Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 288. Ujian Masuk Akademi Sekolah Sihir bag. 4



Di dalam gedung sudah berkumpul banyak orang. Rupanya, bukan hanya ketiga remaja dunia lain itu yang memiliki pikiran untuk datang lebih dulu ke tempat ujian pagi-pagi. Nyatanya, sudah ada beberapa orang yang datang.


“Ramainya. Berapa orang yang ikut ujian ini ya?” Kino melihat sekeliling


Ryou juga tampaknya mulai merasakan kerumunan kota Shibuya di sini.


“Aku tidak tau mereka punya pikiran yang sama dengan kita” ujarnya


“Sepertinya mereka sangat antusias dengan semua ini. Aku bisa melihat persiapan matang di sini”


“Tampaknya begitu”


Ketiganya melewati kerumunan banyak orang. Kaito tidak sengaja menabrak seseorang di antara kerumunan tersebut.


-Buuk


“Ah, maafkan aku” katanya


“Tidak apa-apa. Aku juga minta maaf”


Orang yang ditabrak itu adalah gadis berambut perak yang sangat cantik. Dengan panjang rambut melebihi punggungnya, mata biru dan kulit putih dengan busur dan panah, gadis itu tersenyum dan memberi hormat kepada Kaito sebelum pergi.


“Siapa itu? Cantik sekali” puji Ryou


“Peserta. Aku melihat di tangannya ada tulisan yang mirip dengan yang ada pada kita”


“Begitukah? Apa kamu terluka, Kaito-san?” tanya Kino khawatir


“Tidak, aku baik”


Kaito memang menjawab demikian, namun sejujurnya dia merasakan sensasi yang aneh.


‘Gadis itu, dia terlihat seperti petarung yang tidak begitu kuat. Namun, aku merasakan ada sesuatu yang menyelimutinya. Aku tidak yakin, tapi aku bisa percaya pada instingku’ pikirnya


Kino melihat tatapan tajam Kaito dan memanggilnya, “Kaito-san?”


“Maafkan aku. Ayo, kita masuk ke dalam”


“Baiklah”


Ketiganya pergi ke dalam mengabaikan kejadian yang baru terjadi. Di belakang ketiga remaja dunia lain itu, gadis yang baru bertabrakan dengan Kaito tampak bicara dengan tiga orang temannya.


“Ada apa, Virgo?” tanya rekannya


“Aku baru menabrak seseorang, tapi tampaknya dia juga peserta seperti kita”


“Apa dia ancaman untukmu?” tanya temannya yang lain


“Tidak. Tampaknya mereka juga tidak kuat. Mereka seperti bukan penduduk negeri ini jadi rasanya tidak perlu terlalu waspada” jawab gadis itu


Orang yang bicara dengannya adalah dua orang pemuda tampan dengan rambut berwarna perak sepertinya. Salah satunya menggunakan dua pedang dan yang seorang lagi menggunakan sesuatu yang panjang terbungkus kain seperti tombak.


Ada seorang gadis lain di dekatnya dengan rambut pirang membisikkan sesuatu pada gadis itu.


“Virgo, kita harus bertemu Lady”


“Kamu benar, Rayel. Galaktika, Vares, aku dan Rayel akan pergi menemui Lady. Kalian sebaiknya coba pergi mencari informasi mengenai target kita”


“Aku mengerti. Ayo, Vares”


“Rayel, Virgo, lakukan tugas kalian dengan benar. Jangan sampai mengecewakan Earl dan Lady”


“Kami mengerti”


Mereka berpencar dengan cepat begitu keramaian mulai muncul. Seperti sosok hantu, dengan cepat tidak ada jejak menghilangnya mereka berempat.


Di sisi lain, ketiga remaja dari dunia lain mulai memasukki lobi. Ryou masih merasa bahwa mereka sedang tour ke tempat bersejarah.


“Mau datang berapa kali, tempat ini mirip [Château de Versailles] di Prancis. Aku terkesan aku sama sekali tidak bosan dengan tempat ini”


“Ryou, pernyataanmu itu terlalu berlebihan. Kita baru ke sini dua hari” kata Kaito


“Benar. Hari pertama, kita nyaris jadi tahanan anak kecil yang ternyata kapten divisi. Tebak siapa yang salah”


“……” tampaknya Kaito sudah lupa dengan pelajaran hidupnya


“Huh! Jangan ingatkan aku soal kejadian itu!”


“Kau sendiri yang mengatakannya. Seharusnya kau diam dan tidak membahasnya” balas Kaito


“Tapi yang salah kau, kan? Aku benar tidak?”


“…Iya” Kaito harus mengakuinya secara terpaksa


“Nah! Kalau begitu harusnya kau yang diam”


“……” Kaito benar-benar lupa dengan pelajaran hidupnya


‘Untuk kesekian kalinya, kenapa aku terus lupa kalau dia tidak boleh dikomentari. Aku ingin tau, bisakah mulut dan pikiranku ini diam setiap Ryou yang bicara? Rasanya tingkat keberuntunganku terus menipis hingga tak tersisa setelah ini’ gumam Kaito


Kino hanya menghela napasnya pelan dan mulai memperhatikan sekeliling.


‘Mereka semua kemungkinan peserta ujian. Sekalipun ada yang bukan, aku hanya bisa menebak mereka anggota divisi atau staff di sini’ dalam hatinya


Kaito melihat sekitarnya dan bertanya, “Apakah siswa yang lain sedang belajar?”


“Mungkin saja. Seharusnya yang seperti ini tidak mengganggu aktivitas belajar” jawab Kino


“Begitu ya. Yang berseragam itu…”


“Aku rasa mereka anggota divisi, Kaito-san. Ada yang mengenakan seragam yang sama seperti Xenon-san. Mungkin dari Divisi Eksekutor. Dan yang itu mirip dengan Jene-san dan Jessie-san”


“Tampaknya tiap divisi punya warna berbeda” ujar Kaito sambil memperhatikan


“Sepertinya begitu”


“Di film Harry Potter juga ada yang seperti itu. Aku rasa hal yang sangat wajar jika mereka mengenakan seragam dengan warna berbeda dengan murid biasa”


Kino melihat-lihat lalu berkata, “Kita coba berkeliling sebentar ya”


“Baiklah”


Mereka pergi. Baru melewati kerumunan orang-orang, ada dua bayangan yang tidak asing melewati mereka.


Kedua bayangan tersebut selalu menghilang dan akhirnya muncul di hadapan seseorang yang tengah berjalan di koridor akademi.


“Lady”


Seorang wanita, itulah yang sekarang berada di hadapan kedua orang tersebut.


“Kalian ada di sini. Apakah ayahku yang meminta kalian untuk datang?” tanya orang tersebut


“Benar. Kami berempat datang karena mengikuti ujian masuk untuk melakukan tugas penting dari Earl dan master kami”


Salah satu dari mereka, yaitu seseorang yang baru menabrak Kaito menunjukkan sesuatu.


“Ini, kami menerima surat ini kemarin. Bukankah ini Lady yang mengirimkannya?”


“Benar, itu aku yang mengirimkannya. Aku ingin kalian menghancurkan orang itu. Darah kotor yang merusak hubunganku dan tunanganku, calon Marquis van Houdsen. Aku ingin kalian melenyapkan Xenon van Houdsen”


Itu adalah Misha Midford, putri dari Earl Midford dan yang sedang bicara dengannya adalah dua half-elf yang sebelumnya ada di luar, gadis bernama Virgo dan Rayel.


“Kami mengerti. Kami akan melenyapkan pemuda bernama Xenon van Houdsen. Namun karena master dan Earl memerintahkan kami untuk masuk agar tidak menimbulkan kecurigaan, kami akan melaksanakannya sesuai rencana mereka” kata gadis yang bernama Virgo


“Tugas dari Lady akan kami laksanakan begitu kami berhasil masuk ke tempat ini secara resmi” jawab gadis bernama Rayel


“Terserah. Aku tidak peduli cara kalian atau perintah ayahku. Yang jelas aku ingin kalian juga melakukan apa yang aku minta”


Misha meninggalkan keduanya.


“Kami mengerti, Lady” bersamaan dengan suara itu, keduanya menghilang. Misha berjalan sendiri dan dengan ekspresi tidak menyenangkan, dia berkata dalam hati.


‘Aku akan menggunakan semua cara agar Rexa-sama tidak memikirkan anak kotor itu dan fokus padaku. Aku tidak akan membiarkan bayangan darah kotor yang selama ini dianggap adik olehnya membuatku tersingkir dari perhatian Rexa-sama’


“Xenon harus mati!”


******