
Setelah selesai dengan kisah cinta dari keluarga van Houdsen, mari intip hasil dari adu argumen antara murid dan guru di Akademi Sekolah Sihir sekarang.
******
Di dalam salah satu ruang kelas kosong tempat Xenon dan tiga teman barunya itu berada saat ini, ada dua remaja yang saling mengatur napasnya.
“Haa…haah…haa…”
Dan ada dua orang yang melihat sambil menggelengkan kepalanya.
“Apa mereka sudah selesai, Kaito-san?”
“Sudah kurasa. Siapa yang menang?”
“Umm, aku tidak tau tapi…semakin lama mereka jadi semakin tidak terkendali. Kalau begini, jam istirahat akan selesai”
Tapi, Kaito dengan santainya menjawab, “Lihat sampai dimana mereka bisa berhenti bicara”
Saat Kaito bicara begitu, ronde kedua dimulai.
“Aku tidak tau kalau sifatmu itu jeleknya sampai ke otak paling belakang! Sadar tidak kalau semua itu di depan Dewan Sekolah?!” bentak Xenon
“Aku tidak peduli! Dulu aku pernah melawan guru gendutku sampai masuk ke ruang konseling dan aku masih hidup sekarang!”
“Tidak akan ada yang mati ketika masuk ruang konseling!”
“Tapi aku benci guru gendut itu dan guru kalian yang mengaku Lady itu juga sama menyebalkannya!” balas Ryou
Kaito teringat sesuatu.
“Kino, dulu saat ada di ‘dunia siang’ Ryou pernah mengatakan kalau ruang konseling itu tempat yang mengerikan. Apa itu benar?”
Kaito polos sekali. Dia bahkan masih tidak paham dengan yang dimaksud dengan ruang konseling sejauh mereka melakukan perjalanan bersama sampai saat ini.
Kino sedikit memberikan gambaran, “Ruang konseling itu adalah ruang dimana siswa diberi arahan dan nasehat serta bisa dipakai untuk ruang introspeksi diri saat melakukan kesalahan, Kaito-san”
“Begitu. Soalnya dia bilang di dunia kalian, dia bahkan memasukkannya ke dalam daftar tempat paling menyebalkan, paling merepotkan dan paling buruk yang pernah didatanginya seumur hidup”
“Kaito..-san? Ryou benar-benar berkata begitu?” Kino sekarang terlihat aneh
“Iya, dia bilang begitu. Sudah begitu ada yang namanya makhluk yang disebut guru berkacamata yang memakai rambut palsu untuk menutupi kebotakannya”
“......” Kino semakin aneh
Tampaknya Kino tidak pernah dengar soal itu tapi itu memang terjadi ketika Ryou dan Kaito berada di ‘dunia siang’ ketika mereka diikuti oleh anak buah Justin. Kino tidak tau akan hal itu.
Kembali ke ronde kedua Ryou melawan Xenon, tampaknya semua semakin tidak terkendali.
“Aku tidak mau mendengarkan curhatan seorang guru yang sepertinya terus menerus gagal dalam hal cinta! Dia membuat kita berdiri selama nyaris tiga jam!” bentak Ryou
“Aku tau itu, tapi menantangnya secara langsung akan membuatmu dalam masalah! Selain itu, Barbara-sensei itu adalah satu dari tiga pengajar yang dihindari oleh semua murid termasuk Dewan Sihir!”
“Hah?!” Ryou terkejut dengan ekspresi meremehkannya
Tapi Kino dan Kaito yang mendengar itu terkejut dengan wajah syoknya.
“Apa tadi itu?”
“Pengajar yang dihindari bahkan oleh Dewan Sihir katanya. Apa dia serius?”
Xenon menarik napasnya dan bicara dengan nada serius.
“Barbara Lindsey-sensei itu adalah guru yang terkenal paling pelit nilai. Tingkat 1 seperti kalian akan kesulitan lulus ujian untuk naik ke tingkat 2 jika sihir pertahanan saja tidak lulus. Itu adalah sihir dasar dan sihir yang paling sering dilupakan”
“Kebanyakan orang yang mampu menggunakan sihirnya, sihir dasar akan dianggap remeh meskipun itu adalah pondasi awal sebuah kekuatan dan pengendalian sihir”
“Kino, Kaito dan kau itu bukan dari dunia ini yang sudah pasti tidak memiliki apapun tentang dasar sihir”
“Jika kalian sampai gagal dalam pelajarannya, kalian tamat!”
Ryou sama sekali tidak terkejut dan dengan sangat ringannya membalikkan semua ucapan Xenon.
“Kau ini tidak ingat kalau kau adalah guru sihir kami?”
“Hah?”
“Apa gunanya memiliki guru jenius setingkat Dewan Sihir kalau masih takut pada guru pertahanan dasar. Konyol sekali. Lagipula otoritas Dewan Sihir lebih tinggi dari pengajar biasa, kan?”
“Itu memang benar tapi–”
“Kalau begitu, aku tetap menang”
Meski sudah dibentak, Ryou justru terlihat semakin senang dengan senyum penuh kebanggaan.
“Lagipula, kau lupa kalau kami di sini hanya sampai ingatan Kaito kembali. Ingat, hanya sampai ingatan Kaito kembali”
“Tidak akan sampai dua tiga bulan. Kalaupun harus beberapa bulan, tidak akan sampai setahun”
“......” Xenon diam
Akhirnya, hasil akhir dari ronde kedua adalah 1-0 dan pertarungan ini dimenangkan oleh Ryou.
Tampaknya, Ryou bisa melihat Dewi Fortuna menari-nari dengan pom-pom di tangannya. Walaupun itu hanya angan-angan yang tidak nyata.
Xenon berjalan mendekati Kino dan bertanya, “Adikmu pernah masuk ke rumah sakit jiwa?”
“Xe–Xenon-san…R–Ryou normal. Percayalah padaku”
“Mulutnya itu perlu disekolahkan kembali atau dia harus melakukan tes kejiwaan. Cerewetnya melebihi perempuan. Aku curiga dia bukan adik kandungmu”
“Eh?”
“Kau yakin tidak ada insiden tertukar saat ibumu melahirkannya?”
Kaito yang mendengar hal itu jadi teringat dirinya saat meragukan hubungan keduanya saat pertama kali bertemu.
‘Aku kira hanya aku saja yang berpikir begitu. Kalau diingat lagi, Tuan bartender, tuan manager dan Riz juga meragukan Ryou itu adik Kino, kan?’ pikirnya
‘Tampaknya memang ada yang salah dengan mereka’
Percayalah, semua itu sudah takdir.
Ryou yang tidak peduli dengan ucapan Xenon masih merasa bangga pada dirinya sendiri dan menarik tangan sang kakak.
“Kino, kita makan. Xenon yang traktir”
“Apa?!” Xenon terkejut, “Kenapa aku yang traktir?!”
“Karena kau harus merayakan kemenangan murid jeniusmu ini”
“Hah?! Tapi makanan di kantin kan–”
Ryou menarik tangan Xenon juga sekarang, “Penjelasannya nanti saja. Pokoknya kita pesan paling banyak”
Mereka keluar dari ruangan itu menuju kantin sekolah yang mewah itu.
**
Di ruang guru, Barbara Lindsey melihat dokumen para murid baru setelah dirinya kalah dan dipermalukan oleh murid baru.
“Yuki Ryou ya…huh, apanya yang hebat? Tampaknya tidak ada yang istimewa darinya”
Sebuah kertas di tangan Barbara Lindsey itu adalah kertas para siswa tingkat 1. Di sana ada data tentang Ryou, begitu pula milik Kino, Kaito dan para Rebellenarmee.
Yang tidak biasa, data itu memiliki bagan dan rasio serta memuat informasi latar belakang mereka.
“Untung saja aku meminta ini kepada Dewan Sihir. Awas saja anak itu. Akan kutandai dia agar selalu gagal dalam pelajaranku besok!”
Data milik mereka telah dimanipulasi oleh para Dewan Sihir dalam rapat kemarin. Tumpukan kertas yang nyaris dilempar oleh Lucas ke jendela saat itu adalah kertas untuk menyalin dan memalsukan ketujuh calon siswa data kosong tersebut.
Bukan hal mudah karena mereka harus mencocokkannya dari hasil ujian dan kriteria elemen sihir yang terdeteksi oleh pengawas dan penguji pada hari ujian saat itu.
Kini, siang hari yang panjang akan menemani ketiga remaja dari dunia lain itu.
**
Berbeda dengan tempat sebelumnya, Mark berada di dalam sebuah ruangan tertutup bersama Lucas dan Rexa.
Ruangan itu bertuliskan ‘Divisi Khusus: Area Terlarang’ yang jelas memberikan kesan sangat mengerikan.
Mark menunjukkan sesuatu yang membuat Lucas tidak bisa berkata apapun. Rexa tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.
“Mark…ini…”
“Aku ingin menunjukkan ini pada kalian sebelum yang lain mengetahuinya. Mereka tidak main-main. Aku khawatir mereka akan serius kali ini”
Ada hal yang terjadi sebelum Mark memperlihatkan semua ini pada keduanya dan hal tersebut diawali dari berakhirnya upacara penerimaan saat itu.
******