Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 274. Hari Santai Sebelum Ujian bag. 5



Bagian terbaik dari hari itu adalah ketiga remaja dari dunia lain bisa bersantai. Waktu bersantai mereka cukup lama dengan pembicaraan ‘ringan’.


“Besok, kita akan melakukan yang terbaik. Hal pertama yang aku harapkan adalah semoga aku bisa diuji oleh Xenon agar aku bisa membalas dendam atas latihan menyebalkan yang kita lakukan dengannya pagi ini” gumam Ryou sambil menunjukkan ekspresi cemberut


“Ryou, jangan berdoa begitu”


“Habis aku masih kesal pada apa yang dia lakukan padamu, Kino. Memang kau tidak kesal?”


“Aku tidak apa-apa. Lagipula kalau tidak begitu, kita tidak akan tau kalau aku memiliki sihir yang bisa difungsikan untuk pengobatan juga”


“Terserah. Pokoknya aku tetap kesal!” tampaknya sang adik tidak mau mendengarkan kakaknya kali ini


Berbeda dengan doa Ryou yang sangat sederhana, doa Kaito cukup mengejutkan.


“Aku berharap aku satu ruangan dengan pemilik aura pembunuh itu”


“Kaito-san!”


“Kaito, kau serius?!”


“Aku serius. Aku ingin tau apakah itu adalah salah satu dari ras yang ditolak di masa lalu atau bukan”


“Hmm, besar kemungkinan itu sejenis beastman atau setengah elf. Oh! Tapi bicara soal beastman, bukankah kita melihat mereka saat pertama kali tiba di ‘dunia’ ini?” Ryou mengingat-ingat


“Beastman?”


“Benar. Aku ingat kita melihatnya dan tidak ada orang yang menolak kehadiran mereka. Tampaknya isi artikel informasi itu tidak sepenuhnya salah. Rakyat banyak yang tidak memedulikan hal itu lagi, tapi pihak provokator yang membuat masalah”


Kaito mulai berpikir dan menyimpulkan sesuatu.


“Begitu ya. Kalau begitu, mari kita asumsikan bahwa semua itu benar. Berarti besar kemungkinan akan ada yang menginginkan perang kembali”


“Dan berhubung adanya sihir hitam yang dipakai, itu artinya mereka bermaksud membuat masa lalu terulang kembali”


Kesimpulan sederhana itu tidaklah salah. Kino tampaknya sependapat dengan Kaito.


“Intinya, setelah kita bertemu dengan Xenon-san, kita akan langsung membahas ini semua. Aku yakin dia juga akan sangat terkejut mendengarnya”


“Kau benar, Kino”


Sungguh pembicaraan yang ‘ringan’ di siang hari. Pembahasan tersebut berlangsung cukup lama hingga tanpa sadar, waktu sudah banyak terlewati.


******


Di lorong koridor akademi, para murid baru saja keluar dari kelas mereka.


Semua murid dan tenaga pengajar memenuhi lorong koridor tersebut. Layaknya sekolah biasa, mereka baru saja selesai dari kelas sihir di sore itu.


Di sebuah kelas, Xenon yang baru saja akan berdiri dari kursinya dipanggil oleh seseorang.


“Xen!”


Xenon menengok. “Kaizer? Ada apa?”


“Apanya yang ada apa? Kita sudah lama tidak mengobrol dan inikah sambutanmu?”


“Maaf, aku sibuk akhir-akhir ini”


“Soal kelompok sihir hitam ya. Aku dengar dari senior kelas pembelajaran sihir kuno, katanya kamu sudah berhasil melakukan eksekusi lainnya ya? Selamat”


“Terima kasih”


“Tadinya aku mau bertanya apa kamu akan pergi menginap di luar seperti kemarin lagi atau tidak. Aku hanya takut kakakmu akan mencarimu”


“……” Xenon terdiam


Orang yang ada di hadapannya ini adalah teman satu asrama sekaligus satu kamarnya, Kaizer Britain. Hanya dia yang mengetahui dimana tempat Xenon menginap di kota selama ini dan bisa dibilang dia adalah satu-satunya teman yang paling dekat dengannya dari kalangan murid biasa.


“Xenon, apa kamu bertengkar lagi dengan Rexa-sama?”


“Tidak. Aku tidak bertengkar dengannya. Aku hanya ada sedikit urusan. Lagipula, aku harap rahasia ini tidak ada yang tau. Aku hanya bisa percaya padamu, Kaizer. Apapun dan siapapun yang bertanya dimana aku tinggal di kota selama ini, tolong jangan katakan”


“Aku mengerti. Tapi setidaknya beritaukanlah sesuatu padaku. Aku tau tugasmu sebagai anggota divisi dari Dewan Sihir itu berat dan aku mengerti resikonya. Hanya saja–”


“Aku mohon, tolong jangan bertanya”


“……” wajah Kaizer terlihat sedikit sedih. “Bagaimana dengan tunanganmu? Apa dia juga tidak berhak mengetahui hal ini?”


“Jessie-sama?”


“Kemarin sore dia terus mencarimu. Aku melihatnya dia bertanya pada beberapa orang. Aku yakin Jene-sama juga ikut mengkhawatirkanmu meskipun dia tidak sempat bertanya padaku soal keberadaanmu juga”


“Begitu”


“Bukan itu yang ingin kudengar. Apa kamu sudah bertemu mereka berdua hari ini?”


“Belum. Aku berharap aku tidak bertemu dengannya hari ini”


Xenon melihat jam tangannya dan memutuskan untuk pergi dari kelas. “Aku harus pergi, Kai. Aku mohon apapun yang terjadi, jangan pernah bicara apapun. Di sini, hanya kau satu-satunya teman yang bisa aku percaya. Sampai jumpa, aku ada janji!”


“Xen!” Kaizer berteriak namun semua terlambat. Xenon sudah keluar dari kelas dengan berlari


Dalam hati, Kaizer terlihat cukup murung.


‘Aku tau dia tidak ingin melibatkan diri dalam keluarganya dan pertunangan itu. Tapi, aku cukup sedih melihatnya'


'Xen, kapan kamu mau menerima semua kebaikan orang lain? Tidak ada yang salah menjadi bagian dari keluarga pahlawan meskipun kamu hanyalah anak seorang pelayan’


***


Ini terjadi kemarin sore. Kaizer yang berjalan bersama teman-temannya di lorong sekolah setelah selesai pelajaran bertemu dengan Jessie yang berlari mencarinya.


“Hmm? Jessie-sama?” gumamnya pelan


Jessie yang memperlihatkan senyumannya menghampiri Kaizer.


“Jessie-sama, ada yang bisa dibantu?”


“Kaizer, apa kamu melihat Xenon? Aku baru bertemu dengan Rexa-sama dan yang lain tapi mereka mengatakan tidak melihatnya”


“Tidak. Dia tidak terlihat. Apakah ada sesuatu?”


“Hari ini, kakakku dan dia berada di ruang praktek namun sepertinya sampai sore ini belum kembali. Aku ingin sekali bicara padanya”


Kaizer terdiam. Dia mulai bicara pada dirinya sendiri.


‘Dia pasti menginap di luar lagi. Aku sudah sangat hafal dengan kebiasaannya itu’


“Apa kamu tau dimana dia biasa menginap di kota?”


“Eh?!” pertanyaan Jessie cukup membuatnya terkejut. “Aku tidak tau! Aku tidak pernah mendengar apapun darinya, sungguh!”


Wajahnya cukup panik namun dia berusaha untuk tenang. Jessie juga tidak terlihat curiga.


“Begitu, sayang sekali. Padahal kamu teman sekamarnya”


“Tidak semua hal bisa diceritakan kepada teman sekamar, Jessie-sama. Apalagi aku yakin Jessie-sama tidak asing dengan sifatnya yang menjauhkan diri dari mana-mana”


“Kamu benar. Jika nanti melihatnya. Tolong katakan bahwa aku mencarinya ya”


“Aku mengerti”


Teman Kaizer memberikan tanda bahwa mereka harus pergi dari sana dan akhirnya Kaizer berpisah dari Jessie.


Tidak lama setelah itu, dia melihat Jene yang berlari mengejar adik kembarnya. Tidak ada komunikasi di sore itu antara Jene dengan Kaizer, tapi ada pembicaraan antara dia dan temannya.


“Xenon tidak kembali?” tanya temannya


“Tidak. Aku yakin dia menginap di luar. Semua anggota divisi tau dia tidak pernah mau kembali ke asrama, tapi mereka tidak tau dimana dia tinggal di kota”


“Itu tunangannya, kan? Kau tidak mau mengatakannya? Dia sampai berlari begitu” ujar temannya yang lain


“Tidak perlu. Ini masalahnya. Biarkan dia yang menyelesaikannya. Aku yakin Xenon akan segera tau bahwa ada banyak orang yang peduli padanya” ucap Kaizer


“Tapi aku penasaran, kenapa dia begitu tidak bahagia berada di keluarga pahlawan? Apanya yang salah dengan itu?”


“Aku rasa itu urusan pribadinya. Kalau dia kembali besok, mungkin aku hanya akan mengatakan semua kejadian ini padanya”


“Kau benar, Kaizer. Lebih baik kita diam saja. Aku cukup takjub kau bisa menghadapi sifat angin-anginan Xenon yang seperti ini selama 3 tahun di akademi” puji salah satu temannya


“Aku rasa kalian akan lebih memujiku saat tau aku akan satu kamar dengannya selama 6 tahun bersekolah di akademi ini. Menjadi teman sekamarnya sampai lulus itu mungkin akan melatih kesabaranku saat sudah menikah dan punya anak nanti. Ahahah!”


***


Kaizer yang masih berdiri selesai mengingat kejadian kemarin akhirnya menghela napas panjang.


“Haaa~aku harus benar-benar bersabar tinggal satu kamar dengannya sampai lulus nanti”


**


Xenon berlari di koridor dengan cepat, sampai akhirnya langkah Xenon terpaksa dihentikan karena adanya dua orang yang berdiri di jalurnya.


“Kalian…” gumamnya


“Setelah pencarian anak hilang, rasanya senang sekali bisa menemukanmu di sini. Mau kemana lagi kau, kucing kecil menyebalkan?”


“……” mata Xenon memperlihatkan ekspresi penuh keterpaksaan. “Kenapa kalian di sini? Aku sibuk, jangan menghalangiku”


“Aku dan Jessie mencarimu sejak kemarin dan inikah yang kami dapatkan?! Traktir aku makan sekarang!” teriak Jene


Benar, di depannya adalah Jessie dan Jene. Mereka tampaknya sudah sedikit hafal dengan waktu melarikan diri milik Xenon sampai tau bahwa dia pasti akan melewati koridor itu di saat yang tepat.


Jessie mendekati Xenon.


“Aku mencarimu sejak kemarin, kenapa menghindariku?”


“Aku tidak bermaksud tidak sopan, Lady Jessie tapi aku benar-benar sibuk. Jika tidak keberatan, tolong minggir dari jalanku sekarang atau aku akan terlambat”


“Apanya yang akan terlambat? Tidak bisakah aku ikut denganmu?”


“Bukan bermaksud lancang tapi tidak. Aku benar-benar terlambat, jadi tolong berhenti menghalangiku”


Dalam sekejap, ketiganya menjadi tontonan murid dan staff lain.


“Aku mohon, aku ingin ikut. Kakakku juga ingin ikut denganmu”


“Tolong menyingkir dari sana” kata Xenon sekali


“Xenon!”


“Tolong menyingkir dari jalanku” ucapnya untuk kedua kali


“Tidak akan! Kali ini kamu harus mendengarkan aku! Aku ingin ikut denganmu dan aku tidak akan menyingkir sampai kamu mau setuju”


Dalam hati, Xenon ingin sekali marah. Bukan, dia memang sudah marah sekarang tapi tidak bisa membentak kedua orang itu karena alasan keluarga bangsawan. Dia selalu menganggap rendah dirinya dan tampaknya kali ini juga begitu.


“Haa~aku mengerti. Aku akan mengajak kalian”


Keduanya tersenyum. Dengan terpaksa Xenon pergi bersama kedua orang itu. Tapi tampaknya damai bukanlah jalan pilihan Xenon.


‘Begitu sampai di lobi, akan kutinggalkan mereka berdua’


******