Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 275. Hari Santai Sebelum Ujian bag. 6



‘Begitu sampai di lobi, akan kutinggalkan mereka berdua’


Sungguh pikiran yang sangat jenius dari seorang Xenon. Dia sudah merencanakan pelarian dari keduanya.


Pertanyaanya, bisa berjalan mulus tanpa putus atau justru rencananya ini melawan arus sehingga keberuntungannya akan langsung tergerus?


Tampaknya Xenon memiliki setengah dari jumlah keberuntungan yang dimilikinya sekarang.


‘Pokoknya, aku sudah janji dengan Kino dan lainnya. Aku tidak mau jadi korban introgasi lagi seperti pagi ini!’


Tekad kuat itu sepertinya meningkatkan keinginan kuat seorang Xenon untuk bisa kabur dari tunangan dan kakak kembarnya.


Ternyata bukan dia saja yang memiliki rencana.


Sepanjang jalan, mereka hanya diam dengan Xenon yang jalan di tengah-tengah mereka. Tujuan hal itu dilakukan oleh kedua saudara kembar itu adalah untuk mencegahnya kabur.


“Kenapa aku ada di antara kalian?” tanyanya dengan wajah datar


“Karena kau bisa saja kabur!” kata Jene ketus


“Aku tidak akan kabur”


“Aku tidak percaya! Kau kira berapa lama kita saling mengenal? Bahkan saat kita bertiga masih jadi embrio di rahim ibu kita masing-masing, aku sudah tau sifatmu”


“Hoo, Jadi Jene-sama adalah entitas tertinggi yang lahir sebagai manusia? Menakjubkan sekali. Senang rasanya aku sudah dikenal oleh kalian saat masih jadi embrio” ejeknya


“Kau mengejekku ya?”


“Aku memuji entitas tertinggi di sampingku, apa aku salah?”


“Kalian berdua, hentikan itu! Jene, jangan berkata hal yang tidak masuk akal!”


Jene hanya bisa diam sambil menggerutu sendiri, “Kenapa giliran ada tunangannya dia jadi bersikap manis?”


Jessie memerah mendengar gumaman kakaknya itu. Dia memalingkan wajahnya kemudian melirik wajah Xenon.


Mencoba memberanikan dirinya, Jessie mencoba menggandeng tangan pria yang menjadi tunangannya itu, namun ragu.


Jene tampaknya menyadari Jessie yang malu-malu sehingga dia mulai sedikit memprovokasi.


-Greeeb


“Apa yang kau lakukan, Jene-sama?!” Xenon terkejut


“Kenapa? Aku tidak boleh menggandeng calon iparku seperti ini?”


Jene memeluk pergelangan tangan Xenon penuh dan sedikit membuat kegaduhan. Xenon sempat berhenti dan menggoyang-goyangkan tangannya untuk melepaskan dekapan Jene.


“Aku mohon, Jene-sama. Jangan aneh-aneh! Aku tidak mau dikira punya kelainan jiwa di sini”


“Memang kenapa? Aku sama cantiknya dengan Jessie?”


“Kau itu laki-laki, tolong jangan membuat pernyataan ambigu seperti ini!”


“Jene!!” Jessie membentak kembarannya


“Kalau tidak mau dengan laki-laki, kau mau didekap oleh perempuan?”


“Aku masih normal, tentu saja lebih bagus kalau perempuan yang–”


Tidak butuh mendengarkan ucapan Xenon, Jene melepaskan tangannya dan berdiri di depan Xenon serta kembarannya.


Dengan cepat dia memegang tangan Jessie dan langsung membuatnya mendekap tangan Xenon. Untuk mencegah salah satu dari mereka yang ingin melepaskan dekapan tersebut, Jene memeganginya sementara waktu.


Jene melihat Xenon sambil tersenyum licik.


“Kalau begini, tidak ada protes darimu kan?”


“……!!” Xenon terkejut dengan kelakuan remaja di depannya


-Bluush


Jessie memerah. Dia tidak menyangka bukan hanya memegang tangan Xenon tapi mendekapnya dalam pelukannya.


Xenon melihat gadis di sampingnya terdiam tanpa memperhatikan bahwa sebenarnya gadis itu sedang gugup karena malu.


“Kalau tidak mau denganku, harusnya dengan Jessie tidak masalah. Aku tidak salah, kan?”


“Jene-sama, Jessie-sama akan terkena masalah karena ulah kakak kembarnya sepertimu. Aku mohon jangan bersikap konyol seperti ini”


“Ini tidak konyol. Lebih konyol mana dengan didekap erat olehku? Ayo jawab?”


Seperti diserang balik dan dibuat skakmat, Xenon tidak bisa menjawabnya.


“Lihat, kau sendiri setuju kan? Sudah kuduga memang ini yang terbaik. Lagipula, kau harus ingat ya, kau kabur kemarin sebelum selesai bicara denganku dan kau belum minta maaf pada Jessie”


“……” Xenon terdiam


“Kau berhutang maaf padanya. Anggap saja ini permintaan maaf darimu. Kau sendiri yang bilang akan minta maaf, kan? Bagaimana, kau keberatan tidak Jessie?”


Sebagai gadis yang menyukai Xenon, tentu saja memeluk lengannya seperti ini lebih baik dari mendengarnya minta maaf.


Dengan penuh percaya diri, gadis itu mengatakan bahwa dia tidak masalah dengan itu dan pada akhirnya Xenon harus mengalah.


Rencana Jene berhasil.


Sepanjang jalan mereka menelurusi lorong koridor, Jessie mendekap lengan Xenon. Awalnya sebuah keterpaksaan karena sang kakak kembarnya, namun sekarang dia semakin erat memeluk lengan tersebut.


‘Senangnya~’ pikir Jessie dalam hati dengan wajah memerah


Jene yang sekarang berjalan di samping Jessie terseyum melihat adik kembarnya. Dia melihat Jessie tersenyum senang karena bisa bersama orang yang dicintainya.


‘Syukurlah. Harusnya sejak kemarin saja seperti ini. Lagipula kalau dipegang oleh Jessie, aku yakin dia tidak akan berani kabur. Rencana yang bagus’ gumamnya dalam hati


‘Kalau begini aku benar-benar tidak bisa kabur! Ini merepotkan. Aku tidak menyangkan Jene-sama akan memiliki rencana seperti ini. Dia benar-benar tau sifatku yang tidak bisa menolak perempuan’


Sudah dipastikan, kekalahan Xenon terlihat sangat nyata di sini.


**


Sementara itu, di sebuah ruang kelas lainnya, Lucas dan Emilia menghampiri Rexa yang termenung sendirian di tempat duduknya.


“Rexa, kita kembali sekarang” sapa Lucas mengajaknya keluar kelas bersama


“……” Rexa terdiam tanpa memberinya jawaban


“Rexa-sama, apa terjadi sesuatu?”


“Tidak ada. Apakah aku boleh kembali ke ruang kerjaku sendiri? Jika ada laporan, aku akan memberikannya pada kalian segera”


“Tentu. Pergilah”


Rexa keluar dari kelas sendirian meninggalkan keduanya.


“Lucas, menurutmu apakah ini ada hubungannya dengan adiknya?”


“Aku rasa begitu. Kamu lihat ekspresinya saat kembali ke ruang rapat, bukan?”


“Aku memahami hubungan rumit keluarga itu di generasi ini, tapi rasanya tidak adil untuk Rexa-sama dan Xenon-sama. Duke van Houdsen sungguh keterlaluan untukku”


“Emilia…”


“Ya?”


“Sebaiknya kita tidak membahas ini di tempat terbuka. Tidak semua orang tau sisi lain dari keluarga pahlawan yang satu itu”


“Maafkan aku”


“Sebaiknya kita kembali ke ruang kerja dan tidak membiarkan Alicia dan Emily bekerja sendiri”


“Baik, Lucas”


Keduanya keluar kelas. Di sepanjang lorong, mereka membicarakan beberapa hal singkat.


“Aku tidak bermaksud bertanya tentang hal ini, tapi menurutmu apakah ini juga akan berpengaruh kepada hubungan keluarga kita dengan pengkhianat itu?”


“Tidak. Aku tidak akan menunjukkan hal yang berhubungan dengan pekerjaan ketika berhadapan dengan mereka. Selain itu, selagi Rexa masih memiliki hubungan dengan keluarga itu, kita harus berhati-hati”


“Aku mengerti”


Tidak lama setelah itu, dari depan ada yang menahan langkah mereka berdua.


“Kalian, berhenti!”


Seorang perempuan yang tidak asing untuk keduanya. Dia mendekati Lucas dan dengan kedua tangan di pinggang, dia bicara dengan nada sombong.


“Aku tidak ada urusan denganmu tapi aku tau kalau kau mengetahui dimana dia sekarang. Katakan, ada di mana dia?!”


Emilia bermaksud bicara namun Lucas melarangnya. Lucas menghela napasnya dan dengan wajah dingin dia menjawabnya.


“Lady Midford, aku harap kamu tidak lupa dengan siapa kamu bicara”


“Aku tau, tapi aku tidak peduli! Aku ingin bertemu dengan Rexa-sama!”


“Dan aku tidak peduli dengan urusanmu. Perhatikan sikapmu di sini apalagi kamu seorang Lady dari keluarga pahlawan juga”


“Meskipun status bangsawan kalian lebih tinggi dariku, tapi itu tidak membuat kalian bisa mengaturku. Sekarang, beritau aku dimana tunanganku?!”


Lucas tampaknya sedikit menahan emosinya hingga dia mulai sedikit memberi gadis sombong itu kejutan.


“Lady Misha Diana Midford, aku akan memperingatkanmu untuk mengetahui batasanmu. Aku akan memaafkanmu kali ini tapi aku tidak akan memberikan maaf untuk yang selanjutnya”


“Kamu mencoba mengancamku, Lucas Xelhanien”


“Aku tidak mengancam. Aku akan mengirimkan surat untuk Earl Midford dan akan mengirimkan memintanya menjemputmu minggu ini. Kamu mengerti maksudnya?”


“……!!!” Misha mundur dengan wajah kesal dan pucat


“Kalau kamu lupa, aku adalah pemimpin dari Dewan Sihir dan surat dariku akan mewakili Dewan Sekolah juga. Dengan surat yang kulayangkan untuk ayahmu, menjemputmu berarti mengusirmu dari tempat ini”


“Aku harap kamu tidak lupa kalau di sini, bukan status bangsawan yang berpengaruh, tapi otoritasmu sebagai Dewan Sihir yang berguna”


“Aku juga mendengar bahwa baru-baru ini kamu melayangkan sebuah hinaan untuk anggotaku dari Divisi Eksekutor. Jika kamu melakukannya lagi, dengan sangat terpaksa kamu bisa meninggalkan tempat ini secara terhormat”


Lucas berjalan dan berbisik ke telinga Misha.


“Rexa sungguh tidak beruntung karena memiliki tunangan yang sungguh arogan sepertimu. Jika itu adalah aku, aku mungkin akan menghancurkanmu dan keluargamu karena berani menghina adikku. Aku harap Rexa tidak melakukan itu padamu karena telah mengatakan hal kejam pada Xenon”


Lucas dan Emilia pergi meninggalkannya sendiri.


Misha terlihat kesal dan akhirnya berbalik sambil berteriak.


“Lihat saja, Xelhanien! Aku tidak akan memaafkan kalian karena berani menghinaku!!”


Keduanya tidak memedulikan teriakan tersebut dan mengabaikannya.


“Lucas, apa ini tidak apa-apa?”


“Tidak masalah. Lagipula, gadis itu memang tidak cocok dengan Rexa. Kalau seandainya kamu mau, aku akan mengirimkan surat untuk Marquis van Houdsen untuk menjodohkanmu dengan Rexa. Bagaimana?”


“Aku hanya mengikuti keinginanmu”


“Begitu. Aku harap segera memiliki ipar seperti Rexa dalam waktu dekat”


******