Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 29. Jam Saku yang Hilang bag. 3



Kaito berjalan lagi menuju kawasan perumahan tempat dia menginap pagi ini. Ada yang berbeda dengan kawasan tersebut. Saat pertama kali mereka ke sana pagi ini, tempat itu tidak begitu ramai, hanya berisikan anak-anak dan wanita. Pria di tempat itu sepertinya mulai melakukan aktivitas atau bekerja jadi, hanya sedikit yang terlihat. Tapi, saat ini Kaito melihat pemandangan yang berbeda. Banyak sekali orang-orang yang lalu-lalang, berdagang atau melakukan pertunjukan musik jalanan.


‘Keadaannya berbeda dari tadi pagi. Apakah ini juga karena pengaruh perulangan?’


Kaito tentu mempertanyakan hal tersebut. Tempat itu memang begitu hidup seperti jalan besar dan jalan utama di kota. Memang tidak begitu banyak kios atau toko di kawasan perumahan penduduk tersebut tapi tentu ada satu atau dua toko yang dilaluinya, termasuk toko pakaian yang didatanginya pagi ini.


Kaito berhenti sebentar dan melihat keadaan toko dari kejauhan. Jendela tempat itu terbuat dari kaca jadi bisa dilihat oleh orang-orang yang melewatinya.


“Sama seperti pagi ini, tempat ini juga sangat ramai”


Kaito berjalan kembali sambil terlihat memikirkan sesuatu yang rumit. Pikiran Kaito masih diliputi rasa penasaran dengan situasi perubahan ini. Tidak berada di ‘dunia malam’ dan justru mengalami perulangan yang masih menjadi misteri. Ditambah lagi masalah baru yang serius seperti sekarang ini.


‘Mungkinkah ini semua permainan dari ‘dunia siang’? Atau ini adalah takdir lain agar aku bisa menemukan kepingan ingatanku?. Rasanya terlalu tiba-tiba dan waktunya terlalu tepat. Kino yang kehilangan jam saku miliknya di saat kami baru saja tiba di tempat ini, ditambah lagi tidak ada petunjuk apapun yang tertinggal’


Ini mungkin akan menjadi masalah paling sulit yang pernah dihadapi Kaito. Tapi, dia masih merasa begitu berhutang pada kedua kakak beradik itu. Karena itu, keinginannya untuk membantu mereka tidak akan berubah.


Setelah cukup dalam berkeliling kawasan perumahan itu, Kaito melihat sebuah tangga menurun pada belokan ke kanan, tidak jauh dari jalanan lebar di kawasan perumahan tersebut. Anak tangga tersebut cukup banyak dan saat menuruninya, jalan tersebut seperti mengarah pada sebuah jalanan lain.


Pada jangkauan pandangan Kaito, dia bisa melihat ada bangunan rumah di sisi kanan dan kiri di sepanjang anak tangga. Ini cukup membuat Kaito terkejut sekarang, terlalu terlihat terkejut sampai dia tidak bisa berhenti menatap tangga itu dengan mata lebar dan kening yang berkeringat.


“Sejak kapan ada jalan lain di kota ini?!”


******


Ryou berlari untuk mencari keberadaan Kino. Dia benar-benar telah melupakan masalah serius yang terjadi karena jam saku mereka hilang. Saat ini, prioritasnya benar-benar hanya mencari sang kakak.


‘Aku tidak tau kemana dia mencari jam sakunya, tapi satu atau dua tempat yang mungkin saja dia kunjungi rasanya aku bisa tau. Aku akan mencoba mencarinya dari tempat yang paling mencolok di kota ini. Kino tidak mungkin mencari ke tempat yang asing terlebih dahulu. Aku yakin pertama dia akan pergi ke tempat yang tidak asing untuknya’


Pemikiran yang kompleks. Dia benar-benar tau kebiasan kakaknya itu. Ryou segera berlari menuju jalan yang hari ini telah dia lalui sebanyak dua kali. Jalan itu adalah jalan menuju altar. Sungguh tebakan yang tidak begitu buruk. Setelah beberapa menit berlari, Ryou berjalan perlahan-lahan untuk sedikit mengatur napasnya. Akhirnya, dia sampai di kolam air mancur yang tepat berada di dekat altar.


“Tempat ini harusnya titik kumpul kami nanti, tapi karena aku juga melewati air mancur ini untuk sampai ke altar, kurasa aku akan sekalian saja mencari di sekitar sini”


Ryou berkeliling kolam tersebut. Dia mengelilingi semua sisi kolam, melihat ke dalam dasar air pada kolam tersebut dan menatap patung malaikat kecil pada bagian tengah kolam. Setelah mondar-mandir di tempat itu untuk beberapa menit, Ryou akhirnya menghela napas dengan penuh kekecewaan dan rasa kesal.


“Cih, benar-benar tidak ada apapun! Kupikir aku bisa mendapatkan petunjuk keberadaan permata Kaito. Kalau begini nasib kami semua sama sialnya. Sekarang bukan hanya harus menemukan permata ingatan Kaito, tapi juga jam saku milik kami. Ternyata ‘kedua dunia’ ini sama menyusahkannya”


Ryou menggerutu dengan pose tolak pinggangnya. Setelah diam sesaat, ternyata gerutuan itu masih ada kelanjutannya.


“Kupikir dengan hilangnya ‘dunia malam’ akan memberikan sedikit nasib baik. Aku sudah muak dengan makhluk fantasi dalam game di sana dan bersyukur sekali tidak harus melihat kambing sialan itu meskipun aku ingin sekali memotong kepalanya dan memakan dagingnya sebagai bentuk balas dendam. Ah, sudahlah! Marah-marah tidak jelas hanya membuang-buang energiku saja! Selain itu juga tidak akan menyelesaikan masalahku. Lebih baik aku cari ke dalam altar itu”


Akhirnya Ryou menyadari ocehannya itu telah membuang paling sedikit seperempat dari energinya. Yang harus dipuji darinya sekarang adalah dia masih menyempatkan waktu untuk mencari petunjuk kepingan ingatan Kaito di saat dia masih harus menemukan keberadaan sang kakak.


Saat dia menaiki tangga untuk pergi ke atas bangunan tersebut, dia mendengar ada orang-orang yang lewat sambil marah-marah. Dia memang tidak begitu peduli dengan masalah yang menimpah mereka, tapi ada yang menjadi perhatiannya sampai membuatnya berhenti sejenak di tempat.


“Aku tidak percaya mereka masih belum tau penyebab kehilangan yang sering terjadi akhir-akhir ini!!”


“Kudengar beberapa orang yang datang ke altar itu sering sekali kehilangan benda berharganya selama seminggu ini”


“Jika pergi ke altar, kurasa sebaiknya tidak perlu membawa uang untuk sumbangan lagi. Aku takut justru dicuri”


“Ada yang mengatakan pencurinya itu berbaur dengan para jamaah di tempat itu”


“Aku tidak percaya mereka masih belum menemukan gelang permataku!! Aku akan menuntut mereka semua kalau terus begini!”


Ryou melihat orang-orang itu melewatinya sambil melakukan percakapan seperti itu. Dia menengok ke belakang sebentar dan akhirnya mencoba menghampiri salah satu pasangan suami istri yang sempat marah-marah akibat kehilangan gelang permatanya.


“Permisi. Paman, bibi, boleh aku bertanya sesuatu?”


“Ya? Ada perlu apa?” ucap sang suami dari pasangan tersebut


“Aku tidak sengaja mendengar paman dan bibi bicara tentang gelang permata yang hilang. Apakah aku boleh tau lebih detail tentang itu?”


“Siapa kau? Beraninya ingin tau urusan kami?”


Sang suami merasa sedikit terusik dan menunjukkan sikap tidak sukanya pada pertanyaan Ryou. Tentu saja Ryou menahan emosinya dan mencoba bersikap seperti anak polos yang lugu.


“Ah, maafkan aku. Sebelumnya aku turut prihatin atas kehilangan yang kalian berdua alami. Sebenarnya pagi ini saat aku berdoa, aku juga kehilangan barangku di altar. Kupikir aku menjatuhkannya jadi aku bermaksud untuk mencarinya lagi. Tapi, mendengar obrolan kalian berdua aku jadi sedikit khawatir kalau benda itu hilang dicuri”


“Oh, ya ampun. Maafkan aku anak muda. Kupikir karena ada sesuatu. Aku turut prihatin atas masalahmu juga” sang suami akhirnya bersikap sedikit baik padanya


“Kalau boleh, apakah kalian berdua bersedia menjelaskan detailnya?”


“Yah, sebenarnya bukan pertama kali istriku kehilangann gelang permata kesayangannya. Ini sudah yang ketiga kalinya”


“Eh? Sebanyak itu? Kenapa bisa?”


Ryou cukup kaget mendengarnya. Dia bahkan bicara dalam hatinya.


‘Kehilangan gelang permata tiga kali?! Sekaya apa pasangan ini sebenarnya?! Tapi, itu terlalu sering jika hanya disebut kehilangan biasa. Yang paling masuk akal adalah pasangan ini menjadi korban pencurian’


Sang istri pun menjawab pertanyaan darinya.


“Aku tidak tau. Kau yang berdoa di sini pasti menyadarinya, bukan? Tidak semua orang yang datang ke tempat ini untuk berdoa. Ada yang ingin menikmati suasana arsitekturnya yang sangat memukau dan ada juga yang sekedar ingin jalan-jalan menikmati daya tarik tempat itu. Aku dan suamiku salah satunya. Tapi, dalam seminggu terakhir aku selalu kehilangan gelangku. Saat ditanya ke petugas penjaga mereka bahkan tidak menerima laporan kehilangan sama sekali”


Ryou mulai mengajukan pertanyaan yang bersifat sedikit menyerang untuk melihat reaksi mereka.


“Kalian berdua tidak mencurigai petugas altar yang mengambilnya? Bagaimanapun juga gelang permata itu adalah benda yang bernilai. Bisa saja mereka yang mengambilnya untuk kebutuhan dana sumbangan atau lainnya”


“Itu tidak mungkin. Semua petugas altar ini adalah yang paling jujur. Penduduk kota ini juga mengetahui hal itu dan tentu saja itu bukan hanya sebuah rumor atau isapan jempol. Kami juga pernah membuktikannya saat aku kehilangan kalung berlianku. Mereka menemukannya dan mengembalikannya padaku”


Sang istri menjawab dengan sangat yakin dan menujukkan kalung berlian di lehernya sebagai bukti pada Ryou. Tapi, itu tetap bukan jawaban yang bisa menghentikan kecurigaan Ryou yang lain.


“Tapi bukankah kalian sendiri yang bilang sudah tiga kali kehilangan gelang permata dalam satu minggu terakhir?”


“Itu benar. Bukan hanya istriku. Beberapa orang akhir-akhir ini juga mengalaminya dan tentu saja itu membuat kami kesal”


“Berarti saat kalian kehilangan kalung berlian, belum ada kasus kehilangan seperti ini?”


“Benar. Baru terjadi seminggu terakhir ini namun sudah banyak yang kehilangan benda-bendanya. Bicara soal itu, kau bilang kau kehilangan benda berhargamu juga. Benda apa itu?” sang suami balik bertanya pada Ryou


“Benda milikku yang hilang adalah jam saku antik berwarna keemasan dengan gaya vintage”


“Hoo, jam antik ya. Itu memang kelihatnnya memiliki nilai pasar yang berharga tinggi. Semoga saja kau menemukannya”


“Terima kasih banyak untuk informasinya”


Ryou berpisah dengan kedua pasangan suami istri tersebut dengan membawa sedikit informasi.


“Informasi dari NPC ya. Entah kenapa aku merasa info tersebut cukup bisa kujadikan sebagai petunjuk. Sekarang, tinggal melihat kenyataan di lapangan. Jika memang jam sakunya tidak ada di altar itu berarti apa yang dikatakan NPC itu bisa dijadikan pertimbangan kebenarannya”


Ryou mulai berlari menaiki anak tangga dan sampai di pintu besar yang masih terbuka. Dia memperhatikan di sekitar pintu itu. Dia ingat tadi pagi masih ada anak-anak yang berkerumun di depan pintu masuknya dan meminta sumbangan pada orang-orang yang lewat, tapi sekarang sudah tidak ada. Padahal masih banyak jamaah dan pengunjung yang datang ke tempat itu.


“……”


Ryou hanya memperhatikan sambil menatap ke tempat mereka berdiri pagi ini tanpa ekspresi. Setelah itu, dia langsung masuk ke dalam dan menghampiri petugas pengurus altar.


“Tidak ada? Benar-benar tidak ada?”


Sebenarnya, Ryou sudah menduga hal itu jadi dia tidak banyak berharap. Tapi, melihat petugas tersebut terlihat begitu lelah, dia jadi merasa sedikit kasihan padanya. Ryou memainkan peran anak lugunya sekali lagi.


“Sepertinya paman terlihat begitu lelah. Apa ada masalah?”


“Begitulah. Sudah seminggu ini kami menerima keluhan dari banyak orang tentang kasus kehilangan yang terjadi di altar akhir-akhir ini”


“Begitu. Kalau boleh tau, apakah ada yang berubah sebelum ada kasus ini dan sesudah kasus kehilangan terjadi? Apa saja boleh, misalnya jumlah pengunjung dan jamaah yang bertambah atau berkurang mendadak, ornamen altar yang berubah atau lainnya?”


“Hmm…sepertinya hanya ada sejumlah anak-anak yang meminta sumbangan bagi panti asuhan mereka”


“Anak-anak?” Ryou menengok dan menunjuk ke arah pintu masuk “apa sekumpulan anak-anak yang berdiri di sana yang dimaksud?”


“Benar. Mereka hanya di sini pada pagi hari. Setelah diatas jam delapan atau sembilan biasanya mereka kembali pulang. Mungkin sumbangan mereka telah terkumpul atau mencari tempat lain untuk meminta sumbangan”


“Apakah altar tidak menyisihkan hasil sumbangan jamaah kepada panti asuhan?”


“Kami melakukannya. Hanya saja sejujurnya kami baru pertama kali melihat anak-anak itu. Kami sempat bertanya dari panti asuhan mana mereka berasal tapi mereka tidak menjawab. Hanya memohon agar bisa meminta sumbangan di sini”


“Begitu”


Ryou berpikir kemungkinan mustahil lainnya.


‘Haruskah aku menganggap hal ini serius dan berhubungan dengan kasus kehilangan yang kami hadapi sekarang?’


Ryou tidak mau berlama-lama di tempat itu. Jelas informasi dari pasangan suami istri itu bisa dijadikan sedikit petunjuk, walaupun mungkin saja jam saku miliknya itu tidak ada hubungannya dengan kasus di altar.


“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak paman”


Sebelum Ryou berbalik dan pergi, petugas tersebut memanggilnya sebentar.


“Sebenarnya sebelum ini ada anak muda lainnya yang menanyakan jam saku yang sama dengan anda. Apakah mungkin itu teman anda?”


“Apa?! Benarkah itu?”


Ryou berpikir itu mungkin kakaknya. Dia bertanya kemana remaja itu pergi dan dia langsung berlari saat petugas memberitaunya.


“Pemuda itu langsung pergi setelah saya menjawab akan memberitaunya jika menemukan benda yang dicarinya besok”


Ryou terlihat begitu bergegas meninggalkan tempat itu dan pergi mencari Kino. Dia tidak bisa berhenti berdoa semoga kakaknya bisa ditemukan.


‘Ayolah kakakku! Jangan membuat adikmu yang paling keren ini mencarimu sampai ke semua pelosok kota. Semoga dia masih belum jauh’


******


Matahari sudah berada di titik terpanas di hari itu. Semakin terik, semakin menandakan bahwa waktu sudah semakin siang. Theo dan anak-anak lain bermaksud pergi kembali ke jalan utama di kota setelah menghabiskan roti mereka. Wajah anak-anak itu tidak terlihat bersemangat karena hanya memakan roti setelah tiga hari tidak makan dan minum. Stelani memanggil Theo yang berjalan paling depan.


“Theo, bisa kita pulang saja hari ini dan istirahat? Aku merasa sebagian dari kita mulai pucat karena menahan lapar” Stelani bicara pada Theo


Theo melirik ke belakangnya. Stelani benar, mereka terlihat begitu pucat. Bahkan sandiwara memakan roti dengan bahagia itu hanya bisa menghibur mereka sesaat.


Mereka hanyalah anak-anak yang menggantungkan hidup mereka pada pembelian Justin. Bahkan setelah semua yang mereka dapatkan dari hasil meminta sumbangan dan mencuri, mereka hanya diberikan sepotong roti untuk tiap anak dengan kondisi kotor. Tentu saja itu ironis sekali. Theo juga tidak bisa memaksa mereka untuk mencari uang di kota dengan kondisi seperti ini.


“Aku mengerti. Stelani, kau antar Fabil dan yang lain kembali pulang”


Theo berbalik dan berjalan lagi. Stelani menghampiri Theo dengan wajah panik.


“Kau sendiri mau kemana, Theo?! Kalau kau mau mencuri lagi di altar aku akan melarangmu!. Sudah satu minggu kau melakukannya di sana. Akan sangat berbahaya jika kau melakukannya terlalu sering. Jika sampai ketauan, bukan hanya kita akan diusir dari sana saat meminta sumbangan, tapi Justin-sama juga akan menyakiti kita lagi seperti yang dia lakukan padamu tadi!”


Bukan hanya Stelani, anak-anak yang lain juga berusaha menghentikan Theo. Tapi, dia hanya tersenyum dan berkata semua akan baik-baik saja.


“Aku tidak akan melakukannya. Jangan khawatir. Aku juga berpikir bahwa akan sangat berbahaya jika terus mencuri di tempat yang sama. Yang pasti hari ini aku akan membawakan banyak uang agar Justin mau memberi kita makan malam hari ini”


“Tapi–”


“Lebih baik kalian kembali. Aku yang akan mengurusnya”


Theo dengan percaya diri tersenyum dan meminta Stelani mengantar mereka kembali pulang. Tentu saja itu tidak akan sepenuhnya berakhir baik dan mereka semua tau itu. Tapi, keadaan anak-anak itu semakin pucat dan jika lebih lama dari itu mereka pasti akan mati.


Akhirnya, Theo memutuskan untuk berjalan lagi sendirian menuju jalanan besar di kota. Stelani dan yang lainnya hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Theo.


“Kau pikir ini tidak apa-apa, Stelani?” Fabil bertanya sambil menggendong salah satu anak kecil yang sudah pucat


“Aku tidak bisa menghentikan Theo. Kita semua tau seberapa keras dia berjuang untuk kita semua. Bahkan, di saat tidak ada yang bisa melawan Justin-sama…hanya Theo yang bisa membuat Justin-sama memberika kita makan. Itu bukanlah pertama kalinya Theo membahayakan dirinya untuk kita dengan cara menentang Justin-sama”


“Kau tau apa? Aku berpikir Theo itu hebat. Meskipun kita dalam keadaan susah seperti ini, dia masih bisa tersenyum dan membuat kita semua tidak bisa berhenti mengkhawatirkannya. Ahahaha” Fabil sedikit meledek dan tertawa karena candaan yang dibuatnya sendiri


Tapi, setelah itu keadaan tidak menjadi lebih baik. Mereka hanya takut jika terus seperti ini, bukan hanya Theo yang akan dalam bahaya, tapi mereka semua juga pasti akan terkena masalah.


“Nee, Fabil…bagaimana caranya agar kita bisa bebas dari Justin-sama”


Stelani mengatakan hal yang cukup mengejutkan semua anak-anak itu. Fabil yang sedang menggendong anak kecil juga langsung terdiam dan terkejut.


“Stelani-neechan apa yang kau katakan tadi?” ucap seorang anak kecil


“S–Stelani, oi!! Jaga ucapanmu itu!” Fabil langsung menjadi panik


Stelani sadar apa yang telah dia katakan dan dia menjadi panik. Dia minta maaf karena mengatakan itu tanpa sadar. Tentu saja semua tidak akan berakhir baik jika sampai ketauan oleh anak buah Justin mengingat daerah sepi dan tak terjamah orang-orang itu adalah wilayah kekuasaannya. Mereka memutuskan untuk tidak membahas apapun dan berjalan sedikit lebih cepat untuk sampai ke tempat yang disebut dengan ‘rumah’ oleh mereka.


Sementara itu, Theo yang berjalan sendirian terus memegang dadanya seakan sedang menggenggam sesuatu. Dia terus mengucapkan kata-kata yang sama berulang-ulang dengan sorot mata tajam.


“Aku akan membalasmu. Aku akan membalasmu. Aku akan membalasmu. Aku akan membalasmu. Aku…tidak akan pernah memaafkanmu!”


******


Kino sudah sangat lelah mencari jam saku miliknya di semua jalan dan tempat yang telah dia lalui. Bahkan dia sudah pergi ke altar dan sempat mencari ke kolam air mancur saat berjalan keluar dari bangunan itu. Sekarang dia sedang berada di depan toko roti yang tadi pagi mereka kunjungi. Setidaknya dia mengingat hal itu meskipun sang pemilik toko tidak mengingatnya. Kino melihat keadaan toko roti itu.


“Kurasa aku harus makan sesuatu. Kaito-san sudah membagi uang hasil penjualan penawar itu padaku dan Ryou untuk berjaga-jaga jika kami membutuhkannya. Meskipun aku tidak berpikir ini waktu yang tepat untuk makan” Kino menjadi sedikit murung lagi


Saat dia ingin mengambil uang dari sakunya, dia menjadi ragu untuk sesaat. Dia mulai berpikir tentang apa yang didengarnya di altar beberapa waktu lalu.


[Aku sudah kehilangan berlian kesayanganku hari ini. Tempo hari aku juga kehilangan dompetku!]


[Ini sudah ketiga kalinya aku kehilangan emas dan permataku!]


[Istriku kehilangan kalung permatanya hari ini!]


Dia mulai berpikir tentang kasus kehilangan di altar. Pada awalnya dia tidak mau memikirkan hal itu, tapi ketika mengambil uang di sakunya dia mulai bertanya-tanya.


‘Apakah memang jam sakunya dicuri? Jika itu benar, kenapa pencurinya justru mengambil jam saku yang terlihat tua dan penuh goresan? Kenapa bukan uang yang ada di saku celanaku yang lain? Apakah memang itu adalah kesalahanku yang sebegitu cerobohnya sampai-sampai menjatuhkan benda penting itu? Aku benar-benar sudah tidak tau lagi kemana aku harus mencarinya’


Kino mulai kembali terlihat murung dan menyalahkan dirinya sendiri. Dia memasukkan kembali uangnya dan mengurungkan niatnya untuk masuk ke toko roti itu. Nafsu makannya menghilang seketika dan yang kembali muncul adalah perasaan bersalahnya. Matanya mulai berkaca-kaca karena menahan air mata. Di saat dia berbalik, dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundaknya.


******