu berada di tangan orang yang berhubungan langsung dengan wilayah asing itu. Dan aku…masih harus memikirkan cara yang lebih baik untuk bisa mendapatkannya tanpa menyakiti hati anak itu”


Kaito serius dengan ucapannya. Dia bahkan sempat memikirkan beberapa hal.


‘Kalau aku ingat kembali saat bertemu dengannya pertama kali di jalan sempit itu, aku sempat merasakan hal aneh. Bahkan ketika berada di dekatnya, aku masih merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Dia sendiri juga terlihat tidak begitu nyaman dekat denganku. Apakah karena permata itu menolakku? Atau mungkin ada faktor lainnya?’


Kino menatap Ryou. Mereka sama-sama tidak bisa mengatakan apapun. Bagaimanapun juga, sebelum hal ini terjadi, kedua kakak beradik itu telah mengeluarkan banyak sekali argumen. Siapa yang menyangka bahwa semuanya akan berubah secepat ini.


“Kaito, aku tidak tau apakah kau mau mendengarkan saranku ini atau tidak. Tapi jika memang tujuanmu adalah untuk mendapatkan ingatanmu kembali, maka kau harus melakukannya. Terlepas peduli anak bocah itu yang memilikinya atau tidak, kau harus mengambilnya kembali”


“Ini tidak akan semudah yang kau pikirkan”


“Dan ini tidak akan berakhir baik seperti yang kau harapkan!” Ryou sedikit meninggikan suaranya


“Ryou, tenanglah” sang kakak mencoba menenangkannya kembali


“Kau kira dengan memikirkan orang lain, kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan? Aku mungkin egois tapi ini adalah cara dunia bekerja! Itu juga berlaku untuk ‘dunia aneh’ ini sekarang!”


“……”


“Kepingan itu sudah tepat di depan matamu dan kau mau mengabaikannya? Untuk apa kau berjuang selama ini?”


“Aku hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk melakukannya. Tidak bisakah kau berhenti mengatakan semua itu seakan hal itu mudah dilakukan? Seandainya jika kau adalah aku, apa kau bisa melakukannya Ryou?” Kaito masih bersikap tenang menghadapi emosi Ryou


“Baiklah, anggap saja semua itu hanya kau yang bisa melakukannya. Lalu, apa kau punya rencana?” tanya Ryou dengan nada ketus


“Untuk sekarang, aku masih memikirkannya”


“Sampai kapan?”


“Sampai menemukan waktu yang tepat”


“Iya, tapi sampai kapan?”


“Aku masih memikirkannya”


Ryou terdiam. Dari mulutnya itu, mulai keluar kalimat yang mewakili emosinya sekarang.


“Aku tau kau bodoh, tapi tidak kusangka kau bisa sebodoh ini sampai-sampai terus mengeluarkan alasan yang berputar-putar”


******