Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 277. Akhir dari Hari Santai Sebelum Ujian



Sekarang, Kaito yang sudah menerima tantangan dari pemilik toko tersebut harus siap dengan kemampuannya menilai barang.


Di depannya terdapat 4 jenis dagger yang 3 di antaranya sempat ditawar oleh Ryou.


“Nah, coba perhatikan semua pisau ini. Kalau kau memang sudah biasa membeli senjata seperti yang kau sebutkan, seharusnya tidak sulit. Atau kau hanya membual? Ahahaha!!”


“Orang gendut itu sama menyebalkannya pada si gendut Sakizawa-sensei. Aku benar-benar ingin membuatnya malu!” gerutu Ryou dengan wajah kesal


“Ryou, harusnya tadi kamu coba untuk menahan dirimu”


“Menahan diri dari harga tidak normal itu namanya kejahatan!”


“Tapi kalau memang tidak suka, seharusnya kita pergi baik-baik dan cari tempat lain. Kalau begini, sekalipun kita berhasil menang tidak akan menyelesaikan apapun”


“Siapa bilang tidak menyelesaikan apapun? Kita telah menyelesaikan dua hal nantinya, yaitu membuat dia malu dan mendapatkan barang gratis. Yang perlu kita lakukan setelahnya adalah tertawa jahat dan menolak mereka dengan sikap merendahkan”


“Ryou, itu jahat sekali”


“Itu baik untukku, kakakku. Kau akan tau rasa puasnya nanti”


“Aku tidak pernah mengajari adikku bersikap seperti itu”


“Aku mempelajarinya sendiri, jadi tidak perlu menyesali apapun”


Senyum licik Ryou membuat Kino terlihat bingung dan bertanya dalam hatinya.


‘Kami-sama, kenapa adikku bisa menjadi seperti ini? Ini pasti karena di rumah sering menonton anime dan manga yang penuh aksi kekejaman’


Sekarang, mereka sedang melihat Kaito yang sedang ditatap sangat rendah penuh hinaan dari sang pemilik toko.


Pelayan toko di dekatnya hanya terlihat panik dan cemas, tidak kalah dari Kino.


“Ayo, jangan membuang waktuku. Cepat katakan kalau kau bisa melihatnya. Kau tidak sedang menggunakan sihir untuk mendeteksi ini, kan? Hah! Sudah kuduga kau ini membual. Bayar 1.000 Penny Libra padaku, sekarang!”


“Oi! Kau gila ya?! Dia belum selesai!” Ryou berteriak


“Apa maksudmu? Temanmu ini hanya membual. Lihat dia, tidak berkata apapun sama sekali” kata pemilik toko sambil memegangi kumisnya


“Kau ingin aku buat kurus secara instan ya? Bukan begitu aturan mainnya, kan? Kau sendiri yang mengatakannya tadi kalau dia harus menebaknya dulu! Kaito belum mengatakan apapun dan kau sudah meminta uangnya! Dasar kepiting!”


“Apa?! Kau panggil aku apa?!”


“Kepiting! Kepiting kikir, kepiting rebus, kepiting gendut penuh lemak dan kolestrol, kepiting botak licin! Mau dengar lagi?!” Ryou berteriak ke arah pria gemuk itu


“Dasar bocah kurang ajar!”


“Ryou, hentikan itu!” Kino berusaha menahan adiknya


“Pemilik, jangan sampai rambutmu rontok lagi!” karyawannya juga mulai menahan bosnya dengan panik


Kaito dengan santai memegang semua dagger itu dan melihat tanda di bagian bawah gagangnya. Semua tanda itu sama. Kemudian, Kaito meletakkannya kembali setelah melihat detailnya sekilas.


Dia hanya menghela napas pendek dan berkata, “Tuan, sebaiknya jangan menjual barang yang mudah korosi karena perawatanmu yang buruk”


“Hah?”


Semua orang terdiam. Kaito masih melanjutkan kalimat panjangnya.


“Sebaiknya berhenti menjual barang dengan tingkat korosi tinggi seperti ini. Selain itu, kekurangan benda ini adalah aku baru menyadari bahwa kau menjual dagger tanpa sarungnya yang membuat benda ini terkena udara setiap waktu”


“Kau juga sepertinya tidak begitu senang merawat senjatamu dan membuatnya terkesan mahal dengan memakai merek besar sebagai andalan. Kalau begini, bisnismu bisa hancur nanti”


Mendengar ucapan itu, pria gemuk itu marah dan memaki Kaito.


“Siapa kau yang berani mengatakan hal omong kosong seperti ini!”


“Namun, kelemahan material ini adalah udara dan jika tidak dirawat setelah digunakan maka akan cepat berkarat”


“Terdapat karat yang cukup banyak di sini membuatku yakin kemungkinan pisau ini pernah dipakai atau dicoba beberapa kali. Tapi tampaknya kau begitu acuh dengan hal itu, tuan”


Mendengar jawaban Kaito, pria gemuk itu langsung memerah seperti kepiting yang sudah matang. Tampaknya dia tak terima dengan ucapan Kaito.


“Jangan asal memberikan keterangan tanpa bukti! Mana mungkin aku menjual barang bekas kepada pelangganku!”


Kaito sudah cukup menghadapi orang tua itu dan tidak mau lagi bermain-main dengannya. Dia langsung mengambil pisau di meja dan menunjukkan bagian tertentu padanya.


“Kalau begitu, jelaskan bagian ini. Di sini, ada sedikit karat dan goresan ini adalah bekas pisau yang terjatuh”


“Pisau seperti ini, jika pernah terjatuh akan meninggalkan sedikit goresan. Dan untuk orang yang sangat menyukai senjata, benda ini akan dianggap cacat”


“Selain itu, normalnya harga pisau seperti ini tidak akan begitu mahal. Jika kau ingin menjual barang yang berkualitas anti-karat, sebaiknya pilih yang memproduksi titanium anti-karat, bahan lain seperti satin baja juga tidak buruk”


“Ujung dagger yang kau juga ini juga memiliki kekerasan baja yang kurang sehingga antara bilah dengan ujungnya menjadi kurang stabil jika dipakai atau dilempar”


“Untuk bagian ini, sebaiknya cari yang menggunakan baja bubuk-metalurgi yang kuat dan halus serta stabil. Dan bagian penting dari sebuah dagger adalah ketahanan aus. Seharusnya, tuan memahami hal ini”


“……” semua orang terdiam


Bukan hanya pemilik toko yang terkejut, kedua kakak beradik dan pelayan toko itu juga terkejut. Karena terlalu terkejut, mereka tampaknya lupa tujuan dari tantangan ini sebenarnya.


Kaito meletakkan kembali pisau itu di meja dan menatap serius pemilik toko.


“Kalau kau berani menjual barang murah demi keuntungan seperti ini, kau akan menyesal nanti. Apalagi jika yang membelinya adalah orang yang paham, toko milikmu ini bisa dibuat tutup selamanya”


“Kami tidak butuh barang gratis darimu. Hanya saja, sebaiknya jujurlah jika memang menjual sesuatu. Jika sampai seperti ini lagi, tinggal berdoa saja agar tempat ini masih bisa menghasilkan lebih banyak Penny Libra”


Kaito langsung berjalan keluar dari toko itu setelah menatap dingin pemilik toko. Melihat Kaito keluar, Kino ikut keluar sambil menarik tangan sang adik sebelum dia ikut mengatakan sesuatu.


“Harusnya jangan menarik tanganku juga! Aku belum selesai mencaci maki dia!”


“Justru itu tujuanku menarikmu!” Kino masih belum melepaskan tangan sang adik


“Aku mau kembali ke tempat itu dan tertawa di hadapan si gendut!”


“Tidak boleh!”


“Hentikan itu, Ryou. semua sudah selesai jadi tidak perlu dipermasalahkan lagi” Kaito berhenti dan melihat ke arah mereka berdua, “Aku minta maaf karena mengajak kalian ke sana. Kalau tau begini, aku tidak akan meminta kalian untuk ikut masuk”


“Bicara apa kau? Itu bukan salahmu! Si gendut itu yang menjual barang dengan harga tidak normal. Benda tidak bagus itu dijual dengan harga semahal itu, orang pasti akan berpikir dua kali jika ingin membelinya!”


“Tidak perlu minta maaf, Kaito-san. Selain itu, aku terkejut Kaito-san mengetahui semua hal itu”


“Dulu aku pernah pergi ke sebuah ‘dunia’ dan di sana aku bertemu kenalan yang mengetahui soal pembuatan senjata. Meski tidak dekat tapi aku belajar beberapa hal darinya”


“Hmm, ternyata ada gunanya juga kau menjelajah semua tempat aneh di ‘dunia’ yang tidak jelas demi permata ingatanmu” Ryou mengeluarkan komentarnya


“Tidak buruk juga, kan?”


“Tidak buruk. Sekarang, kita kembali ke toko tadi dan memaki si gendut. Ayo Kino!”


“Apa?!”


Ryou benar-benar senang sekali mencari masalah. “Aku masih belum puas kalau belum memakinya! Kita ke sana sekarang juga! Akan kutertawakan dia dan aku pandangi dia dengan tatapan penuh hina. Ehehe~”


Kino berusaha keras menahan sang adik, “Jangan lakukan, Ryou! Aku bilang hentikan niat burukmu itu!”


Akhirnya siang yang damai benar-benar sudah berubah menjadi siang yang penuh kerja keras bagi Kino.


******