
Di asrama, di kamar Mark…
-Gleek…Gleeek…
-Tluuung
Suara botol yang tanpa sengaja tersentuh ujung sepatu Mark bergerak dan sedikit menggelinding pelan.
“Ahhh…uhuk uhuk…”
-Tluuung
Satu botol lainnya menggelinding di lantai. Di lantai, sudah ada banyak botol-botol kecil kosong. Itu semua adalah racun yang dibelinya. Artinya, Mark sudah meminum racun-racun itu begitu sampai di kamarnya.
“Akh!!”
Mark menopang dirinya sendiri dengan menahan kedua tangannya di atas meja belajarnya. Mata merah Mark menyala dan berganti biru, merah kembali dan terus terulang beberapa kali, Sampai akhirnya mulut Mark mengeluarkan darah cukup banyak.
“Kaakh!”
Mark batuk berdarah, namun darah itu sedikit berwarna gelap seperti mengandung racun. Tidak lama kemudian, mata Mark yang terus berubah warna dari merah ke biru kembali menjadi merah menyala.
“Hilang…” gumamnya. “Aku tidak merasakan rasa sakit itu. Seperti…racunnya sudah hilang”
Mark kali ini mengambil sekaleng besar racun lainnya.
“Ini yang kesembilan. Masih ada delapan kaleng yang menungguku. Sepertinya aku tidak akan selesai sampai siang ini”
Mark kembali meminum racunnya.
Dengan jumlah sebanyak itu, Mark masih bisa berdiri dengan tegak tanpa masalah. Kesimpulan dari semua ini adalah dia sedang menyiksa dirinya demi membuktikan tingkat keakuratan antara dia dengan dua benda sihir di dalam tubuhnya.
“Aah…”
Mark yang selesai meminum racun lainnya terlihat tidak bereaksi. Lebih tepatnya, dia membatu karena terkejut akan sesuatu yang dirasakan olehnya.
“Mustahil. Sudah tidak ada rasa sakit apapun dan rasa racun ini seperti…air?”
“Apa mungkin Artifact sudah mulai terbiasa dengan racun? Itu artinya aku benar-benar nyaris tidak bisa mati”
“Ini di luar dugaan. Kalau begini, aku akan menyebut diriku sendiri sebagai monster”
Mark tidak mau menyia-nyiakan sisa racun kaleng yang ada dan benar-benar menghabiskan semuanya.
“Setelah botol kesembilan bereaksi, botol setelahnya dan setelahnya lagi sama sekali tidak ada rasanya. Benar-benar seperti minum air berwarna. Meskipun aroma menyengatnya masih bisa aku cium, tapi rasa racun ini tawar”
Mark membuka laci miliknya dan mengambil permen yang dia simpan.
“Hmm, manis. Rupanya hanya rasa racun saja yang sudah hilang. Aku pikir aku tidak bisa mengecap rasa makanan”
Sekarang, Mark mendapati kesimpulan lainnya. Dia bergumam sendiri sambil melihat ke arah botol-botol di lantai.
‘Artifact menghilangkan semua hal buruk yang masuk ke dalam tubuhku. Racun itu dibuat seperti air, namun hal selain racun masih memiliki rasa dan efek yang sama
‘Dengan kata lain, racun tidak bisa membunuhku dan aku bisa mendeteksi racun yang termakan olehku dari rasanya’
Mark mengambil permen yang sama namun kali ini dia meneteskan sisa racun yang ada di kaleng sebelum memakannya. Saat memakannya, mata merah Mark menyala.
‘Sudah kuduga. Permen manis itu jadi tanpa rasa setelah aku meneteskan racun ke atasnya’
‘Aku rasa alasan lain Rebellenarmee menginginkannya adalah karena hal ini juga. Sebelumnya senjata tidak bisa membunuhku, sekarang racun juga tidak bisa’
‘Membayangkan pemimpin Rebellenarmee memiliki Artifact di dalam tubuhnya membuatku percaya Negara ini akan tamat’
Mark mengambil permen lainnya dan memakannya kembali sambil bergumam kecil, “Aku akan merahasiakan ini bahkan dari Lucas untuk sekarang. Akan jadi keuntungan bagiku sebelum menghancurkan Rebellenarmee sampai ke akar”
“Setelah itu, aku akan mengatakan ini kepada yang lain dan Yang Mulia Raja Lucario-sama”
**
Di tempat lain, di dalam ruang gelap dengan cahaya dari api di dinding…
“Apa ini?”
“Aku tidak tau. Tempat seperti ini…ternyata lebih luar dari dugaanku. Anak tangganya tidak terlalu curam juga”
“Ryou, jangan berhenti tiba-tiba ya. Di belakangku ada Kino. Cahaya di sini tidak begitu bagus”
“Aku tau”
“Kalian berdua, hati-hati. Ryou, perhatikan langkahmu ya. Jangan berhenti mendadak”
“Aku tau, aku tau itu. Jangan khawatir, Kino”
Itu adalah ketiga remaja dari dunia lain. Setelah berhasil menemukan permata Kaito dan sebuah ruangan aneh, akhirnya mereka masuk ke tempat yang tidak terduga.
Di lantai dua menara perpustakaan yang letaknya di bagian belakang gedung akademi ternyata memiliki sebuah ruang rahasia.
“Menurut kalian berdua, apakah pihak akademi ini tau mengenai ruang rahasia ini?” tanya Ryou sambil terus berjalan
Kaito menjawab, “Aku tidak yakin. Mungkin saja tau atau mungkin juga tidak”
“Mana aku tau. Kau tau kalau tempat ini sejak awal aneh, kan?” jawab Kaito
Kino mencoba menenangkan keduanya, “Kalian berdua…”
Di depannya, Ryou melihat sebuah pintu besi.
“Pintu?”
“Apa?” kedua orang di belakangnya ikut terkejut
Mereka mendekatinya. Anak tangga itu berakhir di sebuah pintu besi.
“Tidakkah kalian pikir kalau kita seperti turun ke lantai yang lebih bawah dari lantai satu perpustakaan itu?” pikir Ryou sambil melihat pintu tersebut
“Aku rasa kita mungkin ada di bawah tanah” tebak Kino
“Kita tidak mungkin naik lagi ke atas. Kalaupun naik, aku akan semakin penasaran dengan apa yang ada di balik pintu ini” ucap Kaito dengan wajah serius
Kino melihat jam saku yang ada disimpannya, “Masih ada waktu sampai jam satu siang nanti. Apa kalian yakin mau melihat sesuatu di balik pintu itu?”
“Yakin. Aku sangat yakin dan aku setuju dengan kalimat Kaito tadi. Kino, kita harus melihatnya”
Karena sang adik sudah bersikeras seperti itu, Kino hanya menghela napas dan menyimpan kembali jam sakunya.
“Aku coba buka ini ya?”
Ryou terlihat sangat senang. Kaito mengeluarkan pedangnya dan berdiri di samping Ryou.
“Aku akan melindungimu. Hati-hati”
Ryou mengangguk dan membukanya. Begitu dibuka, tidak ada apapun kecuali lorong panjang lainnya.
Kaito terlihat mencurigai tempat itu sehingga maju dua langkah di depan Ryou untuk memastikan semuanya.
“Tidak ada apapun. Hanya…” Kaito terdiam dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia merasakan sesuatu.
“Kaito-san?”
“Ada angin. Pintu ini menuju sebuah ruangan. Ada ruangan luas di depan sana. Setidaknya angin ini cukup terasa di kulit”
Kino melangkah dan merasakan poni rambutnya sedikit bergerak.
“Benar-benar ada angin”
Ryou mengeluarkan sihirnya.
[Fire Art: Agnimal Candle]
Sebuah cahaya berbentuk hewan kecil lucu keluar dan melayang di udara. Kaito melihat bentuk api itu
“Musang…api?”
“Itu kucing! Sembarangan saja bicara! Aku membayangkan bentuk anak kucing di dekat halaman rumahku yang sering muncul minta makan. Jangan menghina ya!” gerutunya
Sedikit unik, api berbentuk hewan itu bercahaya namun saat disentuh oleh Ryou tidak panas sama sekali.
Sudah begitu dia manja seperti kucing sungguhan.
“Jadi anak baik dan terangi jalan ya”
Api itu menggoyang-goyangkan ekor apinya dan maju terlebih dahulu. Mereka mulai berjalan.
Kino sempat tersenyum dan bertanya pada sang adik, “Aku kaget Ryou bisa membuat yang seperti itu”
“Aku kan bukan anak nakal, Kino. Memang kau kira adikmu ini apa?”
“Aku tau Ryou anak baik. Aku suka kucing lucu itu”
“Anggap saja penghibur hati dan penerang jiwa”
Kino tertawa kecil mendengar ucapan itu. Kaito yang mendengar interaksi keduanya juga tersenyum. Tentu saja pedang miliknya masih dipegang di tangan.
“Hmm?”
“Ada apa, Kaito-san?”
“Jalan ini lebih panjang dari dugaanku. Tapi anginnya bisa terasa cukup kuat. Menurut kalian apa yang ada di sana?”
“Ruangan besar. Tapi aku tidak sepenuhnya percaya bahwa ruangan itu akan benar-benar aman tanpa jebakan” jawab Ryou
“Aku berpikiran hal yang sama, Kaito-san. Akademi Sekolah Sihir tidak mungkin seceroboh itu sampai membiarkan ada orang asing tau mengenai ruang dan jalan rahasia ini”
Kaito mengangguk setuju dengan keduanya. Dan tidak lama setelah itu, jawaban itu didapatkan.
Sebuah ruangan putih yang besar dengan lebar dengan beberapa pintu terlihat di depan.
“Apa…ini?”
******