
“Bagi yang masih hidup, cepat berkumpul dengan semua mahasiswa lain ke gedung arsip! Kami semua memiliki bahan makanan dan persenjataan lengkap untuk mengakhiri semua kegilaan event ini!”
Itulah isi chat yang terdapat di baris paling bawah. Hanya dalam waktu singkat, banyak sekali balasan yang masuk membuat chat tersebut tenggelam ke atas.
“Ini siapa?”
“Namaku Baek Hyeseon. Mahasiswa semester akhir dari Fakultas Psikologi”
“Apa informasi ini bisa dipercaya?”
“[Foto]”
“Banyak sekali?! Ada berapa orang yang hidup di sana?!”
“Sekitar 34 orang. Ini belum semua. Aku yakin banyak dari kalian yang masih hidup di luar gedung arsip. Karena ini, datanglah dan kita bisa bertarung bersama”
“Tolong! Zombie menyerang ruang praktek Fakultas Kedokteran!”
“Kalian dimana?”
“Tidak bisakah kalian menyelamatkan kami?”
“Kalian punya senjata bukan? Selamatkan mereka?!”
“[Foto]”
“[Foto]”
“Kami akan menyelamatkan kalian, namun kami masih membutuhkan tambahan makanan lagi sebagai persediaan yang cukup untuk semua”
“Bagi kalian yang memiliki cadangan makanan dan bisa datang untuk bergabung dengan kami di sini, datanglah ke gedung arsip! Kita akan menyelamatkan semua orang yang terjebak dan menghentikan semua kegilaan ini!”
“Hei! Sebaiknya kau tolong kami dulu!”
Chat berhenti dikirimkan dari orang bernama Baek Hyeseon. Beberapa respon masih terus berdatangan namun semua itu hanya permintaan tolong dan pertanyaan kenapa bukan dia dan teman-temannya yang menyelamatkan mereka yang terjebak.
Seo Garam terdiam mellihat semua chat tersebut. Kim Yuram, Ha Jinan dan Kang Ji Song membuka ponsel mereka dan membacanya sendiri.
“Ada foto-foto di sana” kata Ha Jinan
“Ini…foto dari orang-orang yang dikirimkan Baek Hyeseon-sunbae. Bisa saja kita akan lebih aman jika be–” sambung Kang Ji Song
“Tapi, foto-foto ini tidak mewakili apa yang dia katakan olehnya di awal” Ryou langsung memotong ucapan Kang Ji Song
“Ryou benar. Aku tidak suka caranya” Kino juga membenarkan
“Apa yang kalian katakan?” Kang Ji Song bertanya dengan wajah bingung
Ryou mengambil ponsel Seo Garam dan menunjukkannya pada Kang Ji Song
“Baca apa yang dia katakan di awal chat”
Kang Ji Song mengikuti apa yang diminta Ryou.
“[Bagi yang masih hidup, cepat berkumpul dengan semua mahasiswa lain ke gedung arsip! Kami semua memiliki bahan makanan dan persenjataan lengkap untuk mengakhiri semua kegilaan event ini!]”
Ryou
“Lalu, baca yang ini”
“[Tidak bisakah kalian menyelamatkan kami?]”
“Dan lihat apa balasannya?”
“[Kami akan menyelamatkan kalian, namun kami masih membutuhkan tambahan makanan lagi sebagai persediaan yang cukup untuk semua. Bagi kalian yang memiliki cadangan makanan dan bisa datang untuk bergabung dengan kami di sini, datanglah ke gedung arsip!]”
-Deg
Keempat mahasiswa itu mulai menyadarinya.
“Aneh bukan? Dia mengatakan ingin mengakhiri kegilaan ini dan mengatakan bahwa mereka memiliki senjata. Tapi begitu ada yang membalas kata-kata seperti itu, dia memberikan jawaban berbeda”
“Maksudmu ini jebakan?” Kang Ji Song menyimpulkan
Ryou mengembalikan ponsel di tangannya pada Seo Garam dan berkata dengan nada serius.
“Mungkin saja begitu. Sekalipun benar jika semua itu bukan sebuah jebakan, aku tetap yakin bahwa ada maksud lain yang direncanakan oleh pria bernama Baek Hyeseon ini”
“Anggap saja dia memiliki maksud jahat. Hanya itu yang bisa kita pikirkan” Kino menambahkan
Kim Yuram dan Ha Jinan sependapat dengan penuturan dari kedua kakak beradik itu. Seo Garam membaca kembali semua isi chat dalam grup dan dia juga merasa aneh.
“Awalnya berkata ingin menghentikan namun ketika ada yang meminta bantuan, dia beralasan masih ingin mengumpulkan makanan dan senjata. Jelas itu aneh. Mungkin untuk yang dalam bahaya dan sulit untuk berpikir, chat ini tidak begitu berpengaruh”
“Garam-san benar. Ini adalah permainan psikologi. Dengan memanfaatkan mental seseorang yang sedang panik dan memberikan sedikit harapan dengan mengatakan bahwa dia akan menolong mereka, aku yakin mereka akan melakukan apapun untuk pergi ke tempat itu” jelas Kino
“Ditambah dengan adanya kata memiliki persenjataan untuk melawan, membuat orang-orang pasti akan mulai berpikir untuk keluar dari persembunyian mereka dan pergi menuju tempat itu” Kaito menambahkan
Sedikitnya, Kang Ji Song mulai mempercayai penjelasan itu.
Memang sejak awal, ada yang aneh dengan apa yang dikatakan oleh mahasiswa bernama Baek Hyeseon.
“Artinya…kita abaikan itu?”
“Kami hanyalah remaja asing yang belum ada satu hari tiba di sini, sedang dia adalah senior kalian walau beda jurusan. Ini terserah kalian. Kalian bebas memilih”
Ryou memberikan kebebasan untuk mereka semua memilih. Yang jelas, orang yang berpikir dengan kepala dingin pasti akan sependapat dengan ketiga dari remaja asing itu.
“Aku…aku percaya pada Kino-ssi!” Ha Jinan mengatakannya dengan penuh keyakinan
“Aku juga. Bagaimanapun juga, tanpa bantuan kalian bertiga…kami mungkin sudah berakhir” Seo Garam juga ikut sependapat dengan Ha Jinan
Kim Yuram tersenyum dan melihat wajah Ryou yang serius. Ryou sempat bingung kenapa ditatap seperti itu olehnya.
“Apa?”
“Meskipun kau brutal dan bermulut pedas, tapi kemampuan bertarungmu dan teman-temanmu itu adalah penyelamat kami” ujar gadis itu
“Aku tidak lemah seperti yang dipikirkan oleh gadis liar sepertimu. Aku hanya menahan diri agar tidak kelewatan”
“Padahal sudah kelewatan” Kim Yuram tertawa sedikit
“……” Ryou memilih tidak memikirkannya
Kang Ji Song mematikan ponselnya dan telah memutuskan untuk melupakan seruan chat itu dan memilih percaya pada mereka bertiga.
“Aku tau kalau aku memang harus percaya pada kalian”
Meskipun mereka mengabaikannya, tapi Kino masih penasaran dengan tiga foto yang dikirimkan oleh pria bernama Baek Hyeseon. Dia meminta Seo Garam membuka kembali isi chat grup dan melihat tiga foto itu.
Ada yang aneh dengan ketiga foto tersebut.
“Foto-foto ini…”
Di dalam foto tersebut, terlihat beberapa sisi dimana ada tiga sampai empat mahasiswa yang terlihat takut. Ada pula yang menangis. Tapi semua itu diperlihatkan saat wajah mereka difoto.
Selain itu, ada beberapa mahasiswa dalam foto yang tampak berdiri di depan mahasiswi dengan raut wajah penuh kewaspadaan.
Foto itulah yang menarik perhatian Kino.
“Apa mereka merasa takut pada sesuatu? Atau ada hal yang tidak benar di gedung arsip itu?” gumamnya
“Masalah itu tidak penting sekarang. Kita harus beristirahat sejenak lalu pergi untuk menemukan cara menyelesaikan permainan ini. Tujuan kita adalah menemukan gadis bernama Song Haneul di luar sana” tegas Kaito
Tidak ada penolakan dari mereka semua.
Dengan semua barang yang mereka dapatkan dan keberhasilan mereka dalam membersihkan lorong di sepanjang ruangan di lantai dua tersebut, membuat mereka bisa sedikit bernapas lega.
“Oh iya, aku baru sadar…ini gedung Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer, benar kan?” tanya Ryou
“Benar”
“Berarti di sini ada ruang praktikum yang tersambung ke internet?”
“Benar. Tapi, bukankah itu percuma. Kita tidak bisa menghubungi dunia luar dengan cara apapun” sahut Seo Garam
“Tidak masalah. Bukan untuk menghubungi dunia luar. Kita bisa mencari data mahasiswa yang ada di sini”
“Bagaimana caranya? Memang kau mengerti cara membuka sistem kampus kami?” Seo Garam sempat ragu
Ryou berlagak sombong.
“Hmm~hmm~aku ini jenius. Kalian bisa memanggilku gamers sekaligus newbie hacker”
“…Hah?”
“Yap itu benar. Aku memiliki kemampuan untuk melakukan peretasan sistem sederhana. Aku sempat diajari oleh salah seorang temanku dari klub komputerisasi di sekolah dan kalau hanya membobol data mahasiswa saja masih bisa aku usahakan”
Kaito tidak mengerti arah pembicaraan itu dan berbisik dengan Kino.
“Apa itu newbie hacker?”
“Seseorang yang bisa melakukan akses ke sistem data komputer secara illegal. Bahasa mudahnya peretas”
“Peretas ya. Aku tidak begitu mengerti, tapi tampaknya Ryou bukan cuma besar mulut”
“Dia itu memang pintar, karena itu dia bisa masuk escalate di sekolahku”
“Tapi dibanding otaknya, mulutnya itu lebih pintar. Kemampuan menghina dan memaki orang lainnya itu bisa berevolusi sendiri tanpa adanya pemberitahuan”
Kino melihat Kaito dengan senyum yang dipaksakan
“Maafkan dia, Kaito-san”
Kaito hanya tersenyum sambil memikirkan beberapa hal serius.
‘Aku berpikir bahwa mungkin saja…kepingan ingatanku ada lebih dari satu juga seperti sebelumnya. Dan jika itu benar, maka aku harus siap untuk melibatkan kedua kakak adik ini dalam bahaya. Aku harus melindungi mereka seperti janjiku’
‘Tapi, ‘dunia’ kali ini sepertinya berbeda dengan sebelumnya. Tidak ada orang yang benar-benar bisa bertarung di sini. Apakah seperti ini gambaran tempat mereka berdua berasal? Aku ingin tau, seperti apa dunia dengan konsep yang penuh dengan hal modern itu’
Kaito tampaknya cukup tertarik dengan hal-hal asing yang ditemuinya. Namun, untuk saat ini sepertinya hal itu harus ditunda.
******