Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 202. Event yang Masih Berlanjut



Di kejauhan, Kaito dan kedua kakak beradik itu berdiri di belakang sebuah pohon. Saat mereka melihat ke arah pintu gerbang yang sudah ada di depan mata mereka, sesuatu membuat mereka cukup terkejut.


“Kenapa bisa begini?!”


Satu kalimat pendek yang mewakili wajah mereka yang tampak tidak percaya.


“Ini gila! Bukankah semua zombie di seluruh gedung di wilayah ini pergi ke arah yang sama?”


“Kenapa? Kenapa masih sangat banyak zombie di depan pintu gerbang itu? Apa yang terjadi?”


Kalimat dari kedua kakak beradik itu menunjukkan betapa syoknya mereka. Lebih mengejutkan lagi, jumlahnya sudah jauh lebih banyak dari sebelumnya.


Ryou membuka kembali video yang dilihatnya saat pertama kali terjebak dalam situasi berbahaya itu di ponsel Seo Garam. Dengan mematikan seluruh suaranya, dia memperlihatkannya pada Kino dan Kaito.


“Psst, kalian lihat ini” bisiknya


Kedua orang itu melihatnya dengan seksama. Sambil melihat isi video, mereka juga melihat zombie-zombie yang berdiri di depan pintu gerbang.


“Sebagian ada yang tidak ada di video ini” kata Kino pelan


“Tapi, aku ingin tau…dari mana sisanya datang dan kenapa mereka tidak ikut bersama dengan kawanan yang sebelumnya?”


“Aku tidak yakin, tapi coba kau perhatikan lebih detail mengenai dua baris di depan itu Kaito. Apa kau melihat sesuatu?”


“Sesuatu? Dua barisan di depan?” Kaito menengok ke arah pintu gerbang


Kino yang cukup penasaran dengan ucapan Ryou juga ikut melihat ke barisan zombie di depan. Ada sesuatu yang cukup mencolok dari dua baris zombie di posisi paling depan.


“Itu…itu seperti seragam…seragam petugas?!” Kino terkejut


“Petugas? Petugas apa yang kau maksud?”


“Aku tidak yakin. Tapi itu seperti petugas cleaning service atau tukang kebun. Juga ada petugas penjaga pintu gerbang serta tukang parkir. Itu semua staff di sini” jelas Kino


“Staff?”


“Benar, Kaito-san. Dua baris di depan itu semuanya adalah staff di wilayah universitas ini. Aku yakin di antara mereka juga ada dosen dan sejenisnya. Lalu, di barisan belakangnya itu adalah zombie yang kita lihat dalam video. Tampaknya ada alasan khusus kenapa bisa begini”


Kino mulai berpikir kemungkinan apa yang bisa disimpulkan dari semua ini.


‘Ini cukup aneh. Jika dilihat dari video sebelumnya, semua zombie-zombie di belakang para zombie staff itu adalah yang muncul sebelum acara event di jam 08.00 pagi. Kemudian, yang jadi pertanyaannya sekarang adalah kenapa ada zombie para staff yang ikut mengepung area tersebut? Dan…kenapa ‘hanya’ zombie para staff yang berdiri di dua baris paling depan? Apakah ada maksud tertentu dari semua ini?’


Masih menjadi misteri yang sulit dipahami. Tapi hanya satu hal yang diketahui oleh Kino.


“Ryou, Kaito-san…sepertinya masih ada hal yang tersembunyi di balik semua ini. Aku yakin, ada alasan khusus kenapa zombie para staff dan zombie yang muncul di video pertama itu saja yang masih menjaga pintu gerbang”


“Kau benar, Kino. Aku tidak yakin tapi…mungkin saja di gerbang satunya lagi juga akan seperti ini” tebak Ryou


“Lalu bagaimana sekarang? Mencoba menerobos ke sana untuk memastikan jawabannya juga mustahil. Jumlahnya terlalu banyak. Bahkan dengan pedang dan kemampuan bertarungku sekalipun, kalau harus melawan yang sebanyak itu rasanya seperti bunuh diri”


“Kaito-san benar. Kekuatan dan tenaga kita juga terbatas. Jika sampai salah langkah, kita akan berakhir”


Ketiganya diam sejenak dan mulai berpikir.


“Tampaknya memang harus ke tempat dimana zombie-zombie lain itu pergi” pikir Ryou


“Sepertinya memang satu-satunya jalan adalah menemukan Song Haneul dan mendapatkan permata ingatanku kembali”


Mereka memutuskan untuk pergi dari tempat itu sebelum diketahui oleh sekawanan zombie-zombie itu.


Ketiganya berlari melewati jalan yang sebelumnya. Terlihat begitu sepi seperti tanpa penghuni, ketiganya bisa berlari tanpa perlu dikejar oleh para zombie. Tentu saja ada mayat yang terkapar di beberapa titik jalan.


Ryou memutuskan untuk berhenti sejenak dan melihat ponsel Seo Garam kembali.


“Dari peta kampus ini, kalau kita lurus…nanti kita akan menuju gedung serba guna, lapangan indoor dan…”


Sambil melihat kembali petanya di layar ponsel, dia memperbesar peta tersebut dan menekan ikon gambarnya.


“…Ini kan…gedung Fakultas Seni Rupa. Di sebelah sini…asrama?!”


“Asrama kamu bilang? Asrama mahasiswa?” tanya Kino dengan wajah terkejut


“Ini benar-benar asrama. Coba lihat. Bukankah Garam bilang asrama mahasiswa di belakang gedung Fakultas Seni Rupa. Itu artinya, gambar bangunan luas ini adalah asrama!”


“Kalau memang benar, ada kemungkinan seluruh zombie-zombie mahasiswa itu menuju ke gedung asrama di belakang gedung Fakultas Seni Rupa” Kaito mencoba menebak


“Kaito-san benar. Sepertinya, ada kemungkinan begitu”


Ryou menunjukkan layar ponsel Seo Garam pada Kino dan Kaito.


“Tapi, ada tiga bangunan lagi yang berpotensi yaitu gedung fakultas itu sendiri, gedung serba guna atau lapangan indoor”


“Yang jelas, lebih baik kita coba ke sana. Ryou, coba kau lihat. Apakah ada jalan lain untuk ke sana tanpa melewati rute yang digunakan para zombie sebelumnya? Aku khawatir kita hanya akan bertemu dengan para zombie itu jika melewati rute yang sama”


“Ada, sebelah sini!”


Keduanya berlari mengikuti Ryou di belakang. Mereka melewati jalan yang berbeda.


Wilayah universitas itu memang sangat luas, terlalu luas sampai ada hutan buatan dan rumah kaca untuk kepentingan Fakultas Pertanian. Ketiganya tidak mengurangi tingkat kewaspadaan sama sekali.


“Ini benar-benar seperti sebuah game dalam komputer” ucap Ryou


“Ini bukan game, Ryou” sang kakak berusaha menenangkan adiknya


“Tapi, ini mirip dengan The Dooms Day dan Resident Evil. Lagipula, bisa-bisanya permata ingatan milik Kaito menciptakan hal seperti ini. Apa ada kekuatan khusus dari setiap permata milikmu itu, Kaito?”


“……” Kaito terdiam mendengar pertanyaan Ryou


Seakan ada sesuatu lain yang masih dirahasiakan dari kedua kakak beradik itu, dia tidak menjawabnya pertanyaan Ryou dan mengalihkannya dengan pembicaraan lain.


“Ryou, berapa lama lagi kita akan sampai ke gedung asrama mahasiswa?”


“O–oh! Sebentar. Kalau dari jalan ini…hanya tinggal sedikit…berhenti!”


Ryou mendadak memberikan peringatan kepada kedua orang di belakangnya untuk berhenti.


“Ada apa, Ryou? Kenapa kamu berhenti mendadak seperti itu?”


“Lihat di depan itu”


Kino dan Kaito melihat pemandangan di depan mereka dan mereka begitu terkejut melihatnya. Kaito langsung menarik tangan kedua kakak beradik itu untuk berlari ke sisi samping. Mereka bersembunyi di balik dinding bertuliskan ‘Gedung Fakultas Seni Rupa’.


“Ini tidak akan bisa diterobos” gumam Kaito


Kino tampak begitu pucat saat melihat pemandangan di depannya dari kejauhan.


“Mereka terlalu banyak. Ini terlihat seperti mereka mulai mengelilingi seluruh pintu gerbang menuju asrama mahasiswa. Selain itu, seluruh jalan dan area di sekitarnya sudah dipenuhi oleh zombie. Bagaimana kita bisa memastikan apa yang ada di dalam?”


“Sial! Ternyata benar mereka berkumpul di gedung asrama. Itu artinya, ada sesuatu di dalam sana dan aku berani bertaruh…wanita bernama Song Haneul itu ada di dalam”


“Apa tidak ada cara lain untuk menghubunginya?” tanya Kaito


“Cara untuk menghubungi…aku tidak yakin itu…sebentar…”


Ryou mengambil ponsel Seo Garam kembali dan melihat daftar kontak telepon di ponsel tersebut.


“Ryou?”


“Aku sedang mencari nomor di ponsel ini. Karena aku sudah muak dengan aplikasi sial itu, jadi aku rasa kita harus coba menghubungi…ah! Ada!”


Ryou menunjukkan layar ponsel Seo Garam kepada keduanya.


“Ini…”


“Nomor ponsel Song Haneul. Kita akan coba menghubunginya dengan ini”


******