
Semua orang terdiam. Melihat Ha Jinan tampaknya ingin sekali menggandeng tangan Kino membuat mereka semua tidak bisa berhenti berfikir yang tidak-tidak.
‘Ha Jinan…mungkinkah kau menyukai Kino-ssi?’ gumam Seo Garam dalam hati
‘Jinan, sudah aku duga kau menyukainya. Ini pasti karena apa yang sudah dia lakukan padamu sejak pertama’ tambah Kim Yuram
‘Aku akan berpura-pura tidak mengetahui apapun’ kata Kang Ji Song dalam hati sambil mengabaikan kedu orang itu
Sementara dari sisi adik dan teman baik Kino, mereka justru membahas hal yang lain.
“Bagaimana? Nanti kau coba tanyakan saja pada Kino, ya?” bisik Ryou
“Lupakan. Kita bahas ini nanti saja. Di luar pintu mereka masih terus berusaha masuk. Aku yakin kunci ini juga tidak akan bertahan lama jadi sebaiknya aku turun sekarang. Kau dan mereka semua ikuti aku dari belakang. Mengerti?”
“Iya iya, aku tau”
Sementara Ha Jinan masih menunggu respon dari Kino, Ryou datang berbisik pada sang kakak.
“Kino, Kaito akan turun terlebih dahulu. Sebaiknya kita tidak membiarkan ada yang tertinggal seperti sebelumnya. Jika jatuh korban lebih dari ini, kemungkinan untuk kabur akan semakin sedikit karena jumlah zombie yang terus bertambah”
“Aku mengerti”
Kino melihat Ha Jinan dan tersenyum padanya.
“Aku mengerti. Ha Jinan-san boleh menggandeng tanganku. Pastikan kita semua tidak ada yang tertinggal kali ini”
“Ba–baik!” jawab Ha Jinan dengan senyum
Tidak perlu basa-basi lagi, dia langsung memegang tangan Kino dengan erat sambil menunjukkan senyum senang yang merona. Cinta benar-benar bisa tumbuh di saat seperti ini rupanya.
Kaito yang masih memegang pedangnya sejak awal akhirnya menuruni anak tangga terlebih dahulu.
“Ayo. Kita juga turun. Jangan lepaskan tanganku dan setelah keluar, berlarilah secepat yang kamu bisa. Apa Ha Jinan-san mengerti?”
“Me–mengerti!” dengan penuh percaya diri, Ha Jinan menjawab
Mereka turun satu per satu tepat di belakang Kaito, meninggalkan sekawanan zombie yang terus mencoba menerobos pintu darurat di luar. Setelah melewati sekitar 26 anak tangga, mereka melihat pintu lain.
“Pintu ini mengarah ke lantai dua. Ketika keluar, kita hanya perlu berlari lurus dan akan sampai di minimarket yang ada di lantai ini” jelas Seo Garam
“Aku mengerti. Sementara karena senjata lain yang kita miliki hanyalah penggorengan itu, sebaiknya Ryou ada di belakangku”
“Baiklah. Maju, Kaito” Ryou mengikuti saran Kaito
Kaito sempat menempelkan telinganya terlebih dahulu ke pintu untuk mendengarkan apakah ada suara atau tidak di balik pintu tersebut. Ketika dia yakin semua aman, dia mulai membuka pintunya perlahan.
Saat pintu dibuka, dia melihat kembali di sekeliling lorong koridor tersebut.
“Aman. Kita keluar dari sini”
Kaito bersama yang lain akhirnya keluar. Mereka melihat pertigaan di depan lorong. Saat berlari mendekati belokan dan lurusan yang ada di depan, hanya berbeda beberapa langkah lagi, Kaito tiba-tiba berhenti dan meminta mereka untuk tidak bersuara.
“Ssst!”
“Ada apa?” Ryou bertanya dengan suara pelan
“Di belokan ke arah kanan, ada sesuatu. Tampaknya itu mereka. Akan aku lihat terlebih dahulu”
Semua orang mengangguk dan menengok ke belakang mereka juga untuk memastikan tidak ada makhluk yang berjalan ke arah mereka.
Kaito mulai melihat apa yang ada di lorong tersebut dan benar saja, ada beberapa zombie yang berjalan keluar masuk di sekitar tempat itu. Yang paling tidak asing adalah dia melihat semua tubuh dan kepala dari zombie yang sebelumnya dia penggal di awal.
Tentu saja ada mayat Kim Eunji di sana.
‘Kepala gadis bernama Kim Eunji yang aku tendang. Rupanya menggelinding sampai sini ya. Aku harus pastikan keempat orang itu tidak melihatnya atau akan ada dram penuh penyesalan dan air mata seperti sebelumnya’
Isi pikiran Kaito sepertinya mewakili ketidaksukaannya terhadap apa yang terjadi beberapa waktu lalu di kantin.
‘Asalkan bisa membuat keempat mahasiswa itu tidak melihat kepala itu, tidak akan drama. Aku bisa pastikan itu’ gumamnya kembali dalam hati
Ryou mulai penasaran dan mendekati Kaito. Dia melihat sendiri apa yang ada di balik koridor tersebut.
“Akh! Itu mereka ya. Ini seperti kita kembali ke lantai yang sama saat aku bertemu denganmu” bisik Ryou
“Lihat itu, kepala yang ada di sana. Itu milik teman mereka”
“Cih! Mumpung para zombie itu menengok arah yang berlawanan dengan kita, sebaiknya lakukan sesuatu agar Garam dan lainnya tidak melihat kepala milik Kim Eunji” saran Ryou
“Aku senang kita sependapat. Ryou, beritau mereka untuk tidak menengok ke kanan dan jangan bersuara”
“Baik”
Untuk sekian kalinya, dua partner in crime itu kembali bekerja sama. Ryou memberitau mereka semua bahwa ada beberapa zombie di lorong koridor sebelah kanan dan mereka harus mengendap-endap dengan cepat agar tidak ketahuan.
“Ingat Kino, jangan sampai bersuara sekecil apapun. Aku yakin di dalam ruangan di koridor itu banyak zombie yang belum muncul” Kaito berbisik memperingatkan
“Aku mengerti”
“Jangan sampai kalian berdua mengok ke kanan dan ikuti saja arahan dariku. Aku yang akan melindungi kalian sampai di depan. Mengerti?”
“Aku mengerti, Kaito-san. Apa kamu siap, Jinan-san?”
“Aku siap, Kino-ssi”
Kino dan Ha Jinan mengendap-endap perlahan. Kaito terus mengarahkan mereka bahwa zombie-zombie itu tidak melihat mereka sama sekali.
Berikutnya Kang Ji Song. Sejak dia terluka, dia mengalami sedikit masalah pada perutnya jika harus membungkukan sedikit tubuhnya, jadi dia memilih untuk pergi sendiri. Lalu, Seo Garam bersama Kim Yuram dan Ryou.
Sampai di sini semua baik-baik saja. Baru ketika Kaito hendak melangkah, tiba-tiba ada seekor zombie yang keluar dan melihatnya. Karena zombie itu mengeluarkan suara saat melihat Kaito, tamu tak diundang kembali berjalan menghampirinya.
“Kaito, kenapa kau selalu saja sial sejak kita datang kemari?! Memang kau tidak bisa beruntung sedikit, apa?! Dasar bodoh!” umpat Ryou dengan suara yang bisa didengar Kaito
“Kalau bisa, aku juga tidak ingin sial!”
Kaito berlari untuk menghadapi para zombie yang mulai datang ke arahnya. Sebelum semua orang bertanya-tanya, Ryou segera memberikan instruksi untuk segera pergi ke minimarket.
Sementara mereka berlari ke arah minimarket, Kaito sibuk dengan semua tamu-tamunya. Dugaannya mengenai pergerakan para zombie itu cukup akurat. Zombie-zombie itu mulai bergerak dengan cepat dan agresif.
Mereka memang masih lambat, namun jika dibandingkan dengan saat dia datang sebelumnya, yang sekarang lebih cepat.
Pergerakan tangan zombie itu tidak lagi monoton namun bisa lebih leluasa bergerak sesuai dengan arah mangsanya yang hidup.
‘Ternyata benar, mereka lebih cepat dari yang sebelumnya. Sudah begitu, mereka terlihat begitu ingin menyentuhku. Jika sampai terkena gigitan atau cakaran mereka, habislah sudah’ pikir Kaito dalam hati
Kaito tidak ingin memiliki masalah dengan semua itu dan dengan cepat menebas tangan serta kepala mereka.
Sesekali, dia juga mencoba metode baru dengan menebas kepala mereka hingga menjadi dua bagian dari atas. Namun, sepertinya hal itu tidak begitu disarankan untuknya lagi.
“Aku benci bermandikan darah yang keluar dari tubuh mayat. Jika ada pasangan suami-istri dari pasar gelap yang kemarin, mereka akan dengan senang hati memotong dan menguliti para zombie-zombie ini semua untuk dijual kembali. Aku sangat yakin akan hal itu” gerutu Kaito
Kaito kembali menyerang mereka semua. Tidak disangka bahwa ada beberapa zombie lain yang muncul dari dalam ruangan yang ada di sepanjang lorong koridor tersebut. Semakin keras suara yang dihasilkan oleh zombie satu dengan lainnya, semakin banyak yang terpanggil.
“Wahai keberuntungan milikku yang sejak awal tidak pernah bisa aku andalkan , tolong jangan mempermainkan nasibku lagi kali ini. Tidak bisakah kalian bekerja dengan benar selayaknya keberuntungan milik orang lain?”
Kaito sudah pasrah dengan hubungan pertemanannya dengan keberuntungan miliknya sendiri.
Lelah meratapi nasibnya, dia kembali membunuh mereka semua. Karena Kaito sudah menyerah mengenai keberuntungannya, dia memilih untuk serius kali ini. Dia tidak membutuhkan waktu lama membunuh semuanya dan membuat sepanjang lorong tersebut basah dengan darah mereka.
Sementara itu, Kino, Ryou dan keempat mahasiswa itu sudah mulai memasuki minimarket. Tempat itu tidak kalah hancurnya dengan kantin setelah terjadi penyerangan dari para zombie.
Beberapa rak kecil terjatuh dan bungkus makanan berserakan dimana-mana. Tentu saja banyak sekali darah yang ada di lantai dan beberapa produk pada etalase.
“Kita sudah menemukan tempat untuk mengambil makanan. Sebaiknya, kita mencari tas belanja dan bawa yang diperlukan. Air, makanan ringan, makanan berat yang siap dimakan lalu obat-obatan. Bawa semua yang diperlukan” Kino memberikan instruksi
Semua orang bergegas mencari, namun Ha Jinan tidak melepaskan tangannya dari Kino. Kino hanya melihat Ha Jinan yang terus menggenggamnya semakin kuat.
“Jinan-san, sebaiknya kita membantu agar bisa mengumpulkan lebih banyak lagi. Selain itu, aku dan Ryou harus mencari sesuatu yang berguna untuk membantu Kaito-san di luar”
“Tapi…tapi aku…”
Terlihat Ha Jinan sangat tidak ingin melepaskan tangan Kino.
“Jinan-san, setelah kita mengumpulkan makanan dan semua barang yang diperlukan, Jinan-san bisa menggenggam tanganku kembali”
Ucapan yang Kino katakan dengan senyum itu membuat Ha Jinan sedikit lega dan mengangguk.
Dia pergi ke tempat Kim Yuram dan membantunya mencari tas belanja. Sementara Kino menghampiri Ryou yang berada di rak barang.
“Ryou, menemukan sesuatu?”
“Tebak apa yang kutemukan. Aku tau tempat ini benar-benar memilikinya meski awalnya aku ragu. Siapa yang menyangka kalau minimarket di kampus bisa memasukan benda tajam ke dalam rak etalasenya”
Ketika Kino melihat benda yang dimaksud.
“Itu adalah pisau dapur” ucap Kina
“Benar. Pisau stainless dengan ukuran 34.5 x 4.5 cm. Dan bagian terbaiknya, ini ada 5 buah. Selain itu…”
“Ini bisa menjadi senjata bagi kita berdua untuk membantu Kaito-san”
“Tepat. Sekarang, aku tidak butuh penggorengan lagi dan bisa langsung memotong kepala mereka”
******