Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 251. Malam dan Topik Masalah di Dalamnya



Di malam itu, Xenon masuk ke kamarnya memandangi bros elang di tangannya yang tidak lagi bertahtakan permata berwarna ungu kemerahan.


“Pada akhirnya bros ini kembali menjadi benda yang tidak berarti” gumamnya pelan


Hampir tidak ada hal spesial di dalam ingatan Xenon yang dia ingin tampilkan. Seperti menyimpan hal yang penting rapat-rapat layaknya sebuah kotak Pandora, dia membiarkan malam berlalu dengan cara memejamkan matanya sambil membawa bros elang itu tidur bersamanya.


Di sofa, ketiga remaja dunia lain masih melihat-lihat batu sihir yang ada. Ryou bahkan seperti tidak percaya dan terus menggerutu.


“Aku tau dia kaya, tapi aku tidak menyangka dia akan punya batu terkutuk ini lebih dari satu. Satu batu saja sudah membuatku gila. Berapa tadi harganya?”


“300.000-500.000 Penny Libra” jawab sang kakak


“Benar, itu! Harga yang mahal sekali menurutku. Tapi yang lebih tidak masuk akal lagi adalah dia tidak memakainya sama sekali! Ini gila!”


Kino melihat Kaito yang duduk diam dengan memegangi sebuah batu sihir di tangannya. Kaito di sini seperti kehilangan arah pikirannya dan seakan berada dalam dunianya sendiri.


“Kaito-san?” Kino memanggilnya pelan


Tidak ada respon dari Kaito sejauh ini. Sepertinya, Kaito benar-benar tidak memiliki kesadaran untuk bergabung dengan mereka.


Kino mengingat apa yang dikatakan oleh Kaito begitu dia bisa membuka mulutnya setelah ingatan itu masuk ke dalamnya.


[Adler…Klaue…]


‘Dari kalimat itu, tampaknya Kaito-san sudah mengingat beberapa hal. Apakah itu adalah nama asli Kaito-san?’


Rasa ingin tau akhirnya membuat Kino bertanya kepada Kaito.


“Kaito…-san?”


“……” Kaito tidak memberikan responnya.


Ryou yang menyadari sang kakak memanggil Kaito menyenggol tangannya sedikit. Seperti dugaan Ryou, Kaito tampaknya kaget dan akhirnya dia kembali dari dunianya.


“Ah! Ma–maafkan aku. Apa ada sesuatu?”


Ryou melihat Kaito dengan wajah aneh dan bertanya, “Kau kenapa?”


“Aku tidak apa-apa”


“Kau bukannya tidak apa-apa. Kino memanggilmu tadi tapi kau diam saja. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?”


“……” Kaito terdiam


Kino mencoba bertanya kepada Kaito tentang semua yang mengganjalnya.


“Kaito-san, apakah aku boleh bertanya kepadamu? Siapa itu Adler Klaue?”


“Kino?” Kaito melihat remaja itu dengan wajah terkejut


Ryou awalnya masih belum paham dengan pertanyaan sang kakak tersebut. Akan tetapi, saat dia ingat Kaito sempat mengatakan nama itu.


“Kaito, apakah kau sudah mengingat namamu sendiri? Apakah ingatan yang barusan masuk itu adalah ingatan tentang namamu?”


Kaito belum menjawab pertanyaan Ryou. Dia sendiri masih ragu darimana harus memulainya, namun dia juga berhutang dan sudah sangat percaya kepada kedua remaja itu.


“Itu…bukan namaku”


“Bukan?”


“Itu nama seseorang yang aku kenal. Aku mengingat tentang orang itu dan saat kami pertama bertemu. Hanya itu yang kembali”


“Dan namanya adalah Adler Klaue?”


“……” Kaito terdiam dan mengangguk sekali


Kedua kakak beradik itu saling melihat satu sama lain.


“Kaito-san, apakah kami boleh mengetahuinya? Bagaimana pertemuanmu dengan orang itu dan apa saja yang telah kamu ingat”


Sejak awal, Kaito memang tidak ingin menyembunyikan apapun. Dia menceritakan semuanya.


“Kalung Theo-kun…adalah ingatan mengenai itu juga?”


“Benar. Di bagian ingatan itu, aku yang saat itu masih kecil, bersama temanku pergi untuk mencari beri di hutan. Lalu, kami berdua melihat seorang remaja bertarung melawan monster. Giant serpent, itulah nama monsternya”


“Giant serpent?! Di ingatanmu ada monster seperti itu?!” Ryou terkejut mendengarnya


Kaito menjelaskan semua yang dia rasakan dan dia lihat di dalam ingatannya.


“Benar. Aku sendiri juga tidak begitu ingat karena kepingan itu tidak menampilkan banyak hal. Tapi, aku mengingat gerakan dan cara bertarungnya persis seperti yang aku miliki”


“Entah apakah aku pernah belajar darinya atau sekedar menirunya di masa depan karena pernah melihatnya, yang jelas begitu aku melihat wajahnya…aku merasa sangat mengenalnya”


Penjelasan Kaito itu cukup mengejutkan kedua kakak beradik itu.


‘Giant serpent katanya! Di lihat dari sudut manapun, dunia asal Kaito jelas nyaris mirip dengan dunia fantasi yang aku tau. Dan dengan pergi ke hutan saat dia masih kecil menandakan bahwa kemungkinan tempat asal Kaito itu berada di dekat hutan atau wilayah pegunungan’


‘Sebenarnya seperti apa tempat Kaito-san dulu tinggal dan apa yang terjadi sampai ingatan miliknya hilang begitu saja seperti itu? Mungkinkah telah terjadi sesuatu yang buruk saat itu?’


Kedua kakak beradik itu begitu penasaran dengan ingatan Kaito. mereka menunggu sampai Kaito menceritakan hal yang lainnya.


“Kepingan ingatan Theo yang masuk ke dalam tubuh ini hanya memuat hal itu. Namun, ingatan yang ada dalam kepingan permata di bros Xenon memperlihatkan hal yang mengejutkan”


“Nama, fisik dan bagaimana aku berkomunikasi dengannya…aku ingat itu. Selain itu, aku ingat wajahnya yang begitu jelas. Ketika dia menyebutkan namanya, aku tidak tau kenapa”


“Aku merasa dia adalah sosok yang berharga untukku sebelum aku kehilangan ingatanku. Dan begitu mendengar dirinya menyebut namanya sendiri, aku merasa…aku telah kehilangan dia hingga membuatku menangis”


Kino dan Ryou sepertinya tau arti kalimat itu.


“Dia sudah…mati?”


“Entahlah. Mungkin aku hanya berpisah dengannya. Atau mungkin juga dia memang sudah tidak ada lagi di dunia ini”


Ucapan Kaito itu cukup menyayat hati. Rasanya kedua kakak beradik itu telah masuk semakin dalam.


“Maafkan aku, Kaito-san”


“Kenapa minta maaf? Akulah yang minta maaf karena membuat kalian terjebak bersamaku. Jika tidak menemukan cara mengembalikan kalian, aku sendiri juga merasa sangat bersalah. Sekarang, justru kalian yang terseret ke dalam masalahku”


“Itu tidak benar, Kaito-san!”


“Tidak, itu benar. Kau menyeret kami, Kaito”


Kino melihat sang adik. Dia berusaha keras untuk tidak menyalahkan Kaito, tapi justru sang adik yang dengan begitu pengertian mengatakan hal tersebut. Benar-benar tidak memiliki bakat membaca situasi dengan benar.


“Kau memang menyeret kami ke dalam masalahmu dan yang paling penting, tidak ada satupun tempat bagus yang kita datangi. Pada akhirnya, kalau bukan mayat, ya masalah yang mengelilingi…”


“Ryou, jangan bicara begitu!” sang kakak mencoba menenangkan sang adik


“Tapi tidak masalah untukku. Karena pada akhirnya, kita akan membuat sejarah baru. Dan jika semua ingatanmu telah didapatkan, pastikan kau mengingat bahwa ada dua orang dari dunia lain yang sudah menjadi pahlawan untukmu!”


Kaito hanya tersenyum. Di dalam pikirannya, dia tampak masih memiliki sesuatu yang dipikirkan.


‘Aku harap aku bisa mengingat siapa Adler Klaue itu sebenarnya. Jika memang ada ingatanku yang lain di tempat ini, aku harap aku bisa mendapatkannya secepat mungkin’


Kino dan Ryou saling berbisik.


“Kino, bagaimana pendapatmu tentang hal ini?”


“Apanya?”


“Baru beberapa jam kita di sini tapi sudah terlibat hal yang serius. Sudah begitu, identitas kita bisa diketahui oleh orang dari ‘dunia’ ini dengan mudah. Dan yang lebih mengejutkan, ingatan Kaito kali ini semakin memperlihatkan seperti apa dia di masa lalu”


Kino terdiam. Dia juga merasa bahwa semakin lama, Kaito semakin bisa mendapatkan ingatan pentingnya.


“Ini mungkin adalah pertanda baik, Ryou”


“Tidak. Aku berani bersumpah ini bukan pertanda baik, Kino. Setidaknya, kita bertiga sudah terlibat dalam masalah besar di Negara ini”


******