Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 51. Benang yang Saling Terhubung



Di restoran keluarga tempat Kino berada, suasana suram yang awalnya terasa berat kini sudah lebih membaik. Namun, tidak untuk dirinya sendiri. Kino terdiam dengan senyum kecewanya.


‘Ini benar-benar di luar dugaanku. Siapa yang menyangka akan berakhir seperti ini”


Kino tidak bisa membuat hatinya tenang seakan semua benang yang selama ini kusut tak beraturan telah berhasil dirubah olehnya.


Michaela yang melihat itu bertanya pada Kino.


“Kino-niichan, apa kau mau mencoba makanan milikku?”


“Tidak apa-apa. Michaela-chan makanlah sampai kenyang ya. Setelah ini  makanan penutupnya akan datang”


“Asyik! Kuenya akan datang?” tanya seorang anak kecil


“Kalian harus menghabiskan makanannya dengan cepat agar kuenya bisa cepat datang” sambil tersenyum Kino mengatakan hal itu


Kino kembali menatap Stelani dan Fabil yang seperti telah kehilangan nafsu makannya. Dengan sedikit menghela napas untuk menenangkan dirinya sendiri, Kino bertanya kepada mereka berdua sambil tersenyum.


“Apa makanannya tidak enak?”


“Tidak, makanannya sangat enak”


Stelani menjawab dengan menatap wajah Kino yang tersenyum. Seketika hatinya langsung merasa seperti tertusuk duri yang menyakitkan.


‘Rasanya sakit melihat Kino-niisan tersenyum pada kami seperti itu’


Hal itu adalah gumaman Stelani dalam hatinya, tapi wajahnya bisa mewakili hal itu dengan baik. Kino yang sepertinya bisa menebak hal itu terdiam beberapa saat sebelum bicara pada kedua anak itu.


“Aku minta maaf sudah mengajak kalian bicara. Aku hanya mencoba untuk menciptakan suasana nyaman agar kalian tidak merasa sungkan padaku. Jika kalian berdua tidak nyaman denganku, sebaiknya kalian mengatakannya. Aku tidak akan melakukan hal yang buruk pada kalian”


“Ti–tidak! Bukan begitu! Kami sama sekali tidak berpikir begitu!” Fabil langsung menyangkalnya dengan cepat


“Kino-niisan sangat baik! Kau adalah orang pertama yang mau mengajak kami makan bersama seperti ini, karena itu jangan berkata seakan kau merasa bersalah. Kami yang seharusnya minta maaf padamu, Kino-niisan” Stelani dengan wajah sedih bicara menatap mata Kino


Ini seperti adegan drama keluarga yang semua anggotanya saling menyalahkan satu sama lain, padahal masalahnya saja tidak jelas. Mereka hanya tidak mengerti isi pikiran masing-masing.


Sudah lelah mendengar mereka berdua saling menyalahkan diri mereka, Kino hanya bisa tersenyum ceria untuk membuat mereka semangat.


“Kalau begitu cerialah! Aku sudah katakan aku tidak akan mengajak kalian bicara lagi saat makan jadi makanlah dengan tenang. Kue akan diantar jika kalian makan dengan cepat”


“……”


Melihat senyuman itu, Stelani dan Fabil sedikit melupakan pertanyaan Kino sebelumnya bersama dengan perasaan bersalah mereka.


Selama mereka semua menghabiskan sisa makanan yang ada di piring, Kino mulai bicara pada dirinya sendiri.


‘Sekarang bagaimana caranya mendapatkan bagian terpenting dari informasi ini? Bagaimana caranya untuk mencari tau keberadaan jam saku itu sekarang?’


Pikiran penuh pertanyaan membuat ekspresi Kino berubah menjadi terlihat tertekan. Sesaat, dia sempat melihat dua anak di hadapannya melihat wajahnya dan ekspresi mereka hampir kembali seperti sebelumnya. Kino dengan cepat merubah ekspresinya kembali menjadi senyum ceria dengan tambahan warna merona di pipinya membuat Stelani dan Fabil tidak mencurigainya.


‘Sekarang aku hanya perlu membuat mereka tidak tertekan dengan pertanyaan terakhirku sebelum ini. Aku harus mengabaikan hal itu untuk sementara dan mempertahankan suasana ini’


Masih belum begitu terlihat maksud dari semua kalimat Kino, apakah dia memang sudah mengetahui sesuatu atau masih meraba informasi yang didapatkan. Namun bagi Kino sekarang, dia hanya perlu membuat suasana nyaman ini bertahan sampai akhir.


Selang beberapa menit setelah sarapan mereka habis, kedua pelayan wanita tersebut datang membawa troli dengan macam-macam kue dan minuman dingin yang enak. Semua anak-anak yang telah menyelesaikan sarapan mereka langsung berbinar-binar seperti sedang melihat hal yang paling mereka tunggu.


“Maaf sudah menunggu, makanan penutupnya sudah siap. Silahkan dinikmati”


Kedua pelayan wanita itu membagikan kue dan minuman dingin yang telah di pesan. Tidak terkecualiStelani dan Fabil, semua anak-anak itu tampak begitu menunggu momen tersebut.


“Kue!”


“Cantiknya~”


“Kelihatannya enak~”


Semua anak-anak itu tidak bisa berhenti menunjukkan wajah tersenyum yang manis.


“Kino-niichan, aku boleh makan ini sekarang?” dengan liur yang hampir menetes, Michaela bertanya pada Kino


“Kenapa tidak? Bukankah kalian menunggu semua kue ini? Pastikan kalian menghabiskannya ya”


Tidak perlu aba-aba, mereka langsung menyantapnya dengan cepat seakan tidak perlu lagi mengomentari rasanya.


“Aku mau tambah yang coklat lagi!”


“Aku juga!”


Tidak sampai lima menit semua kue-kue itu nyaris tak tersisa, bahkan dengan berani mereka langsung meminta Kino untuk memesan kue-kue itu kembali.


“Kalian semua tidak sopan! Kalian tidak boleh memanfaatkan kebaikan orang seperti itu! Bagaimana kalau uang Kino-niisan habis untuk membayar semua makanan ini!” Stelani memarahi semua anak-anak di sana


“Tapi Kino-niichan bilang tidak masalah, iya kan?” salah satu anak menjawab dengan percaya diri


“Kalian semua–” Fabil memperlihatkan tatapan marah pada anak-anak kecil itu


Tanpa mengatakan apapun, Kino langsung memanggil pelayan wanita sebelumnya.


“Permisi”


“Ada yang bisa dibantu?”


“Aku pesan semua menu makanan penutup yang sama seperti ini lagi ditambah dengan satu porsi menu sarapan yang tadi aku pesan untuk dibawa pulang”


“Kino-niichan?” Fabil menatap heran


“Kalian bisa membawa itu untuk di rumah. Aku juga sudah memesan makanan untuk anak bernama Theo agar dia tidak merasa ditinggalkan sendiri saat kalian semua makan enak di sini” Kino tersenyum


Sudah tidak bisa berkata apapun lagi kecuali satu kalimat dalam pikiran mereka kembali diucapkan untuk menggambarkan sosok Kino.


‘Dia malaikat’


Kino melihat jam saku miliknya dan waktu sudah menunjukkan pukul 08.15.


“Aku pergi sebentar untuk membayar makanan ini. Jika makanan dan kuenya selesai dibungkus, kalian bisa langsung menerimanya dan keluar dari sini untuk pulang” Kino berdiri dan berjalan ke arah meja kasir


Stelani dan Fabil yang melihat Kino dari kejauhan saling memandang satu sama lain dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Mereka berdua mulai berbisik tanpa diketahui oleh anak-anak yang lain.


“Aku tidak percaya bisa bertemu dengannya di kota seperti ini. Hari ini benar-benar hari keberuntungan kita. Aku hanya punya satu kalimat untuk Kino-niichan, dia adalah titisan malaikat dari surga untuk anak-anak malang seperti kita” Fabil mengeluarkan pujiannya dari hati


“Aku tau. Hanya saja aku merasa tidak enak padanya. Selain itu–”


“Stelani, jangan bilang kau memikirkan pertanyaan yang tadi itu?”


“Umm”


Stelani menganggukkan kepala dan melanjutkan kata-katanya


“Kino-niisan yang baru datang ke kota ini dua hari bahkan sudah mendengar desas-desus tentang kasus kehilangan yang terjadi di altar. Bukankah itu artinya kemungkinan ada orang lain yang mengira kita sebagai pelakunya? Sekalipun mereka tidak langsung menganggap kita pelaku, pasti mereka akan mulai curiga kita ada hubungannya dengan semua itu”


“Kau benar. Apalagi hanya Theo seorang yang selalu masuk ke dalam altar untuk mencurinya dengan menggunakan alasan meminta sumbangan kepada semua orang yang datang. Pasti ada satu atau dua orang yang sudah mengenali dengan ciri-cirinya. Aku takut kita tidak akan bisa pergi ke altar lagi setelah ini”


“Theo harus tau ini. Saat kita kembali dan bertemu dia nanti, kita harus katakan padanya”


“Aku tau”


Pelayan wanita itu datang dan membawa makanan yang sudah dibungkus plastik dan kantong makanan. Setelah anak-anak itu menerimanya, mereka segera keluar dari tempat itu seperti yang dikatakan Kino sebelumnya. Namun, mereka tidak langsung pergi. Mereka menunggu Kino di luar pintu restoran tersebut.


Setelah Kino selesai membayar, dia berjalan menuju pintu keluar.


‘Sepertinya mustahil bagiku untuk mencari tau lebih dalam soal yang sebelumnya. Karena mereka sudah pulang sekarang, aku berharap besok aku bisa menemui mereka kembali di altar’


Ketika dia membuka pintu dan keluar, dia cukup terkejut saat dirinya mendapati semua anak-anak itu masih menunggunya di luar.


“Kenapa kalian masih belum pulang?”


“Kami menunggumu, Kino-niichan” Michaela berlari ke arah Kino


“Ah!”


Dengan senyum bahagia dan wajah merah strawberry, Michaela langsung memeluk tubuh Kino. Kino yang terkejut saat gadis kecil itu berlari ke arahnya, mengelus-elus rambut anak itu sambil tersenyum.


“Begitu. Terima kasih banyak karena sudah menungguku. Sekarang kalian pulang dan istirahatlah”


“Kino-niisan…” Stelani memanggil Kino dengan wajah memerah


“Ya?”


“Apa besok kami semua juga bisa bertemu lagi denganmu seperti ini?”


Mata semua anak-anak itu seakan berharap untuk bertemu lagi dengannya. Itu seperti menjawab harapan Kino yang sebenarnya juga masih ingin bertemu kembali dengan mereka. Dengan senyum bahagianya, Kino menjawab mereka.


“Tentu saja bisa. Aku juga senang bisa bertemu dengan kalian semua dan berharap bisa bertemu lagi. Sewaktu-waktu jika kalian membutuhkan sesuatu, kalian bisa pergi ke penginapan tempatku berada dan mencariku”


Betapa senangnya anak-anak itu mendengar jawaban Kino. Kecuali Stelani dan Fabil yang malu untuk melakukannya, anak-anak kecil lain ikut memeluk Kino seperti yang dilakukan Michaela. Kino hanya bisa tertawa dan mengelus-elus kepala dan rambut mereka.


Kino berpisah dengan mereka semua dan melihat kedelapan anak-anak itu berjalan menuju ke arah altar kembali.


Setelah semua anak-anak itu sudah cukup jauh dari tempatnya berdiri sekarang, Kino menarik napas dan menghembuskannya sekali.


“Haaa….”


Sambil mengambil jam saku berwarna silvernya kembali, dia melihat waktu yang ditunjukkan jam tersebut.


“Jam 08.25 ya. Kurasa sebaiknya aku pergi melihat-lihat kota lain sambil mengingat semua informasi yang kudapatkan hari ini. Ryou dan Kaito-san pasti terkejut mendengar apa yang aku dapatkan hari ini”


Kino berbalik arah dan berjalan meninggalkan restoran tersebut sambil bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


“Kalau diingat kembali, baik Ryou atau Kaito-san tidak mengatakan kemana mereka akan pergi mencari petunjuk jam saku tersebut. Mereka hanya mengatakan bahwa kami berkumpul di altar jam lima sore. Dengan sisa waktu sebanyak itu, kemana aku harus pergi sekarang?”


Kino berjalan selama beberapa menit sambil terus melihat jam saku miliknya yang masih ada di tangannya. Setelah itu dia menutup jam sakunya dan berhenti.


“Kurasa lebih baik aku mencari mereka berdua dan memberitau semua informasi yang kudapatkan pada mereka secepatnya. Dibandingkan harus menunggu waktu berkumpul pada jam lima sore nanti, akan lebih cepat jika aku mencari mereka seperti yang kami lakukan kemarin”


Setelah memasukkan jam sakunya, Kino tidak melangkahkan kakinya untuk berjalan melainkan berhenti dan melihat apa yang ada di depannya dengan pandangan mata yang sedikit melebar. Dia seperti melihat seseorang di depannya.


******


Ryou dan Kaito sudah berusaha mencari anak itu ke semua tempat di sekitar area pertokoan tersebut, namun mereka tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan anak itu sama sekali.


Seakan telah melewatkan sesuatu, Ryou hanya bisa menghela napas dan bertanya pada Kaito yang terdiam di


sampingnya.


“Menyerah mencari di sekitar sini, Kaito?”


“……”


Kaito diam dan mengeluarkan jam saku miliknya. Dia melihat waktu sudah menunjukkan pukul 08.27 saat itu. Sudah lebih dari dua puluh menit sejak mereka memutuskan mencari anak itu setelah keluar dari gang tempat mereka bertarung dengan kelima pria itu dan hasilnya nihil.


“Bagaimana Kaito? Menyerah atau masih mau menengok jalan ini lagi? Kita bisa mundur ke belakang lagi kalau kau mau”


Ryou melihat ke arah Kaito yang masih melihat jam saku di tangannya. Kaito hanya diam lalu memasukkan jam sakunya kembali. Kemudian dia melihat sekeliling tempat itu sebentar.


“Kurasa…kita bisa pergi ke pusat kota saja sekarang”


“Yosha, kita pergi dari sini!”


Mereka berbalik arah menuju pusat kota. Sepanjang jalan Kaito hanya diam tanpa bicara apapun, seakan ada yang mengganggu pikirannya.


“Kau kenapa? Bukankah kau bilang sudah tidak marah lagi padaku?”


“Tidak, aku tidak marah padamu. Aku hanya memikirkan hal lain”


“Apa itu?” Ryou bertanya dengan wajah penasaran


“Kau ingat saat kita mengalahkan kelima orang barusan?”


“Ingat. Kenapa dengan itu?”


“Aku yakin kau melihat bahwa aku menatap mereka ber-lima saat mereka sudah tidak berdaya. Aku ingin tau, saat kau melihatku waktu itu seperti apa wajah yang kubuat?”


“……” Ryou terdiam


Dia ingat Kaito menatap mereka dengan sangat sinis. Ryou berpikir di dalam diri Kaito, dia seperti memiliki emosi yang tersembunyi kepada kelima orang tersebut.


“Kalau boleh jujur ketika aku melihatmu menatap mereka, kau menatap kelima orang itu dengan tatapan tajam. Biarpun aku yang berkali-kali mengatakan akan membunuh mereka be-rlima, tapi kenyataannya saat itu aku merasa justru kaulah yang berniat membunuh mereka semua. Ada apa denganmu saat itu?”


“Ternyata benar rupanya” Kaito tersenyum miris


“Apanya yang benar?”


“Ingat apa yang kukatakan pagi ini? Soal semalam aku tidak bisa tidur karena aku merasa seseorang seperti memanggilku?. Bahkan membuat dadaku terasa sesak dan perih seperti ada kebencian yang tidak bisa kujelaskan?”


“Tentu aku masih ingat. Apa ada hubunganya dengan pertanyaanmu padaku barusan?”


“Saat melihat kelima orang itu dari dekat, tiba-tiba aku merasakan hal yang kurasakan semalam. Perasaan benci kepada mereka semua dan aku merasa kebencian itu tidak akan hilang jika tidak membunuhnya. Karena itu aku memutuskan untuk segera pergi meninggalkan tempat itu sebelum perasaan aneh itu menguasaiku”


Kaito bahkan bergumam dalam hatinya.


‘Padahal aku berpikir untuk mengawasi Ryou karena khawatir tentang rasa kemanusiaannya yang mungkin mulai hilang akibat terlalu lama terjebak di sini. Tapi sepertinya aku harus mengawasi mentalku juga’


Ryou hanya tau bahwa saat ini Kaito sedang tidak bisa berpikir dengan jernih. Tidak banyak yang bisa dilakukan olehnya. Namun, dia mencoba semua yang dia bisa untuk membuat Kaito tidak kehilangan arah dan tetap fokus pada tujuan mereka sekarang.


“Kaito, aku tidak tau apakah kata-kataku ini berguna untuk menenangkanmu atau tidak, tapi sebaiknya kau tidak memikirkan perasaan aneh itu”


“……” Kaito mendengarkan Ryou yang masih melanjutkan kalimatnya


“Kau mengatakannya pagi ini bahwa itu kemungkinan berasal dari keberadaan ingatanmu, ingat? Anggap saja itu sebuah petunjuk untukmu, tetapi jangan jadikan kebencian aneh yang tidak jelas itu sebagai penghalang dari hal yang sedang kita lakukan sekarang”


“……”


“Terlepas apakah perasaan itu ada hubungannya dengan kelima orang tersebut atau lokasi dari kepingan ingatanmu, bukan berarti kita tidak akan mengetahuinya. Aku sangat yakin 100% bahwa semua ini adalah benang yang saling terhubung satu sama lain, karena itu cepat atau lambat kita akan mengetahui kebenarannya”


“……”


Kaito mendengarkan dengan baik apa yang dikatakan Ryou. Dia mulai mendinginkan kepalanya lagi dan mencoba mengontrol emosinya. Rasa sakit dan perih dari kebencian yang entah dari mana sudah membuatnya nyaris lupa dengan tujuan utamanya.


Setelah menghela napas, Kaito tersenyum pada Ryou.


“Terima kasih. Ternyata kau benar-benar adik kandung Kino. Terkadang aku berpikir bahwa kau dan dia bukanlah saudara sungguhan, tapi ternyata cara berpikirmu bisa diandalkan di saat seperti ini. Sama persis seperti milik Kino”


“Oi, kau ini sedang memujiku atau menyindirku?” tanya Ryou dengan nada sedikit kesal


“Kau bisa menganggap itu sebagai pujian dan sindiran di saat bersamaan”


Ryou melihat Kaito dengan tatapan sinis sambil bergumam dalam hati.


‘Aku menyesal sudah mencoba menghiburmu! Kalau tau begini akhirnya, akan kuacuhkan kau, dasar jelek!’


Sambil berjalan dengan sedikit lebih cepat, mereka berdua meninggalkan area pertokoan tersebut dan menuju ke pusat kota.


******


Theo hanya diam mematung dengan mata melebar dan ekspresi tidak percaya.


“Kenapa…bisa di sini…”


Dia seperti melihat seseorang yang tidak asing untuknya. Benar sekali, itu adalah kakak yang memberinya roti kemarin. Wajahnya sedikit menunjukkan ekspresi senang namun dia ragu untuk mendekatinya.


‘Setelah apa yang kulakukan padanya…aku tidak berpikir aku pantas mendekati kakak itu lagi. Tapi...tapi aku sangat ingin menghampiri kakak itu. Aku ingin bicara dengannya, aku ingin...berterima kasih padanya’


Theo menundukkan kepala dengan raut wajah sedih. Saat dia mengangkat kepalanya kembali, siapa yang menyangka bahwa dia melihat kakak itu tersenyum lebar seakan senang melihat dirinya. Dia melihat kakak itu mendekatinya dan memanggilnya.


“Kamu anak yang kemarin, kan? Aku senang sekali bisa bertemu denganmu lagi”


“……”


Wajah Theo memerah karena senang. Dia tidak menyangka kakak baik yang memberinya roti itu masih mengenalinya. Dia terdiam memikirkan kalimat yang tepat untuk bisa bicara dengan kakak baik itu.


“Se–selamat pagi…” Theo menyapa kakak itu dengan malu-malu


“Selamat pagi. Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Bagaimana luka di wajahmu itu? Lukanya masih


membiru, apa kamu sudah mengobatinya?”


Melihat kakak itu mengkhawatirkannya, Theo merasa sangat senang sekali. Dia terlalu senang bertemu dengan kakak baik itu sampai-sampai tidak bisa berbicara dengan lancar.


“A…Luka…Ba…Eh…?”


Theo yang tidak bisa mengatakan sesuatu memaki dirinya dalam hati.


‘Dasar bodoh! Kau mempermalukan dirimu sendiri di depan kakak baik ini! Mau diletakkan dimana mukamu itu, Theo!!’


Melihat wajahnya yang memerah karena malu, orang yang ada di hadapan Theo tertawa kecil.


“Ahahaha, jangan takut, aku tidak akan melakukan hal buruk. Aku hanya cemas melihat lukamu masih terlihat biru seperti itu”


“……”


Theo tidak bisa mengatakan apapun selain menunjukkan ekspresi bahagiannya. Tidak mau melewatkan kesempatan ini, Theo bertanya pada kakak baik di depannya.


“Benar juga. Kemarin, kita belum berkenalan. Namaku Theo. Apa aku…boleh tau nama kakak juga?”


“Tentu saja. Salam kenal Theo-kun, namaku Yuki Kino”


“Kino…Kino-nii…” Theo tersenyum memanggil namanya


Benang yang tidak terduga sudah mulai terhubung sedikit demi sedikit.


******