
Di aula, setelah murid-murid baru menghabiskan waktu selama nyaris 3 jam mendengarkan sambutan dari Dewan Sekolah, Dewan Sihir, perkenalan guru dan hal-hal lain, Kino melihat jam saku miliknya.
Dia melihat jamnya di saat salah seorang perwakilan senior yang sedang membacakan teks pidato. Bahkan seorang Kino bisa terlihat lesu dan sama sekali tidak bertenaga.
“10.23 pagi. Bukankah katanya hanya sampai jam 8 pagi. Kenapa jadi bertambah hampir dua jam setengah?” gumamnya pelan
Hal terbaiknya adalah bukan hanya Kino seorang yang merasa demikian. Kaito sendiri melihat jam saku miliknya seakan tiap detik diperhitungkan olehnya.
Ryou bahkan sudah tidak suka berdiri sehingga dia memilih untuk duduk di lantai. Dia melakukannya dengan mulus karena posisi mereka berada di bagian paling belakang barisan. Dia tidak peduli dengan pandangan semua orang yang mencoba menahan diri di tengah pidato membosankan itu.
“Ini semua karena si gendut itu” gerutunya, “Kalau saja si gendut yang mengaku sebagai guru pertahanan sihir tidak pakai acara melodrama dan menangis seperti drama di tv, semua ini sudah berakhir dua jam lalu!”
Murid di belakang Ryou mencolek punggungnya, “Oi, kau. Sebaiknya bangun sebelum ketauan” katanya pelan
“Aku tidak mau!” Ryou bersikeras
“Tapi nanti kau akan dihukum kalau terlihat”
“Biar saja terlihat! Aku sengaja seperti ini supaya mereka sadar kalau upacara tidak penting ini bisa membuat semua murid baru menjadi gila. Senior-senior juga pasti merasakan hal yang denganku!” katanya
Murid itu menjadi bingung dan melihat kanan dan kirinya. Banyak dari semua murid baru yang sudah lelah namun menahan diri untuk tetap berdiri. Hanya Ryou seorang yang bisa santai sambil duduk di lantai.
Sungguh murid teladan.
Mari kita mundur sedikit beberapa jam sebelum hal ini terjadi.
***
Sekitar dua setengah jam yang lalu, semua murid berkumpul. Kaito dan kedua kakak beradik itu berpisah dengan Xenon dan Jene.
“Kalian berkumpulah dengan murid yang lain. Kami harus pergi bersama untuk berbaris di kelompok Dewan Sihir” kata Xenon
“Baiklah, Xenon-san, Jene-san. Hati-hati ya”
“Ayo, Xen”
Xenon dan Jene pergi. Pagi itu, mereka tidak bersama Jessie lantaran gadis itu sudah lebih dulu ke ruang divisinya untuk urusan pelaporan dokumen.
Jadilah tersisa tiga remaja dari dunia lain itu sekarang. Mereka mencoba berbaur dengan yang lain meskipun tidak begitu dekat.
Hanya sekedar masuk ke dalam kerumunan bukanlah hal yang bisa disebut sebagai membaur, tapi sudah cukup daripada mereka terlihat seperti anak hilang di pasar.
“Mau kemana?” tanya Kaito
“Kemana apanya? Kita harus tetap ada di sini, Kaito. Kalau mau hilang sendiri, lakukan saja”
“Maksudku, kita pasti akan disuruh berbaris seperti kemarin lagi. Mau kemana kita pergi dan dimana posisi kita nanti”
“Belakang!” Ryou langsung menjawab cepat, “Kita harus di belakang. Tidak di posisi paling belakang tidak masalah, tapi yang jelas kita tidak boleh ada di depan”
“Kenapa?”
“Karena batas emosi yang bisa kutahan selama upacara hanya satu jam. Lebih dari itu, aku akan menjadi sosok anak ‘my pace’. Kino tau kebiasaanku itu!”
Kaito langsung melihat kakak Ryou itu dengan wajah bingung.
“Kino, my pace itu apa?”
“Bersikap seenaknya, kurang lebih artinya begitu”
Dari penjelasan singkat Kino, Kaito bisa menyimpulkan sesuatu.
“Kalau begitu selama ini mulutmu itu sudah menunjukkan sikap ‘my pace’, benar kan? Kenapa aku harus terkejut?”
“Kau mau mengajakku berkelahi ya, Kaito”
“Aku tidak salah kan?”
Kino mencoba menenangkan mereka berdua, “Kalian, jangan bersikap seperti itu”
“Dia duluan yang–...”
“Ryou!”
Terdengar suara teriakan dari arah belakangnya. Ryou menengok diikuti oleh pandangan Kino dan Kaito yang melihat dua orang yang datang mendekati.
“Ryou! Akhirnya kita bertemu lagi!”
“Luna?! Piero juga!”
Ryou menyambut kedua orang itu. Kalau diingat olehnya kembali, sang kakak ingin sekali dikenalkan kepada keduanya. Mengingat hal tersebut, Ryou langsung memperkenalkan keduanya pada Kino dan Kaito.
“Kino, Kaito, ini kenalanku di ruang ujian dua hari lalu”
“Perkenalkan, namaku Luna Light”
“Aku Piero Michael Viin, salam kenal kalian berdua”
Kino tersenyum dan mengulurkan tangannya seraya hendak berjabat tangan, “Namaku Yuki Kino, salam kenal”
“Kaito, salam kenal”
“Aroma yang sama seperti Ryou meskipun beda sedikit. Kau kakak Ryou ya, nyaa~”
“Benar”
“Huwaaa~kakakmu manis sekali, Ryou! Nyaa nyaa!”
Gadis ras kucing itu tampak senang sekali bertemu dengan Kino, entah apa yang dia rasakan. Kemudian dia melepaskan tangannya dan melihat ke arah Kaito. Sama seperti sebelumnya, dia mengendus Kaito.
“Hmm?”
“Ada apa?” tanya Kaito bingung
“Ah! Bukan apa-apa!” Luna mundur dan tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu. Dia bergumam sedikit, ‘Kenapa aku mencium aroma aneh darinya?’
Entah apa yang diketahui oleh gadis ras kucing bernama Luna tersebut soal Kaito, tapi dari sini sudah ada dua orang yang merasakan hal janggal darinya selain Emily.
Piero bertanya pada ketiganya, “Kalian kemarin mengikuti rapat khusus ya?”
“Rapat?”
“Benar. Saat kami semua keluar, kalian tidak keluar”
Kino paham maksud dari pertanyaan tersebut namun tidak bermaksud mengatakan hal yang sebenarnya demi menghindari kesalahpahaman.
“Kami hanya diminta melakukan hal kecil. Itu saja”
“Begitu”
Terdengar suara pengumuman, “Kepada seluruh siswa dan siswi diharapkan berkumpul dan membentuk barisan. Upacara penerimaan dan penyambutan oleh Dewan Sekolah akan segera dimulai”
Mereka segera berbaris. Ketika Luna dan Piero maju bersama para siswa lain, Ryou memegangi tangan Kino dan Kaito agar tetap diam sampai barisan mulai terbentuk. Dan setelah barisan mulai memanjang, Ryou menempatkan keduanya di dekat dirinya.
Kino berada tepat di depan Ryou sedangkan Kaito berada di barisan samping kiri Ryou namun sejajar dengannya.
Awalnya, sambutan diberikan oleh seorang kakek tua bernama Master Dresden Heidelberg selaku Dewan Sekolah.
Isi sambutannya kurang lebih membahas soal penerimaan yang berlangsung singkat karena keadaan darurat dan bertujuan meningkatkan keamanan wilayah timur dari isu yang beredar, melahirkan para pengguna sihir berbakat dan menjadi ujung tombak dalam kekuatan masyarakat.
Lalu, pidato selanjutnya disampaikan oleh Lucas Xelhanien selaku pemimpin dari Dewan Sihir. Tidak jauh berbeda dengan sang master, dia juga menyambut para siswa siswi baru dengan aura positif dan kata-kata yang membangun.
Sekitar 30 menit pertama semua berjalan lancar. Namun, hal yang tidak terduga datang setelah Lucas menutup kata-kata sambutannya.
Seorang wanita gemuk berpenampilan cukup mencolok langsung mengambil alih mic dan menyampaikan sebuah sambutan, atau kita bisa menyebut itu sebagai kalimat omong kosong.
“Kalian semua, aku adalah Lady Barbara Lindsey dan merupakan guru pertahanan kalian. Kalian semua, jangan lengah!”
Reaksi semua staff dan anggota Dewan Sihir menjadi sangat putih. Seperti mengalami sebuah mimpi buruk, inilah kenapa pidato begitu lama berakhir.
Lady Barbara Lindsey, guru pertahanan tingkat satu yang artinya dia akan menjadi guru bagi semua murid baru menyampaikan hal-hal yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan pembelajaran.
“Dan kalian para junior, jangan pernah tergoda dengan omong kosong dari kakak senior kalian!”
“Sudah banyak kasus kawin lari di semua sekolah dan aku tidak akan membiarkan laki-laki hidung belang menggoda wanita lemah yang ingin menuntut ilmu”
“Sepengalamanku menjadi guru di tempat ini, sebagai pengajar, aku selalu memberikan ilmu bagaimana mempertahankan diri dari godaan orang-orang tidak bertanggung jawab”
“Itulah sebabnya aku, Lady Barbara Lindsey, mengabdikan diriku sebagai pengajar ahli di bidang pertahanan. Baik pertahanan fisik, mental bahkan asmara!”
Ryou yang sudah nyaris mencapai batasnya mulai lelah berdiri. Dia bahkan berbisik pada sang kakak.
“Berapa lama lagi kita mendengarkan omongan tidak berfaedah ini, Kino?”
“Aku tidak tau tapi aku sendiri tidak ingin mendengarnya, Ryou”
“Dia lebih buruk dari si botak di sekolah kita. Ingin rasanya kulempar si gendut itu dengan sepatuku”
“Ryou, jangan begitu. Tenang sedikit ya. Mungkin sepuluh menit lagi selesai”
“Baiklah. Aku akan menahan diriku selama sepuluh menit. Jika dia tidak selesai, aku akan duduk di lantai”
Kino menghela napas dan mulai mengambil jam saku miliknya. Dia membuka jam tersebut dan mulai berharap bahwa waktu sepuluh menit cepat datang.
Kaito yang melihat Ryou selesai berbisik bertanya, “Mulai kehilangan amunisi kesabaran?”
“Begitulah. Aku akan menahan diriku selama sepuluh menit sesuai keinginan Kino”
“Berjuanglah. Aku juga sudah bosan dengan omong kosong itu”
Dan tidak disangka bahwa semua cerita itu mengalir sampai ke topik yang di luar akal sehat.
Lengkap sudah rasa lelah Ryou yang membuatnya duduk di lantai.
***
Begitulah yang terjadi. Dan kini, waktu yang ada di jam Kino menunjukkan pukul 10.30 setelah salah satu senior selesai membacakan teks pidatonya.
“Aku sudah menghabiskan waktuku untuk mendengarkan kalimat tidak berguna dari si gendut itu. Menyebalkan sekali”
******