Blood Of Platinum

Blood Of Platinum
Bab 56. Terhubung oleh Takdir bag. 2



Kaito menatap anak itu dengan tatapan terkejut dan tidak biasa. Perasaan di dadanya sulit dijelaskan namun memang terasa aneh. Bahkan di dalam pikirannya semua tergambar dengan jelas.


‘Perasaan apa ini? Kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh saat dengan anak ini? Apa yang terjadi padaku sebenarnya?’


Kaito memperhatikan raut wajah anak itu.


Wajah takut.


Benar, itulah yang tergambar di raut wajahnya. Kaito bahkan ingat dengan raut wajah anak-anak yang tanpa sengaja berpapasan dengannya di tangga altar. Dua orang dari mereka yang seusia dengan anak di hadapannya sekarang tidak sengaja bertemu mata dengan Kaito pagi ini dan melihatnya dengan wajah takut. Hanya satu pertanyaan yang ada dalam pikiran Kaito.


‘Kenapa?’


Lalu mata Kaito melihat ke arah Ryou. Mata dingin yang menatap anak itu seperti tanpa belas kasihan. Inilah ketakutan yang dikatakan Kaito saat di gang sempit melawan kelima pria berotot tersebut.


Kaito langsung memegang tangan anak kecil itu dan seketika Ryou melirik Kaito dengan wajah tidak senang.


“Aku yang menangkap bocah sial ini seperti yang kau katakan, karena itu aku juga yang akan melakukannya. Jangan coba-coba menghalangiku, Kaito!”


“……” Kaito hanya diam melihat Ryou


Ekspresi Ryou benar-benar berbeda dengan sebelumnya. Ketika kekhawatiran Kaito semakin kuat tentang bagaimana nasib rasa kemanusiaan milik adik Kino ini, dia langsung mencoba membuat Ryou tidak bisa membalas kata-katanya.


Benar, hanya dengan satu ‘kata kunci’ yang tidak akan pernah bisa dibantah olehnya.


“Kino tidak akan menyukai semua ini jika dia mengetahuinya”


“……!” mata Ryou melebar mendengar kata-kata Kaito


“Kau tidak lupa bahwa anak ini masih bersama Kino beberapa waktu lalu, kan? Dia pasti pergi tanpa sepengetahuan Kino saat perhatiannya teralihkan. Jika sampai terjadi sesuatu pada anak ini dan Kino tau kau yang melakukannya, aku juga tidak akan punya keberanian yang cukup untuk minta maaf padanya. Kau paham maksudku, kan Ryou?”


“……”


Setelah diam beberapa saat, Ryou menengok ke sisi lain dengan wajah kesal.


“Cih! Dasar sial! Jangan suka melibatkan Kino di dalam pernyataanmu itu, dasar kriminal!”


“Karena hanya namanya yang bisa membuatmu sadar dan kembali ke akal sehatmu. Seandainya kau tau, aku justru lebih mengkhawatirkanmu sekarang. Keadaanmu mungkin lebih buruk dari yang kau duga, Ryou. Aku serius soal ini” Kaito menatap Ryou dengan tatapan tajam


Mendengar hal itu, Ryou dengan cepat melihat Kaito kembali dan menyadari bahwa sorot mata tajam dari Kaito menandakan bahwa dia serius.


“Kau…apa…maksud ucapanmu itu…” Ryou seakan syok mendengar ucapan Kaito


“Aku tidak punya waktu menjelaskannya sekarang. Kita urus yang ada di depan mata kita terlebih dahulu”


“……” Ryou hanya diam tanpa membalas kalimat itu


Kaito yang masih memegang erat tangan anak kecil itu meminta Ryou melepaskan genggamannya. Meskipun awalnya ragu, mau tidak mau dia tetap melakukannya.


Sekarang, anak itu sudah ada di tangan Kaito. Tidak butuh cengkraman lebih untuk membuat anak itu diam. Dari wajahnya, sekarang anak itu mungkin akan pingsan ketika dipegang erat oleh Kaito.


“……”


Kaito diam melihat reaksi berlebihan darinya. Perasaan familiar yang muncul darinya membuat Kaito seperti tidak ingin menyakiti anak ini. Dengan menghela napas sedikit, dia mencoba mengangkat tangannya yang lain untuk menyentuh anak itu.


Anak itu mulai terlihat lebih pucat lagi dan histeris. Dengan tubuh gemetar, dia mulai berteriak karena takut.


“Aku mohon jangan bunuh aku!!!”


-Puuk


“Eh?!”


“Kai…to”


Bukan hanya anak itu yang terkejut namun Ryou juga ikut terkejut. Kaito memegang kepala anak itu lalu mengusap-usap kepalanya yang tertutup topi.


“Aku tidak tau kenapa kau bisa setakut itu padaku, tapi kami tidak bermaksud membunuhmu sama sekali. Setidaknya aku tidak akan melakukannya”


“……”


Anak itu terdiam beberapa saat. Dengan napas terengah-engah dia berusaha mengatur mentalnya kembali. Kaki yang gemetar karena takut masih belum sepenuhnya kuat untuk membantunya berdiri.


Di saat itu, Ryou mulai kehabisan energi dan menghela napas.


“Haaa….”


Helaan napas panjang itu membuat anak kecil itu kembali takut. Ryou benar-benar perusak mental anak kecil.


Akan tetapi setelah dia menarik napasnya yang panjang, Ryou mulai bisa mengontrol sedikit emosinya. Dia mulai tenang dan bicara pada anak itu.


“Oi, bocah! Aku…ah bukan, maksudku…kami tidak akan bermain kasar padamu. Kami minta maaf karena hampir mematahkan tanganmu tadi”


“……” anak itu hanya terdiam


Kaito sepertinya sedikit mengoreksi ucapan Ryou.


“Maafkan aku, tapi di sini hanya kau yang berusaha mematahkan tangannya. Kumohon, jangan bawa kata ‘kita’ di dalamnya, Ryou. Aku tidak ingin menanggung kesalahan yang kau perbuat dan mendapatkan julukan aneh yang baru dari mulut pedasmu itu”


“Sial, padahal anak itu saja sudah hampir terkena serangan jantung begitu melihatmu! Beraninya kau bicara seperti itu tanpa berkaca lebih dulu!!” Ryou protes seakan tidak terima koreksi dari Kaito


Sebenarnya, apa yang dikatakan Kaito itu benar. Hanya saja Ryou ingin kesalahannya dibagi rata dengan Kaito agar dia juga disalahkan. Sungguh pertemanan yang mengharukan antara mereka.


Anak itu masih terdiam dengan tubuh gemetar. Di saat Kaito tidak melihat tanda-tanda bahwa anak itu akan bicara, dia mencoba memulai pembicaraan terlebih dahulu untuk melihat responnya.


“Kau mungkin masih kecil tapi aku mencoba untuk sopan sejak kau bersama dengan Kino beberapa saat lalu”


“Kino-nii…”


Mendengar nama Kino, anak itu sedikit membaik. Tubuh dan kakinya yang gemetar mulai kembali normal sedikit demi sedikit. Napasnya juga sudah lebih baik. Dengan ini, Kaito melihat sedikit peluang untuknya bicara dengan anak itu.


“Siapa yang kau panggil galak? Dasar kriminal!” Ryou menggerutu dengan suara pelan


Kaito hanya menghela napas dan melanjutkan pembicaraannya kembali. Dia bertanya kepada anak kecil tersebut.


“Jadi, siapa namamu?”


“…Theo…” dengan suara pelan anak itu menjawabnya


“Theo ya. Aku mengerti kalau kau takut pada kami tapi aku sama sekali tidak akan menyakitimu. Jika kau mau bekerja sama, aku akan memastikan keselamatanmu dari orang di sebelahku ini”


Sambil menunjuk Ryou dengan ibu jarinya, Kaito benar-benar meyakinkan Theo bahwa Ryou benar-benar yang paling galak. Dan yang paling menakjubkan lagi, Theo percaya padanya.


“Kaito…” dengan nada kesal Ryou menyebut nama Kaito sambil mengepalkan tangannya


Melihat perlakuan Kaito, Theo yang awalnya merasa takut mulai sedikit membaik. Dia tidak berpikir untuk melarikan diri dari mereka berdua karena dia menyadari bahwa hal itu tidak akan berguna untuknya. Selain itu, mereka mengenal Kino dan itu membuatnya sedikit percaya padanya.


Ryou sudah cukup menahan kesabarannya dan akhirnya dia bertanya kepada Theo.


“Bocah, aku tidak peduli seperti apa hubunganmu dengan Kino, tapi aku ingin kau menjawabku dengan jujur. Apa kau mengambil sesuatu dari Kino saat kau menabrak kami di altar?”


“……I–itu…”


Theo tidak bisa mengeluarkan suaranya karena tatapan mata Ryou yang masih melihatnya dengan sorot mata tajam. Akhirnya, dia hanya bisa mengangguk.


Melihat respon anak itu yang mengakui kesalahannya, Ryou sebenarnya cukup kesal. Tetapi sepertinya dia masih mengingat kalimat Kaito dengan baik.


[Kino tidak akan menyukai semua ini jika dia mengetahuinya]


Mengingat itu, dia kembali menarik napasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Setelah berhasil menenangkan mental serta emosinya, Ryou mulai menatap Theo dengan emosi terkontrol.


“Dengarkan aku, benda yang kau ambil dari kakakku itu adalah benda yang sangat penting bagi kami semua. Kino bahkan terus menyalahkan dirinya sendiri selama seharian penuh kemarin”


“Eh?” mendengar itu Theo terkejut


Dia terlihat merasa bersalah dan kali ini dia mungkin akan menangis. Sebelum hal itu terjadi, Kaito segera menenangkannya.


“Aku akan pastikan Kino tidak akan marah padamu, jadi kuharap kau mau bekerja sama dengan baik agar kami bisa mendapatkan benda itu kembali”


“Be–benarkah Kino-nii tidak akan marah atau membenciku?”


“Tidak akan, aku yang menjamin hal itu. Orang yang di sampingku mungkin galak tapi dia juga tidak ingin Kino marah padanya jadi aku yakin Ryou tidak akan melakukan hal buruk padamu”


“Aku…mengerti”


“Kalau begitu, aku ingin kau menceritakan semuanya pada kami. Dimana benda yang kau ambil dari Kino berada sekarang? Apa kau membawanya?”


Kaito yang masih memegang tangan Theo bertanya padanya. Anak itu sudah cukup tenang sehingga dia mau melihat mata kedua orang itu saat menjawab.


“Sebenarnya aku bermaksud untuk mengambil benda itu sekarang”


“Mengambil benda itu sekarang? Artinya kau tau dimana benda itu?” Ryou tertegun mendengar ucapannya


“Benda milik Kino-nii adalah jam saku, kan? Aku memang ingat aku mengambil benda seperti itu kemarin, tapi aku sudah tidak memiliki benda itu. Aku memberikannya kepada orang lain. Karena itu, aku bermaksud mengambilnya kembali”


“Orang lain? Siapa?” Kaito bertanya kepada Theo


“Orang…yang mengaku sebagai pemimpin di tempat ini dan orang yang ditakuti semua orang. Namanya adalah…Justin”


“Seperti apa Justin itu?”


“Pria besar berotot dengan tato dan senjata. Dia juga botak dan jelek seperti gorilla”


Ketika mendengar deskripsi tersebut, Ryou yang kaya akan imajinasi langsung benar-benar membayangkan seperti apa orang yang mirip gorilla bernama Justin itu. Selesai dengan imajinasinya yang luar, Ryou yang menunjukkan wajah aneh segera mendekati telinga Kaito dan berbisik.


“Oi Kaito, apa orang yang bernama Justin itu ada hubungannya dengan kelima orang yang mengejar kita tadi?”


“Aku tidak tau, tapi kemungkinan besar iya. Kita harus mendengarkan penjelasan anak bernama Theo ini. Jadi kumohon padamu dari lubuk hatiku yang paling dalam, jangan coba-coba mengatakan komentar apapun dengan mulut pedasmu itu atau anak ini akan menangis”


“Kau berani memerintahku?!”


“Akan kuadukan kau pada Kino. Lihat saja nanti!”


“Ukh…pengkhianat…” Ryou mau tak mau harus menerima kekalahannya


Sudah tidak mau mengatakan apapun yang hanya akan membawanya pada kekalahan lainnya, Ryou memilih diam sekarang. Akhirnya, mulut Ryou mau menjadi jinak untuk beberapa saat.


Kaito melepaskan tangannya dari genggaman Theo dan hal itu langsung membuat anak itu merasa tenang. Dia melihat Kaito dengan tatapan berbeda dari sebelumnya bahkan dia sempat bertanya-tanya dalam hati.


‘Awalnya aku merasa sangat takut pada orang ini, tapi entah kenapa sekarang ada perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan. Rasanya…aku seperti memiliki hubungan yang dekat dengan orang bernama Kaito-nii meskipun aku baru bertemu dengannya. Apa yang terjadi padaku?’


Ketika Theo terus bertanya dalam hatinya, Kaito mulai membuka mulutnya untuk mengetahui informasi yang dia butuhkan.


“Theo, bisa kau ceritakan semua pada kami? Tempat apa ini sebenarnya? siapa itu Justin dan apa alasanmu mencuri? Juga…aku ingin tau kenapa kau begitu takut padaku beberapa saat lalu? Aku yakin semua itu saling berhubungan dan aku ingin mendengarnya”


Kali ini, sedikit demi sedikit semua akan saling terhubung. ‘Dunia’ aneh yang membawa mereka pada masalah lain yang tidak terduga.


******


Di suatu tempat di tempat terasing itu, ada sebuah wilayah asing lain yang tidak tersentuh oleh cahaya, bahkan tidak terlihat tanda-tanda manusia di sana. Bangunan tinggi yang tua dan kosong berada di tiap sisi. Entah bagaimana semakin masuk lebih dalam, semakin gelap tempat tersebut. Seperti sisi lain yang seharusnya tidak pernah ada di kota tersebut.


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang berjalan di jalan sepi itu.


“Pria dengan pedang tanpa sarung pedang itu tidak akan pernah lolos dariku”


******