
Di tengah kekacauan salam upacara penerimaan, ada seseorang yang menunjukkan rasa bahagianya walaupun wajahnya datar seperti tidak punya ekspresi.
“Rexa, berikan mereka bertiga padaku. Aku butuh mulut itu di divisiku dan aku butuh Kaito”
“Eh?” Rexa melihat Mark yang tersenyum senang
“Aku yakin Yuki Ryou dan aku akan cocok. Kami bisa jadi rekan yang baik”
“Rekan yang…baik?”
Mark menunjuk ke arah dua orang yang sedang baku hantam. Maksudnya, yang sedang adu mulut.
“Tidak ada yang mau berurusan dengan omong kosong Barbara-sensei bahkan Dewan Sihir memilih untuk pura-pura tidak dengar tiap dia bicara soal hubungan antara asmara dan sihir pertahanan”
“Tapi murid baru dari dimensi lain justru tidak memikirkan hal itu dan menantangnya. Lihat sekelilingmu dan para murid yang berbaris”
Rexa mulai melihat sekelilingnya. Para staff jelas terlihat panik, namun Dewan Sekolah dan para siswa sepertinya tidak memiliki masalah dengan itu.
Memang untuk siswa baru merasa takut dan pucat seperti staff pengajar, namun untuk para murid senior, mereka seperti tersenyum dan tertawa melihat itu.
“......” Rexa terkesan dan terkejut di saat yang sama sehingga tidak bisa mengatakan apapun. Dia terlalu terpana dengan suasana itu.
Mark mulai memasang senyum tipis sambil melihat ke arah Rexa, “Mengerti maksudku? Dia bisa membuat semua orang sadar siapa dia. Aku butuh mental tidak tau malu itu, Rexa” jelas Mark
“Aku belum tau soal karakter kakaknya, Yuki Kino. Tapi untuk Kaito, pengalaman bertarungnya itu sangat mengesankan. Gerakan berpedangnya begitu halus. Bisa dibilang untuk urusan seni menggunakan senjata, dia ada di satu level lebih tinggi dari kita bertiga”
“Begitu ya”
Di sisi lain, Emily yang duduk di dekat Alicia dan Emilia terlihat diam.
“Emily? Kenapa diam? Itu anak yang pernah bertemu dengan kita, kan?” tanya Alicia
Emily hanya tertunduk dan tiba-tiba dia menjadi salah tingkah sendiri.
“Kyaaa~”
“Emily?”
Kedua kakaknya terkejut dengan sikapnya yang tiba-tiba membuat teriakan imut itu.
“Emily malu sekali. Kyaa~”
“Kenapa malu?”
“Kyaa~”
Tidak ada yang dikatakan oleh gadis kecil tersebut, namun dia memerah karena sesuatu. Mari kita bahas itu nanti setelah yang satu ini.
Kembali ke drama perdebatan di kursi panas, maksudnya di panggung panas. Ryou masih mempertahankan gugatannya. Meskipun terlalu berlebihan untuk disebut gugatan karena ini bukan pengadilan.
Intinya dia protes.
“Aku mau upacara ini berakhir karena waktu sudah terbuang sia-sia!”
“Kamu jangan seenaknya saja ya! Dengan tingkat sopan santun seperti itu, kamu bisa dikeluarkan!”
Ryou tersenyum dan setelahnya dia tertawa.
“Ahahaha, aku? Dikeluarkan? Serius? Kau berani mengeluarkanku?”
“Jangan berpikir kamu itu istimewa di sini!”
“Hee, kalau begitu silahkan bicara pada kapten Dewan Sihir di sana. Belum dengar, ya? Aku yang seperti ini bahkan jadi rebutan para kapten di sana untuk menjadi anggota Dewan Sihir. Tidak percaya?”
“Apa?!” Barbara Lindsey terkejut dan mundur satu langkah
Bukan hanya Barbara Lindsey, namun staff guru dan semua murid yang hadir terkejut dengan semua itu.
Sementara itu, Kino dan Kaito yang melihat hanya bisa terdiam sekarang. Sudah mengambil napas untuk beberapa menit, Kaito mulai berkomentar.
“Nyawanya hanya satu, Kaito-san. Hanya urat malu Ryou saja yang kapasitasnya dua kali dari milikku”
“Aku tau aku tertawa keras sebelum ini. Tapi sekarang aku jadi ingin mengalami amnesia lagi”
“Um, Kaito-san…kamu sudah amnesia kan?”
“Aku mau amnesia dan tidak ingat kalau aku mengenal adikmu”
“Kaito-san…” Kino tersenyum dengan ekspresi lucu yang miris
Di depan, Ryou terlihat masih menantang sang guru pengajar. Dia bahkan dengan sangat percaya diri membuat pernyataan yang sangat mengejutkan.
Sekarang, dia menantang Barbara Lindsey untuk membuktikan kata-katanya barusan demi bisa membungkam mulutnya itu.
“Kenapa? Mau kutanyakan langsung? Aku mungkin tidak sopan tapi aku tidak pernah berbohong soal kebenaran. Bagaimana? Jangan pingsan setelah mendengar jawaban mereka nanti ya”
Barbara Lindsey melirik para kapten Dewan Sihir yang terlihat santai. Dia juga tampak tidak ingin terus terpojok.
Namun, emosinya membuat dia tidak terima dengan kalimat Ryou yang bersifat offensive.
“Aku…aku tidak peduli dengan apa yang kamu ucapkan! Aku akan menghukum ketidaksopananmu agar bisa menjadi contoh bagi yang lain!”
“Melawan pengajar itu bisa dikenakan sanksi yang sangat berat!”
“Dan merebut hak orang lain juga bisa dituntut sangat berat, tau tidak!” bentak Ryou. “Aku sudah muak dengan semua omong kosong barusan dan aku akan keluar dari ruangan ini! Buang-buang waktu saja. Sudah nyaris jam 11 siang. Belum mendengarkan mars, belum berdoa”
“Kesehatan mentalku sudah menurun akibat konseling dadakan darimu tadi, Lady-san!”
“Dan satu lagi, kau tidak bisa menghukumku karena aku sudah resmi menjadi anggota Dewan Sihir. Tanya pada para kapten di sana ya! Kalau mau menghukumku, biar mereka yang memberikannya!”
Ryou melihat ke arah para murid lain dan bertanya dengan nada keras, “Siapa diantara kalian yang mau pingsan, diizinkan pingsan sekarang! Biar Lady Barbara Lindsey yang mengantarkan kalian ke ruang kesehatan”
“Dia yang menyita waktu kalian selama dua jam lebih jadi tidak masalah jika kita menyita waktunya untuk mengantarkan kalian ke ruang kesehatan. Itu sepadan, kan?”
Para siswa mulai melihat satu sama lain dan siswa bagian depan mengangkat tangannya.
“Um, maafkan kami tapi…kami memang sudah lelah”
“Memang tidak terkena sinar matahari tapi…berdiri selama nyaris total tiga jam itu benar-benar tidak nyaman, sensei”
“Selain itu, wajah teman di sampingku sudah pucat. Karena ada di depan dia berusaha untuk menahan dirinya agar tidak jatuh”
Lengkap sudah. Ryou berhasil mendapatkan skor tertinggi dalam adu debat kali ini. Mulai sekarang, namanya akan dikenang sebagai murid baru paling berani dan nekat di seluruh sejarah Akademi Sekolah Sihir.
Setelah ini, Ryou benar-benar bisa merayakan pesta kemenangannya seperti yang dikatakan olehnya pada sang kakak.
Akhirnya, Master Dresden maju dan mendekati Ryou sambil tertawa.
“Ahahaha, sudah cukup anak muda. Kami sudah cukup mendengar keluhanmu dan pendapat para siswa”
“Baiklah, kita lewatkan semuanya dan kalian dipersilahkan untuk bubar. Nikmati waktu istirahat kalian sebelum memulai pengenalan sekolah sehabis makan siang”
“Maaf karena sudah membuat kalian merasa kesulitan dan untuk kehebohan ini, biarlah menjadi satu pembelajaran agar tidak seperti ini di kemudian hari”
“Selamat menempuh pendidikan dan pengabdian kalian pada Akademi Sekolah Sihir. Silahkan bubarkan barisan”
Suara sorak dari para siswa terdengar dan mereka keluar dari ruang aula dengan senang.
Kino sudah bebas dari rasa takutnya dan Xenon sudah pemanasan jari.
“Aku akan mencekiknya, aku akan mencekiknya, aku akan mencekik leher kecilnya itu. Lihat saja kau, Ryou”
“Dasar murid tidak tau diri! Aku tidak percaya aku punya murid sihir seperti dia”
******