Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 357. Dua Mahkota dari Keluarga van Houdsen bag. 2



Keadaan sedikit lebih tenang. Axelia mencoba menghapus air matanya dan meminta maaf pada Revon.


“Maafkan aku karena sudah membuat Revon-sama marah”


Tidak ada respon dari pria dingin itu. Dia kembali ke pokok permasalahannya.


“Surat ini baru tiba dan aku rasa Rexa mungkin masih berada di kediaman Midford. Aku memanggil kalian karena ingin memberitaukan bahwa keputusan Rexa ini sudah bulat”


“Aku tidak terima!” bentak Vexia. “Suamiku, apa-apaan ini?! Sungguh tidak masuk akal membiarkan pertunangan dan hubungan baik kita dengan Earl Midford berakhir begitu saja hanya karena alasan tidak penting!”


Vexia kemudian menunjuk Axelia dengan kipas lipatnya, “Wanita murahan dan anaknya yang kotor itu adalah penyebabnya! Aku sudah katakan padamu untuk tidak memasukkan Xenon ke sekolah yang sama dengan anak kita!”


“Anak dari seorang pelayan genit yang hanya bisa menjadi benalu dalam rumah tanggaku! Meskipun dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini tapi aku tidak akan pernah mengakuinya!”


“......” Axelia hanya bisa tertunduk sedih dan tidak membalasnya


Tangannya yang mengepal menahan rasa sakit hatinya menggenggam gaun indahnya yang mulai basah karena tetesan air matanya kembali.


Vexia belum selesai dengan mulutnya itu, “Aku tidak akan menyetujui hal ini! Aku tidak akan membiarkan keputusan sepihak dari Rexa terjadi!”


“Suamiku, kamu sudah berjanji akan melakukan apapun yang aku katakan padamu sebagai kompensasi telah memberimu izin menikahi wanita tidak tau diri ini! Sekarang, aku tidak akan membiarkan pertunangan Rexa batal begitu saja!”


“Bahkan jika dia harus meninggalkan posisinya sebagai Kapten Divisi Dewan Sihir, itu lebih baik daripada membatalkan pertunangan dengan keluarga pahlawan lain!”


“Aku ingin kamu melakukan sesuatu dengan Rexa dan keputusan bodohnya itu!”


Vexia berdiri dan meninggalkan ruangan tersebut. Sebelum keluar, Vexia sempat mengatakan sesuatu, “Jika sampai pembatalan pertunangan ini terjadi, si darah kotor itu tidak akan lolos dariku. Ingat itu!”


Tentu saja, suara bantingan pintu ikut menghiasi suasana tegang tersebut.


Axelia yang gemetar mulai membuka suaranya.


“Maafkan aku. Hiks…maafkan aku…aku benar-benar minta maaf, Revon-sama. Hiks…”


Di saat wanita cantik itu mulai menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, pria berwajah dingin itu datang dan berlutut di hadapannya.


Sambil meraih tangan wanita yang menangis itu, wajah dingin itu tidak berubah. Namun, nada suaranya telah menjadi sedikit lebih lembut.


“Itu bukan salahmu. Jangan menangis”


“Hiks…tapi, Rexa-sama melakukan ini untuk Xenon dan…hiks…”


“Semua itu sudah diputuskan dan aku tidak akan melakukan apapun pada keputusan Rexa”


Axelia terkejut, “Tapi Vexia-sama sudah semarah itu! Revon-sama tidak boleh–”


“Aku adalah kepala keluarga di sini. Bahkan jika dia mengancamku, masih ada banyak cara untuk melawannya. Dia bukan apa-apa tanpa nama van Houdsen”


Sebuah usapan lembut dari pria berwajah dingin itu menghapus air mata wanita di hadapannya. Yang lebih mengejutkan, wajah dingin itu berubah menjadi sebuah wajah lembut dengan senyuman indah.


Demi menghibur hati istrinya yang lain, sebuah ciuman lembut mendarat di pipi sang istri.


“Tidak ada yang akan terjadi pada Xenon. Bukankah itu yang aku janjikan padamu saat memutuskan memasukkannya ke akademi bersama Rexa?”


“Aku akan menepati janjiku padamu. Setidaknya, untuk membayar dosa yang aku lakukan padamu, Axelia”


Sungguh berbeda dengan apa yang ditunjukkan padanya saat memanggil wanita itu di taman sebelumnya.


Dingin dan terlihat acuh di luar, namun saat tidak ada siapapun kecuali keduanya, pria itu begitu baik dan lembut memperlakukan wanita yang ada di pelukannya sekarang.


**


Sementara itu, Vexia yang kembali ke ruangannya membanting semua barang yang ada di kamarnya.


Vas bunga, cermin, kursi, kotak rias miliknya dan beberapa benda lainnya dilempar dan dihancurkannya.


Beberapa pelayan wanita masuk ke kamarnya dan mencoba menghentikan dirinya namun sebuah lemparan beling dari vas keramik melayang ke arah para pelayannya.


“Enyah kalian! Pergi dan jangan menggangguku!”


Tidak ada yang bisa menghentikan kemarahannya sehingga keluar dari sana adalah pilihan terbaik untuk sekarang.


“Rexa…oh, anakku yang sangat aku banggakan. Kenapa kamu begitu mudah menghancurkan keinginan dan impian ibumu ini, nak?”


“Ibu tidak akan menyetujui hal ini! Ibu tidak akan pernah membiarkan anak pelayan kotor itu yang menghalangi semua rencana besar ibu!”


“Kekuasaan dan nama besar harus kembali ke tangan van Houdsen dan semua aib yang diciptakan oleh kedua orang tidak tau diri itu harus hilang!”


******


Di jalan, Lucas bersama Rexa dan Mark keluar dari kediaman Midford. Mereka berjalan menuju pintu gerbang dengan tetap waspada.


“Lucas, Mark…apa ada yang terjadi di ruangan kalian tadi?”


“Sedikit. Tapi kita akan membicarakan itu setelah keluar dari gerbang rumah ini” kata Lucas


“Aku mengerti”


“Jadi, apa yang terjadi?” tanya Rexa kembali


“Sedikit serangga menguping sejak kita tiba” jawab Lucas


Saat ini, komunikasi mereka bertiga dengan Emily masih terhubung dan Emily yang mendengar hal itu menjawab Rexa.


“Emily merasakan ada dua orang yang menguping pembicaraan kalian sejak sampai dan mengawasi kalian, Rexa-sama” kata Emily


“Apa? Lalu, apa kamu mengetahuinya?”


“Tidak. Bahkan soal pria yang kalian panggil Diaz-Gemini itu…Emily tidak bisa melihat sosoknya seperti apa”


Rexa melihat kedua temannya yang mengangguk.


“Begitu rupanya. Lalu, apakah kamu menemukan sesuatu, Emily?”


“Ada sihir yang aktif namun tidak ada half elf di sana. Semuanya adalah pelayan keluarga itu dan tingkat sihir mereka normal”


“Hanya ada empat orang yang memiliki sihir yang besar di kediaman Earl. Milik tuan rumah, pria bernama Diaz-Gemini dan dua orang yang menguping kalian”


“Namun, dari auranya…ada yang tidak beres”


Pernyataan Emily sedikit menggelitik ketiganya. Lucas bertanya pada sang adik, “Kenapa?”


“Auranya seperti ditekan oleh sihir tapi Emily tidak bisa mengetahuinya. Maafkan Emily”


“Itu sudah bagus, Emily. Kamu sudah berusaha dengan baik. Sekarang kita akhiri saja komunikasi ini dan kami akan melaporkannya padamu begitu sampai” kata Mark


“Baik, Mark-sama. Sekalian Emily juga memiliki sedikit hal yang ingin dilaporkan pada kalian mengenai keadaan di akademi”


“Apa itu?” tanya Lucas kembali


“Mengenai gadis menyebalkan Misha yang membuat kegaduhan di sini”


Rexa berhenti dan terkejut. “Apa dia melakukan sesuatu pada Xenon?!”


“Tidak. Lebih lengkapnya akan Emily ceritakan. Emily akan menunggu kalian tiba”


“Aku mengerti. Akan aku putus semuanya. Tolong jaga sampai aku kembali, mengerti?”


“Baik, Lucas”


[Nox]


Semua sihir Emily hilang tanpa bekas pada ketiganya. Sekarang, ekspresi Rexa cukup mengerikan.


“Kita harus segera kembali. Aku ingin sekali mendengar semuanya!”


Sebelum Rexa berjalan, Mark memegang tangan temannya itu.


“Jangan terburu-buru, Rexa. Kamu sedang tidak baik-baik saja di mataku dan aku tidak ingin mendapatkan masalah karena tingkat emosimu yang masih labil”


Lucas ingin sekali membalas ucapan Mark, namun dia memilih mengatakannya dalam hati.


‘Bukankah kamu sendiri juga membuat masalah karena tingkat emosimu yang masih labil itu, Mark? Tapi sudahlah, aku sendiri yang mengatakan akan menutup mata untuk kejadian tadi jadi sebaiknya aku tidak mengatakan apapun’


Rexa terdiam. Dia mencoba tenang dan mengatakan sesuatu.


“Aku sudah membatalkannya. Walaupun mungkin kedua orang tuaku akan melakukan sesuatu padaku setelah ini. Earl juga sepertinya tidak akan tinggal diam”


“Tapi aku tidak bermaksud untuk melanjutkannya dan tidak akan menarik ucapanku kembali”


“Aku harap keputusan ini tidak akan membuatku kembali membahayakan posisi dan perasaan Xenon”


******


Di akademi, Xenon sedang mengerjakan beberapa tumpuk dokumen bersama Algeria sambil menggerutu dalam hatinya.


‘Aku tidak percaya dengan semua gunungan kertas di depanku. Jangan bilang tujuan Algeria-sama membawa ke sini adalah untuk menelan semua kertas ini bulat-bulat’


Baru menggerutu, tiba-tiba Algeria datang membawa tumpukan baru.


“Eh?”


“Tolong kerjakan yang ini juga ya, Xenon-sama”


“Tapi…yang ini saja belum–”


“Aku tau kamu hebat, Xenon-sama. Aku mau pergi ke lobi sebentar. Tolong jangan keluar sampai semua selesai ya. Berjuanglah”


Setelah memberikan semua tumpukan itu, Algeria tersenyum dan meninggalkan Xenon dengan gunungan kertasnya.


“Aku akan membakar semua kertas ini. Lihat saja nanti”


******