Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 122. Setelah Kejadian bag. 7



Wajah datar Kaito yang melihat Ryou seakan ingin sekali melemparnya dari jendela kamar rumah sakit tersebut.


‘Jika bukan karena memikirkan perasaan Kino sebagai kakaknya, akan kulempar Ryou keluar dari ruangan ini’


Ryou mulai melihat sinis Kaito.


“Apa? Jangan katakan kau sedang berpikir untuk melemparku dari jendela ruangan ini ya?!”


“Hebat sekali kau menyadarinya” jawab Kaito dengan santai


“Dasar menyebal–“


“Ehem. Ryou…” Kino melirik sang adik dengan tatapan serius


“……” dan Ryou terdiam


Tampaknya meskipun sakit, Kino adalah superior untuk sang adik.


Arkan yang mencoba berpikir normal kembali mendekati tempat tidur kembali dan menarik kursi yang ada di pojok ruangan. Sejak pertama, dirinya dan Kaito terus bercerita sambil berdiri. Kini saatnya dia mengistirahatkan kaki dan punggungnya dengan duduk.


“Maafkan aku sudah membuatmu tidak nyaman, Arkan-san” Kino menundukkan kepalanya untuk minta maaf pada Arkan


“Ti–tidak masalah. Itu bukan salahmu, Kino. Memang mereka berdua yang memiliki masalah pada kepribadian masing-masing” Arkan berusaha untuk bersikap tenang sambil melirik kedua orang tersebut


Kalimat Arkan tentu mengundang tatapan sinis dari kedua orang yang dimaksud dan dengan cepat Kino langsung merubah arah pembicaraan.


“Te–terakhir, Arkan-san bercerita mengenai kalian semua yang pergi ke pasar gelap demi menyelamatkan kami. Apakah itu bisa dilanjutkan?”


“Tentu”


Arkan kembali bercerita.


“Kami yang memasuki pasar gelap sempat dihadang oleh pria bertubuh besar yang sebelumnya datang ke bar bersama Seren-sama bernama William atau biasa dipanggil Will. Dia juga salah satu yang menyerangmu dan kedua anak itu” jelas Arkan


“Begitu. Apa ketika berhadapan dengan penjaga gerbang itu, kalian menghadapi masalah?” Kino bertanya dengan nada serius


“Aku dan temanku, Riz tidak mengalami masalah berarti. Tapi, adik dan temanmu itu iya”


“Benarkan begitu? Ryou? Kaito-san?” wajah Kino menjadi pucat sekarang


Keduanya terdiam. Mereka hanya mengatakan bahwa tidak ada yang sulit meskipun setelah Arkan dan Riz masuk, mereka harus bertarung dulu dengan penjaga gerbang tersebut.


“Lalu, bagaimana pertarungannya? Apakah kalian mengalahkannya?” Kino bertanya pada sang adik


“Kami…kami belum mengalahkannya saat itu, tapi kami diperbolehkan masuk sejak bisa bermain imbang dengannya” Ryou menjawab dengan santai


“Bermain? Itu sangat berbahaya, Ryou. Bagaimana kalau kamu dan Kaito-san terluka?”


“Itu tidak penting selama bisa menyelamatkanmu!” Ryou membentak Kino


“Ryou…”


Setelah tersadar, Ryou langsung terlihat panik dan segera minta maaf pada sang kakak.


“Ma–maafkan aku. Aku tidak…aku tidak bermaksud membentakmu”


“Umm, tidak apa-apa. Aku juga minta maaf karena bicara seenaknya. Aku tau Ryou tidak melakukannya karena keinginanmu. Maaf”


“Itu bukan–ukh” Ryou terlihat kecewa pada dirinya dan tidak melanjutkan kalimatnya kembali


“Bi–bisa kita lanjutkan ini lagi, kalian semua? Suasananya jadi sedikit lebih suram dari yang tadi” Arkan mencoba memberitau dengan cara halus


“Maafkan aku. Silahkan dilanjutkan kembali, Arkan-san” Kino tersenyum dan mencoba mencairkan suasana


“Ehem. Baiklah. Sampai dimana kita tadi? Oh! Sampai mereka berdua bertarung. Aku dan Riz tidak di sana jadi aku tidak mengerti bagaimana mereka bisa masuk tapi…”


Arkan bercerita tentang semua kejadian ketika dirinya dan Riz bertemu dengan pengelola pasar gelap. Dia juga mengatakan seperti apa ciri-ciri kedua pasangan suami-istri tersebut pada Kino dan bagaimana semua transaksi itu terjadi. Arkan juga bercerita tentang bagaimana


“Jadi, mayat pria bernama Justin itu hanya bisa menyelamatkan Stelani-chan dan Fabil-kun?”


“Benar. Aku tidak menyangka kau mengetahui hal itu lebih dulu sebelum aku melanjutkan ceritaku, Kino”


Arkan terkejut mendengar perkataan Kino yang bisa menebaknya hanya dari cerita awal transaksi.


“Itu…itu hanya tebakan. Bagaimanapun juga, sejak Arkan-san mengatakan bahwa sejak awal ingin tiga orang yang bebas dengan mayat pria bernama Justin, respon tuan pengelola itu hanya mengatakan dua anak. Bisa diartikan bahwa dia memang hanya ingin membebaskan kedua anak itu dan tidak berniat untuk membebaskanku”


“Aku baru menyadarinya saat keluar mencari kedua anak itu”


“Mencari anak-anak itu? Apa yang terjadi pada mereka?” Kino bertanya pada Arkan


“Mereka kabur” Kaito menjawab pertanyaan itu


“Kabur? Apa Kaito-san bertemu dengan Stelani-chan dan Fabil-kun saat itu?”


“Benar. Aku dan Ryou bertemu dengan mereka ketika bermaksud pergi ke bangunan dengan lantai paling tinggi di lokasi tersebut”


“Jadi kau dan Ryou yang menemukan mereka?” Arkan bertanya pada Kaito


“Benar. Saat itu, aku dan Ryou bertemu dengan mereka. Kami diberitau bahwa mereka lari dari suatu tempat dimana mereka disekap sebelumnya. Hal itu dilakukan demi mencari bantuan untuk menyelamatkan nyawa Kino”


Kino langsung memerah. Dia tidak menyangka bahwa ada banyak orang yang mencoba menolongnya, termasuk anak kecil yang baru saja dia temui.


“Kino, kau kenapa?” Ryou melihat wajah memerah sang kakak dan bertanya


“Aku hanya…merasa sangat beruntung bertemu dengan orang-orang yang baik seperti kalian semua” jawabnya dengan wajah memerah


“Itu karena kau adalah orang yang baik, Kino” Kaito tersenyum padanya


Meskipun Ryou terlihat baik-baik saja, namun entah kenapa dia terlihat begitu sedih. Kino melirik ke arah sang adik tetapi memilih tidak mengatakan apapun.


Arkan kembali melanjutkan semua cerita yang dia ketahui.


“Aku yang keluar tiba-tiba dikagetkan oleh Seren-sama dan kami pergi untuk mencari kedua anak-anak. Sampai akhirnya kami berdua menemukan mayat penjaga gerbang di jalan utama di pasar gelap. Seren-sama sempat memeriksa saku celana penjaga gerbang waktu itu dan menemukan kunci gerbang di sakunya”


“Bukankah itu berarti Stelani-chan dan Fabil-kun masih ada di dalam?” Kino bertanya pada Arkan


“Begitu. Lalu bagaimana Arkan-san bertemu dengan Ryou dan Kaito-san?”


“Saat sampai di pintu gerbang, aku dan Seren-sama melihat ada yang datang dengan membawa gerobak dan itu adalah Ryou, Kaito bersama dengan kedua anak itu dan…dirimu di dalam gerobak”


Dari sini, Kaito mengambil alih cerita.


“Seperti yang kukatakan tadi bahwa aku dan Ryou bertemu dengan kedua anak itu tanpa sengaja”


“Sekarang, aku ingin dengar selengkapnya darimu tentang pertemuanmu dengan kedua anak itu, Kaito” Arkan meminta Kaito untuk bercerita padanya


Kaito mulai bercerita semua yang dialaminya bersama Ryou.


“Awalnya mereka begitu takut karena kami berdua membawa sebuah pedang. Ditambah lagi, sepertinya mereka mengetahui bahwa aku adalah orang yang dicari Justin. Mereka berusaha menghindar dari kami”


“……” Kino menyimak dengan serius


“Lalu ketika aku memanggil nama mereka, mereka berhenti. Setelah itu, Ryou menyadari bahwa gadis kecil bernama Stelani membawa dagger milikmu dan akhirnya kami menemukan bahwa mereka mengetahui keberadaanmu” lanjut Kaito


“Kalian berdua langsung pergi bersama Stelani dan Fabil untuk menyelamatkan Kino, lalu menggunakan gerobak milik Riz untuk membawanya? Jenius sekali ide kalian” Arkan memuji aksi yang dilakukan Kaito


“Itu adalah sedikit upaya agar menghindari hal yang tidak diinginkan” balas Ryou


“Apa itu?”


“Aku dan Kaito membawa dua orang terluka saat itu, gadis bernama Stelani dan Kino yang terluka parah. Jika sampai terlibat sebuah pertarungan maka kondisi kami berdua yang sedang membawa orang terluka akan sangat dirugikan”


“Lagipula, pada akhirnya kami tetap bertemu dengan wanita bernama Seren yang saat itu tengah bersamamu, tuan bartender” Kaito menambahkan keterangannya


“Kau benar. Untung saja saat itu tidak ada kepala melayang lagi seperti yang kalian lakukan pada–”


“Arkan!!” Ryou berteriak


“……!!!” Arkan dan Kino kaget dengan semua itu


“Jangan bicara lagi! Kau sudah menceritakan semua yang kau tau. Aku dan Kaito akan memberitau Kino tentang hal lain jadi diamlah!”


Nada Ryou meninggi. Arkan masih terlihat tenang meskipun dia cukup penasaran dengan kalimat tersebut.


“Ryou? Ada apa?” Kino terlihat penasaran dan bingung


Dia melihat Kaito yang tidak mengatakan apapun dan menunduk.


“Kaito-san? Ryou? Apa terjadi sesuatu?”


Kaito melihat jam saku miliknya dan waktu telah menunjukkan pukul 11.15, artinya sudah lewat dari jam besuk saat itu.


Tidak lama kemudian, seorang perawat datang dan meminta orang yang membesuk untuk keluar.


“Permisi, jam besuk telah lewat tuan. Silahkan untuk memberikan waktu bagi pasien untuk istirahat. Jam besuk berikut nanti pada pukul 14.00-15.30~~~~ sore” kata perawat tersebut


“Maaf, aku dan orang ini adalah keluarga pasien. Kami akan menjaga pasien” kata Ryou yang berdiri sambil menunjuk Kaito


“Aku mohon biarkan adik dan…sepupuku untuk menemaniku” pinta Kino kepada perawat


Dengan memalsukan identitas Kaito yang disebut sebagai sepupunya, perawat tersebut terpaksa mengizinkannya karena itu adalah kehendak pasien.


“Begitu. Tapi tuan yang seorang lagi silahkan keluar dan datang kembali lagi di jam besuk berikutnya”


Arkan berdiri dan menengok ke arah Kaito yang tengah memasukkan sesuatu ke dalam saku jubahnya.


“Kaito, aku…”


“Tuan bartender…terima kasih banyak. Kau sudah menghabiskan waktu makan siangmu di sini untuk menceritakan semuanya pada Kino. Selanjutnya, datanglah dengan tuan manager, anak-anak itu dan Riz”


Arkan hanya bisa menatap kedua orang itu dengan tatapan heran sambil bergumam dalam hatinya.


‘Oi oi, ini bukan ketegangan biasa. Ini lebih buruk dari yang  kuduga! Sepertinya aku memang harus keluar kali ini dan tidak membuat mereka lebih emosi padaku’


Arkan mendekati Kino sekali lagi dan menepuk pundaknya dengan pelan.


“Cepatlah sembuh ya. Theo dan anak-anak itu ingin sekali makan denganmu”


“Terima kasih. Aku senang Arkan-san menceritakan semuanya padaku. Terima kasih banyak sudah menolong dan menjaga adikku dan Kaito-san. Terima kasih juga sudah peduli pada Theo-kun dan yang lain”


“Aku permisi”


Arkan mungkin tersenyum pada Kino, tapi matanya tidak melepaskan pandangan dari raut wajah Ryou yang terlihat pucat dan tertekan. Dia juga sempat melihat Kaito yang hanya tersenyum tipis padanya.


Setelah dirinya keluar bersama perawat tersebut, dia pergi.


Di dalam ruang perawatan tersebut, sekarang hanya tinggal Kino dan kedua orang lainnya. Dia menatap mereka dengan tatapan bingung, namun mencoba untuk bersikap biasa.


“Apa kalian berdua belum merasa lapar? Kalau dipikir lagi, kita belum makan siang dan terlalu asyik bercerita”


“……” keduanya tidak menjawab Kino


Ryou yang saat itu berdiri, tiba-tiba memeluk sang kakak sambil menangis.


“Hiks…maafkan aku…”


“R–Ryou?! Ada apa?” Kino terkejut karena sang adik menangis dalam pelukannya


“Hiks…jangan membenciku. Kumohon jangan membenci adikmu ini. Hiks…maafkan aku…maafkan aku…”


“Ryou? Kenapa? Kaito-san, apa yang sebenarnya–”


“Maafkan aku, Kino”


Kaito ikut menundukkan kepalanya dengan raut wajah menyesal. Sekarang, Kino hanya bisa terlihat panik dan tidak mengerti situasi saat ini.


******