Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 182. Event Horror bag. 12



Tidak perlu menunggu lama, Ryou langsung melepaskan bungkus kelima pisau yang dia temukan dan langsung mengujinya sendiri dengan memotong makanan ringan yang kebetulan berada di dekatnya.


-Sreet


“Tajam. Yosh, ini bisa dipakai” Ryou tersenyum licik


Dia memberikan dua buah kepada sang kakak dengan banyak sekali pesan.


“Kino, aku berikan ini untukmu. Jangan pernah memegang ujung lancipnya sendiri dengan tanganmu karena itu berbahaya…”


“Ryou…”


“Jangan lupa untuk menggunakannya dengan cepat agar bisa langsung memotong bagian kepala lawan. Karena mereka zombie utuh dan masih bagus jadi kemungkinan kau akan mandi darah. Jadi, aku sarankan kau pakai pisau ini untuk memotong mereka dari sisi samping”


“Ryou…”


“Sekalian aku akan mencarikanmu tongkat pel untuk senjata jarak jauh. Nanti kaitkan pisaunya pada bagian ujung bawah tongkat pel untuk menghindari resiko–”


“Ryou, aku paham. Aku benar-benar paham. Tolong biarkan aku untuk melakukannya sendiri ya. Jangan terlalu khawatir seperti itu” Kino mulai sedikit emosi meski dia tidak menunjukkan ekspresinya


“Serius mengerti? Ini seperti survival game”


“Aku paham. Aku juga ingin melakukannya. Karena aku tidak begitu pintar bertarung, aku berpikir ingin mengikatnya pada tongkat pel atau sapu yang ada di sini”


Siapa yang mengira bahwa Kino dan Ryou memiliki pikiran yang sama. Kino berdiri untuk mengambil tongkat pel yang tergantung di dekat rak payung dan alat-alat kebersihan lain. Dia juga mengambil tali dan mulai mengikatnya dengan kuat.


“Kau yakin itu sudah cukup kuat untuk menusuk dan membunuh zombie di luar sana?” tanya Ryou


“Cukup yakin. Pisau lainnya akan kau simpan untuk berjaga-jaga”


Kino mengambil sebuah kantong kecil yang terpajang di etalase. Itu adalah kantong belanja ukuran kecil. Cukup untuk menyimpan pisau lainnya dan beberapa makanan kecil seperti onigiri dan roti.


“Yakin tidak ingin membawanya di tanganmu, Kino?”


“Tidak perlu. Makanan ini bisa dimakan oleh yang lain. Selain itu, seperti yang dikatakan oleh Ryou. Ini adalah survival game” kata Kino sambil tersenyum


Ryou tersenyum. Siapa yang menyangka bahwa sang kakak bisa mengerti ucapannya. Seteelah Ryou ikut berdiri, terdengar sesuatu dari arah pintu lain di belakang mereka.


Semua yang sedang sibuk mengumpulkan makanan terkejut dan terdiam. Wajah mereka syok.


“Sstt! Jangan ada yang bersuara. Kalian semua keluar sekarang. Ini, kuberikan sapu dan penggorengan ini untuk kalian. Aku sudah memiliki yang lebih bagus dari itu”


Ryou memberikan sapu yang dia ambil dan penggorengan yang dia bawa-bawa sebelumnya kepada Seo Garam dan Kang Ji Song.


Tanpa menjawab apapun, keempat mahasiswa itu langsung berjalan perlahan dan mengikuti instruksi kakak beradik itu untuk pergi keluar. Semua makanan dan keperluan yang lain telah didapatkan.


Kino dan Ryou yang masih ada di dalam minimarket itu mulai menyiapkan senjata. Niatnya ingin membawanya dalam tas belanja kecil, Kino jadi mengeluarkan pisaunya kembali.


Pintu di belakang mereka terbuka sedikit. Ryou sempat melihat dari celahnya.


“……!!!”


“Ryou?”


“Itu zombie” bisiknya pada sang kakak


“Apa?! Tapi kenapa dia tidak keluar ketika mendengar suara kita?”


“Aku coba lihat sebentar”


Ryou membuka pintunya sedikit lebih lebar dan dilihatnya bahwa zombie itu tertimpa lemari yang penuh dengan makanan dan ada sebuah etalase yang menahannya. Dia tertindih oleh semua benda berat di sana.


“Di dalam itu gudang makanan dan sepertinya saat ada mereka menyerang bagian ini, dia tertimpa semua itu”


“Zombie itu…”


“Perempuan. Kita harus membunuhnya. Kalau tidak, mungkin hanya masalah waktu sampai dia berhasil meloloskan diri dari semua benda itu”


“Aku…mengerti. Lakukan dengan hati-hati”


Ryou  mengangguk. Setelah pintunya dibuka, zombie itu terlihat meronta ingin menangkap Ryou. berkali-kali tangannya bergerak seakan ingin menangkapnya. Dia mulai menyadari sesuatu dari gerakan itu.


‘Zombie ini…lebih agresif dari yang muncul menyerang ruang kantin beberapa waktu lalu. Apa yang terjadi?’ pikirnya


Untuk sesaat dia tidak ingin memikirkan apapun dan menusuk kedua pisau di tangannya ke atas kepala zombie itu. Beberapa tusukkan dilakukan bersamaan hingga darah segar mengotori pipi dan bajunya.


Zombi itu akhirnya berhenti bergerak.


Ryou yang masih penasaran dengan gerakan agresif itu merasakan firasat yang tidak baik. Begitu keluar dari dalam gudang itu, dia langsung memberitau Kino.


“Kino, ada perubahan pada gerakan zombie-zombie itu”


“Perubahan? Apa maksudnya?”


“Mereka sedikit lebih agresif. Berbeda dengan sebelumnya, ketika melihat manusia hidup ada di depannya, terlihat mereka mencoba untuk menangkapnya sebisa mungkin”


“Ini tidak baik. Kita mungkin akan menghadapi hal yang di luar prediksi” Kino berubah pucat


“Kita keluar dari sini dan memberitau hal ini pada yang lain”


Keduanya keluar dari tempat itu. Kino telah sepenuhnya melupakan tas belanja kecil yang dia pegang sebelumnya dan memilih untuk keluar dari minimarket tersebut.


Di luar, keempat mahasiswa itu tampak begitu panik.


“Suara itu…mungkinkah itu zombie lain?” Seo Garam menebaknya


“Benar. Tapi, mereka sedikit berbeda. Mereka agresif” ujar Ryou


Kino dan Ryou memberitau informasi itu pada keempat mahasiswa itu. Wajah mereka pucat, bahkan Kang Ji Song sempat mencari informasi mengenai fakta yang diketahuinya.


Di dalam chat grup yang ada di aplikasi [Event Horror Apps] terdapat lebih dari 400 chat yang isinya hanya Tulisan ‘tolong’ dan kalimat ‘aku tidak ingin mati’.


Tapi menariknya, ada beberapa chat pada bagian bawah yang tertulis fakta yang sama seperti yang dikatakan oleh kedua kakak beradik itu.


“Kalian, lihat ini!” Kang Ji Song menunjukkan ponselnya


Kim Yuram membuka ponselnya juga dan terkejut dengan 20 chat paling bawah.


“Zombienya bisa berjalan dengan cepat sekarang! Apa yang terjadi?!”


“Mereka mencoba menangkap kami begitu melihat kami! Tolong!!”


“Aku berhasil bersembunyi. Aku mengirimkan ini untuk kalian yang masih hidup di luar sana bahwa semua zombie di lantai 3 gedung Fakultas Psikologi mulai bisa berjalan dengan cepat dan terlihat berbeda dari yang sebelumnya”


“Aku harap informasi ini berguna. Aku tidak tau apakah setelah ini aku masih hidup atau tidak”


“Jangan bicara begitu! Kau bersembunyi dimana sekarang?”


“Zombie-zombie itu bisa berlutut dan mencari manusia sampai ke bagian bawah celah meja! Aku melihatnya sendiri dari jauh”


“Sejak kapan zombie bisa seperti itu?! Ini tidak seperti di film-film, ini nyata! Aku tidak ingin mati!”


Beberapa chat serupa juga memberikan penjelasan yang membenarkan pernyataan kedua kakak beradik itu.


Semuanya menjadi pucat.


“Tidak ada waktu. Simpan itu untuk kita rundingkan bersama. Aku dan Kino akan membantu Kaito. Kalian tunggu di sini” Ryou segera berlari terlebih dahulu


Kino memberikan sebuah pisau yang ada di tangannya.


“Garam-san, gunakan pisau ini untuk melindungi kalian. Tunggu kami di sini. Hanya untuk berjaga, kalian bisa menggunakan semua yang kalian pegang sekarang sebagai bentuk pertahanan diri”


“Aku mengerti” Seo Garam tampak serius


“Kino-ssi!!”


“Jinan-san, jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja”


Kino meninggalkan mereka berempat dan menyusul Kaito.


Sebuah hal yang sangat tidak terduga, dia melihat Ryou yang berdiri mematung tanpa melakukan apapun. Kino menghampiri Ryou.


“Apa yang terjadi?”


“Remaja amnesia itu menghabisi mereka sendirian dan sekarang dia sibuk merapikan jubahnya yang terkena darah”


“……” Kino melihat apa yang ada di depannya


Semua lantai koridor sudah seperti lautan darah dengan banyaknya mayat dan kepala yang menggelinding. Ada pula zombie yang terbelah menjadi dua. Di dekat kaki Kaito bahkan ada dua tangan dan sebuah potongan tubuh bagian bawah di sana.


Kaito terlihat melepas jubahnya yang sudah basah dengan darah. Sambil memperlihatkan ekspresi jijiknya, dia menggerutu.


“Aku benar-benar tidak percaya ini. Jubahku yang indah dan bagus harus seperti pakaian goblin yang bau dan menjijikkan. Bagaimana caranya aku bisa menghilangkan ini semua? Haruskah aku kembali ke ‘dunia’ asing itu dan mencucinya terlebih dahulu?”


Sungguh gerutuan yang sangat ‘dewasa’, mengingat setiap kali jubahnya kotor, Kaito selalu saja protes.


“Kaito…-san?” Kino menjadi heran


“Kaito…aku menyesal berniat membantumu tadi. Kalau aku tau bahwa  kau bisa mengatasi mereka semua dengan baik seperti ini, seharusnya kau saja yang melawan kawanan zombie itu sendirian”


Kaito melihat keduanya sambil berkata.


“Jangan bicara seperti itu. Mereka lebih agresif dari sebelumnya. Jika aku terlambat sedikit saja, aku mungkin akan jadi salah satu dari mereka. Karena itu, aku harus sampai bermandikan darah mereka”


“Begitu…”


“Untung saja, darah yang menempel pada tubuhku tidak meninggalkan bau amis”


“Eh?”


Kalimat Kaito barusan itu menyadarkan kedua kakak beradik bahwa mereka hampir tidak menyadarinya.


“Kita tidak…memiliki aroma tubuh juga di sini?”


******