Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 294. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir: Area Level B bag. 2



Emily terlihat sangat percaya diri. Dia seperti begitu yakin bahwa mereka semua akan takut padanya.


"Hmm? Kenapa diam? Emily sudah bilang kalau ujiannya sudah dimulai. Kalian boleh masuk ke arena ini dan melawan Emily"


Semua orang tampak semakin bingung. Kino memberanikan diri untuk mengangkat tangannya.


"Emily-san, jumlah peserta yang masuk, aturan lainnya dan cara untuk dinyatakan lulus...Emily-san belum menjelaskan hal tersebut"


"Kyaaa~Emily malu!"


"Hmm?" Kino jadi semakin bingung dengan tingkah anak itu


"Emily terlalu senang jadi tidak fokus. Maafkan Emily"


Tampaknya Emily tidak jauh berbeda dengan Xenon.


"Ehem, maafkan Emily. Untuk peserta yang dapat masuk ke arena tidak dibatasi. Namun semua senjata ditinggal di luar arena"


"Pengawas ujian yang akan menjaga senjata kalian tanpa menyentuhnya. Cukup tinggalkan saja di luar"


"Yang ketauan membawa senjata ke dalam. arena akan otomatis didiskualifikasi"


"Sebelum masuk, pengawas akan memeriksa setiap bagian yang menempel di tubuh kalian dengan sihir"


"Tidak ada kriteria khusus dalam ujian masuk ini. Yang bisa bertarung dengan seluruh kemampuannya akan Emily nyatakan lulus"


"Selain itu, karena ini adalah [Area Level B] jadi menyerang dengan fisik akan dianggap pelanggaran"


"Hal itu dikarenakan serangan fisik di [Area Level A] terhitung sebagai penggunaan senjata" Emily menambahkan


"Jadi hanya boleh serangan dengan sihir tanpa kontak fisik satu sama lain?" tanya salah seorang peserta


"Yang jelas tidak boleh pakai pukulan atau tendangan karena akan langsung masuk penilaian pengawas. Mereka yang putuskan kalian melakukan pelanggaran atau tidak"


Emily mendekati Kino dan tersenyum ramah, "Kamu mengerti penjelasan Emily kan?"


"Oh...haaa..." melihat tingkahnya, Kino hanya bisa merespon seadanya


"Sampai di sini ada pertanyaan lain?" tanya Emily kembali pada peserta lainnya


Penjelasan Emily cukup mudah dipahami. Kino mengangguk tanda dia mengerti.


Pria dengan tombak itu bergumam, "Aku harus meninggalkan ini bersama mereka? Yang benar saja"


Wajah kesalnya dapat terlihat dengan jelas.


'Aku benci masuk ujian yang terfokus pada sihir, tapi sejak ini adalah kesempatan untuk masuk dan menyelidiki secara resmi isi di dalamnya, aku harus lulus'


'Selain itu, perintah tuan kami adalah melenyapkan bocah itu juga. Dia adalah Xelhanien, jadi seandainya dia mati di sini maka itu akan jadi kesalahannya'


'Jika aku tidak sengaja membunuhnya, mereka akan berpikir bahwa itu adalah kesalahan fatal dari Dewan Sihir karena menyuruh anak kecil untuk jadi penguji'


'Tampaknya tidak buruk. Ini kesempatan emas!'


Sosok tersebut menatap tajam Emily. Namun tidak disangka, dia mendapati mata Emily juga menatap tajam ke arahnya dari depan.


'Dia...melihatku?!' katanya dalam hati


Emily hanya tersenyum. Remaja dengan tombak itu seketika berkeringat dan sedikit curiga.


'Apa ini? Kenapa dia melihatku? Waktunya terlalu tepat. Ini seperti dia mengetahui apa yang aku pikirkan!'


Hanya pikiran dan prasangka itu yang muncul di dalam kepalanya.


Tetapi semua itu tidak sepenuhnya salah. Emily dengan wajah santainya memanggil remaja dengan tombak terbungkus itu.


"Kamu yang melihat Emily, kita bisa mulai dari kamu dulu. Ayo masuk ke arena dan bertarunglah dengan Emily"


"Apa?" dia terkejut


Kino tampak penasaran dan melihat ke arah orang itu.


'Bukankah itu orang yang sebelumnya ditunjuk Kaito-san? Jadi aku dan dia satu ruangan ya. Aku pikir dia mungkin akan satu ruangan dengan Kaito-san' pikir Kino dalam hati


Remaja itu maju ke depan dan berdiri di jarak yang cukup jauh dengan Emily. Dia melihat Emily dengan wajah kaku.


"Penguji, Anda yakin meminta peserta sepertiku untuk menemanimu?"


"Kenapa tidak. Emily yakin dengan kemampuan Emily. Selain itu...jika memang memiliki niat lain pada Emily, seharusnya katakan sejak awal"


-Deg


Remaja itu tampak begitu terkejut. Selain itu, wajah Emily yang menunjukkan sikap tenang dengan senyum manis seperti telah membaca semuanya.


Remaja itu mencoba tenang dan mengepalkan tangannya agar tidak terlihat seperti merencanakan pembunuhan.


"Penguji bisa saja. Aku memang memiliki niat lain yaitu lulus dan masuk ke tempat ini"


"Baguslah. Kalau begitu, kita wujudkan niat itu sekarang. Oh iya, jangan bawa senjatamu ya"


"Baik"


Remaja itu mengantarkan tombaknya ke hadapan pengawas ujian laki-laki bernama Davey.


Davey berkata padanya, "Diam dulu di sana"


[Senri Eye]


Kemampuan mata yang disalurkan sihir untuk melihat aura dan hal lainnya.


"Tolong pisau di saku celanamu, dagger di balik pakaianmu dan benda kecil di saku luar itu. Keluarkan semuanya"


Mau tidak mau dia mengeluarkannya.


Kino yang melihat itu cukup terkesan. 'Tampaknya pengawas ujian itu menggunakan sihir mata yang sama dengan yang Xenon-san gunakan' pikir Kino dalam hati


Semua senjata dan benda asing yang dianggap mencurigakan akhirnya dikeluarkan.


"Baiklah, kita akan mulai. Hanya sihir yang boleh digunakan" jelas Emily pada lawannya


"Sihir apapun boleh? Senjata yang dibuat dari sihir bagaimana?"


"Intinya sihir" Emily mempertegas


"Jadi"


"Senjata yang dibuat dari sihir akan dianggap sebagai sihir juga. Selama bukan dari material benda biasa yang dialiri sihir, semua yang tercipta dari sihir akan dinilai sebagai sihir"


"Hmn, mengerti. Aku yakin peserta lain juga sudah mengetahuinya"


Senyum senang dari wajah peserta itu terlihat.


'Kalau begini, tidak perlu gegabah. Selama bisa lulus, membunuhnya sekarang atau nanti tidak akan ada bedanya' pikirnya dalam hati


Petarungan dimulai.


Remaja itu langsung berlari ke arah Emily dan mencoba mengeluarkan sihirnya.


[Fire Explosion]


Sebuah ledakan besar terjadi. Itu adalah ledakan api yang tercipta akibat sihirnya. Namun, tidak sampai di situ.


Remaja itu mengeluarkan sihir lainnya.


[Wind Art: Hummingbird Claw]


Sebuah bayangan sihir besar dengan angin yang kuat mulai terbang ke arah Emily bagaikan pedang angin.


Seperti cakaran, remaja itu menyerang Emily tanpa celah bertubi-tubi. Tidak ada serangan yang sia-sia.


Kino yang melihat itu begitu kaget dan syok. Matanya tidak bisa mengikuti gerakan cepat remaja itu.


'Apa ini?! Ini sudah berbeda level! Emily-san akan mati!'


Remaja itu tidak memberikan sedikit celah pada Emily.


Serangan sihirnya masih dilanjutkan. Api, angin, api, angin, terus bergantian.


'Aku sengaja menyerang dengan membabi-buta agar dia tidak bisa membalasku. Aku tau itu mungkin tidak akan berpengaruh, tapi aku juga tidak ingin terlalu serius'


'Lagipula, ini baru pemanasan! Aku ingin tau sihir dari Kapten Divisi Penyerang'


Remaja itu sangat percaya diri. Niat awalnya untuk membunuh Emily sementara ditahannya.


Tapi, tampaknya dia harus mengakhiri semua serangan itu secara terpaksa.


[Magic Jammer]


Seluruh serangan sihirnya hilang begitu saja. Para peserta lain terkejut. Kino bahkan melihat hal yang tidak asing untuknya.


"Sihir yang sama dengan Xenon-san?!"


Remaja itu terlihat tidak terlalu kaget. Tapi, saat asap yang menutupi menghilang, dia melihat sosok Emily yang masih berdiri tanpa tergores sedikitpun.


"Dia gila" gumamnya pelan


Peserta lain bagaikan melihat hal yang mustahil.


"Jangan bercanda. Dia itu bukan anak kecil biasa ya?"


"Tidak mungkin?!"


Semua berpikir seperti itu. Tapi Kino masih melihat jalannya pertarungan.


Emily yang berada di dalam arena tampak seperti sedang membersihkan seragamnya.


"Kamu sangat terburu-buru, tapi Emily suka. Kalau Emily bilang kamu lulus sekarang, apa kamu mau berhenti menyerang Emily?"


"Tentu saja belum puas. Aku belum melihat penguji mengeluarkan–"


-BAAAANG


Sebuah benda besar seperti palu besar hampir mengenai dan melukai remaja itu. Arena menjadi berlubang dalam satu serangan.


Palu itu kembali ke pemiliknya yang masih belum begitu terlihat akibat sisa asap yang mengelilingi Emily.


Remaja itu berhasil melompat menghindar, namun belum ada sekian detik, sesosok bayangan sudah ada di depannya.


"Ap–"


-BAAAAANG


Senjata besar itu lagi-lagi mencoba menyerangnya.


Dia melompat ke sudut dan memperhatikan gadis kecil itu baik-baik.


"Dia gila. Dia benar-benar mau membunuhku"


Di depan remaja itu saat ini, dia tidak sedang berhadapan dengan Emily, melainkan dengan sesosok makhluk besar aneh yang tidak terduga.


"Hah?!" semua peserta di luar begitu terkejut


Kino bahkan tercengang sampai matanya terbelalak.


Remaja itu tersenyum dengan ekspresi khawatir.


"Ini bukan ujian namanya. Jika memanggil makhluk itu, ini namanya pembantaian"


"Selamat menghadapi peliharaan imut milik Emily, half-elf"


******