
Di dalam sebuah ruangan kamar yang sudah berantakan dengan banyak sekali barang yang diletakkan di depan sebuah pintu, ada seseorang yang terus mencoba menghubungi seseorang sambil duduk di lantai dengan wajah sangat panik dan air mata yang menetes.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan–”
“Kenapa tidak terhubung? Yuki Kino…hoobae…”
Seorang perempuan dengan rambut terikat dan menggunakan bandana berwarna biru tampak terus mencoba menghubungi nomor tersebut sambil meneteskan air mata.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Silahkan–”
Dia mencobanya sekali lagi.
“Nomor yang Anda tuju sedang berada di–”
“Kenapa…padahal sudah terhubung dengan yang ada di luar. Hiks…Leon…kenapa semuanya jadi seperti ini?”
Perempuan itu berdiri dan melihat sebuah foto di atas meja. Dalam foto tersebut terlihat tiga orang yang berpose di dalamnya.
“Leon-nim…Seung Chan…hiks…kenapa impian kita berakhir seperti ini? Kenapa kita…kenapa kita justru membunuh banyak orang dengan semua kerja keras dan impian kita…”
Gadis itu adalah Song Haneul yang meratapi sebuah foto lama yang terdapat di atas meja. Di samping foto tersebut, terdapat sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan label bertuliskan [Kau yang Terbaik] yang dikaitkan pada sebuah pita merah yang menghiasinya.
Song Haneul menangisi foto tersebut dan memeluknya. Dia begitu putus asa.
“Aku mohon, hoobae…hiks…aku mohon apapun itu, tolong terhubunglah denganku kembali. Hiks…tolong hentikan semua ini…”
******
Di waktu yang sama, Ryou berlari dengan membawa ponsel milik Seo Garam di saku celananya dan bersiap dengan dua pisau di tangannya.
Dia tidak menurunkan kecepatannya sama sekali dan juga tidak berhenti untuk melihat sekelilingnya.
‘Aku tidak yakin apakah memang seluruh zombie itu berkumpul di kedua titik itu atau ada yang bersembunyi di tempat lain. Tapi yang jelas, sudah ada satu pencerahan. Song Haneul masih hidup dan dia berada di tempat yang cukup aman. Kami tidak bisa kehilangan kesempatan ini atau semua akan jadi lebih merepotkan’
Ryou masih menyimpan banyak kecurigaan pada daerah sepi tersebut. Tapi, mengingat dia juga yang pertama kali melihat sekawanan zombie-zombie itu membuatnya sedikit mengendurkan kewaspadaannya.
“Kali ini, akan aku pastikan aku akan membawa banyak ponsel untuk mengantisipasi baterai milik mereka!”
**
Di dalam gedung arsip, seluruh mahasiswa itu mulai terlihat sedikit tenang. Sebagian dari mereka mencari kain dari atau benda lainnya untuk menutupi mayat dua orang teman Bak Hyeseon yang terbunuh.
Ha Jinan dan Kim Yuram memberikan air dan makanan dari hasil milik Baek Hyeseon sebelumnya. Kang Ji Song tidak menurunkan tingkat kewaspadaan kepada teman-teman Baek Hyeseon yang tersisa meskipun mereka terluka.
“Jangan berharap kalian bisa melakukan sesuatu. Kali ini, nasib kalian ada di tangan kami. Kalau kalian berani macam-macam, kami semua akan langsung melempar kalian seperti yang kalian lakukan pada teman kami!” ancamnya
Mahasiswa lainnya juga ikut melihat keenam orang itu dengan tatapan kesal. Senjata yang awalnya dimiliki oleh keenam teman Baek Hyeseon sekarang sudah ada di tangan mahasiswa lainnya.
Mereka memutuskan untuk mendukung Kang Ji Song yang sudah membawa orang-orang itu untuk menyelamatkan mereka.
Seo Garam masih mengkhawatirkan ketiga orang tersebut.
‘Aku harap tidak ada hal buruk yang menimpah mereka bertiga’ pikirnya dalam hati
Ha Jinan bicara pada Kim Yuram.
“Jangan cemas. Semua akan baik-baik saja. Kita hanya perlu berdoa”
“Aku tau. Mereka itu kuat tapi juga sangat nekat. Aku benci mengakuinya tapi aku ingin tau kenapa aku menyukai orang yang bermulut kasar dan tidak peka seperti dia! Padahal aku tidak mengenalnya dan–”
“Yuram…benar-benar sangat menyukai Ryou-ssi ya” Ha Jinan tersenyum mendengar pengakuan Kim Yuram
“Aku tidak mengatakannya!” ucap Kim Yuram sambil menahan wajah merahnya
“Tapi Yuram juga memeluk Ryou-ssi” Ha Jinan menggodanya
“Aku tidak…aku tidak memeluknya! Bahkan jika nanti dia kembali ke tempat ini, aku tidak akan memeluknya dan akan memukulnya!”
-Braak…Braaak
“……!!!”
Semua orang terkejut dan berubah pucat. Mereka langsung memasang wajah penuh ketakutan. Ha Jinan dan Kim Yuram sampai menjatuhkan makanannya dan berlari ke tempat yang lainnya berkumpul.
“Ji Song…itu…mungkinkah…”
“Aku tidak tau. Tapi yang jelas itu pasti bukan manusia. Kemungkinan…itu adalah zombie yang–”
“Garam! Dengar aku tidak! Ini aku, Ryou! Cepat buka pintunya sekarang sebelum aku berhenti bernapas!”
-Deg
“Ryou…itu Ryou!!” Seo Garam langsung berlari dan memindahkan kursi dan meja yang menahan pintu masuk
Diikuti oleh Ha Jinan, Kim Yuram dan Kang Ji Song, mereka bersama beberapa mahasiswa lainnya langsung dengan cepat dan tanpa rasa curiga sedikitpun membuka menyingkirkan penghalang pintunya dan membukanya.
Begitu pintu dibuka, sebuah tangan langsung memegang pundak Seo Garam yang menjadi orang pertama yang berdiri di depan.
“Ryou! Kau kemba–”
“Aku butuh ponsel lain! Cepat berikan padaku sekarang!”
“Hah?”
**
Di tempat Kino dan Kaito berada, mereka masih melihat kondisi para zombie yang tidak bergerak dan hanya mengeluarkan suara erangan. Suara tersebut membuat kesan yang sangat mengerikan seperti yang ada dalam film horror.
“Mereka masih bertahan di sana. Apa menurutmu ini pertanda baik, Kaito-san?”
“Entahlah. Tapi selama benar-benar tidak ada zombie di tempat lain dan mereka semua berada di sana, kita masih punya kesempatan untuk lari”
“Aku harap kita bisa kembali terhubung dengan Song Haneul-san”
“Kino, apa yang dikatakan olehnya saat dia bicara padamu?”
“Dia hanya bertanya apakah yang lainnya selamat atau tidak dan dia juga bertanya berapa banyak yang selamat”
“Begitu”
“Tapi…Kaito-san…”
“Ada apa?”
“Song Haneul-san sempat mengatakan sesuatu yang aneh”
“Aneh?”
“Benar, untukku itu sangat aneh. Song Haneul-san mengatakan kalimat yang membuatku sedikit penasaran”
“Apa yang dia katakan?”
Kino mengatakan kalimat yang dia dengar dari pembicaraannya dengan Song Haneul.
“Dia berkata mereka benar-benar ada di sana? Kenapa bisa?” Kaito mulai terlihat serius
“Bukankah itu sangat aneh?”
“Itu bukan lagi aneh. Kata ‘benar-benar’ dalam kalimatnya itu menandakan dia telah melakukan sesuatu sebelumnya dan terkejut dengan hasilnya. Aku yakin dia memang telah melakukan sesuatu sebelum ini?”
“Apakah ada hubungannya dengan permata milikmu, Kaito-san?”
“Aku tidak yakin. Tapi, kemungkinan ada hubungannya dengan zombie yang kita lihat sebelum masuk ke gedung arsip”
“Zombie yang tiba-tiba berbalik arah itu ya”
“Benar. Terlalu banyak hal yang belum dimengerti di sini. Jadi, aku rasa untuk sekarang kita hanya bisa memantau mereka sampai Ryou kembali”
**
Di gedung arsip, Ryou sedang membuat salah satu orang di sana nyaris terkena serangan jantung.
“Aku butuh ponsel lain! Cepat berikan padaku sekarang!”
“Aku belum mau mati!!” teriak Garam
Dengan cepat, Ryou menutup mulutnya dan mendorong mereka semua masuk kembali. Setelah yang lain menutup pintunya, dia baru melepaskan tangannya dari mulut Seo Garam.
Sebuah hadiah datang begitu dia melepaskan Seo Garam. Sebuah pelukan datang menyambut Ryou.
“Aku pikir kau sudah mati”
“Hmm?”
‘Korban’ yang dipeluk hanya bisa menunjukkan wajah datar tanpa ekspresi dan bertanya-tanya dalam hati.
‘Kenapa aku merasakan sebuah déjà vu?’
******