
Kaito sudah bosan dengan pemandangan yang dia lihat sampai bisa berkomentar untuk yang kesekian kalinya.
"Aku sudah muak bertemu mereka lagi"
“Kalau kau muak, sebaiknya lenyapkan mereka! Di depan sana, penggemarmu itu masih menunggumu!”
Ryou menjawab komentar Kaito sambil berlari dan mulai membunuh zombie-zombie di depannya.
“Kenapa mulutnya itu tidak bisa mengatakan hal yang lebih bagus?” Kaito bergumam dengan wajah datar
Dengan cepat, Kaito berlari dan memenggal kepala mereka satu per satu.
“Kita harus pergi, Song Haneul-san. Lewat sini!”
Kino dan Song Haneul pergi lebih dulu menuju pintu gerbang utama. Ryou dan Kaito yang masih sibuk mengurangi jumlah zombie di sana mulai mengabaikan barisan ‘tamu kehormatan’ tersebut lalu meninggalkannya.
“Sebaiknya kau maju lebih dulu, Kaito. Kecepatan seranganmu bisa membantu Kino lebih mudah”
“Aku mengerti” Kaito berlari lebih cepat dan meninggalkan Ryou sendiri
Di belakang, Ryou mulai memikirkan sesuatu.
‘Kaito bilang mayat Jung Leon menghilang. Aku tidak yakin dengan ini tapi mungkin saja mayat tersebut dikendalikan oleh permata ingatannya’
‘Kalau mengingat selama ini permata ingatan itu terus menyeretnya dalam masalah, mungkinkah ada alasan di balik semua ini? Kenapa kepingan ingatannya terus membawanya dalam masalah? Aku benar-benar tidak mengerti’
‘Sekilas mungkin ini bukanlah hal penting yang harus dipikirkan sekarang. Tapi mengingat aku dan Kino sudah terseret lebih dalam, aku juga jadi penasaran ada hubungan apa kedua jam saku itu dengan kami?’
‘Apakah kami baru bisa kembali ke Jepang setelah Kaito berhasil mendapatkan seluruh ingatannya? Yang benar saja! aku dan Kino bisa mati lebih dulu dari dia!’
Sambil berlari, Ryou menjadi kesal dan berteriak di belakang.
“Sial! Di saat seperti ini, kenapa justru jadi semakin banyak misterinya?!”
Kino yang mendengar sang adik berteriak di belakang bertanya dengan menengok ke belakangnya
“Kamu kenapa, Ryou?”
“Bukan apa-apa! Cepat lari saja! Aku akan melindungi kalian dari belakang! Ikuti Kaito yang akan berada di depanmu!”
“Aku mengerti! Ryou harus hati-hati!”
“Aa!”
Ryou kembali berpikir.
‘Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu! Aku harus fokus untuk mengalahkan semua zombie ini dan menemukan mayat Jung Leon yang membawa kepingan permata itu. Aku harap kepingan itu hanya ada satu di ‘dunia’ ini. Jangan sampai seperti sebelumnya!’
Kaito yang sudah berada di depan Kino dan Song Haneul menjadi penyerang garis depan kembali.
“Setelah lurus, kita kemana lagi?” tanya Kaito
“Kita hampir sampai ke gedung Fakultas Psikologi!”
“Aku mengerti”
Kino menyadari bahwa hari sudah semakin sore. Namun, anehnya matahari terlihat seperti akan tenggelam lebih cepat.
‘Kenapa perubahan langitnya bisa secepat ini? Apa yang terjadi?’
Dengan hati-hati, dia mengambil jam sakunya dan melihat waktu menunjukkan pukul 04.25 sore.
“Sudah jam setengah lima sore?!” Kino terkejut
Kaito mendengar Kino yang terkejut mulai berhenti berlari. Kino, Song Haneul dan Ryou juga ikut menghentikan langkahnya.
Hal yang harus disyukuri adalah zombie-zombie itu masih belum menyebar sampai di area tempat mereka berhenti.
“Ada apa?”
“Sudah setengah lima sore. Aku benar-benar tidak menyadarinya sama sekali”
“……” Kaito diam dan mengambil jam saku miliknya
Dia melihat jam sakunya dan waktu yang ditunjukkan sama seperti milik Kino. Wajahnya menjadi serius.
‘Apa ada sesuatu yang terjadi? Rasanya kami belum sampai dua jam berlari dan membunuh zombie-zombie itu. Kenapa sekarang justru sudah se-sore ini?’
“Ada apa?” Ryou mendekati sang kakak
“Langitnya seperti suasana matahari akan tenggelam. Aku ingin tau sudah berapa lama kita berlari dan ini sudah lebih dari dua jam berlalu”
“Lebih dari dua jam? Serius?”
“Benar. Apakah karena kita terlalu fokus menghadapi mereka sampai mengabaikan waktu?”
“Mungkin. Tapi jika seperti itu, keadaan kita akan sangat dirugikan. Aku tidak pernah dengan zombie akan kembali tidur ke rumahnya kecuali di setting anime Gakkou Gurashi. Itu juga tidak semuanya”
“Ryou…” sang kakak melihat adiknya dengan tatapan aneh
“Oi, aku serius. Aku sudah menontonnya” Ryou mencoba membela diri
Tapi itu bukan pokok pembahasan yang ingin dibicarakan oleh Kino. Song Haneul sedikit penasaran dengan jam saku yang dimiliki Kino dan Kaito.
“Ini…jam saku”
“Kenapa tidak pakai jam tangan saja? Itu benda antik, kan?”
“Alasan pribadi, tidak bisa dikatakan” jawab Kaito singkat sambil memasukkan jam sakunya kembali
Jubah yang terikat di pinggangnya akhirnya dilepas oleh Kaito dan dipakainya kembali. Dia merasa bahwa ini akan menjadi pertarungan panjang menuju akhir jadi dia ingin mengenakan benda kesayangannya walau telah kotor karena darah.
“Kita pergi sekarang. Mungkin masalah waktu kita bisa lupakan sementara. Jangan terlalu mengkhawatirkan hal itu, Kino”
“Aku mengerti, Kaito-san” Kino memasukkan kembali jam sakunya
Mereka kembali berlari menjauhi area tersebut.
******
Sementara di gedung arsip, keadaan mulai berubah setelah Song Haneul menghubungi Ha Jinan dan menjelaskan perubahan situasi saat ini. Beberapa mahasiswa termasuk Kang Ji Song mulai secara bergantian mengintip keluar jendela.
“Mereka semakin banyak seperti bahkan lebih dari sebelumnya. Ini semakin tidak bagus”
-Braak
Semua orang panik. Beberapa nyaris berteriak mendengar suara tersebut. Itu adalah suara zombie yang memukul pintu dari luar. Kang Ji Song dan mahasiswa lain yang berada di dekat jendela mulai merunduk dan pergi dengan hati-hati.
“Ji Song!” Kim Yuram memanggilnya dengan suara yang tidak terlalu besar
“Aku sama sekali tidak menyangka mereka akan mulai memukul pintu. Ini mungkin akan menjadi semakin gawat”
“Kita tidak boleh panik! Selama kita di dalam sini, kita akan aman. Pengganjal ruangan juga masih bisa menahannya” ucap salah seorang mahasiswa
“Mungkin kita bisa meletakkan beberapa rak buku atau meja lainnya agar mereka tidak bisa mendorong pintunya” usul Ha Jinan
Beberapa dari mereka setuju, kecuali pembuat onar yang nyaris menjadi bulan-bulanan Kang Ji Song dan Kim Yuram.
“Kalian kira itu berguna? Hah! Naïf sekali!”
Kim Yuram menghampiri teman Baek Hyeseon lalu mengeluarkan kekesalannya.
“Diam kau! Mumpung mereka sudah ada lagi di luar, mungkin kau ingin bertemu langsung dan menyapa mereka?”
“Kau mengancamku? Kau kira aku takut!”
“Bagus kalau kau tidak takut. Aku akan menyeretmu sekarang!”
Lima orang teman Baek Hyeseon lain berdiri dan mencoba menghentikan Kim Yuram.
“Ini bukan waktunya untuk bertengkar! Min Hae Ji, sekali lagi kau memprovokasi mereka…kami akan mengabaikanmu!” ancam salah satu dari temannya
“Kalian mencoba mengabaikan mereka yang bicara seenaknya?!”
“Seharusnya kau sadar bahwa kita sudah tidak bisa lagi seenaknya! Aku dan yang lain tidak ingin mati hanya karena sikapmu yang menyeret kami semua! Aku tidak ingin mati seperti mereka berdua yang ada di sana!”
“Jeon Nam-gul!! Beraninya kau!”
“Sudah cukup, Min Hae Ji. Jangan menguji keberuntunganmu lebih dari ini karena tidak ada dari kami yang akan membelamu kali ini! Aku sudah cukup!” kata pemuda bernama Jeon Nam-gul
Dia dan empat teman Baek Hyeseon lain meminta maaf pada Kim Yuram dan mereka memutuskan untuk membantu menyeret meja dan rak lainnya.
Meskipun dengan tangan terluka, mereka masih berusaha untuk mendapatkan kesempatan lain agar bisa selamat bersama-sama. Berbeda dengan pemuda bernama Min Hae Ji yang memilih diam.
Entah apa yang dipikirkan olehnya, tapi dia tidak benar-benar menyerah untuk membuat kelompok tersebut berada dalam ketegangan.
“Kalian akan menyesal. Akan aku pastikan itu!” gumamnya
Zombie-zombie di luar gedung arsip mendekati pintu dan kaca jendela. Biarpun dari dalam mereka sudah meletakkan beberapa benda untuk menghalangi pandangan secara langsung dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mengintip keluar, tapi rasa khawatir tetap ada.
“Aku harap mereka tidak nekat memecahkan kaca itu” ujar Seo Garam
Ha Jinan menarik pakaian Seo Garam sedikit dan menjawabnya.
“Jangan berpikiran begitu, Garam”
“Kau mungkin tidak tau, tapi selalu ada hukum mutlak dimana firasat buruk itu selalu bekerja lebih cepat dari firasat baik. Apalagi jika keadaan kita sedang di ujung tanduk” Kang Ji Song benar-benar mengatakan kalimat yang bagus
“Maafkan aku. Aku benar-benar khawatir sekarang, Ji Song”
“Bukan kau saja yang khawatir. Selain itu, tempat ini mulai sedikit gelap. Itu artinya cahaya di luar sudah mulai hilang. Mengerti maksudku?”
“Hari sudah mulai malam” Seo Garam panik
“Benar”
“Kita tidak mungkin menyalahkan cahaya atau mereka akan menjadikan tempat ini sebagai target. Jika malam tiba dan kondisi ini semakin buruk, kita akan sangat dirugikan”
Kim Yuram mulai ikut menyimpulkan keadaan.
Kalimatnya itu memang tidak salah. Sekarang, mereka harus berdoa agar keempat orang yang berada di luar sana berhasil menghentikan event tersebut sebelum malam tiba.
******